Kondisi Bisnis di Tahun Politik 2018 Pedagang Kecil Semakin Sulit

Para ekonom dan lembaga internasional memprediksi ekonomi Indonesia bakal membaik pada 2018. Apalagi, ada pesta politik: Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah. Namun, pertumbuhan ekonomikemungkinan tidak akan setinggi target pemerintah yaitu 5,4%.Ekonomi berpotensi tumbuh sedikit lebih tinggi dari tahun 2017,penyebabnya, konsumsi rumah tangga membaik di tahun politik.Karena adaPilkada serentak, pasti dana daerah bergerak.

Namun, masih ada risiko ekonomi dari sisi belanja negara lantaran penerimaan pajak yang seret. Belanja pemerintah daerah (pemda) juga kemungkinan tidak akan ekspansif. Kepala daerah –incumbent yang maju ikut Pilkada, sekarang takut tanda tangan (proyek), karena takut tidak terpilih lagi. Di sisi lain, bila kepala daerah yang terpilih adalah orang baru, butuh waktu tiga bulan untuk belajar pemerintahan sehingga realisasi belanja daerah akan tersendat.Ekonom Bank PermataJosua Pardede lebih optimistis,  memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2% -5,3% di 2018. Penyokongnya, kenaikan konsumsi masyarakat sebagai efek positif dari Pilkada dan imbas program padat karya yang dilaksanakan pemerintah.

Meskipun investor asing menurun, diprediksikan lebih memilih wait and see – menunggu hingga pilkada selesai, tetapi investor dari dalam negeri diperkirakan akan melonjak. Belanja negara diperkirakan akan meningkat,karena Indonesia menjadi tuan rumah perhelatanAsian Games 2018 dan International Monitory Fund (IMF) 2018. Dua peristiwa besar; Pilkada dan Asian Games menjadi momentum positif bagi pertumbuhan ekonomi, karena akanmendorong peningkatan konsumsi.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan, di tahun 2018 para pengusaha akan lebih waspada dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Hal itu lantaran171 Pilkada itusekaligus menjadi pemanasan jelang Pilpres 2019.Buat para pengusaha, tahun politik harus diwaspadai. Artinya, pasti ada rasa was-was, kehati-hatian siapa nantui yang akan memimpin. Kewaspadaan yang dilakoni pengusaha dalam arti tetap menjalankan kegiatan usahanya seperti biasa, namun dilakukan dengan lebih hati-hati.

Namun Kadin juga memperkirakan, ada sektor tertentu yang akan tumbuh cukup signifikan didorong oleh kondisi tahun politik. Misalnya, orang kampanye butuh banner, tempat logistik, dan minuman pasti laku. Jualan nasi padang, Warteg pun jalan. Sejumlah lini indikator tingkat pertumbuhan ekonomi akan meningkat, salah satunya konsumsi masyarakat. Namun diberharapkan, yang meningkat bukan hanya dari sektor konsumsi, melainkan juga dari segi investasi serta ekspor.

Sekretaris Jenderal Ikatan Sasrjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Aviliani,  mengatakan; bisnis telekumunikasi, infrastruktur, farmasi, dan bisnis food and beverage(FnB) makanan dan minuman akan makin bagus di tahun 2018. Investasi di bidang infrastruktur masih banyak karena merupakan program pemerintah. Perusahaan memang cenderung wait and see – menunggu arah kebijakan pemerintah. Meski begitu, investasi infrastruktur dari kalangan swasta tetap akan terjadi.

Farmasi tumbuh karena adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kebutuhan masyarakat akan jasa telekomunikasi juga sangat tinggi, karena banyak aktivitas yang bisa dilakukan melalui genggaman tangan. Oleh karenanya  transportasionline dan e-commerce tidak bisa dibendung.Namun perpindahan belanja dari konvensional ke online belum banyak karena baru sekitar 2%. Perpindahan pola belanja akan signisfikan pada 10 tahun mendatang. Tutupnya sejumlah toko ritel di kota-kita besar karena pelaku bisnis ritel melihat prospek di daerah lebih menjanjikan dan masyarakatnya lebih suka datang ke toko.

Pariwisata memiliki turunan usaha cukup besar yang mampu membantu mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk bisnis makanan dan minuman.Memang, perpindahan konsumsi nonleasure ke leasure belum cukup signigfikan. Namun pengembangan industri pariwisata harus terus dilakukan karena merupakan industri yang cukup menjanjikan di masa depan. Jangan lupa, ada dana desa yang bisa digunakan untuk mengembangkan ekonomi daerah berbasis alam dan pangan.

Kepala daerah harus menjadi leader.Jika tidak, masyarakat tidak naik kelas dan perekonomian tidak akan tumbuh. Dana desa bisa langsung menyentuh masyarakat rentan miskin dan miskin yang jumlahnya 100-an juta jiwa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pembentukan BUMDes tidak harus dilakukan per desa, tetapi bisa beberapa desa berkumpul menjadi satu seperti koperasi, agar badan usaha itu lebih besar dan lebih efektif, sehingga memberi manfaat yang signifikan.

Karena daya beli masyarakat bawah -rakyat kecil tahun 2017 menurun, sangat rendah, akhirnya berdampak langsungterhadap sektor koperasi. Menurut Ketua Umum Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya, H Sugiharto, hal itu sangat dirasakan anggota KSU Tunas Jaya yang hampir 100% punya kegiatan usaha mikro kecil (UMK) seperti; pedagang pakaian, pedagang mainan anak-anak, pedagang bakso, warung nasi, tukang gado-gado, pedagang mie tek-tek, dan sebagainya, sedangkan yang usaha menengahnya hanya 1 – 2, sedikit sekali. “Akibat daya beli masyarakat rendah, pengembangan usaha mereka juga statis. Kondisi umum itu sangat mempengaruhi,” jelas H Sugiharto, pendiri KSU Tunas Jaya, yang masih tetap dipercaya oleh anggota untuk memimpin koperasi yang didirikan pada tahun 1977, dimulai dari kelompok arisan warga RW 07, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Keluhan anggota semakin banyak.Gambaran yang jelas ada saja, misalnya, warung kecil yang biasa jualan makanan, karena anak-anak tidak mendapatkan uang jajan yang sama seperti dalam kondisi baik, akhirnya mereka tidak bisa jajan. Mulai dari pedagang es warungan,sampai pedagang di lingkungan kantin sekolah; SD – SMP – SMA/SMK, mengeluh karena harga barang-barang naik. Pada dasarnya harga jualan; es, bakso, tahu, tempe tidak naik. Caranya, porsi diperkecil. Contoh, bakso, mie ayam, mie pangsit (pedagang keliling) semangkok harganya kisaran Rp 7000,- – Rp 8000,-  yang mangkal, antara Rp 10000,- Rp 15000,- Kalau biasanya 1 Kg jadi 10 porsi, kemudian dijadikan 12 porsi. Jumlahnya diperbanyak – ukurannya diperkecil, tetapi harga tidak dinaikan.Penurunan omzet, termasuk yang jualan di pasar-pasar tradisional sampai 50% dari biasanya.

Setiap ada Pilkada atau pemilihan umum (Pemilu) pada saat kampanye dalam kurun waktu 5 – 6 bulan, pengaruhnya cukup besar. Yang paling terkena imbasnya, para pedagang kaki lima di pinggir-pinggir jalan atau pedagang bergerak, seperti tukang bakso, atau mie ayam keliling. Dari 1000-an anggota KSU Tunas Jaya yang paling banyak jualan di Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Jatinegara, dan Pasar Benhil.Mereka yang selama ini jualan di Blok F Pasar Tanah Abang, sekarang sangat sepi.Apalagi setelah “Pasar Tasik” – penjual bordiran dan konveksi Tasikmalaya pindah ke Tanah Abang Jatibunder, sebagian pindah ke Jatibaru.

Pedagang “Pasar Tasik” yang mulai berdatangan di Tanah Abang sekitar pukul 02 dini hari, siang hari sudahpulang lagi ke Tasikmalaya, Jawa Barat.Mereka tidak mengelar dagangannya di trotoar jalan, tetapi jualan di mobil. Barang-barang yang dijual mulai dari bordir kelas bawah sampai kelas atas, baju anak-anak, seragam sekolah, pakaian muslim, semua ada. Pedagang “Pasar Tasik” yang buka seminggu dua kali, Selasa – Kamis, pada umumnya sudah punya pelanggan pedagang eceran, sehingga jualannya cepat habis.Kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang sangat “bijaksana” bolehberjualan di trotoar – jalan, biaya mereka menjadi lebih ringan. Sebab, tidak dibebani sewa kios dan bayar listrik, tetapi hanya bayar retrebusi kebersihan dan keamanan yang dikutif oleh petugas liar – preman.

Karena di sana-sini pangsa pasarnya terganggu, KSU Tunas Jaya tidak bisa mengembangkan keanggotaan.Para anggota juga sulit pengembangkan usahanya.Bahkan ada anggota yang brantakan harus pindah mencari lokasi baru, tetapi tidak dapat tempat. Belum lagi yang terkena penertiban, terpaksa harus kucing-kucingan dengan  Satpol PP. Dagang kucing-kucingan, lakunya tidak seberapa. “Yang dagang menetap, seperti adik saya sewa kios di Pasar Tanah Abang Rp 40 juta setahun, jualan setahunincome – pendapatan bersihnya untuk sewa tidak ketemu, karena sepinya pengunjung,” urai Sugiharto. Jalanan macet, dan sulit mencari tempat parkir, lanjut dia, membuat orang malas ke Pasar Tanah Abang.Bawa mobil sendiri ke Tanah Abang, sengsara.Susah mencari tempat pakir, bayarnya pun mahal Rp 20.000,-“Kalau dikasih Rp 10.000,- tukang parkir tidak mau,” jelasnya.

Sugiharto mengaku, walau sulit melakukan pengembangan koperasi, namun upaya menambah wilayah operasi untuk mendapatkan anggota baru tetap dilakukan.Sasaran rekrutmen anggota baru prioritas tetap dari kalangan pedang. Khususnya pedagang yang berjualan di pasar-pasar tradisional, seperti; Pasar Tanah Abang, Pasar Jatinegara, Pasar Senen, Pasar Baru, dan Pasar Benhil. Konsep pengembangannya, anggota mencari anggota baru.Dan setahun terakhir, karena ada beberapa anggota yang pindah jualan ke Tamrin City, Tunas Jaya pun mulai melirik para pedagang di Tamrin City, salah satu pusat perpelanjaan bergengsi, dan murah meriah di jantung Kota Jakarta.

Para pedagang kurma yang dulu berjejer menggelar lapak dagangan di trotoar Jln KH Mansyur, oleh Pemprov DKI Jakarta dipindahkan ke Tamrin City. Tetapi mereka sepertinya tidak enjoy, lantaran pembelinya tidak sebanyak waktu jualan di pinggir jalan.Pembeli yang hanya mau beli sedikit, 3 Kg – 5 Kg carinya yang praktis, di pinggir jalan.Kalau belinya banyak, seperti untuk oleh-oleh dari tanah suci (umrah – haji) mereka cari di Tamrin City. “Banyak anggota KSU Tunas Jaya yang mendapat kios di Tamrin  City. Sewanya memang murah, tetapi pembelinya juga sepi,” jelas Sugiharto.

KSU Tunas Jaya, kata Sugiharto, disamping punya usaha toko kelontong untuk melayani kebutuhan sembako anggota dan masyarakat sekitar, juga punya unit simpan pinjam. Ketika usaha anggota sedang sepi – munurun, alih-alih mereka menabung, pengembalian pinjaman pun sering bermasalah, tidak tertib.“Pedagang kaki lima setengah permanen – mereka yang dapat tempat, sekarang omzetnya juga turun jauh,” jelas Sugiharto. Dan itu, lanjutnya, bukan hanya dialami KSU Tunas Jaya, melainkan juga dialami oleh koperasi-koperasi lain.

Pada dasarnya,usaha mikro kecil seperti warung kelontong transaksinya hanya untuk kebutuhan konsumsi, tidak terlalu terpengaruh oleh tahun politik.Kecuali saat ingar-bingar kampanye Pilkada dan Pemilu yang hanya 1 – 2 bulan dan Jakarta Fair.Di luar masa kampanye dan Jakarta Fair, jika daya beli masyarakat bagus, usaha pun berjalan lancar.“Entah kenapa, sejak zaman dahulu selama Jakarta Fair 1 bulan, usaha warung-warung di kampung terdampak, sehingga penghasilan mereka menurun.Padahal, Jakarta Fair itu tempatnya jauh, di Kemayoran, tetapi faktanya warung-warung  di Pejompongan atau wilayah lain juga sepi,” tegas Sugiharto.

Selama 40 tahun mengelola KSU Tunas Jaya, banyak suka duka yang dialami Sugiharto.Siklus yang dialami, itu-itu saja.Misalnya, waktu puasa, karena konsumsi masyarakat naik, warung anggota laris.Sebagai insan koperasi yang ingin sejahtera bersama, ketika koperasi mengalami kesulitan, semua diajak – dilibatkan untuk mengatasi kesulitan secara bersama-sama.Kebersamaan yang masih tetap eksis adalah arisan rutin anggota yang diadakan setiap bulan, minggu pertama.

Pada saat arisan, berbagai informasi dan peneguhan berkoperasi disampaikan.Juga diisi tausiah, diselipkan pula pesan-pesan bagaimana berbisnis yang baik dan jujur.Kegiatan arisan yang melahirkan KSU Tunas Jaya tahun 1977, dan hingga saat ini masih rutin dilaksanakan setiap bulan, dihadiri ratusan anggota, inilah istimewanyaKSU Tunas Jaya.Konsistensi itulah yang membuat KSU Tunas Jaya tetap jaya. (mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Kondisi Bisnis di Tahun Politik 2018 Pedagang Kecil Semakin Sulit

  1. hermal st says:

    Kondisi Bisnis di Tahun Politik 2018 Pedagang Kecil Semakin Sulit, dibidang jasa juga merasakan sulitnya usaha saat ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *