Kopdit Sentosa Fokus di Pertanian

Lahir dari kegiatan arisan warga Kring – lingkungan umat Katolik di pemukiman padat, Lorong Lintas, Demang Lebar Daun, Ilir Bar. I, di tengah kota pempek, Palembang, Koperasi Kredit (Kopdit) Sentosa berkembang pesat di daerah perdesaan, nun jauh dari kota. Karena di perdesaan, sebagian besar anggotanya petani pendatang – transmigran dari berbagai daerah di Kabupaten Banyuasin. Kopdit Sentosa yang didirikan oleh 17 warga peserta arisan pada 14 Januari 1999, tetap berkantor pusat di kampung kelahirannya, di Jln Kamboja No 1360, Kota Palembang 30151, Sumatera Selatan.

“Koperasi ini, lahir di kampung ini. Awalnya dari pertemuan warga lingkungan, akhirnya berkembang …., dan terus berkembang menjadi besar,” tutur Ir Maksimus Rahimin, yang terpilih sebagai Ketua Kopdit Sentosa dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2017,  mengawali perbincangannya dengan wartawan Majalah UKM, beberapa waktu silam. Menurut Agustinus Supriyanto,SH, salah seorang pendiri Kopdit Sentosa, yang saat ini sebagai Sekretaris Panitia Kredit, terbentuknya koperasi ini boleh dibilang tidak disengaja. Berawal dari kegiatan lingkungan umat Katolik, yang saat itu juga sedang ramai-ramainya budaya arisan.

Dari 17 peserta arisan, mencoba bagaimana caranya membentuk koperasi. Pemikirannya, kalau hanya arisan tidak menciptakan modal, sedangkan koperasi menciptakan modal untuk anggota yang ingin berusaha, buka warung, misalnya. “Akhirnya pesertra arisan dari Kring 34, sepakat mendirikan koperasi,” urai Agus. Karena jabang bayi koperasi dirawat dan dikelola dengan baik, tumbuh sehat. Setelah memberikan dampak positif, semakin hari semakin mendapat kepercayaan dari umat lingkungan. Terbukti, anggota terus bertambah menjadi 35 orang. Karena telah memenuhi persyaratan sebagai koperasi, maka diurus legalitas badan hukum (BH-nya).

Setelah 3 tahun, dan menunjukan kepengurusnya solid, sesuai prinsip koperasi; terbuka dan sukarela, maka anggota tidak dibatasi hanya dari kalangan umat Katolik, melainkan juga terbuka untuk semua umat agama, semua suku dan etnis, semua golongan, semua orang yang ingin bergotong-royong, bersama-sama tolong menolong mengatasi kesulitan secara mandiri, dan berbuat baik untuk kesejahteraan bersama. Pintu telah terbuka lebar untuk siapa saja. Walau warga sekitar sudah cukup menengal keberadaan Kopdit Sentosa, namun masyarakat tidak serta-merta tertarik jadi anggota. Bisa dimaklumi, karena koperasi ini diinisiasi umat Katolik. “Tidak apa, yang penting kami terbuka untuk melayani siapa saja, tanpa membeda-bedakan agama, suku dan golongan,” tutur Maks.

Ketika warga – khususnya umat Muslim mulai tertarik mau jadi anggota, ada di antara mereka yang berpertanya, uangnya disimpan digereja? Kalau disimpan di gereja dia tidak mau jadi anggota. Untuk meyakinkan bahwa uangnya benar tidak disimpan di gereja, minta dibuatkan perjanjian. Semakin lama, anggota yang bukan dari umata Katolik terus bertambah. Ada yang aktif di kegiatan masjid mendaftar menjadi anggota. Tetapi dia minta, waktu Rapat Anggota Tahunan (RAT) namanya tak mau dicantumkan dalam buku RAT. Alasanya, tidak enak dengan yang lain (sesama umat Muslim). Dalam perjalanan waktu, kebetulan yang “fanatik” tadi butuh dana, pinjam ke koperasi. Sebagai anggota, dilayani dengan baik. Karena pinjam, namanya dicatat dalam pembukuan. Pengaruhnya cukup besar. Ketika masyarakat tahu bisa pinjam di koperasi, akhirnya banyak yang tertarik menjadi anggota.

Bagi Novi Liftiwati, Amd, yang juga aktif di pengajian, karena berfikir prural bahwa perbedaan adalah anugerah, tidak menjadi persoalan. Dia anggap koperasi itu syariah, karena semua keputusan disepakati bersama. Tentang besar kecilnya jasa pinjaman dan jasa simpanan, misalnya, diputuskan bersama-sama dalam rapat anggota. Demikian pula pembagian SHU, juga disepakati bersama. Koperasi itu, kata Novi, transparan – adil, bukan riba. “Berbeda dengan bank konvensional, misalnya, yang keuntungannya untuk bank itu sendiri. Aturan simpan pinjam pun ditentukan sepihak oleh bank. Nasabah dipaksa mengikuti aturan bank. Sangat berbeda dengan koperasi. Saya tertarik jadi anggota karena sedikit-sedikit tahu tentang koperasi,” jelasnya seraya menambahkan, dirinya sudah 8 tahun menjadi anggota Kopdit Sentosa. Suami dan anak juga menjadi anggota, tidak masalah. Sebagai anggota, Novi yang ber-KTP Kabupaten Banyuasin, terbilang sangat aktif. Karenanya dia dipercaya mewakili anggota sebagai pengawas. “Ini tahun ke-4 atau periode ke-2  (2018 – 2021),” jelasnya.

Tertarik koperasi, dan sudah 5 tahun menjadi anggota Kopdit Sentosa, menurut Yohanes Wijaya, karena koperasi itu kekeluargaan dan fleksibel. Dicontohkan, jika ada kendala pembayaran, misalnya, bisa dikomunikasikan, dinego jadual ulang. “Kalau di bank tidak bisa diajak kekeluargaan. Menjadi anggota koperasi itu sangat terbantu. Terutama ketika butuh permodalan mudah pinjam, dan pengembaliannya sesuai kesepakatan,” tutur Yohanes, yang telah 11 tahun jualan martabak manis. Makanan khas Palembang yang terkenal adalah pempek, tetapi Yohanes pilih jualan martabak, karena bisanya bikin martabak. Tetapi bakat yang mengalir dari keluarga itu belum fokus dikembangkan. Alasannya, masih terkendala kesibukan lain. Bersama sang isteri pagi sampai sore masih kerja. Jualannya hanya pada malam hari. Itu pun kalau capek juga istirahat, tidak jualan.

Untuk membangun kepercayaan, terutama bagi warga sekitar, para pendiri dan pengurus menganggap penting Kopdit Sentosa punya kantor sendiri. Karenanya dalam perbincangan dan rapat-rapat resmi dibahas, suatu saat jika sudah punya kemampuan beli – membangun kantor, sebaiknya di kampung kelahiran. “Maksudnya, supaya menjadi kebanggaan anggota dan warga Lorong Lintas, sekaligus sebagai monument perjuangan masyarakat kecil,” tegas Maks. Maks mengakui, bahwa saat ini Kopdit Sentosa mungkin belum menjadi kebanggaan warga. Tetapi minat warga menjadi anggota koperasi semakin besar.

Pemikiran pengurus membangun kantor di tempat kelahirannya tidak salah. Juga banyak contoh, koperasi yang didirikan dan dibangun dari kegiatan paguyuban warga masyarakat yang berkembang dan maju pesat, asetnya sudah ratusan miliar, atau triliun, namun ketika membangun kantor pusat tetap kampung kelahirannya walau di pemukiman padat, dan jalannya sempit. Sedangkan kantor cabangnya berdiri megah di kawasan strategis, dan di jalan protokol. Membangun kantor di tempat kelahiran sepertinya tidak ingin kehilangan energy – semangat perjuangan. Mempertahanan etos kerja, didukung energy – semangat juang diyakini akan dapat menggapai sukses besar.

Koperasi yang didirikan dari paguyuban atau arisan warga yang menggapai sukses, namun tetap berkantor di kampung kelahirannya, misalnya, Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya, Jakarta. KSU Tunas Jaya telah menjelma menjadi Koperasi Teladan, meraih berbagai penghargaan dari tingkat kota, provinsi, nasional dan dua kali meraih penghargaan Satya Lencana dari Presieden RI. Meski anggotanya tersebesar di berbagai wilayah Jakarta, kantor pusatnya tetap di pemukiman padat, Jl. Panjernihan, RT.2/RW.7, Kel. Bend. Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Masih dari Ibukota, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua, awalnya juga dari paguyuban, arisan guru-guru. KSP Kodanua jauh lebih besar dari KSU Tunas Jaya. Prestasinya juga luar biasa. Berbagai penghargaan diraih; Koperasi Berprestasi Nasional, Satya Lencana Wirakarya, dan Satya Lencana Pembangunan, juga Koperasi Award. Aset KSP Kodanua akhir tahun buku 2017 dikisaran Rp 200 miliar, memiliki 21 kantor cabang di jalan-jalan strategis di berbagai kota. Tetapi kantor pusatnya tetap di Jelambar, daerah pemukiman padat di wilayah Jakarta Barat. Contoh lain, Kopdit Pintu Air, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tahun buku 2017 Kopdit Pintu Air memiliki kekayaan Rp 763 miliar. Kantor cabang dan cabang pembantu tersebar di NTT, Surabaya, Makasar dan Jakarta, total 61 kantor. Tetapi tetap berkantor pusat di Dusun Rotat. Satu-satunya gedung megah berlantai 3 di Dusun Rotat adalah milik 173.280 anggota KSP Kopdit Pintu Air.

Mengambil contoh Kopdit – Credit Union (CU) tidak lengkap jika tidak berpaling ke Kalimantan Barat (Kalbar), yang kini menjadi “keblat” CU di Indonesia. Adalah CU Lantang Tipo, yang didirikan 2 Februari 1976, kini CU terbesar di Indonesia dengan aset tahun buku 2017 sebesar Rp 2,75 triliun, jumlah anggota 186.000 orang, memiliki 50 kantor cabang di seluruh Kalimantan Barat, kantor pusatnya di Jln. Pancasila No.4 Pusat Damai, sebuah kota kecamatan di Kab. Sanggau, Kalbar, sekitar 4 jam perjalan menggunakan kendaraan roda 4 – mobil dari Pontianak, Ibukota Provinsi Kalbar. Juga CU Usaha Kita, Sekadau, Kalbar yang asetnya lebih dari Rp 202 miliar, dan memiliki belasan tempat pelayanan (TP), semacam cabang, kantor pusatnya di perkampuangan, yang warganya masih banyak yang belum bisa membaca dan menulis.

Ditilik dari usianya, 19 tahun, ibarat gadis Kopdit Sentosa boleh dibilang remaja yang layak dipinang. Tetapi, kata Agus, gaung koperasi ini di tempat kelahirannya tidak seranum – segagah di luar. Diakui koperasinya masih kecil, anggotanya baru 1.525 orang. Untuk menembus kebutuan mengembangkan Kopdit di tengah kota, pengurus memberanikan diri untuk uji nyali. Pengurus membuat terobosan, nekat pergi jauh ke perdesaan. Kegagalan, adalah hantu di depan mata. Karena tekat telah bulat, fokus diarahkan ke kabupaten-kabupaten daerah pertanian. Lagi-lagi yang harus dihadapi adalah benteng fanatisme masyarakat yang mayoritas umat Muslim. Namun pengurus tak kehabisan akal. Promosi awal melibatkan tokoh-tokoh Muslim untuk mempengaruhi. Hasilnya sangat menggembirakan. Sesuai target yang dibidik, yaitu petani, maka yang ditawarkan adalah Pinjaman Pertanian.

Pada musim tanam, biasanya petani butuh dana untuk beli bibit, pupuk, racun pembasmi hama dan biaya pengolahan lahan. Sebelum Kopdit Sentosa masuk ke perdesaan memberikan pelayanan, setiap musim tanam para petani memanfaatkan bibit dari gudang, pinjam ke orang-orang Bali – transmigran sukses yang juga melayani pinjaman, atau pinjam ke tauke-tauke di Palembang. Susahnya, waktu panen yang menentukan harga adalah para tauke, yang juga pembeli gabah sehingga petani tidak menikmati hasil kerja kerasnya.

Kopdit Sentosa masuk ke perdesaan waktunya tepat, saat petani betul-betul membutuhkan modal. Setelah sosialisasi dan promosi, banyak yang mendaftar menjadi anggota. Mereka tertarik karena jasanya rendah, hanya 2,5% per bulan. Sedangkan pinjam di tempat lain bunganya lebih besar. Lebih menarik lagi, pinjam awal musim tanam, baru dibayar lunas pada musim panen. Dan mereka bebas menjual gabahnya, sehingga bisa menjual dengan harga lebih tinggi. Karena bayarnya setelah panen, ada istilah Yarnen. Saat masa tunggu, 3 – 4 bulan, kosong tidak ada transaksi pembayaran. Agar mereka semakin paham bagaimana berkoperasi yang baik, dan penuh tanggung jawab, diadakan pendidikan dan pelatihan berulang-ulang.

Pelayanan kepada para petani, khususnya untuk modal musim tanam, berbeda dengan pelayanan untuk kebutuhan lainnya. Karena petani butuh uang waktu awal, dan baru punya uang setelah panen, maka dibuat aturan tersendiri. Bagi petani yang belum jadi anggota koperasi pun boleh pinjam. Tetapi, dia harus jadi anggota. Uang pinjaman dipotong sebagai simpanan anggota dan jasa pinjaman. Pinjaman Rp 3 juta, misalnya, terima bersih Rp 2 juta. Yang Rp 500.000,- untuk tabungan, dan Rp 500.000,- jasa pinjaman selama 4 bulan. Karena sudah dipangkas di muka, waktu panen bayar Rp 3 juta. Jasa pinjaman relatif besar, 2,5% per bulan, lantaran wilayah kerjanya jauh, biaya operasional besar. Namun bagi petani, sangat membantu, dibandingkan pinjam di luar koperasi. Mereka tetap punya tabungan, di akhir tahun buku masih dapat bagian dari SHU. Jika gagal panen pun, mereka boleh membayar pada musim panen berikutnya. “Yang penting, jasa pinjaman tetap dihitung 2,5% per bulan,” jelas Agus.

Untuk meningkatkan kebersamaan, loyalitas dan tanggung jawab bersama maka dibentuklah kelompok-kelompok yang beranggotakan 5 – 10 orang per kelompok. Dengan jumlah anggota kelompok yang tidak terlalu banyak, tujuannya agar lebih efektif, mudah memberikan pemdampingan, pendidikan dan pelatihan dengan system kunjungan. Setiap kelompok, punya tanggung jawab bersama – tanggung renteng, saling mengingatkan. Jika ada salah satu anggota yang belum memenuhi tanggung jawabnya, misalnya, bayar angsuran pinjaman, anggota lain – koordinator kelompok harus mengingatkan anggota tersebut. Bahkan, jika masih ada anggota yang utangnya belum lunas, semua anggota kelompok belum boleh pinjam lagi. System tanggung renteng itu sangat efektif bukan saja untuk mengurangi kredit lalai (NPL), tetapi juga meningkatkan kebersamaan.

Ada hal yang menarik, yaitu perubahan pola pikir. Sebelum menjadi anggota koperasi, waktu panen uangnya dibelikan kulkas, teve ukuran besar daripada yang sudah dimiliki, juga ada yang beli alat musik, organ, dan segala macam. Tetapi ketika musim tanam tiba, dijual lagi untuk biaya mengolah tanah, beli bibit, pupuk, racun dan sebagainya. Akhirnya bertahun-tahun mereka tak punya aset. Dengan menjadi anggota koperasi, dibimbing bagaimana menciptakan aset dalam keluarga. Caranya, sedikit demi sedikit dipaksakan menabung di koperasi. Dengan dipaksa, mereka punya aset. Sekarang, kata Agus, ada yang punya tabungan puluhan juta. Tetapi ada juga yang berfikir bahwa simpanan itu bukan aset jangka panjang. Ketika perlu uang mau tidak pinjam, tetapi semua tabungan diambil.

Kalau anggota mengambil semua tabungannya, kata Agus, koperasi tidak akan memberikan pinjaman secara berkelanjutan. Dia harus mulai dari nol lagi, pinjam maksimal Rp 3 juta, dan dipotong untuk tabungan plus jasa. Berbeda jika tabungannya tak diambil semua, dia bisa pinjam lebih besar Rp 10 juta – Rp 25 juta dan seterusnya. Untuk pinjaman dalam jumlah besar, lebih besar dari jumlah tabungan, harus ada agunan sertifikat tanah. Jika dalam kelompok masih ada salah satu anggota yang pinjamannya belum lunas, sertifikat belum dikembalikan, dan untuk pinjaman baru tidak akan dilayani. Mereka harus saling membantu secara kolektif.

Produk layanan Kopdit Sentosa cukup banyak, dan fleksibel. Aturannya pun disesuaikan kondisi dan kemampuan anggota. Soal angsuran pinjaman, misalnya, bisa bulanan, mingguan atau harian. Kalau penghasilannya bulanan, angsurannya bulan, jika bisanya mingguan dilayani mingguan, angsuran harian pun dilayani. Yang penting tidak memberatkan anggota dan chasflow-nya lancar. Hal tersebut dilakukan setelah mengevaluasi kinerja lapangan, yang semakin kalah bersaing dengan “koperasi kuning”. Di daerah lain dikenal dengan sebutan bank titil, koperasi abal-abal, rentenir yang kerjanya lebih intensif.

Untuk menciptakan sumber pedanaan, Kopdit Sentosa memiliki beberapa jenis produk simpanan yaitu; Simpanan Pokok (SP), Simpanan Wajib (SW), Simpanan Sukarela (Sisuka), Simpanan Harian (Sibuhar) Simpanan Swakarsa (SS), Siraya, dan Tasplus. Khusus Tasplus, yang merupakan tabungan non saham, berbeda dengan jenis tabungan lain, yakni tidak menggunakan system umum produktif, namun jika terjadi klaim anggota meninggal dunia, Tasplus dikembalikan kepada anggota, PLUS jasa simpanan 9% dan santunan dari koperasi sebesar Rp 2,5 juta. Karena di gerakkan ada Dana Perlindungan Bersama (Daperma), dari Induk Koperasi Kredit (Inkopdit) anggota yang meninggal dunia dan masih punya utang, maksimal Rp 100 juta, utangnya dilunaskan dan mendapat santunan dari Daperma sebesar utangnya.

Persaingan bisnis uang semakin berat, dan koperasi semakin tertekan. Banyak lembaga keuangan, bank-bank besar, bukan hanya bank plat merah atau bank swasta nasional, namun bank asing pun ikut bermain merasuk pedagang kaki lima. Berbagai macam jenis layanan untuk usaha mikro, seperti penjual bakso, gorengan, gado-gado, usaha kecil dan menengah, dilayani melalui program; Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo bunganya terus diturunkann, 2018 hanya 7% per tahun dan persyaratan dipermudah, pinjaman Rp 5 juta tanpa agunan. Tujuannya memang untuk membantu UMKM agar cepat naik kelas, tetapi bagi koperasi, khususnya koperasi simpan pinjam, ibarat David melawan Goliat. Modal ratusan juta atau sedikit miliar, harus melawan kapitalis yang modalnya ratusan triliun.

Tidak ada satu pun bank yang tidak punya produk untuk UMKM. Bank Mandiri punya Kredit Usaha Mikro (KUM) untuk membiayai usaha produktif, baik kebutuhan investasi maupun modal kerja dengan limit Rp 200 juta. PNPM Mandiri punya kredit usaha ultra mikro (UMi) yang bunganya hanya 4% per tahun dengan limit pinjaman maksimal Rp 10 juta. Ada juga produk Dana Kita dari Bank Danamon. Bank BRI punya andalan produk Teras dengan layanan mobil keliling ke pasar-pasar tradisional. Ada Agen Laku Pandai yang memberikan layanan jemput bola ke petani di perdesaan. Ada Lembaga Keuangan Mikro (LKM), dan sebagainya.

Diungkapkan Manajer Kopdit Sentosa Natalia Suciatiningsih bahwa berkarya di tempat kelahirannya lebih sulit dibandingkan berkarya nun jauh disana, di daerah perairan Banyuasin. Karena di daerah perairan itu dikembangkan sistem kelompok, jika ada anggota yang mau melakukan transaksi, khususnya pinjam dana, formulirnya harus diketahui – ditandatangi koordinator kelompok. Namun, walau sering ada pendampingan dan dijelaskan syarat-syarat mengajukan pinjaman, ada saja anggota yang datang dari jauh-jauh ke kantor tidak membawa permohonan. Ada yang bilang lupa, ada juga yang beralasan sudah memberi informasi via telpon. Tetapi tetap tidak bisa dapat pinjaman.

“Di satu sisi kasihan, datang jauh-jauh, dan sangat membutuhkan dana. Tetapi manajemen juga tidak boleh menyalahi, standar operasional prosedur (SOP), atau membiasakan yang tidak benar,” urai Natalia yang memegang buku anggota nomor 19, dan dipercaya menangani manajemen sejak awal. Untuk di daerah perairan, lanjut dia, memang belum ada tempat pelayanan. Bila yang pinjam ada 4 – 5 orang atau lebih, ada petugas yang datang melayani. Tetapi jika hanya 1 – 2 orang, karena biaya operasional cukup tinggi, anggota yang harus datang ke kantor. Pelayanan paling jauh, ditempuh 2 jam perjalanan menggunakan speed boat menyeberang Suangi Musi. Pernah suatu ketika, bersama Sugeng Pramono, Bsc yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Panitia Penedidikan, akan melayani anggota 2 kali uji nyali. Sekali speed boat-nya  pecah dan sekali speed boat mogok.

Perkembangan Kopdit Sentosa saat ini, khususnya di daerah perdesaan, terutama setelah ada kebijakan – program Yarnen, kata Maks, cukup pesat. Kendala yang dihadapi, wilayahnya terlalu jauh. Diyakini, pelan namun pasti akan ada solusi. Pemerintah sekarang sedang membangun jalan ke daerah potensioal itu. Diperkirakan, perkembangan Kopdit Sentosa pun akan lebih pesat. “Karenanya ada pemikiran untuk buka kantor pelayanan di sana agar lebih cepat memberikan pelayanan kepada anggota,” jelas Maks. Kendala lain, pemahaman masyarakat terhadap koperasi masih kurang. Mereka sering membandingkan, koperasi dengan bank. Pinjaman uang di bank bunganya lebih rendah, pinjam di koperasi lebih tinggi. “Ini hanya soal pemahaman saja,” tegas Maks.

Untuk membangun militansi anggota, pendidikan dan pendampingan merupakan faktor penting. Sugeng Pramono menjelaskan, karena masyarakat di perdesaan pada umumnya berpendidikan rendah, maka pemahaman tentang koperasi yang efektif dilakukan berdialog langsung dengan 2 – 3 anggot. Bukan berarti pendidikan yang diikuti banyak anggota tidak penting. “Semua anggota telah mendapatkan pendidikan dasar, tetapi belum cukup,” jelas Sugeng. Pendidikan desar itu dilaksanakan dengan jumlah peserta banyak, sehingga mereka mengikutinya kurang fokus. Pendidikan atau pertemuan dengan kelompok anggota tahun 2017 dilaksanakan sebanyak 56 kali. (adit – mar)

This entry was posted in Kiat Sukses and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *