HR Soepriyono : Pantang Menyerah Mencari Koperasi Sejati dan Mandiri

IMG_1201Seperti tertera dalam jadual, tanggal 16 September 2015, saat jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30 wilayah Indonesia barat (Wib), wajah-wajah penuh semangat dan optimis mulai berdatangan di terminal 2F, Bandara Soekarno – Hatta, Cengkareng, Banten. Rombongan yang terdiri dari 30 orang praktisi koperasi ini sebagian tidak muda lagi. Ada beberapa yang dipanggil eyang. Namun, semangat dan daya juangnya membara luar biasa. Terutama, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat – anggota, melalui berkoperasi.

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua H.R. Soepriyono, dikoordiniasi tim Majalah UKM, terdiri dari jajaran pengurus, pengawas dan para menejer cabang ingin studi banding, Mencari Koperasi Sejati dan Mandiri ke Kalimantan Barat. Yang dituju, Credit Union (CU) Khatulistiwa Bakti, Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) BKCU Kalimantan, CU Pancur Kasih, dan CU Muare Pesisir. Pertimbangannya, masing-masing punya keistimewaan sendiri.

CU Khatulistiwa Bakti, misalnya, bukan saja merupakan CU besar yang asetnya per 31 Desember 2015 lebih dari Rp528,035 miliar dengan anggota 51.077 orang, juga merupakan CU pertama di Kalimantan Barat. BKCU Kalimantan merupakan Puskopdit terbesar dalam jejaring Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) memiliki anggota 44 CU primer, tersebar dari Kepulauan Riau sampai Papua, memiliki 433.802 anggota perseorangan dan aset gerakan Rp5,916 triliun.

Sedangkan CU Pancur Kasih adalah CU Laboratorium yang berkembang sangat pesat. Dalam usianya yang relatif muda dirintis 28 Mei 1987, CU Pancur Kasih sudah mengantongi banyak penghargaan, memiliki aset yang luar biasa, untuk ukuran sebuah koperasi. Aset per 31 Desember 2015 telah mencapai Rp1,7 triliun, anggota 139.459 orang. Prestasi ini dicapai bukan hanya bermodalkan kerja keras, namun juga pofesionalisme dalam mengelola organisasi, dan inovasi di segala hal, terutama bidang diversifikasi produk – pemasaran dan kecerdikan melihat peluang.

Dipilihnya kunjungan ke CU Muare Pesisir, bukan tanpa alasan. Dari sisi aset dan pengelolaan, CU Muare Pesisir biasa saja. Istimewa, karena sebagian besar anggota (98% lebih) umat Muslim. Yang terkesan selama ini, CU hanya beranggotakan umat Nasrani (Katolik). Kesan itu tidak salah, karena CU – Kopdit yang mulai diperkenalkan di Indonesia awal tahun 1970-an, memang lahir dari lingkungan gereja, dan dibina oleh imam Katolik. Tetapi saat ini, mengacu prinsip koperasi, semua CU terbuka, tidak membeda-bedakan; golongan, suku, ras, dan agama. Siapa saja, bila memenuhi persyataran lembaga, boleh menjadi anggota CU. Bahkan juga ada CU yang lahir dari lingkungan Pondok Pesantren. CU Semangat Warga yang bernaung dalam jejaring BKCU Kalimantan, contohnya, lahir di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Menurut jadual, pesawat Garuda yang akan menghantarkan pelanggan setianya ke Pontianak lepas landas pukul 10.15 Wib. Namun jelang pukul 10.00 Wib diawali permohonan maaf, pihak maskapai mengumumkan bahwa penerbangan menuju Pontianak mengalami penundaan. Tidak dijelaskan, namun bisa diduga lantaran kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan Barat masih mengganggu penerbangan. Maka rombongan dari KSP Kodanua dan ratusan calon penumpang yang akan terbang ke Pontianak harus sabar menunggu. Mendapat informasi penundaan, panitia kecil di Pontianak, 1 orang dari Majalah UKM dibantu rekan-rekan dari CU Muare Pesisir yang akan menjemput ke Bandara Supadio, juga bertahan di Hotel Kapuas Pelace, tempat menginap rombongan.

Informasi kedua, diterima lepas pukul 12.00 Wib, tetapi belum ada kepastian jam berapa pesawat akan terbang. Diceritakan, semua calon penumpang yang telah lelah menunggu sejak pagi hari, mulai gelisah, karena belum ada kepastian jam berapa pesawat akan terbang. Ribuan penumpang ke berbagai jurusan; Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Jambi, dan Riau, dengan wajah muram berdesakan di ruang tunggu. Tidak sedikit pula yang tidur lelap. Setiap ada pengumuman penundaan, suasana gaduh tak terhindarkan. Namun banyak juga yang berkomentara; “sabar …, mungkin kabut asapnya belum hilang.”

Demi keselamatan dan kesehatan tubuh, sebagai ketua, H.R. Soepriyono minta kepada bendahara KSP Kodanua mengeluarkan ekstra biaya untuk makan siang. Karena di Bandara serba mahal, kocek yang dirogoh cukup dalam. Sementara itu, di Restoran Serasan, di tepian Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia yang lebarnya hampir 400 meter dengan kedalaman 30 meter, sudah disiapkan makan siang, dengan menu khas serba ikan.

foto di BKCU Kalimantan-APanitia di Pontianak ingin membuat kejutan, menyambut rombongan dengan acara adat Melayu, saling berbalas pantun, dan ditepungtawari. Spanduk ucapan selamat datang dari CU Khatulistiwa Bakti dan CU Muare Pesisir, terbentang di kapal tempat acara. Piring untuk santap siang telah ditata rapih di meja makan. Siang itu rencananya makan di atas kapal, menyelusuri Sungai Kapuas sampai di depan Kodim, yang ditempuh kurang lebih 1 ½ jam perjalanan pergi pulang. Sejak pukul 12.00 Wib, bus pariwisata executive sudah siap di halaman pakir Bandara Supadio.

“Andai ada kepastian terbang, sampai magrib pun, kami tetap menunggu,” kata Soepriyono. Karena ditunggu-tunggu belum ada kepastian, anggota sudah terlalu lelah, diadakan perembukan, dan akhirnya diputuskan pulang. Dan, tak lama kemudian ada pengumuman resmi dari pihak Garuda bahwa penerbangan ke Pontianak dibatalkan, karena kabut asap membahayakan penerbangan. Di Bandara Supadio, sepanjang hari juga tidak ada pesawat yang tinggal landas maupun mendarat.

Persoalan tidak berhenti di situ. Bagaimana mempertanggungjawabkan kepada anggota tentang biaya pendidikan yang cukup besar (Rp150 juta), tetapi studi bandingnya “gagal?”. Padahal tiket pesawat pergi pulang (PP) tidak bisa diuangkan, dana yang telah dibayarkan ke hotel termasuk pesanan untuk makan selama di Pontianak juga tidak bisa ditarik kembali. Bahkan bus penjemputan yang telah siap di bandara pun harus dibayar. Jalan keluarnya, menjadual ulang kegiatan tersebut.

Calon tuan rumah; CUKB, BKCU Kalimantan, CU Pancur Kasih, dan CU Muare Pesisir memahami benar kondisi tersebut. Mereka sepakat, tetap membuka pintu lebar-lebar bagi KSP Kodanua. Dengan catatan, waktunya tidak bersamaan dengan program yang telah tersusun. Perembukan dengan pihak hotel pun disepakati bahwa uang yang telah dibayarkan dijadikan deposit, dan tanpa batas waktu. Kapan saja bisa digunakan, tanpa tambahan biaya. Yang juga di luar dugaan, apresiasi Garuda Indonesia terhadap kegiatan koperasi.

Biasanya, jika terjadi pembatalan karena bencana, tenggat waktu untuk penggunaan tiket hanya 1 bulan, atau paling lama 3 bulan. Namun untuk kegiatan yang dijembatani Majalah UKM ini tenggat waktu yang diberikan cukup panjang, 6 bulan. Bagi tim Majalah UKM yang belum pernah menyelenggarakan studi banding, pengalaman ini sangat berharga. Karena itu, terima kasih Garuda Indonesia, KSP Kodanua, CU KB, BKCU Kalimantan, CU PK, dan CU MP semoga kemitraan yang telah terjalin akan terus terjalin dengan baik.

***

IMG_0986Berbeda hari dan bulan, dengan semangat pantang menyerah insan koperasi yang bernaung di bawah bendera KSP Kodanua, Kamis 18 Februari 2016, mulai pukul 08.30 Wib telah berkumpul di terminal 2F, Bandara Soekarno – Hatta. Peserta studi banding pun bertambah, dari 30 orang menjadi 40 orang. Boleh dibilang istimewa, karena 4 orang peserta lainnya merupakan utusan resmi Rektor Universitas Trisakti, Jakarta. Semula, Rektor Prof. Thoby Mutis ingin bergabung, tetapi karena satu dan lain hal, batal. Rektor mengutus Purek III, DR. Hein Wangania, S.H.,M.M.,M.H., didampingi 3 orang pengurus Kopkar Trisakti yang juga dosen.

Rombongan mendarat di Bandara Supadio, Pontianak tepat pukul 11.50 Wib. Dijemput panitia, tidak langsung ke hotel, tetapi makan siang di Rumah Makan Ale Ale, salah satu rumah makan favorit di Kota Pontianak, dengan menu andalan serba ikan. Menu ikan asam pedas yang dihidangkan, bagi lidah orang Jakarta memang asing. Itulah yang memberikan kesan pertama dalam kegiatan studi banding kali ini. Bagi KSP Kodanua, studi banding ke koperasi-koperasi di luar Jakarta, khususnya koperasi simpan pinjam, sudah sering. Beberapa tahun silam, misalnya, studi banding ke Bali. Tetapi studi banding ke credit union baru kali pertama.

Dan ternyata, bagi CUKB, BKCU Kalimantan, CUPK, dan CUMP, meski sering menerima kunjungan studi banding dari berbagai instansi, baik instansi pemerintah, kalangan kampus, dan sesama credit union, tamu dari KSP, apalagi dari Jakarta, dengan jumlah peserta begitu besar, baru kali pertama. Ketua CUKB, Dra. Sesilia Seli, M.Pd. yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak, merasa sangat bahagia dikunjungi tamu dari Ibukota. Ketua CUPK DR. F.Y. Khosmas, mengatakan; “Sangat ditinggikan, dikunjungi tamu dari KSP Kodanua. Kami semula berpikir, karena judulnya studi banding, yang mau belajar masih muda-muda. Kami salut, dan bangga karena tamunya sudah sepuh-sepuh, tetapi semangatnya untuk mengembangkan koperasi luar biasa, tidak kalah dengan yang muda.”

Karena credit union berasal dari sumber yang sama, dari Jerman, disesuaikan dengan kondisi lokal, maka visi dan misinya tidak berbeda, bahkan kiatnya menggapai sukses pun tidak jauh berbeda. Membangun moral, mental, dan militansi anggota, pengurus, pengawas, serta jajaran manajemen menjadi hal utama. Kerja keras, jujur, professional, dan ramah dalam memberikan pelayanan kepada anggota dibeberkan oleh para tuan rumah studi banding.

Di setiap kunjungan, sejarah tentang CU di Kalimantan, diceritakan. Awalnya, dibentuk di lingkungan gereja, dan untuk kalangan terbatas. Karena itu, bertahun-tahun perkembangan CU tidak signifikan. Kemudian disadari, kenapa hal yang baik hanya untuk diri sendiri? Maka, mulailah membuka pintu untuk orang lain – masyarakat luas. Dan fakta yang ada sekarang, semua pemeluk agama; Katolik, Kristen, Islam, dan yang lain, juga semua etnis – berbagai suku, boleh menjadi anggota CU. Dengan tujuan utama memberantas kemiskinan, menyejahterakan orang-orang kecil, miskin, tertinggal, dan termarjinalkan, maka pengembangan CU di Kalimantan Barat diarahkan ke daerah pedesaan, dan jauh ke pedalaman.

Memperkenalkan CU ke pedesaan, tak mudah diterima oleh masyarakat. Image – citra kurang baik, akibat salah urus kebanyakan koperasi, menjadi kendala utama. Orang tidak percaya lagi. Kerja keras dan aktivis yang pantang menyerah sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Dengan demikian, masyarakat punya alat untuk keuangan ekonomi keluarga. Orang yang semula tidak pandai menabung, dan dapat uang hari ini, habis hari ini juga, setelah masuk jadi anggota CU akhirnya pandai menabung. Dapat uang, diutamakan untuk ditabung di CU baru kemudian untuk kebutuhan sehari-hari.

Dengan menjadi anggota CU, masyarakat di pedesaan yang semula tidak punya motor, bisa beli motor untuk membawa karet. Yang tidak punya rumah, bisa beli rumah. Kalau dulu desa gelap gulita, tidak ada listrik PLN, sekarang terang benderang. Mereka beli genset sendiri, pinjam dari CU. Banyak anak bisa sekolah di kota, bahkan kuliah di perguruan tinggi terkenal di Pulau Jawa. Semua itu berkat orang tuanya pandai menabung di CU. Filosofi CU adalah menolong diri sendiri. Si miskin harus menolong si miskin itu sendiri, bukan ditolong orang lain supaya sejahtera hidupnya. Namun, tidak boleh sendirian, melainkan harus berkumpul, dan bersama-sama dengan banyak orang. Itulah falsafah sapu lidi. Kalau lidi hanya satu, tidak bisa untuk menyapu, tetapi ketika lidi-lidi itu diikat menjadi satu, punya kekuatan luar biasa.

Jadi, azas perkembangan CU adalah; dari oleh dan untuk (dari anggota oleh anggota dan untuk anggota). CU tidak pernah pinjam dari siapa pun, dari perbankan, misalnya. Pemerintah nawari bantuan pun tidak diterima. Kalau CU tidak menjaga azas; dari, oleh, dan untuk, lalu orang yang bukan anggota CU boleh pinjam ke CU, berarti sudah bukan CU lagi.

Sebagai lembaga pemberdayaan yang mengelola uang anggota, CU yang juga dikenal dengan sebutan koperasi kredit (Kopdit) mempunyai izin – badan hukum (BH), nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan membayar pajak. Yang sedang diperjuangkan geakan credit union, tidak dipajakinya atas bunga simpanan anggota. Gerakan credit union sudah ke DPR, DPD, Menteri Keuangan, Menteri Koperasi dan UKM, dan Dirjen Pajak, meminta agar tidak dikenakan pajak atas bunga simpanan anggota. Kalau koperasi lain yang menerima simpanan dan melayani pinjaman bukan anggota, jika pun dikenakan pajak ganda, yaitu pajak lembaga dan pajak atas bunga simpanan, mungkin.

***

Visi CU Pancur Kasih masih menyertakan kata Dayak. Yaitu, Menjadi Credit Union Masyarakat Dayak yang Terdepan dan Berkesinambungan di Kalimantan Barat (CUPK), “Menjadi Credit Union Terdepan dalam Usaha dan Pelayanan Pada Tahun 2020” (CUKB) sedangkan visi CUMP Mejadi Credit Union yang Berkualitas dan Terpercaya. Meskipun CUPK masih menggunakan kata Dayak, sebenarnya bukan hanya untuk orang Dayak an sich, melainkan sebagai simbul perjuangan. CU juga bukan untuk orang-orang kaya – konglomerat. CU adalah sekumpulan orang yang saling percaya; orang-orang kecil, miskin, merasa senasib sepenanggungan. Misi CU, meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi anggota melalui pendidikan, pelatihan yang menghasilkan perubahan pada aspek fisik, mental, emosional, dan spiritual serta pelayanan keuangan yang ramah dan profesional.

Dulu, orang kecil sebelum jadi anggota CU, tidak berdaya, tak ada perubahan. Namun setelah bergabung dengan CU, dia mulai menabung, punya rumah karena pinjam ke CU, dan punya harapan ke depan lebih baik. Mentalnya pun terbangun dengan baik. Orang yang semula minder, rendah diri mulai berubah. Yang emosinya tinggi, mudah marah, juga berubah, emosinya terkendali menjadi lebih sabar.

Slogan CUPK menggunakan bahasa Dayak, yang dimengerti kebanyakan suku Dayak, misalnya, Barage CU Malangkah Repo – terjemahan bebasnya; Bersama-sama dengan CU, kita bisa berjalan senang – bahagia. Karena ada orang lain di samping, jika jatuh ada yang menolong. Nilai-nilai inti CU, pelayan investasi SEJATI, yang dijabarkan menjadi; S-olider, E-xcellence, J-ujur, A-kuntabel, T-angguh, dan I-novatif. Nilai-nilai inti itu diimplementasikan dalam komitmen pelayanan profesional, mulai dari para staf, manajemen, termasuk pengurus – pengawas.  Meskipun pengurus dan pengawas tidak operasional, tetapi juga harus profesional, dalam arti tertentu.

Melayani dengan sikap solider dalam kebenaran, bukan solider dalam ketidak-benaran. Sekarang banyak orang solider tetapi menutupi yang tidak benar. Melayani dengan sepenuh hati, cepat, dan tepat. Melayani dengan jujur. Orang akan percaya jika ada kejujuran. Kejujuran itu harus dicontohkan oleh pengurus – pengawas, dan para manajemen. Melayani dengan tulus, ikhlas, ramah, dan gembira, bijak, rendah hati. Dan melayani dengan cara-cara baru yang terbaik. Awalnya, pelayanan kepada anggota dengan cara tulis. Anggota pegang yang namanya buku anggota, di kantor ada kartu simpan pinjam. Tetapi sekarang, CU sudah menggunakan teknologi canggih.

Struktur organisasi; ada penasehat – pengawas – pengurus – manajemen. CU yang sudah sangat besar seperti CU Pancur Kasih dan CUKB, merasa kesulitan mencari referensi istilah. Mengambil istilah dari koperasi-koperasi kecil, tidak cocok. Untuk top manajemen, CUPK semula menggunakan istilah CEO. Dianggap terlalu keren, terlalu besar dan wah, tidak cocok. Sebab elemen di bawahnya juga harus mengunakan istilah yang wah. Setelah dievaluasi, akhirnya menggunakan istilah General Manager (GM) yang dibantu oleh para deputi. Ada deputi audit, deputi usaha, deputi sumber daya manusia (SDM), deputi administrasi dan akuntansi, deputi teknologi dan informasi (IT).

Untuk masing-masing tempat pelayanan (TP), kalau di KSP kantor cabang, dimpimpin seorang manajer. Ada juga service point officer (SPO) yang direkrut dari para anggota istimewa – militant untuk membantu kegiatan-kegiatan sosialisasi, pengenalan CU, penyadaran, dan rekrutmen anggota baru, koordinasi dengan pemerintah setempat – lokal. Karena SPO ini sifatnya sukarela, tidak digaji.

Kantor-kantor CU pada umumnya dibangun atas swadaya, tidak minta hibah atau bantuan dari pihak lain. Swadaya itu misalnya, setiap anggota iuran. Kantor Pusat CU Pancur Kasih juga dibangun atas swadaya. Semua anggota, termasuk yang baru masuk, berkontribusi untuk pembangunan gedung Rp100.000 per anggota. Bisa dihitung, anggota CU Pancur Kasih lebih dari 137.000 orang X Rp100.000. Dengan sistem swadaya, semua anggota merasa memiliki, dan kekompakan pun terbangun.

Mekansime kerja di CU, pengurus membuat kebijakan, aturan, dan peraturan lembaga. Lalu, yang mengimplementasikan manajemen. Manajemen yang melakukan segala tugas untuk pelayanan. Karena itu, dalam struktur ada batas dan kewenangan. Mana batas dan kewenangan pengurus, mana batas dan kewenangan manajemen. Hal-hal yang menyangkut teknis operasional tugas manajemen, sedangkan pengurus membuat kebijakan. Sebagai pembuat kebijakan, pengurus tidak boleh langsung melayani anggota, melayani kredit, misalnya. Garis demarkasinya dibuat secara tegas.

Pengurus menetapkan program strategis dan menetapkan sasaran 5 tahunan, lalu manajemen dan jajarannya membuat program tahunan dalam bentuk business plan (BP). Pengurus melakukan monitoring, serta evaluasi secara berjenjang. Dalam program itu ada target; berapa pertumbuhan anggota, simpanan, pinjaman, biaya operasional, pendapatan, dan hasil usaha. Target-target tersebut setiap TP berbeda, tergantung karakteristik wilayahnya. Pimpinan – manajer yang tahu persis kondisi dan potensi di wilayah kerjanya. Merekalah yang memberi masukan untuk dibahas bersama.

Sistem peningkatan modal – aset melalui berbagai kemasan produk sesuai kebutuhan anggota. Ada produk; Simpanan Pangari, Simpanan Si Suka, Simpanan Sehat, Simpanan Griya, Simpanan Kendaraan, Simpanan Pintar, Simpanan Tipara, dan sebagainya. Pada umumnya CU memiliki tenaga voluntir – aktivis, bukan pegawai yang membantu secara sukarela. Mereka direkrut dari anggota militant. Inovasi pelayanan berbasis teknologi informasi (IT), infrastruktur yang digunakan untuk sistem online yaitu satelit (sewa), radio, dan jaringan sendiri. Manfaat sistem ini mempermudah dan mempercepat pelayanan kepada anggota.

CU telah menjadi gerakan keluarga. Orang yang jadi anggota, wajib mengajak; suami atau isteri, anak, orang tua, mertua, menantu, dan saudaranya masuk menjadi anggota. Bahkan, bayi yang baru lahir pun harus segera didaftarkan menjadi anggota. Pengembangan CU dengan sistem sel ini sangat efektif. Sebagai pengurus – pimpinan, jika ada anggota keluarga yang tidak menjadi anggota CU tak layak jadi pengurus. Untuk menjadi pengurus, masih ada syarat lain, simpanan minimal Rp50 juta. Kalau belum mencapai minimal Rp50 juta tidak bisa jadi pengurus. Sebab, pengurus harus menjadi contoh, dan mampu meyakinkan orang bahwa uangnya yang disimpan di CU aman. (adit – mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to HR Soepriyono : Pantang Menyerah Mencari Koperasi Sejati dan Mandiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *