Jangan Sampai Kita Lelah dan Demotivasi

Credit Union (CU) yang diperkenalkan di Indonesia awal tahun 1970-an adalah gerakan swadaya dari masyarakat guna mengatasi masalah kemiskinan dengan cara membangun kebersamaan – solidaritas – gotong royong, dan menabung. Meski pada awalnya CU “dicurigai” oleh pemerintah Orde Baru, seperti sering diungkapkan Robby Tulus, aktivis dan pendiri CU di Indonesia bersama Imam Katolik Romo Carolus Albrecht Karim, SJ(alm), asal Jerman, dalam perjalanan waktu, CU menjadi Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) yang terus berkembang pesat.

CU merupakan fenomena gerakan ekonomi kerakyatan yang dipraktikkan di seluruh Indonesia. Lebih dari setengah abad, CU telah mampu mengedukasi dan membangkitkan kesadaran mayarakat untuk membangun ekonomi kolektif mereka. Praktik terbaik demokratisasi ekonomi ada di situ. Menurut data yang tercatat di Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), induk CU – CU primer di Indonesia, sampai akhir tahun 2017 ada 887 CU primer, dengan jumlah anggota individu mendekati angka 3 juta-an (Juni 2017 tercatat 2.933.221), dan aset Rp29 triliun lebih.

Terlepas dari data yang boleh dibilang fantastis itu, kenyataan di lapangan juga membuktikan bahwa masyarakat miskin menjadi berdaya secara ekonomi setelah menjadi anggota CU. Kalimantan Barat (Kalbar), merupakan bagian pengembangan gerakan CU yang ditabur Romo Albrecht Karim, SJ. Orientasi awal, CU di Kalbar adalah untuk memberdayakan masyarakat petani yang berdomisili di daerah-daerah pedalaman yang infrastrukturnya sulit. Bibit-bibit CU yang ditabur di Kalbar berkembang pesat dan mengalami inkulturasi sesuai budaya Kalimantan (Dayak). Masyarakat setelah masuk menjadi anggota CU, pola pikirnya berubah, terutama mengenai prioritas pengeluaran.

Perlahan-lahan, sektor pendidikan juga mendapat perhatian masyarakat yang semula masih abai. Anggota CU umumnya juga mulai mampu mengelola ekonomi produktif skala kecil. Dampaknya terjadi peningkatan taraf hidup. Indikasinya mampu membangun rumah dan bisa beli sepeda motor baru. Jimry (32), warga Desa Dange Aji, Kecamatan Air Besar, di pedalaman Kabupaten Landak, mengaku bisa membangun rumah dan membeli motor setelah menjadi anggota CU. “Dulu, susah sekali menabung. Penghasilan yang didapat selalu habis begitu saja. Tetapi sejak ikut CU saya bisa menabung dan mudah mendapatkan kredit – pinjaman uang,” katanya.

Menurut Marselus Sunardi, S.Pd. yang pernah menjadi Ketua CU Lantang Tipo, dua periode memimpin BKCU Kalimantan, dan kini menjabat sebagai Bendahara BKCU Kalimantan, perbaikan pengelolaan keuangan masyarakat hanya bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan warga. Karena itu CU memprioritaskan pinjaman khusus untuk pendidikan. Generasi anak-anak yang bisa kuliah karena orang tuanya menjadi anggota CU dan kembali ke kampung halamannya setelah lulus pada umumnya menggerakkan sektor ekonomi produktif.

Keberhasilan gerakan CU – Kopdit yang bisnis utamanya simpan pinjam karena konsisten mengimplementasikan pilar utama gerakan yaitu; Pendidikan, Solidaritas, Swadaya, dan Inovasi. Menyebut kata CU di Indonesia, hampir mayoritas orang akan mengindentikkannya dengan Kalbar. Kalbar dengan credit union ibarat sekeping mata uang logam; dua sisi satu. Dan CU “ala Kalimantan” disebut Credit Union Modern. Di bumi Borneo itu, tercatat ada 68 CU primer, yang juga merupakan CU CU besar di Indonesia, antara lain; CU Lantang Tipo, CU Pancur Kasih, CU Keling Kumang, CU Khatulistiwa Bakti, CU Daya Lestari, CU Betang Asi, CU Bima, dan masih banyak lagi.

Ada 3 CU terbesar di Indonesia yang asetnya mencapai angka triliun juga berada di Kalimantan, yaitu CU Lantang Tipo Rp2,8 triliun dengan jumlah anggota 187.000 orang, CU Pancur Kasih memiliki aset per 31 Desember 2017 sebesar Rp2,2 triliun, jumlah anggota sebanyak 150.072 orang, dan CU Keling Kumang memiliki aset Rp1,3 triun yang dimiliki oleh 168.000 anggota. Puskopdit BKCU Kalimantan merupakan Puskopdit terbesar di Indonesia memiliki 44 anggota CU primer, tersebar dari Pulau Nias sampai Papua, anggota individu sebanyak 454.677 orang, dan aset gerakan lebih dari Rp4 triliun.

Faktor pendidikan bagi anggota, pengurus, pengawas, dan pengelola CU adalah suatu keharusan, itulah yang menjadi pendukung keberhasilan. Melalui pendidikan, CU dimulai. Melalui pendidikan, CU dikelola dan dikembangkan. Dan melalui pendidikan pula CU dikontrol. Seseorang yang setelah mendaftarkan diri menjadi anggota CU harus mengikuti pendidikan dasar, baru kemudian resmi menjadi anggota. Di CU tidak ada istilah calon anggota. Yang ada, anggota biasa dan anggota luar biasa. Anggota luar biasa yaitu anak-anak yang menabung di CU – Kopdit, dan usia mereka secara hukum belum memenuhi syarat menjadi anggota CU – Kopdit.

Program pendidikan yang diselenggarakan CU bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dari anggota. Lingkup peningkatan kapasitas itu meliputi aspek-aspek mentalitas dan spiritualitas; pengetahuan dan wawasan; keterampilan dan keahlian. Anggota yang telah mengikuti serangkaian pendidikan baik motivasional, maupun pendidikan dasar dan lanjutan secara resmi dapat menerima manfaat dari CU. Mereka dapat menyimpan uang dan mengakses pinjam untuk meningkatkan produktivitas dan berbagai manfaat yang bisa didapat dari CU.

Mendidik anggota agar mampu mengontrol penggunaaan uang, misalnya, menemani anggota dalam merencanakan penggunaan uang untuk mencapai tujuan hidupnya. Tentu saja harus lewat pendidikan, dan tidak cukup hanya sekali mengikuti pendidikan. Mungkin pada saat itu anggota belum konsentrasi karena ada sesuatu yang harus kejar tayang. Dia mengikuti seadanya karena keterbatasannya. Karena itu dia perlu diberikan pendidikan berulang-ulang, dan terus menerus. Ketika anggota semakin bijaksana menggunakan uang, maka dia akan tekun menggunakan uangnya untuk meningkatkan pendapatan.

Bahwa CU mencerdaskan anggota, dan berada di tengah-tengah anggota, setiap anggota CU yang ingin memperbaiki hidup sejahtera harus dibantu untuk bisa sejahtera fisik, sosial, moral, dan spiritual. Pendidikan CU yang berkelanjutan diharapkan membantu anggota mengelola keuangannya yang terintegrasi dengan perjuangan atau tujuan hidupnya. CU memberdayakan anggota agar mereka mampu mandiri, bentuknya antara lain; membebaskan anggota dari ketergantungan bantuan pihak luar, jangan sampai masyarakat kecil ini tetap menjadi korban rentenir. Mereka kerja keras saja, tetapi tidak pernah menikmati hasilnya. Karena hasilnya untuk orang lain. CU harus mendorong anggota untuk berdiri sendiri dalam kebersamaan dan saling berbagi. Itulah hidup yang harus dihayati dalam gerakan CU.

Melalui pendidikan dasar, anggota CU ditanamkan kerangka pikir yang benar terhadap gerakan dan maksud keberadaannya. Selain itu, anggota juga diperlengkapi dengan mekanisme pengelolaan keuangan yang sehat dan produktif melalui pendidikan literasi keuangan. Anggota CU diajak untuk memahami kondisi dan prospek ekonomi yang akan dihadapi ke depannya. Tidak hanya sampai di situ, secara konsisten anggota didampingi dalam mengelola sumber daya dengan otonomi penuh atas arah pengembangan dirinya. Masyarakat dalam hal ini anggota CU didoktrin agar mampu mandiri dengan tidak menumbuhkan paradigma kompetisi, tetapi kolaborasi untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Pendidikan dasar dan lanjutan dimaksudkan guna membentuk konsep (pola pemahaman) yang benar tentang CU secara umum dan bagaimana CU memfasilitasi anggotanya dalam mencapai kesejahteraan. Sementara itu, pendidikan untuk anggota luar biasa (anak-anak) biasanya berupa pertemuan dalam bentuk pertemuan singkat dengan cara bercerita dan bermain permainan yang berhubungan dengan pentingnya solidaritas, kepedulian lingkungan, menghargai orang lain, aspirasi dan kehidupan ekonomi. Pendidikan di CU yang biasa disebut non-klasikal, diimplementasikan melalui diskusi, media cetak seperti brosur, poster, spanduk, kaos, topi, atau apa pun yang menjadi sarana penyedia pesan khusus tentang CU.

Struktur pendidikan dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan. Anggota mendapat pendidikan dari CU primer tempat anggota bernaung, lalu CU primer mendapat pelatihan dari CU sekunder (Puskopdit), kemudian Puskopdit mendapat pendidikan dari Inkopdit, dan regionalnya Asian Concederation of Credit Union (ACCU), lalu ACCU mendapat pelatihan dari World Council of Credit Union (WOCCU). Oleh karena itu tata kelola CU mengikuti standar tata kelola dunia. Pelatihan pengurus, pengawas dan manajemen Kopdit primer secara regular dilaksanakan oleh CU sekunder, demikian pula Inkopdit memberikan pelatihan kepada pengurus, pengawas, dan manajemen Puskopdit.

Dilaksanakannya program pendidikan dan pelatihan (Diklat) secara berjenjang dan berkelanjutan, untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas anggota, pengurus, pengawas, dan pengelola – manajemen, dengan tujuan menunjang perkembangan lembaga. Diklat anggota, pelaksanaannya bisa dilakukan secara internal di CU primer sendiri, namun untuk CU sekunder – Puskopdit dapat mengikuti di tingkat nasional atau internasional seperti pelatihan yang diselenggarakan oleh ACCU.

Ada 30 pelatihan, forum pertemuan dan workshop yang dilaksanakan oleh Puskopdit BKCU Kalimantan, untuk Pengurus, Pengawas, dan Manajemen CU Primer antara lain: Pembukuan Dasar & Lanjutan, Master Trainer & Community, Pemahaman Gerakan Credit Union Kalimantan, Tata Kelola, Kepemimpinan Manajemen, Manajemen Keuangan, Sertifikasi Fasilitator, Dasar-dasar Perpajakan, Pengembangan, Penulisan & Implementasi Kebijakan, Kewirausahaan, Manual Auditor ACCESS Branding, Kepemimpinan Pengurus & Pengawas, Penilaian Kinerja Manajemen, Credit Union Directors Competency Course (CUDCC), Human Resources Management (HRM), Manajemen Konflik, Penilaian Kinerja Pengurus dan CEO/GM/Manager, Manajemen arsip, Credit Union CEO’s Competency Course (CUCCC), Pengawasan & Internal Audit, Strategic & Business Planing, Sertifikasi Manajer, Manajemen Kredit, Etos Kerja, Sensitivitas Gender, Members Relationship Management (MRM), Manajemen Risiko, Marketing, Credit Unon Information Computer Technology, Monitoring & Evaluasi (monev). Anggota yang ingin menjadi pengurus – pengawas, dan karyawan yang ingin meniti karir sampai puncak – sebagai General Manager (GM), Idealnya, haruslah mengikuti seluruh jenjang Diklat tersebut.

Peranan pendidikan dalam upaya menyejahterakan masyarakat terkait dengan apa yang disebut oleh Amartya Sen sebagai human capability. Kemampuan manusia (human capability) merupakan modal dasar dalam pembangunan ekonomi. Mekanisme paling dasar dalam mengatasi kemiskinan ialah modal manusia (human capital). Modal manusia terkait dengan keterampilan (skills). Keterampilan itu kemudian menjadikan manusia lebih produktif agar dapat meningkatkan pendapatan sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dan mewujudkan kesejahteraan. Dengan demikian rantai kemiskinan dan eksklusi sosial dapat direduksi, bahkan dihilangkan.

Semua anggota CU merupakan pemilik sekaligus pelanggan dari CU itu sendiri. Tidak ada yang boleh memanfaatkan hanya demi kepentingan diri sendiri. Anggota yang tergolong kaya tidak bisa hanya menabung dan menikmati balas jasa yang tinggi. Semua anggota didorong untuk melakukan pinjaman dan semua produk simpanan CU memiliki ketentuan yang dimaksudkan agar tidak terjadinya kapitalisasi. Melalui berbagai jenis layanan simpan-pinjam, CU mendampingi dan memfasilitasi masyarakat secara mandiri menolong dirinya mencapai kesejahteraan. Meskipun kegiatan CU adalah simpan-pinjam, tetap perlu dibedakan dengan koperasi pada umumnya.

CU – Kopdit merupakan perkumpulan masyarakat yang menekankan fungsi mengembangkan modal masyarakat, di mana modal dikumpulkan dari anggota dan menjadi sumber bagi anggota itu sendiri – kemandirian. Sedangkan koperasi merupakan perkumpulan masyarakat yang menekankan fungsi menjalankan usaha produktif masyarakat dengan menjual produk untuk anggotanya. Setiap layanan keuangan yang dilakukan oleh CU menyesuaikan dengan kondisi anggotanya. Maka, penting bagi anggota untuk menyadari posisi ekonominya saat akan menggunakan produk CU. Lewat kegiatan pendidikan CU menumbuhkan kesadaran masyarakat agar memiliki kemampuan dalam mengelola keuangan secara mandiri dan produktif.

Tetapi harus diakui bahwa di banyak CU masih harus bebenah. Karena banyak CU yang tidak ada datanya. Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas anggota BKCU Kalimantan melakukan pendampingan kepada anggota – CU primer sangat tertib. Dan CU primer juga memberikan pendampingan kepada anggotanya. Namun, belum semua CU di Indonesia. Namun, tidak semua CU di Indonesia memakai jalur pendampingan. Mereka masih menggunakan jalur biasa, jalur konvensional, buka kantor, bikin aturan, jualan jasa sekian %, pinjaman berapa kali lipat, dan seterusnya.

Walau seluruh pengurus dan jajaran manajemen yang ada dalam jejaring BKCU Kalimantan telah bekerja keras, karena kondisi perekonomian global kurang kondusif, dan akhirnya berpengaruh pada perekonomian Indonesia juga berimbas terhadap pertumbuhan CU CU anggota BKCU Kalimantan. “Memang ada CU yang bertumbuh cukup bagus, tetapi ada juga yang kurang bagus,” jelas Sunardi. Dicontohkan, ada CU yang perkembangan anggotnya devisit. Masuk 100 anggota baru, tetapi yang keluar 125 orang. Jumlahnya tidak signifikan jika dilihat dari jumlah anggota yang mencapai 40.000-an. Penyebab keluarnya juga belum dievaluasi, tetapi hal tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pihak manajemen maupun pengurus. Terkait utang beredar, rata-rata juga baru mencapai 65,68%, baru mendekati kategori ideal yaitu 70% – 80% dari total simpanan anggota. Modal lembaga bersih juga tidak tumbuh, karena hanya bertumbuh sekitar 2,57%. Idealnya 5% – 10%.

Menurut Sunardi, kita juga masih senang dengan cara-cara masa lalu, anggota datang ke kantor, ngobrol berlama-lama di kantor. Perkembangan teknologi yang luar biasa cepat, menjadi tantangan. Semua dibuat semakin cepat dan akurat. Tantangan lain, pertumbuhan anggota dari kalangan anak muda. Sering dikatakan; anak muda itu payah, tidak senang ber-CU. Hanya mau menjadi anggota CU kalau diterima menjadi pegawai CU. Boleh melamar menjadi pegawai CU asal sudah menjadi anggota CU. Ini siasat agar anak-anak muda mau menjadi anggota CU. Itu termasuk strategi untuk menambah anggota dari kalangan anak-anak muda.

Waspada adalah sebuah sikap dan langkah bijak. Dulu kita takut yang namanya perdagangan bebas di kawasan Asia (MEA). Begitu banyak diskusi tentang bagaimana menghadapi MEA. Tetapi MEA ternyata tidak apa-apa, karena CU membangun kekuatan dari dalam. Tidak membangun ketergantungan pada pihak luar. “Walau masih banyak tantangan, kita tidak boleh merasa kelelahan, bahkan demotivasi. Jangan biarkan pertumbuhan berhenti, kredit lalai tetap tinggi, dan merasa lelah. Jika hal itu terjadi, kita termasuk orang yang terdemotivasi. Kita harus fokus, dan terus bekerja keras untuk mencapai sejahtera. Sudah ada contoh, CU Sauan Sibarrung yang bisa kita lihat keberhasilannya meraih prestasi dari ACCU,” tegas Sunardi. Pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM, juga memberikan penghargaan sebagai CU Berprestasi Nasional.

Kalau ada orang yang berhasil, kenapa kita tidak bisa? Semua bisa. Mungkin strateginya yang tidak pas. Itu berarti tidak efisien secara fisik dan mental. Sudah tahu anggota pada siang hari bekerja, tetapi berkunjung ke tempat dia pada siang hari juga. Tentu sulit akan ketemu dengan anggota tersebut. Tetapi biayanya jalan terus. Tidak ada perintah, misalnya, anggota itu harus dikunjungi pada waktu sore hari, misalnya,  sehingga setiap kali melakukan kegiatan penangan kredit lalai tepat sasaran, dan biaya yang digunakan berdaya guna. Ada dampaknya karena bertemu dengan anggota yang dimaksud. Jangan sampai lelah dan demotivasi. Jangan dijadikan alasan lelah itu untuk menyerang. Pengurus – pengelola telah menerima mandat, apa pun harus selesaikan satu persatu. Kalaupun tidak semua orang dapat diselamatkan melalui pendidikan yang menyelamatkan, lakukanlah hal yang menyelamatkan.

Telah disepakati CU diperuntukkan bagi orang-orang kecil. Karenanya, anggota yang sebagian besar orang-orang kecil, harus menjadi pusat dari apa yang lakukan oleh gerakan. Pengurus, pengawas, pengelola, dan volunteer pun anggota. Anggota, mesti ada yang mengambil peran lebih. Ada yang menjadi pengurus, pengawas, pengelola, volunteer, dan ada yang hanya menjadi anggota saja. Namun three in one-nya mengajarkan ketiga-tiganya ada, dan semua datanya harus jelas. Jangan hanya bilang; CU kami volunteernya banyak, tetapi tidak ada datanya. Aktivis harus menjadi teladan pemberdayaan. Bahkan teladan segalanya. (adit – mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *