Lahirnya Ilmu Ekonomi

Oleh: Prof. DR. H. Agustitin Setyobudi, Ph.D.

Ilmu ekonomi merupakan ilmu yang mengkaji ragam kebutuhan manusia dalam memilih dan menciptakan kepuasanakan kebutuhan hidup. Inti masalah ekonomi merupakan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yangtidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas dan, kadang-kadang, raw materialnya tidak dapat diperbaharui. Problematika tersebut kemudian mengakibatkan timbulnya kelangkaan.

Dalam hal ilmu ekonomi Adam Smith dianggap sebagai salah seorang tokoh ekonomi yang memenuhi syarat diangkat sebagai bapak dari ilmu ekonomi. Kata“ekonomi” sendiri berasal dari kata Yunaniοyκος (oikos) yang berarti “keluarga, rumah tangga” dan νόµος (nomos), atau“peraturan, aturan, hukum,” dan secaragaris besar diartikan sebagai “aturan rumahtangga” atau “manajemen rumah tangga.”Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom merupakan orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Subyek dalam ekonomi dapat dipilah dengan menjadi beberapa bagian, yang terkait dengan metode mikro ekonomi.Terkait dengan hal tersebut, subyek ekonomi begitu pula bisa dipilah menjadi positif (deskriptif ) vs normatif, mainstream vs heterodox, dan lainnya. Ekonomi begitu pula difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori ekonomi begitu pula dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti misalnya penelitian ragam kebutuhan kriminal, penelitian ilmiah,kematian, politik, kesehatan, pendidikan,keluarga, dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi — seperti yang telah disebutkan di atas — merupakan ilmu yang mengkaji pilihan manusia. Banyak teori yang dipelajari dalam ilmu ekonomi diantaranya merupakan teori pasar bebas, teori lingkaran ekonomi, invisible hand, informatic economy, daya tahan ekonomi, merkantilisme, briton woods, teori klasik dan lain-lain.

Telah banyak tren baru untuk mengimplementasikan gagasan dan metode ekonomi dalam konteks yang lebih luas. Fokus analisis ekonomi merupakan “pembuatan keputusan”dalam berbagai bidang dimana orangdihadapi pada pilihan-pilihan. Misalnya bidang pendidikan, pernikahan, kesehatan,hukum, kriminal, perang, dan agama. GaryBecker dari University of Chicago merupakan seorang perintis trend ini. Dalam artikel-artikelnya ia menerangkan bahwa ekonomi seharusnya tidak ditegaskan melalui pokok persoalannya, tetapi sebaiknya ditegaskan sebagai pendekatan untuk menerangkan ragam kebutuhan manusia. Pendapatnya ini kadang-kadang digambarkan sebagai ekonomi imperialis.

Banyak ahli ekonomi arus utama merasa bahwa kombinasi antara teori dengan data yang ada sudah cukup untuk membuat kita mengerti fenomena yang ada di dunia. Ilmu ekonomi akan mengalami perubahan besar dalam ide, konsep, dan metodenya; walaupun menurut pendapat kritikus, kadang-kadang perubahan tersebut malah merusak konsep yang benar sehingga tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini menimbulkan pertanyaan “apa seharusnya dilakukan para ahli ekonomi?” The traditional Chicago School, with its emphasis on economics being an empirical science aimed at explaining real-world phenomena, has insisted on the powerfulness of price theory as the tool of analysis. On the other hand, some economic theorists have formed the view that a consistent economic theory may be useful even if at present no real world economy bears out its prediction.

Ilmu Ekonomi dan Ruang Lingkupnya

Kata ‘ekonomi’ berasal dari bahasa Yunani asal kata ‘oikosnamos’ atau oikonomia’ yang berarti ‘manajemen urusan rumah tangga’, kajiannya penyediaan dan administrasi pendapatan. Tetapi sejak perolehan maupun penggunaan kekayaan sumberdaya secara fundamental perlu diadakan efesiensi termasuk kinerja dan produktifitasnya. Oleh karena itu dalam bahasa modern, kata ‘ekonomi’ tersebut menunjukan fundamental usaha maupun metode untuk mencapai tujuan dengan alat-alat sesedikit mungkin.

Berikut ini akan disebutkan beberapa definisi tentang ilmu ekonomi. Pandangan Albert L. Meyers ilmu ekonomi merupakan ilmu yang mempersoalkan kebutuhan dan pemuasan kebutuhan manusia. Kata kunci dari definisi ini merupakan; pertama, tentang “kebutuhan” : ialah suatu keperluan manusia terhadap barang-barang dan jasa-jasa yang sifat dan jenisnya sangat bermacam-macam dalam jumlah yang tidak terbatas. Kedua, “tentang pemuas kebutuhan” yang memiliki ciri-ciri “terbatas” adanya. Aspek yang kedua inilah menurut Lipsey (1981: 5) yang menimbulkan masalah dalam ekonomi, ialah karena adanya suatu kenyataan yang senjang, karena kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa jumlahnya tak terbatas, sedangkan di lain pihak barang-barang dan jasa-jasa sebagai alat pemuas kebutuhan sifatnya langka ataupun terbatas. Itulah sebabnya manusia di dalam hidupnya senantiasa berhadapan dengan kekecewaan maupun ketidakpastian.

Definisi ini nampaknya begitu luas sehingga kita sulit memahami secara spesifik. Ahli ekonomi lainnya ialah J.L. Meij (Abdullah, 1992: 6) mengemukakan bahwa ilmu ekonomi merupakan ilmu tentang usaha manusia ke arah kepuasan akan kebututhan hidup. Pendapat tersebut sangat realistis, karena dilihat dari sudut pandang dari aspek ekonomi di mana manusia sebagai mahluk ekonomi (Homo Economicus) pada hakekatnya mengarah kepada pencapaian kepuasan akan kebututhan hidup. Kepuasan akan kebututhan hidup menjadi tujuan sentral dalam kehidupan manusia secara ekonomi, sesuai yang dituliskan pelopor “liberalisme ekonomi” oleh Adam Smith dalam buku “An Inquiry into the Nature and Cause of the Wealth of Nations” tahun 1776. Tetapi dengan cara bagaiman manusia itu berusaha mencapai kepuasan akan kebututhan hidupnya? Kemudian Samuelson dan Nordhaus (1990: 5) mengemukakan “Ilmu ekonomi merupakan studi tentang ragam kebutuhan orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber daya yang langka dan memiliki beberapa alternatif penggunaan, dalam rangka memproduksi berbagai komoditi, untuk kemudian menyalurkannya. Jika disimpulkan dari tiga pendapat di atas walaupun kalimatnya berbeda, tetapi tersirat bahwa pada hakikatnya ilmu ekonomi itu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya dalam mencapai kepuasan akan kebututhan hidup yang diharapkan, dengan memilih penggunaan sumber daya produksi yang sifatnya langka/terbatas itu.

Dengan kata lain yang sederhana bahwa ilmu ekonomi itu merupakan suatu disiplin tentang aspek-aspek ekonomi dan tingkah laku manusia. Secara fundamental dan historis, ilmu ekonomi dapat dibedakan menjadi dua, yakni ilmu ekonomi positif dan normatif (Samuelson dan Nordhaus, 1990:9). Jika ilmu ekonomi positif hanya membahas deskripsi mengenai fakta, situasi dan hubungan yang terjadi dalam ekonomi. Sedangkan ilmu ekonomi normatif membahas pertimbangan-pertimbangan nilai dan etika, seperti haruskan sistem perpajakan diarahkan pada kaidah mengambil dari yang kaya untuk menolong yang miskin? Lebih jelasnya Sastradipoera, (2001: 4), mengemukakan. Ilmu ekonomi positif merupakan ilmu yang hanya melibatkan diri dalam masalah ‘apakah yang terjadi’. Oleh karena itu ilmu ekonomi positif itu netral terhadap nilai-nilai. Berarti ilmu ekonomi positif itu ‘bebas nilai’ (value free atau wetfrei)… hanya menjelaskan ‘apakah harga itu’ dan ‘apakah yang akan terjadi jika harga itu naik atau turun’ bukan ‘apakah harga itu adil atau tidak’…Ilmu ekonomi normative, bertentangan dengan ilmu positif, ilmu ekonomi normatif beranggapan bahwa ilmu ekonomi harus melibatkan diri dalam mencari jawaban atas masalah ‘apakah yang seharusnya terjadi’.

Esensi dasar ilmu ekonomi merupakan pertimbangan nilai (value judgment). Seorang ekonom penganut etika puritan egalitarianisme, Gunnar Myrdal (1898-1987) lebih suka menyebutnya ‘ilmu ekonomi institusional’. Ilmu ekonomi sebagai bagian dari ilmu sosial, tentu berkaitan dengan bidang-bidang disiplin akademis lainnya, seperti ilmu politik, psikologi, antropologi, sosiologi, sejarah, geografi, dan sebagainya. Sebagai misal kegiatan-kegitan politik seringkali dipenuhi dengan masalah-masalah ekonomi, seperti kebijaksanaan proteksi terhadap industri kecil, undang-undang perapajakan, dan sanksi-sanksi ekonomi. Ini berarti bahwa kegiatan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kegitan-kegiatan politik (Abdulah, 1992: 6).

Sebagai disiplin yang mengkaji tentang aspek ekonomi dan tingkah laku manusia, berarti begitu pula mengkaji peristiwa-peristiwa ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat. Dan perlu diketahui, bahwa mengkaji peristiwa-peristiwa ekonomi, tujuannya merupakan berusaha untuk mengerti hakikat dari peristiwa-peristiwa tersebut yang selanjutnya untuk dipahaminya.

Dengan demikian dapat disebutkan bahwa tujuan ilmu ekonomi itu untuk: (1) mencari pengertian tentang hubungan peristiwa-peristiwa ekonomi, baik yang berupa hubungan kausal maupun fungsional. (2) untuk dapat menguasai masalah-masalah ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat. (Abdullah, 1992:7). Ilmu ekonomi begitu pula memiliki keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya. Walaupun kita ketahui dalam ilmu ini telah digunakan pendekatan-pendekatan kuantitatif-matematis, tetapi pendekatan-pendekatan tersebut tidak dapat menghilangkan keterbatasanketerbatasannya yang melekat pada ilmu ekonomi sebagai salah satu cabang ilmu sosial.

Menurut Abdullah, ( 1992: 8), keterbatasan – keterbatasan tersebut mencakup: (1) Objek penyelidikan ilmu ekonomi tidak dapat dilokalisasikan. Sebagai akibatnya kesimpulan atau generalisasi yang diambilnya bersifat kontekstual (akan terikat oleh ruang dan waktu). (2) Dalam ilmu ekonomi manusia selain berkedudukan sebagai subjek yang menyelidiki, begitu pula objek yang diselidiki. Oleh karena itu hasil penyelidikannya yang berupa kesimpulan ataupun generalisasi, tidak dapat bersifat mutlak, di mana unsur-unsur subjeknya akan mewarnai kesimpulan tersebut. (3) Tidak ada laboratorium untuk mengadakan percobaan-percobaan. Sebagai akibatnya ramalan-ramalan ekonomi sering kurang tepat. (4) Ekonomi hanya merupakan salah satu bagian saja dari seluruh program aktivitas di suatu negara. Oleh karena itu apa yang direncanakan (exante) dan kenyataannya (ex-post) sering tidak sejalan.

Dewasa ini ilmu ekonomi telah berkembang jauh melebihi ilmu-ilmu sosial lainnya yang terbagi-bagi dalam beberapa bidang kajian seperti: Environmental Economics (Ekonomi Lingkungan).

Bidang kajian ’ekonomi lingkungan’ (environmental economics) ini berawal dari tulisan Gray (1900-an), Pigou (1920-an), dan Hotelling (1930-an), akan tetapi baru muncul sebagai studi koheren pada tahun 1970-an, yakni ketika revolusi lingkungan mulai terjadi di berbagai Negara (Pearce, 2000: 300). Selanjutnya, jika dilihat dari sudut pandang dari substansinya, terdapat tiga unsur pokok dalam ekonomi lingkungan, yakni; Pertama,kesejahteraan manusia sedang terancam oleh degradasi lingkungan dan penyusutan potensi alam. Dalam hal ini sangat mudah untuk menunjukkan bukti konkret dari timbulnya bencana banjir yang disebabkan oleh penggundulan hutan, pembukaan lahan untuk perumahan dan industri, terjadinya erosi, dan sebagainya. Semuanya ini memiliki dampak bukan saja pada kesehatan, tetapi begitu pula secara ekonomis merugikan kehidupan manusia.

Kedua, kerusakan lingkungan disebabkan oleh penyimpangan – kegagalan ekonomi, terutama yang bersumber dari pasar. Hal ini dapat diambil misal, bahwa karena orientasi produk dan profit, tidak sedikit beberapa industri yang mengabaikan analisis dampak lingkungan yang merugikan (externality) bagi masyarakat luas. Begitu pula banyak industri global yang menempatkan pabrik-pabrik dari negara maju ke hutan-hutan dan persawahan di negara berkembang. Ketiga, solusi kerusakan lingkungan harus mengoreksi unsur-unsur ekonomi sebagai penyebabnya. Seperti halnya dengan kebijakan subsidi, relokasi industri, dan sebagainya, yang kiranya merusak lingkungan, harus segera dihentikan. Selain itu, jika aktivitas ’destruktif’ terselubung yang merugikan itu sulit dihentikan, perlu ada penerapan pajak ekstra atau penerbitan lisensi khusus demi merendam kegiatan tersebut. Langkah ini pernah dilakukan di Amerika Serikat yang menerbitkan lisensi polusi dan lisensi memancing, yang ternyata cukup efektif mengatasi masalah tersebut (Pearce, 2000:300).

Ragam Kebutuhan Dari Masa ke masa

Merupakan bidang kajian ekonomi yang menjelaskan naik turunnya pertumbuhan ekonomi dan jatuh bangunnya perusahaan-perusahaan, kota-kota, kawasan dan negara, yang mencerminkan bahwa evolusi senantiasa beroperasi pada tingkat yang berlainan dengan tingkat kecepatan yang berbeda-beda. Menurut Metcalfe(2000: 324), hal inilah yang menjadi latarbelakang munculnya bidang-bidang baru kegiatan ekonomi. Dengan demikian senantiasa dipertanyakan mengapa dan bagaimana perekonomian dunia berubah, sehingga tinjauannya bersifat dinamis, untuk menangkap keragaman ragam kebutuhan yang memperkaya perubahan sejarah.

Menurut Landes, 1968 dan Mokyr,1991 tema-tema inilah yang sering dibicarakan dalam sejarah, yang semuanyabertolak dari suatu mekanisme yang sama, tetapi menentukan pula keragaman ragam kebutuhan ekonomi. Ekonomi evolusioner, begitu pula merupakan entitas-entitas yang memiliki berbagai karakteristik atau ciri ragam kebutuhan, yakni; stabilitas kelangsungan ragam kebutuhan dari masa ke masa, sehingga kita dapat mengaitkan ciri-ciri ragam kebutuhan di masa mendatang dengan yang ada pada saat ini. Dengan demikian inersia (inertia) merupakan elemen pengikat penting serta tampak jelas bahwa evolusi tidak dapat berlangsung di dunia di mana individu-individu atau organisasinya beragam kebutuhan secara acak/random.

Begitu pula dalam kajian mengenai sumber keragaman ragam kebutuhan ekonomi, para ahli lebih menaruh perhatian pada pengaruh teknologi, organisasi, dan manajemen berdasarkan pemahaman bagaimana suatu tindakan dilangsungkan sehingga memunculkan ciri-ciri ragam kebutuhan yang menguntungkan. Kemudian timbul pertanyaan; apakah evolusi itu mengandung rasionalitas? Di sini nampaknya tidak. Sebab dalam dunia mana pun, di mana pengetahuan dihargai cukup mahal serta kapasitas komputasional senantiasa terbatas, oleh karena itu kita tidak memiliki pijakan yang layak untuk mengupayakan optimisasi secara pasti, sebagai pedoman guna menilai ragam kebutuhan. Walaupun tidak disangkal lagi bahwa individu senantiasa mencari hasil yang terbaik dari serangkaian pilihan yang ada, akan tetapi kalkulasi yang dipergunakannya mungkin saja bersifat lokal, dan tidak bersifat global. Hal inilah yang merupakan sumber keragaman ragam kebutuhan tersebut (Metcalfe, 2000: 324).

(Bersambung)****

This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *