Menatap Industri Halal 4.0

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Ondel-Ondel Melestarikan Budaya dan Kebutuhan Hidup

Nyok kite ngarak odel-ondel
Ondel-ondel ade anaknye
Anaknye nandak gel-igelan
Mak Bapak ondel-ondel ngibing
ngarak pengantin disunatin
Nyang nonton rame kegirangan
ikut ngarak iring-iringan…..

Pak pak dung pak dung pak
Pak pak gendang nyaring ditepak
Nyang nonoton girang pade surak surak
Tangan iseng jailin pale anak ondel-ondel
Taroin puntungan rambut kebakaran
Anak ondel-ondel jejingkrakan
Palenye nyale kebakran
Nyang nonton pade kebingungan
Disiramin air comberan
(Djoko Subagyo, 1971)

Demikian syair lagu ondel-ondel karya Djoko Subagyo tahun 1971 yang dipopulerkan oleh penyanyi legendaris Benyamin Suaeb (alm) yang juga dikenal sebagai komedian dan aktor film layar lebar. Ondel-ondel adalah seni tradisi Betawi untuk menyambut tamu-tamu tehormat dalam momen-momen khusus, dan sakral seperti mantenan. Namun kini ondel-ondel sebegai ikon budaya Betawi itu bisa kita temu setiap saat. Karena ondel-ondel telah menjadi industri dan komoditas budaya yang mampu memberikan lahan pekerjaan bagi orang yang sama sekali tidak pernah berkecipung dalam dunia kesenian sekalipun.

Sebagai produk industri, ondelondel yang terbuat dari bambu dan kain dengan hiasan kertas warna-warni, makin banyak diproduksi oleh para perajin usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dan kini, produk UMKM tersebut banyak dimanfaatkan “seniman” dadakan untuk melakukan pertunjukan. Panggung mereka di tempat-tempat umum, di jalanan, atau keluar masuk gang-gang kecil di tengah perkampungan padat, diiringi musik rekaman gambang kromong atau lagu jali-jali. Rezeki yang diperoleh pun uang recehan ala kadarnya dari orang yang memberikannya dengan sukarela.

Para seniman dadakan yang rela berjalan kaki, berkeringat dan pengap di dalam ondel-ondel seberat 10 Kg mengunjungi penontonnya, memang semata-mata agar dapur keluarga dapat ngebul. Dari penelusuran Majalah UKM, para pengamen itu bukan semua orang yang telah berkeluarga, tetapi yang pasti dari keluarga yang tengah mengalami kesulitan ekonomi. Mereka berkelomompok, 3 – 4 orang dan berbagi tugas secara bergantian. Seorang menarikan ondel-ondel, satu membawa musik pengiring, dan 1 – 2 orang lainnya menghampiri calon penderma, mengutip recehan seribu dua ribu rupiah. Di antara mereka ada yang baru lulus sekolah Dasar (SD), SMP, SMA, habis kontrak kerjanya, dan tidak diperpanjang boleh perusahaan atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perusahaannya bangkrut. Mulyadi, Ketua Sanggar Irama Betawi dari Kampung Ondel-ondel, Kramat Pulo, Jakarta Pusat, menjelaskan kepada UKM saat ditemui di kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakata.

Mulyadi, yang akrab dipanggil ayah, mengaku, memperoleh rezeki dari keahlian dan ketekunannya melestarikan budaya Betawi, membuat ondel-ondel. Dia tidak hanya melayani pesanan orang, tetapi juga memproduksi untuk disewa-sewakan kepada para pengamen. Berkat boneka ondel-ondel tersebut banyak orang yang tertolong kehidupan keluarganya. Para seniman jalanan itu berdatangan bukan hanya dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah penjangga lainnya; Tangerang, Bekasi, atau Depok.

Sebagai pelestari budaya Betawi, produsen ondel-ondel dan pencipta lapangan kerja, di kawasan Kramat Pulo, tepatanya di Jl Kembang Pacar, Senen, yang masuk wilayah Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, ayah Mul memang beken. Kampung itu sejak dulu sudah dikenal sebagai “kampung ondel-ondel”. Di kampung tersebut kita bisa menemukan berbagai jenis ukuran ondel-ondel. Ada yang berukuran kecil untuk dimainkan anak-anak, berukuran sedang – normal untuk dimainkan orang dewasa maupun ukuran raksasa yang hanya untuk pajangan di gedung-gedung perkantoran seperti kantor lurah, camat, dinas-dinas dan sebagainya.

Sepasang ondel-ondel berpakaian warna hijau dan biru menyambut siapa pun yang masuk ke Jl.Kembang Pacar. Sebagai ikon budaya Betawi, menjadi kebanggaan. Itu sebabnya, ketika ondel-ondel yang memiliki nilai sakral itu dijadikan dijadikan sarana mengamen di jalanan, banyak orang yang menyayangkan, tidak rela. Termasuk H Zaenuddin HM (65), Ketua Umum Badan Musyawarah (Bamus) Betawi.

Menurut dia, ondel-ondel dijadikan alat ngamen menurunkan nilai budayanya. Tetapi para pemangku kepentingan itu juga tidak berbuat banyak. Memperbanyak pertunjukan ondel-ondel, misalnya, tidak juga. Generasi muda trah Betawi pun tidak cukup banyak yang mau nguriuri – melestarika budaya leluhurnya. Meski tidak rela, secara umum kita masih bersyukur ada orang yang mau mempertujukan kesenian tradisi sambil mengais rezeki. Adanya pihak-pihak yang merasa kecewa – tidak senang ondel-ondel dijadikan sarana mengamen, karena dianggap akan menurunkan “derajat” budayanya, namun bagi Mulyadi, tidak menjadi masalah besar. Sebagai pimpinan sanggar yang didirikan tahun 2009, ia tetap ingin terus berkarya untuk melestarikan budaya Betawi. Karena memang tidak ada panggung khusus untuk pertunjukan ondel-ondel, panggung jalanan pun tidak soal. Menurut Mulyadi, berbuat sesuatu yang positif itu lebih baik.

Ondel-ondel produksi Mulyadi untuk ukuran sedang sepasang dihargai kisaran Rp 3 juta – Rp 5 juta. Selain itu dia juga menyewakan lebih dari selusin ondelondel plus perangkat musik pengiring yang diangkut gerobak dengan tarif Rp 100 ribu. Jika hanya mau sewa ondel-ondel tanpa musik, boleh juga. Satu ondel-ondel tanpa musik sewanya Rp 50 ribu – Rp 70 ribu per 10 jam.

“Ane ngikut aje, daripade nganggur. Pan hasilnya lumayan untuk ngidupi keluarge. Itu-itung, dalam 10 jam berempat masing-masing kebagian Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu. Tergantung gimana hokinya aja,” kata Tomi (35), ayah dua orang anak kepada UKM di sekitar stasiun kereta api, Cikini, Jakarta Pusat. Bersama tiga rekannya, Irfan, Junaidi dan Maman, Tomi mengaku, hampir setahun ngamen dengan ondel-ondel. Junaidi, yang notabene adik iparnya yang kini duduk di kelas II SMK swasta, dan Irfan yang masih duduk di kelas III SMP swasta, bisa membayar kebutuhan sekolahnya. Mereka mengaku, senang ngamen menggunakan ondel-ondel. Pengalaman pahit, kata Tomi, pernah diusir Satpol PP saat beraksi. Itulah romantika seniman jalanan. Di Kampung Rawa, Kec. Johar Baru, Jakarta Pusat, juga ada Sanggar Sukma Kencana yang diketuai Yuti. Anggota sanggar juga biasa ngamen keliling Jakarta dengan ondel-ondel. Siang itu terlihat Ridho (17) salah seorang anggota sanggar sedang berlatih alat musik. Ia mengaku sudah bergabung di sanggar sejak usia 11 tahun. Ia tidak lagi sekolah, karena terkendala biaya. Karena orangtuanya tidak mampu.

“Ane gabung ngamen ondel-ondel ude 6 tahun. Buat ngebantu orang tue nyang ekonominye pas-pasan. Ane bareng tiga temen berangkat ngamen bakda shalat Ashar. Dulu ane suka ngliat ondelondel keliling, seneng banget. Ane ikutin, lama-lama jadi ikutan. Di sini pan sambil main musik juga, karena ane seneng main musik” kata Ridho.

Yuti mengaku, awalnya, mendirikan sanggar untuk melestarikan budaya Betawi. Seiring perjalanan waktu, sanggarnya bisa menciptakan lapangan kerja bagi anak-anak putus sekolah melalui ngamen ondel-ondel. “Daripada mereka keliaran tidak jelas, dan menimbulkan masalah, diarahkan untuk berkarya. Disamping ikut melestarikan budaya Betawi, ngamen bisa dapet duit buat membantu keluarga,” tuturnya. Ungkapan senada diutarakan Irfan, Zainal, Andri dan Manan rombongan yang biasa ngamen di kawasan Cipinang Muara dan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Mereka menyewa ondel-ondel di Cipinang Jagal, Jatinegara Rp 50 ribu per 10 jam. Hasil dari berkeseniannya keluar masuk gang, setelah dipotong sewa ondel-ondel, dibagai rata. Masing-masing bisa menerima sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu.

Dari keempat orang tersebut, ada dua orang nyang masih sekolah, Irfan dan Zainal, keduanya kini duduk dikelas II sebuah SMK di Jakarta Timur. Biasanya, mereka mulai ngamen sepulang sekolah. Sedangkan Mu’in (40), ayah 5 orang anak, terpaksa ngamen karena kena PHK dari tempat kerjanya di pabrik garmen di kawasan industri Pulo Gadung, dan sulit memperoleh lapangan kerja baru. Dia ngamen bersama anak ketiganya yang terpaksa putus sekolah karena tiada biaya. Mu’in mengaku, 4 orang anaknya sekolah di sekolahan negeri, dan punya Kartu Jakarta Pintar (KJP) sehingga biayanya tidak jadi masalah. Namun yang seorang tidak dapat sekolahan negeri, tidak punya KJP, terpaksa sekolah di swasta. Karena biayanya lumayan besar, tidak mampu melanjutkan. Terpaksa keluar dan ikut ngamen. Hasilnya, tidak pasti dan tergantung hoki. Namun Mu’in tetap bersyukur, Tuhan kasih rezeki sehingga dapur bisa ngebul.

Membanjirnya pengamen, sekedar mengais rezeki dengan memanfaatkan ondel-ondel sebagai sarana menarik perhatian, menimbulkan kegerahan dan komentar bernada keberatan – tidak setuju dari beberapa pihak, termasuk tokoh masyarakat Betawi. Ketua Lembaga Budaya Betawi, H Khotibi Achyar SIP, kepada Majalah UKM mengatakan bahwa fenomena ondel-ondel untuk mengamen perlu ditinjau ulang. Menurutnya, hal ini terjadi sebagai pertanda pemerintah gagal membina masyarakat. Karena itu, perlu penertiban dan pembinaan terukur dan rutin dilakukan agar warisan budaya Betawi itu bisa diselamatkan.

Ketika ada pihak yang menyalahkanpemerintah gagal melakukan pembinaan, timbul pula pertanyaan, seberapa besar perhatian tokoh-tokoh masyarakat terhadap kebudayaan lokal warisan leluhur. Bagaimana mereka berperan menjaga kelestarian budaya leluhur. Pertanyaan itu, misalnya, layak dilayangkan kepada H. Khotibi Achyar yang akrab disapa H Beceng, seorang tokoh yang mengatakan bahwa pemerintah gagal membina karena kenyataannya masih brantakan. Bahkan dia mengatakan, ada niat-niat individu yang jeli melihat celah untuk ambil duit dan dimanfaatkan. Jika pembinaan bagi sanggar-sanggar resmi dilakukan secara gencar, maksimal, dan sesuai pakem yang benar, diyakini kesenian tradisi ondel-ondel, akan tetap eksis.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Cucu Kurnia saat diminta komentarnya, mengatakan bahwa pihaknya tengah mencari solusi masalah ini dan koordinasi dengan Dinas Sosial, Satpol PP dan kepolisian. Dilema antara melestarikan budaya dan mencari nafkah, butuh solusi secara menyeluruh. Karena itu, perlu pendekatan secara humanis kepada pelaku. Apalagi, mereka tidak seluruhnya dari Jakarta. Banyak juga pendatang yang tujuannya sekedar untuk mencari nafkah. Selama ini, mereka bukan lagi mengamen di daerah pemukiman, tetapi sudah sampai jalan-jalan protokol. Nah, kalau sudah sampai ngamen di jalan protokol seperti itu, menang perlu segera ditertibkan. Ini semua kan menyangkut urusan perut.

Sejarah panjang boneka raksasa ini bisa ditemukan di beberapa daerah lain dengan nama Barongan. Pada awalnya, boneka ondel-ondel ini memiliki fungsi sakral. Ondel-ondel diarak keliling kampung untuk mengusir roh jahat dan wabah penyakit. Pembuatannya pun memerlukan persiapan fisik dan psikis khusus dari si pembuat. Juga ada rangkaian prosesi agar ondel-ondel yang dibuat benarbenar memiliki fungsi representasi leluhur berkemampuan melindungi keturunannya. Beberapa kelompok pengamen yang menggunakan ondel-ondel terorganisir. Pagi hari “berangkat kerja” dijemput mobil. Ondel-ondelnya dibawa dengan mobil bak terbuka, orangnya naik modil lain, didrop di suatu tempat. Pada siang hari mereka beristirahat, sore hari turun ke jalan ngamen lagi. Kadang sampai malam, baru dijemput mobil. Ada juga yang dijemput bajaj langganannya.

“Kami bareng-bareng satu bajaj menuju suatu wilayah. Ondel-ondelnya di atas bajaj atau mikrolet, pemainnya berada di dalam kendaraan. Inilah yang kami lakukan setiap hari,” kata Alam, salah seorang pemain dari sanggar Bintang Afif di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Setiap rombongan terdiri dari 3 – 4 orang. Mereka keliling keluar masuk gang mulai tengah hari sampai jam 22.00. Ada juga yang menginap di emperan toko sampai pagi hari. Terutama malam Minggu. Pada pagi hari, mereka meluncur ke kawasan bebas kendaraan bermotor (Car free day) di Jl. MH Thamrin dan Jl.Sudirman.

Pada era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sempat muncul larangan penggunaan ondel-ondel, untuk ngamen dan mengembalikan marwah budaya Betawi ke tempatnya semula. Aturan ini memaksa kelompok pengamen ondelondel ‘ kucing-kucingan’ dengan aparat. Berdasarkan Undang-undang (UU) No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, Gubernur DKI Jakarta menerbitkan Peraturan Gubernur No 11 Tahun 2017 Tentang Ikon Betawi. Dengan Pergub tersebut aparat Satpol PP dan Dinas Sosial bisa menertibkan pengamen yang menggunakan ondel-ondel. (Sutarwadi K.)

Posted in Layar Budaya, Umum | Tagged | Leave a comment

Koreksi Pertumbuhan Ekonomi Tentu Berpengaruh Kepada Kesejahteraan Rakyat

Virus Korona – Covid-19 yang oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) ditetapkan sebagai pandemik global yang melanda 216 negara di seluruh dunia, bagi umat manusia yang usianya baru 100 tahun, belum pernah mengalami wabah sedahsyat ini. Menurut sejarahnya, kejadian yang kita alami saat ini pernah terjadi pada 1918 di Spanyol, namun konteks dunianya barang kali sangat berbeda dengan saat ini.

Pada kwartal pertama kita bersyukur perekonomian Indonesia masih tumbuh positif. Sementara banyak negara di dunia sudah tumbuh negatif. Tiongkok, misalnya, negara raksasa ekonomi baru yang pertumbuhannya selalu menakjubkan, di kisaran 7% – 10% kali ini tumbuh negatif, minus 6,85%. Namun di kwartal kedua, Indonesia juga harus
menghadapi tantangan berat. Alih-alih melanjutkan pertumbuhan positif, justru
sebaliknya, diperkirakan pada kwartal kedua Indonesia akan tumbuh negatif,
minus antara 2,5% – 5,9%.

Yang menjadi pertanyaan, berapa lama krisis ini harus kita hadapi. Apakah pada bulan Juli mendatang kita sudah mulai memasuki kondisi normal baru, atau akan mundur sampai September. Dengan segala macam kondisi yang kita hadapi, Indonesia tentu harus tetap maju. Apa yang dilkalukan pemerintah dalam memitigasi pandemik Covid-19 ini. Apakah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) No 1 Tahun 2020
yang baru disetujui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) cukup menjadi alat bagi pemerintah memberikan stimulus. Karena banyak orang menilai bahwa stimulus kita terlalu kecil, hanya 2,5% dari GDP. Sedangkan negara-negara lain ada yang berani memberikan stimulus sampai 10%. Menurut Bendahara Negara, Menteri Keuangan (Mekeu) Sri Mulayni Indrawati, karena kita dihadapkan dengan kejadian yang kompleksitasnya sangat luar biasa, pemerintah melihat dari kacamata secara keseluruhan, bagaimana penyebaran
wabah Covid-19 yang merupakan masalah kesehatan, kemudian menjalar menjadi masalah sosial, khususnya ekonomi dan juga menjadi potensi masalah stabilitas
dari sistem keuangan.

Sejak dideklarasikan Covid-19 sebagai pandemik global oleh Badan Kesehatan Dunia – World Health Orgabization (WHO), kemudian penularannya menyebar ke 216 negara di seluruh dunia, dan semua negara melakukan langkah-langkah pencegahan dengan berbagai cara, seperti; lockdown – isolasi, social distancing – jaga jarak, larangan untuk berkumpul, karantina wilayah, membersihkan tangan dengan hand sanitizer, surgical mask – masker bedah yang hanya sekali pakai, juga masker kain, alat pelindung diri (APD), pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Semua itu mempengaruhi berbagai aktivitas masyarakat baik dibidang sosial, ekonomi, kemudian berimbas pada kinerja dari perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. “Jadi bagi kita, bagaimana melihat isu kesehatan yang dalam dirinya juga sangat pelik, masih harus ditambah dengan implikasinya terhadap dampak ekonomi yang menimbulkan komplikasi. Keseluruhan itulah yang harus terus menerus dilihat. Kita tidak bisa memisahkan masalah Covid dengan masalah sosial, dan masalah ekonomi keuangan. Karena semua memang saling berkait. Kalau masalah kesehatannya belum bisa ditangani maka kondisi sosial ekonominya juga terpengaruh,” urai Menkeu.

Kalau kita terburu-buru hanya memasukan masalah ekonomi sebagai prioritas, lanjut Sri Mulyani, maka masalah kesehatannya juga akan menjadi implikasi. Kerumitan ini dihadapi oleh semua negara. Bahkan China yang sempat disebut sebagai negara yang melakukan total lockdown secara sangat keras dan disiplin, sekarang pun menghadapi problem dari munculnya Covid lagi. Inilah yang menggambarkan betapa komplikasi masalah kesehatan, memang menjadi utama. Namun semua pembuat kebijakan, semua pimpinan negara, semua pimpinan otoritas, juga menghadapi pressure – tekanan yang sama kuatnya. Yaitu masyarakat menjadi unemployed – penganggur, mereka tidak beraktivitas, tidak ada kegiatan produktif, mereka harus tinggal di rumah saja. Komplikasinya sudah ke mana-mana. Karena itu kita melihatnya tidak boleh sepotong-sepotong. Di berbagai bidang ekonomi terjadi dampak kontraksinya sangat tajam. Karena untuk mencegah masalah Covid-19 dilakukan berbagai langkah, yang kemudian menyebabkan aktivitas ekonomi itu berhenti – mandeg. Bahkan ada yang sebut, mati.

Sri Mulyani yang juga pernah menjadi Menkeu (2008 – 2009) era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengakui, Covid 19 jauh lebih berat dibandingkan ketika 2008 Lehman’s Brothers Holdings Inc, sebuah perusahaan jasa keuangan internasional tutup, yang gempa buminya dirasakan di seluruh penjuru dunia. Covid-19 ini sebagai musuh kita tidak tahu tetapi mematikan, banyak makan korban, dan dampak komplikasinya luar biasa. Covid-19 mulainya diketahui pada akhir Desember 2019, dari Wuhan, China. Kemudian penyebarannya ke seluruh penjuru dunia pada Januari 2020,
menyebabkan seluruh negara menghadapi dampaknya. Kwartal pertama sudah muncul semua statistik. China yang sangat kolosal, biasanya tumbuh di atas 6% per tahun, kemudian kontraksi 6,8%. Untuk kawasan Eropa pun terpukul sangat dalam, ada yang sampai minus 0,3% – 3,3%. Amerika Serikat (AS) sebagai negara adidaya akhirnya juga tak berdaya.

Namun pada kwartal pertama perekonomian Indonesia masih cukup “perkasa” mampu tumbuh 2,7%. Artinya, aktivitas ekonomi di bulan Januari – Februari masih realtif normal. Kecuali pariwisata yang memang semua wisatawan dari China kita tutup. “Namun yang lain, aktivitasnya masih relatif normal,” jelas Sri Mulyani. Setelah Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesusus resmi mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemik global pada 11 Maret 2020, Presiden Joko Widodo pada 31 Maret
menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No 21 Tahun 2020 Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Keputusan Presiden (Keppres) No 12 Tahun 2020 Tentang Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Dengan diterbitkannya PP PSBB, Presiden meminta tidak ada lagi kebijakan daerah yang berjalan sendiri, dan semua pihak harus berkoordinasi.

Setelah diberlakukannya PSBB, dampaknya terhadap daya beli masyarakat luar biasa. Karena itu pemerintah terus mewaspadai perkembangan kondisi di masyarakat. Terhentinya kegiatan ekonomi, berakibat pada permintaan barang dan jasa menurun. Oleh karena itu di bulan April, yang bertepatan dengan bulan bulan Ramadhan, biasanya inflasi meningkat cukup tinggi, namun kali ini, untuk beberapa jenis barang yang sangat penting justru mengalami deflasi. Hal itu disebabkan karena demand –
permintaannya mulai melemah. Beberapa komoditas harganya turun. “Yang kolosal adalah harga minyak. Sebelumnya selama hidup, mungkin kita belum pernah mendengar harga minyak itu negatif. Tetapi kali ini, walau hanya 2 hari, sempat terjadi,” tegas Sri Mulyani. Seraya menambahkan bahwa ini adalah preseden ekonomi yang luar basa skali.

Kita pernah mendengar, harga minyak zaman tahun 1970-an, dari US$ 3 meloncat menjadi US$ 12, ketika terjadi perang Irak – Iran yang pertama. Sekarang, harga minyak
merosot dari US$ 50 – 60 menjadi hanya di bawah US$ 20. Ini yang mesti kita lihat.
Di lain sisi kita juga melihat, polaritas dari sektor keuangan juga mengancam. Jika kita merekonstruksi, di satu sisi ancaman jiwa dan masyarakat melalui apa yang disebut Covid-19 ini. Kemudian, implikasi dari itu acaman yang sangat nyata di bidang ekonomi, keuangan dan sosial.

Pertumbuhan ekonomi kwartal pertama 2,97%. Permintaan merosot tajam, kemudian investasi juga merosot. Untuk ekspor – impor telah mengalami tekanan sejak tahun 2019. Hampir semua kwartal negatif dua-duanya. Bisnis suplay semua juga mengalami drop. Terutama jasa-jasa, perdagangan, transport, dan akomodasi drop sangat dalam. Manufaktur pun mengalami penurunan dan pelemahan. Oleh karena itu Covid mempengaruhi
baik demand maupun suplay. Dan Covid memberikan implikasi yang kompleks terhadap sosial ekonomi dan keuangan. Masalah kesehatan juga bukan masalah yang mudah, dan menjadi tantangan yang sulit.

Koreksi pertumbuhan ekonomi kita, kata Sri Mulyani, tentu berpengaruh kepada sisi kesejahteraan rakyat. Pengangguran dan kemiskinan juga meningkat lagi. Dalam perhitungan pemerintah, kemungkinan kita akan mengalami sadbcak dimana jumlah orang miskin akan kembali seperti tahun 2011. Itu berarti, hasil kerja keras kita menurunkan jumlah orang miskin selama 8 tahun, dengan mudah terhapus oleh Covid hanya dalam beberapa bulan. Dan pertumbuhan ekonomi kita, kalau berbicara tentang proyeksi, bisa dipastikan tidak ada yang kredibel akan mencapai 100%.

Pemerintah dalam melakukan langkah-langkah ke depan juga berdasarkan skenario. Karena kita tidak tahu, wabah Covid akan selesai kapan dan seberapa dalam dampaknya terhadap perekonomian. Saat ini semua orang sedang mencoba mereka-reka dan merespon, tetapi tak ada yang tahu, kapan Covid akan benar-benar berakhir. Belajar dari flu Spanyol, dan kalau orang bicara tentang penemuan anti virus, biasanya butuh waktu sampai 1,5 tahun ke depan. Jadi, kita harus menyiapkan ke dalam konsep ketidak-pastian itu yang harus diantisipasi.

Oleh karena itu pemerintah dalam merespon kondisi, menggunakan dua skanrio. Skenario pertama, dalam katagori berat, bila ekonomi mengalami pelemahan dari target 5,3% diturunkan menjadi 2,3%. Kemudian skenario kedua, jika kondisinya lebih berat lagi, dan kita mengalami kontraksi, ditarget 0,4%. Apa yang menyebabkan pemerintah
menyiapkan dua skenario? Adalah berapa lama Covid akan menyebabkan dampak ekonomi harus kemudian juga berhenti. Inilah yang menyebabkan skenario dari berat menajdi sangat berat. Sri Mulyani menyadari pandemi covid-19 memukul seluruh aktivitas
bisnis dalam negeri. Sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) paling parah
terkena dampaknya. Dalam instagram pribadinya, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini bercerita bagaimana kebijakan pembatasan sosial (social distancing dan physical distancing) berdampak langsung bagi aktivitas pelaku UMKM.

Kebijakan berjaga jarak dan membatasi aktivitas di luar rumah berpengaruh besar
terhadap omzet bisnis UMKM. Penjualan menurun bahkan usaha terhenti, sehingga
ekonomi merosot tajam. Namun beberapa pelaku UMKM segera bangun dari kondisi yang sulit. Mereka memanfaatkan peluang dan mengasah kreativitas untuk menggarap hal baru. Dan sebagian pelaku UMKM lainnya tetap berupaya agar usahanya tidak gulung tikar. Meski mereka harus rela ‘berdarah-darah’ menghadapi keterpurukan lantaran keterbatasan modal kerja atau karena pembayaran pinjaman kreditnya yang macet.

Sri Mulyani mengingatkan, sedari pandemi masuk ke Tanah Air pertengahan Maret 2020, pemerintah langsung menyediakan keringanan (restrukturisasi) kredit atau pembiayaan bagi debitur yang terdampak. Tidak hanya untuk industri perbankan, nasabah perusahaan pembiayaan pun tidak luput dari kebijakan yang tertuang dalam Peraturan POJK Nomor 11/POJK.03/2020. Pemerintah juga menyediakan perlindungan melalui insentif pajak dan subsidi bunga atau kredit. Lalu ada tambahan kredit dan penjaminan kredit modal kerja UMKM. Agar perbankan dapat dengan cepat memberikan pembiayaan kepada UMKM, pemerintah kemudian menempatkan dana segar di empat bank BUMN sebesar Rp30 triliun. Bank-bank tersebut diharapkan dapat memberikan pembiayaan kepada UMKM dengan tingkat suku bunga yang lebih murah. “Ini merupakan tahap pertama dan akan ada tahap selanjutnya yang juga mengikutsertakan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Melalui Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah juga memberikan dukungan dalam bentuk teknis untuk membantu UMKM,” urainya.

Saat ini diperlukan semangat untuk bangkit menata aktivitas bisnis yang hancur diterjang pandemi. Ada beberapa langkah yang disarankan Menkeu bagi para pelaku UMKM. Pertama, UMKM menggunakan fasilitas yang telah disediakan pemerintah untuk mengembalikan apa yang sempat terpuruk. Kedua, memperkuat akses pasar domestik dengan mengutamakan konsumsi produk dalam negeri. Ia menegaskan, potensi pasar dalam negeri masih sangat besar untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu, perlu eksplorasi lebih jauh untuk meraup kebutuhan dalam negeri. “Produk hasil kreativitas anak bangsa telah banyak terbukti mampu bersaing dan tidak kalah dengan produk asing, saya tidak pernah ragu. Ayo dukung bersama memajukan UMKM! Pelaku UMKM, bangkitmu adalah bangkitnya kembali ekonomi negeriku!,” tegas Sri Mulyani.

Menkeu mengakui, realisasi penyaluran dana penanganan Covid-19 untuk usaha UMKM masih berjalan lambat. Salah satu penyebabnya, pendataan dan harmonisasi yang dilakukan antar kementerian lembaga (KL) terlibat membutuhkan waktu lama. Pemerintah butuh waktu 2 bulan untuk memformulasikan kebijakan, yakni sejak April hingga Mei. Sebab, pemerintah harus melakukan pendataan pinjaman UMKM, terutama dari perbankan, melalui OJK.

“Mulai bank umum sampai syariah dan BPR, ini memakan cukup waktu untuk identifikasi,” katanya. Di sisi lain, proses pendataan pinjaman UMKM dari lembaga keuangan non perbankan juga tidak mudah. Saat formulasi kebijakan, proses restrukturisasi dan subsidi bunga pinjaman yang diajukan oleh pelaku UMKM juga menjadi masalah. Untuk mengalokasikan subsidi, OJK dan Kemenkeu membutuhkan data lengkap nasabah sebelum memberikan subsidi bunga kepada UMKM. Proses ini memakan waktu mengingat harus ada rekonsiliasi melalui sistem informasi.

Namun, kata Menkeu, permasalahan tersebut kini sudah terselesaikan. Saat ini, pemerintah yakin dapat mengakselerasi penyaluran dana penanganan Covid-19 untuk UMKM. Untuk melakukan percepatan, pemerintah memberikan bantuan berupa jaminan kredit modal kerja yang disalurkan perbankan kepada UMKM. Jaminan akan dilakukan melalui dua BUMN, PT Jamkrindo (Persero) dan PT Askrindo (Persero), dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 6 triliun.

Stimulus ini diharapkan mampu mengatasi ketakutan perbankan untuk menyalurkan kredit karena ada potensi gagal bayar dari UMKM. Sebab, permasalahan terbesar berada di perbankan yang merasa kurang aman untuk menyalurkan kredit. Apabila rasa cemas tersebut dibiarkan terus, maka ekonomi sulit untuk kembali pulih. Jamkrindo dan Askrindo juga diberikan jaminan melalui stop loss agar dapat benar-benar menjamin. Jadi akan timbul kepercayaan antara lembaga keuangan dengan UMKM.

Merujuk pada data Kementerian Keuangan, pemerintah mengalokasikan dana Rp 123,46 triliun untuk membantu UMKM di tengah tekanan pandemi Covid-19. Sebanyak Rp 35,28 triliun diberikan melalui subsidi bunga, sementara penempatan dana untuk restrukturisasi sebesar Rp 78,78 triliun. Selain itu, belanja imbal jasa penjaminan (IJP) Rp 5 triliun, penjaminan untuk modal kerja Rp 1 triliun, pajak penghasilan (PPh) final UMKM Rp 2,4 triliun, dan pembiayaan investasi kepada koperasi Rp 1 triliun.

Kemenkeu bersama dengan Kemenkop dan UKM merancang bantuan sosial (bansos) khusus yang akan dikucurkan langsung kepada pelaku UMKM. Bansos UMKM ini dikucurkan kepada pelaku usaha UMKM sebagai modal kerja bagi pelaku UMKM yang belum mendapatkan akses untuk kredit modal kerja. Ini bukan kredit, tetapi bansos untuk memberikan dukungan UMKM berupa transfer langsung untuk mendukung dari sisi produksi. Namun, pemerintah menemukan persoalan yang harus diselesaikan sebelum mengucurkan bansos khusus bagi UMKM tersebut di antaranya masalah pendataan pelaku UMKM.

Untuk semakin meningkatkan kecepatan realisasi dukungan UMKM, pemerintah juga telah berkomitmen untuk menyederhanakan proses administrasi dari permohonan fasilitas-fasilitas tersebut. Salah satunya, menyederhanakan prosedur pemanfaatan fasilitas PPh Final UMKM DTP melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 86/2020. Dalam beleid itu, UMKM kini tidak perlu lagi mengajukan Surat Keterangan PP No. 23/2018. Pemerintah juga menyederhanakan tata cara pemberian subsidi bunga untuk kredit UMKM melalui PMK 85/2020. Melalui PMK ini, penyaluran subsidi bunga tidak lagi harus melalui virtual account yang kemudian dipindahbukukan kepada rekening penyalur.

Menteri Keuangan dalam melaksanakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat pandemi COVID-19, mengeluarkan kebijakan untuk UKM dalam bentuk Penjaminan Pemerintah. Penjaminan program PEN ini, dilaksanakan dalam rangka melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi para pelaku usaha dari sektor riil dan sektor keuangan dalam menjalankan usahanya.

Definisi penjaminan pemerintah adalah penjaminan yang diberikan untuk dan atas nama pemerintah oleh Menteri melalui badan usaha penjaminan yang ditunjuk sebagai penjamin atas pemenuhan kewajiban finansial terjamin (pelaku usaha) yang meliputi pokok dan bunga kepada penerima jaminan (perbankan) dalam rangka pelaksanaan Program PEN. Pokok-pokok materi yang diatur dalam PMK Nomor 1/PMK.08/2020 antara lain: (1). Dukungan fasilitas pembayaran imbal jasa penjaminan (IJP) yang dibayarkan Pemerintah kepada Pelaku Usaha UMKM; (2). Proses dan tata cara permohonan penjaminan, pengajuan klaim penjaminan serta pembayaran klaim. (3). Kriteria penerima jaminan serta kriteria terjamin; (4). Penugasan PT Jamkrindo dan PT Askrindo untuk melaksanakan Penjaminan Pemerintah; (5). Dukungan pemerintah dalam rangka penugasan PT Jamkrindo dan/atau PT Askrindo; (6). Ketentuan mengenai pembayaran imbal jasa penjaminan; (7). Penganggaran dalam pelaksanaan penjaminan pemerintah; dan (8). pengawasan, pemantauan dan evaluasi atas penugasan kepada PT Jamkrindo dan/atau PT Askrindo.

Kriteria untuk perbankan selaku penerima jaminan, meliputi: (1). Merupakan bank umum, memiliki reputasi yang baik, dan merupakan bank kategori sehat dengan peringkat komposit 1 atau peringkat komposit 2 berdasarkan penilaian tingkat kesehatan bank oleh OJK; (2). Menanggung minimal 20 persen dari risiko Pinjaman modal kerja; (3). Pembayaran bunga kredit/ imbalan/margin pembiayaan dari Pelaku Usaha kepada Penerima Jaminan dapat dibayarkan di akhir periode Pinjaman; dan (4). Sanggup menyediakan sistem informasi yang memadai untuk melaksanakan program Penjaminan Pemerintah.

Sedangkan kriteria untuk pelaku usaha UMKM selaku terjamin, yaitu: (1). Merupakan pelaku usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah yang berbentuk usaha perseorangan, koperasi, ataupun badan usaha; (2). Plafon Pinjaman maksimal Rp 10 miliar dan hanya diberikan oleh satu Penerima Jaminan; (3). Pinjaman yang dijamin adalah Pinjaman yang sertifikat penjaminannya diterbitkan paling lambat tanggal 30 November 2021 sampai dengan selesainya tenor pinjaman tersebut; (4). Tenor Pinjaman maksimal tiga tahun; (5). Tidak termasuk dalam daftar hitam nasional; dan (6). Memiliki performing loan lancar (kolektibilitas satu atau kolektibilitas dua) dihitung per tanggal 29 Februari 2020.

“Untuk mendukung pelaksanaan Penjaminan Pemerintah ini, Pemerintah menyediakan anggaran pembayaran IJP yang ditanggung Pemerintah dan juga menyediakan anggaran dana cadangan penjaminan,” ujarnya. Dalam melaksanakan penjaminan tersebut, pemerintah juga turut menjaga kapasitas PT Jamkrindo dan/atau PT Askrindo dengan memberikan dukungan dalam bentuk Penyertaan Modal Negara, pembayaran IJP, counter guarantee, loss limit, atau dukungan risk sharing lainnya yang dibutuhkan sesuai peraturan perundang-undangan. (d marjono)

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment

Jika Adaptif Terhadap Perubahan, KSP Kodanua Akan Jadi Pemenang

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua, sebagai salah satu koperasi besar di Indonesia telah mengumpulkan segudang prestasi dan penghargaan. Mulai dari tingkat daerah sampai nasional. Termasuk penghargaan bergengsi Satyalencana Wirakarya. Sebenarnya, menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tepat waktu saja juga sudah merupakan prestasi.

Prestasi kinerja pengurus, pengawas, dan manajemen mengelola organisasi – lembaga bisnis yang dimiliki oleh ribuan anggota. Karena elemen tersebut mampu melakukan tugas dan kewajibannya secara baik, profesional dan berpedoman pada Jatidiri Koperasi dan 7 Prinsip Koperasi yang ditetapkan oleh International Cooperative Alliance (ICA) pada tahun 1995 di Kota Manchester, Inggris.

Harus diakui, saat ini sangat banyak koperasi yang tidak mampu mlaksanakan RAT secara rutin setiap tahun dan tepat waktu. Yang terlambat melaksanakan RAT masih dikatakan lumayan, karena banyak tidak melaksanakan RAT. Undang-undang (UU) Perkoperasian menetapkan bahwa koperasi harus melaksanakan RAT secara rutin setiap tahun, dan paling lambat 6 bulan setelah tutup tahun buku koperasi harus melaksanakan RAT.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) juga telah menunjukkan keseriusannya untuk membenahi koperasi di seluruh tanah air melalui Program Reformasi Total Koperasi. Mulai tahun 2018, seluruh koperasi di harusnya menggelar RAT sebagai salah satu syarat disebut; Koperasi Sehat.

RAT tepat waktu tidak saja mencerminkan bahwa koperasi tersebut tetap eksis, juga memberi kesempatan anggota berkontribusi kepada koperasi itu sendiri. Menurut cacatan, ada sekira 43.000-an koperasi sudah dibubarkan oleh pemerintah, masih ada sekira 150.000-an koperasi, 75.000-an di antaranya dalam kategori sehat dan 75.000-an sisanya sakit. Yang sakit terus diperbaiki supaya koperasi tersebut menjadi bagus, sehat, berkualitas dan bisa tingkatkan PDB.

Mengkoleksi penghargaan sebagai pengakuan dari pihak eksternal memang membanggakan. Sebab bisa dikatakan sebagai bukti keberhasilan kinerja koperasi. Namun bagi anggota sebagai pemilik, sekaligus pelanggan – pengguna jasa koperasi, koperasi yang sehat dan prima itu jauh lebih membanggakan. Karena, jika koperasi itu sehat dan mampu memenuhi kebutuhan anggota dengan layanan prima, maka tujuan berkoperasi menuju kualitas hidup yang lebih baik dan sejahtera, tercapai.

Pemerintah, seperti disampaikan oleh Deputi Pengawasan Kemenkop dan UKM, Drs. Suparno, MM, saat memberikan sambutan pada RAT tahun buku 2019 yang dilaksanakan pada 21 Maret 2020, di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia (TMII), Jakarta, untuk tahun 2019 KSP Kodanua mendapat penilian sebagai Koperasi Sehat. Bagi Kodanua yang didirikan pada 5 Maret 1976, dan memperoleh Badan Hukum (BH) tahun 1977, bukan kali pertama memperoleh predikat koperasi sehat, namun sudah sejak puluhan tahun silam, dan setiap tahun berturut-turut meraih predikat koperasi sehat.
“Namun, untuk meraih prestasi tersebut pengurus harus kerja keras dan banyak tantangan yang dihadapi. Diantaranya krisis moneter tahun 1997 – 1998. Kondisi saat itu sangat berat. Perekonomian kita morat-marit. Banyak perusahaan besar gulung tikar, bangkrut. Tetapi KSP Kodanua mampu keluar dari kesulitan tersebut. Bahkan pertumbuhan aset KSP Kodanua jutru meningkat,” kata Ketua Umum KSP Kodanua, H.R. Soepriyono SAB. Dalam krisis tahun 2008, lanjut dia, KSP Kodanua juga mampu bertahan, bahkan mampu membuka cabang baru di Kota Tegal, Jawa Tengah dan Bandung, Jawa Barat.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita kembali diuji. Perekonomian secara global mengalami pelambatan akibat terjadi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Kemudian disusul kondisi yang lebih berat dengan adanya wabah virus corona atau Covid-19 yang menyerang umat manusia di 211 negara di dunia. Banyak sudah, perusahaan besar yang bertumbangan, bahkan gulung tikar, atau merumahkan karyawannya (PHK). Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi basis utama anggota KSP Kodanua, banyak yang menjadi korban.

“Untuk menghadapi kondisi yang sangat berat ini kita harus waspada dan bergandeng tangan, bersatu padu, saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan dengan sering mencuci tangan,” katanya mengingatkan. Kita bersyukur, lanjutnya, seraya menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus tahun buku 2019, dimana aset KSP Kodanua per 31 Desember 2019 sebesar Rp 153,9 miliar.

Dijelaskan bahwa pada tahun 2019 anggota mampu menyerap pinjaman sebesar Rp 207,4 miliar, sehingga surplus hasil usaha (SHU) yang dibukukan dan akan dibagikan kepada anggota sebesar Rp 1,8 miliar, atau naik ketimbang tahun 2018 yang sebesar Rp 1,760 miliar. Untuk keanggotaan, jumlah anggota KSP Kodanua pada 2019 juga mengalami peningkatan menjadi 5.537 orang. Sehngga RAT mulai tahun ini menggunakan system perwakilan.

Kepada para anggta, khususnya peserta RAT Soepriyono berpesan agar para anggota tidak perlu kawatir karena dalam menyalurkan pinjaman kepada anggota didasari kehati-hatian, dan selalu patuh dengan yang namanya SOP. Pijaman utamanya disalurkan kepada anggota yang memiliki kegiatan pruduktif. Tujuannya agar pengembalian pinjaman bisa lancar. Untuk mengadapi berbagai tantangan yang sangat berat ini, kata Soepriyono, salah satunya adalah meningkatkan persatuan dan semangat antara pengurus, pengawas, manajemen dan seluruh anggota.

“Untuk menghadapi berbagai tantangan, kita harus berpeganggang teguh pada jatidiri koperasi, yaitu; dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota. Ketiga hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain,” tegas Soepriyono seraya menjelaskan bahwa modal koperasi adalah dari anggota, dan anggota pula yang harus meminjam di koperasi. Jadi, anggota tidak hanya menyimpan tetapi juga harus meminjam, atau sebaliknya, tidak boleh hanya meminjam, juga harus menyimpan. Dengan kata lain, anggota harus bertransaksi aktif dengan koperasinya. Tanpa anggota mau memanfaatkan produkproduk koperasi, dipastikan koperasi tidak akan berjalan dengan baik, tidak akan berkembang, dan bisa mati.

Untuk menumbuhkan rasa memiliki, dan semangat gotong-royong, kata Soepriyono, pada RAT ke-42 ini pengurus kembali memberikan penghargaan bagi anggota dan karyawan berprestasi. Juga pemberian beasiswa bagi 68 siswa putraputri anggota dan kayawan, tingkat Sekolah Dasar (SD) dan SMP. Juga memberikan bantuan biaya perjalanan umrah ke tanah suci bagi 3 orang anggota senilai masing-masing Rp 20 juta, melalui undian. Karena pemerintah Saudi masih belum mengizinkan pelaksanaan umrah, maka uang tersebut ditabung dulu di koperasi. Setelah dibuka kembali oleh Pemerintah Arabsaudi, uang boleh diambil untuk digunakan untuk umrah.

Menurut Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), DR Agung Sudjatmiko yang mengaku mengenal Ketua Umum KSP Kodanua 26 tahun silam, tantangan yang dihadapi dunia perkoperasian Indonsia, bukan hanya KSP Kodanua saja, memang sangat luar biasa. Bagaimana koperasi mengahadapi perubahan yang sangat cepat, terutama terkait dengan perkembangan teknologi, yang tidak mungkin kita menolaknya. Fintech sudah muncul dan berkembang kembang sangat lua biasa.

Fintech bukan hanya dimiliki oleh perusahaan Fintech, tetapi semua penyedia aplikasi seperti Tokopedia yang semula maketplace, Lazada yang semula juga marketplace, sekarang sudah berfungsi sebagai fintech. “Yang belum mereka lakukan adalah landing credit. Jika nanti Gojek, Lazada dan sebagai penyedia aplikasi marketplace sudah diberikan izin dan bisa melakukan landing credit, menjadi kekuatan luar biasa yang akan deihadapi oleh koperasi,” urai Agung, sekaligus mengingatkan kepada para praktisi koperasi untuk segera melakukan suatu perubahan, jika tidak mau tergilas oleh kemajuan teknologi.

Perubahan dinamika lingkar strategi bisnis yang dipicu oleh percepatan perkembangan teknologi telah merubah espektasi kehidupan manusia secara radikal. Jika kita saat bepergian ketinggalan dompet, tidak masalah. Asal tidak ketinggalan hand phone (HP). Kalau ketinggalan HP, bisa bengong seharian. Apalagi kalau antri menunggu sesuatu, apa yang bisa dilakukan. Tetapi kalau ada HP, kita masih bisa melakukan pekerjaan, bisa komunikasi dengan mitra bisnis, atau setidaknya bisa main games.

Gaya hidup yang berubah sehingga menimbulkan dampak pada perubahan perilaku pemenuhan kebutuhan konsumen atas produk dan jasa. Ini tantangan yang tidak bisa kita hindari, dan teknologi informasi telah mendorong dinamika yang sangat cepat untuk perubahan bisnis pada saat ini. Bisnis pada era revolusi industri 4.0, pemenang persaingan bukan karena besarnya aset, dan bukan karena volume bisnis.
Namun, yang akan memenangkan persaingan bisnis adalah mereka yang menguasai teknologi, informasi dan data. KSP Kodanua, menurut Agung Sudjatmoko tidak boleh menunggu lagi melakukan transformasi pengelolaan bisnis berbasis teknologi informasi, karena membutuhkan informasi data. Yang juga bisa menjadi pemenang adalah yang kreatif dan inovatif memanfaatkan teknologi. Kemudan yang mempunyai dan memanfaatkan jaringan komunitas. Dengan cara MGM – member get member atau anggota mencari anggota baru.

Gegarakkan Credit Union (CU) atau Koperasi Kredit (Kopdit) terutama CU di Kalimantan Barat atau di Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak lama telah menerapkan sistem MGM, sehingga perkembangan jumlah anggota sangat pesat. Di gerakkan CU atau Kopdit, sebuah CU primer punya anggota di atas 100.000 orang, bahkan ada yang anggotanya lebih dari 200.000 orang, hal yang biasa. Keuntungan dari sistem MGM, mereka bisa saling mengingatkan dan menjaga kepercayaan.

Pemenang berikutnya adalah yang punya visi bisnis kuat dan adaptif terhadap perubahan. Kemudian yang mempunyai sistem regenarasi di organisasi koperasi berdasarkan perkembangan dan kebutuhan koperasi. “Itulah beberapa syarat untuk kita memenangkan persaingan. Eksistensi dan kelanjutan bisnis di era saat ini dan kedepan bukan ditentukan oleh besarnya aset, volume, modal, maupun skala usaha dalam sebuah perusahaan, termasuk perusahaan koperasi. Tetapi ditentukan oleh kelincahan adaptif pelaku bisnis memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atau anggotanya,” tegas Agung.

Yang harus dilakukan oleh koperasi di era perubahan dan tantangan zaman yang luar biasa cepat dan berat, suka tidak suka, kita harus membangun dan tetap fokus mengembangkan bisnis koperasi. Sebagai perusahaan milik anggota, koperasi harus mengarah ke kongklomerasi bisnis koperasi. Jika saat ini KSP Kodanua punya anggota dan calon anggota sebanyak 15.000 orang, misalnya, dan semua membeli token listriknya KSP Kodanua dengan sistem aplikasi yang dimiliki, masing-masing beli Rp 150.000,- – Rp 200.000,- per bulan, X 15.000, berapa besar volume bisnisnya.

Itu baru token listrik, belum isi pulsa untuk HP. Kalau masing-masing isi pulsa Rp 50.000,- per bulan, maka total volume bisnisnya sangat besar. Dengan memiliki aplikasi yang sekaligus bisa digunakan untuk pelayanan simpan pinjam anggota secara on line, maka koperasi akan mendapatkan penghasilan sangat signifikan dari loyalitas anggota. Jadi, bisnis koperasi harus fokus dan diarahkan ke kongklomerasi bisnis. Ke depan, produk-produk KSP Kodanua harus sesuai dengan keinginan anggota.

Jika anggota yang akan direkrut dari kalangan generasi milenial, yang mereka inginkan adalah pelayanannya cepat, mudah dan transparan pengelolaannya. Karena itu KSP Kodanua perlu mengembangkan pola bisnis berbasis teknologi informasi. Kesemuanya itu bisa berjalan dengan baik jika mempunyai kualitas suber daya manusia (SDM) yang unggul, yang mampu menangkap setiap peluang bisnis dan mampu membangun keahlian-keahlian tertentu terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang selalu berubah-ubah. Profesi sudah banyak yang berubah, bisnis sudah berubah. Kalau kita tidak melakukan perubahan, kita akan tergilas oleh perubahan. (adt – mar)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

CU Keluarga Kudus Ibarat Mesin Terlambat Panasnya

Seperti kebanyakan Credit Union (CU) yang juga dikenal sebagai Koperasi Kredit (Kopdit), CU Keluarga Kudus, Kota Baru, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) juga lahir di lingkungan gereja – Paroki Keluarga Kudus. Penggagasnya seorang rohaniwan, Pastor Paskalis Soedirdjo OFM. Cap.

Bagi Romo Soedirdjo, membidani kelahiran CU Keluarga Kudus bukanlah kali bertama. Sebelumnya telah mendirikan CU di Sungai Ambawang, kemudian CU Stella Maris, yang kini menjadi salah satu CU besar di Kalimantan Barat. CU Keluarga Kudus didirikan pada 5 Oktober 2000, berdasarkan SK DPP KK No.: 04/SK/DPP-KK/IX/2000. Menurut Fransiskus Andi Azis, salah seorang pendiri yang kemudian dipercaya sebagai ketua pengurus sampai 3 periode, yang tercatat sebagai pendiri ada 30 orang, dan Pastor Soedirdjo menjadi anggota dengan No. Buku Anggota (BA) urutan ke-3.

“Menjadi ketua sampai 3 periode, sebenarnya tidak boleh. Tetapi dipaksa, maka terpaksa,” kata Andi saat berbincang dengan Majalah UKM beberapa waktu silam. Sebagai CU baru memang banyak yang harus dipersiapkan. Setelah tidak lagi menjadi pengurus, Andi yang kini menjadi Ketua Pengawas di CU Pancur Kasih, tetap saja tidak boleh jauh-jauh, apalagi lepas. Dia kemudian diikat sebagai penasehat. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kok bisa ya pindah dari satu CU ke CU lainnya menjadi pengurus atau pengawas? Di gerakkan credit union, seseorang memang boleh menjadi anggota lebih dari satu CU. Tentu ada syarat dan konsekuensi, tetap harus disiplin terhadap aturan lembaga, termasuk memenuhi kewajiban bertransaksi. Dan jika dia memang oleh anggota dinilai punya potensi untuk memajukan lembaga, yang juga sebagai miliknya, maka layak diberikan kepercayaan.

Latar belakang didirikannya CU Keluarga Kudus, menurut Pius Daren, yang dulu pernah menjadi aktivis di CU Pancur Kasih, dan kini menjabat sebagai Wakil Ketua II di CU Keluarga Kudus, Pastor melihat keprihatinan, kalau ada umat yang sakit atau meninggal dunia bantuan-bantuan kesehatan tidak ada. Sedangkan kemampuan dari gereja juga sangat terbatas. “Dengan adanya CU umat sangat terbantu,” tegas Pius. Pada awalnya, lanjut dia, pelayanan kepada anggota dilakukan seminggu sekali, pada hari Minggu usai Misa. Pelayanan kapada anggota pun hanya 1 jam, menggelar 1 meja di bawah tangga sekretariat Dewan Paroki. Menurut Andi, pelayanan kepada anggota pada masa awal dilakukan oleh Pengurus, terutama oleh Bendahara dan Panitia Kredit, serta beberapa orang volunter. Baru pada bulan Februari 2006 Pengurus mengangkat 3 orang staf untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Pada tahun tersebut Paroki memberikan satu ruangan untuk pelayanan. Saat itu juga CU Keluarga Kudus menggunakan program akuntansi Sikopdit MD, sehingga buku anggota tidak ditulis tangan lagi dan sudah bisa dicetak.

Dengan adanya produk solidaritas CU banyak membantu umat ketika mereka mengalami kesulitan; sakit atau meninggal dunia. Ketika anak-anak harus bayar uang sekolah atau kuliah. Kebutuhan mendesak, yang tidak bisa ditangguhkan dan tidak bisa menyediakan – memikirkan sebelumnya adalah biaya yang harus dikeluarkan jika ada anggota keluarga meninggal dunia. Sehingga kematian selalu menimbulkan beban baru bagi kebanyakan keluarga. Dengan menjadi anggota CU, karena di CU ada dana kematian, maka beban yang datang mendadak ini teratasi.

Hal lainnya yang juga mdenarik, jasa simpanan – tabungan tetap menjadi milik si penabung, tidak seperti kita menabung di bank. CU juga sangat membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pelaku UMKM dapat dengan mudah mendapatkan modal usaha, dengan jasa yang rendah jika menjadi anggota CU. Ketika ada pembelian kendaraan roda dua dengan mengangsur, CU sangat menolong. Bisa beli kontan lebih murah dengan uang pinjaman dari CU dengan jasa rendah, dan jasa yang dibayar itu tetap milik sendiri, sebagai SHU yang diberikan setiap akhir tahun buku. Nilai yang di dapat “kebersamaan – gotong royong.”

Mendirikan lembaga baru itu mudah. Tetapi untuk mengembangkan, apalagi, lembaga tersebut mengelola keuangan, banyak tantangan yang harus dihadapi. “Yang manis banyak, yang banyak sekali. Membuat rasa pahit menjadi asam, kemudian menjadi manis, tidaklah mudah. Pengalaman menarik waktu di CU Bima. Ketika baru didirikan, semangat anggota yang sebagian besar pengurus Paroki, luar biasa,” urai Andi. Saat ini CU Keluarga Kudus sudah memiliki 1 Kantor Pusat dan 4 Tempat Pelayanan (TP), yaitu TP KS Tubun, TP Rasau Jaya, TP Siantan dan TP Bengkayang.

Dalam perjalanan, pernah terjadi pro kontra. Pihak Paroki bilang; “Ini bukan urusannya Paroki. Kalian harus berdiri sendiri.” Ketika mulai berdiri sendiri itu pahitnya mulai muncul. Tempat tidak punya, karena harus keluar dari Paroki. Fasilitas yang pernah dipinjamkan tak ada lagi. “Kami benar-benar drop, pahit sekali rasanya,” kenang Andi. Patah semangat lalu menyerah, tidak ada gunanya. Jiwa, cinta dan militansinya terhadap CU bagaikan magma. Anggota terus dimotivasi, diajak merayap. Tanda-tanda bertumbuh pun mulai tampak, rasa pahit mulai berubah menjadi asam, sedikit manis.

Tantangan yang tidak kalah berat, ketika ingin mempercepat pertambahan jumlah anggota. Jumlah umat Paroki Keluarga Kudus sebenarnya cukup besar, sekitar 5000 orang. Namun, semua pengurus yang ada sudah menjadi anggota CU di tempat lain. Contoh, kecuali anggota di CU Pancur Kasih, Andi juga anggota CU laboraturium, yaitu CU Khatulistiwa Bakti. Di Kota Baru, rata-rata orang sudah menjadi anggota CU. Karena di Kalbar gerakkan CU memang berkembang sangat pesat.

Di kota-kota kecil – kecamatan, misalnya, apalagi di perdesaan dan pedalaman, orang lebih mengendal CU daripada bank. BRI yang terkenal intervensinya sangat agresif sampai ke kecamatan-kecamatan, tidak mampu bersaing dengan CU. Kesulitan yang dihadapi pengurus, menurut Andi, orang menjadi anggota hanya untuk menyimpan – menabung. Sedikit sekali yang mau pinjam. Namun, mereka tidak bisa dipaksa pinjam karena sudah punya pinjaman di CU-nya pertama.

“Kalau dipaksa jadi beban, bahaya, bisa-bisa tidak bayar. Lebih baik menyimpan saja, sehingga bila ada anggota yang membutuhkan dana, siap,” jelas Andi. Akibatnya memang, lembaga harus memberikan balas jasa atas simpanan anggota. Karena tidak banyak yang pinjam jasa atas pinjaman anggota kecil, CU-nya tidak berkembang.
Mengembangkan keanggotaan CU ke pedesaan lebih cepat daripada di perkotaan. Tetapi karena di pedesaan penghasilan anggota kecil, kapasitas untuk menyimpan juga kecil. Sebaliknya, minat pinjam besar namun dananya terbatas.

Karena CU Keluarga Kudus merupakan cikal bakal CU Paroki, kata Andi, biar berjalan apa adanya. Tidak boleh kecil hati, apalagi putus asa. “Kecil, yang penting sehat,” tegasnya. Agar dana simpanan tidak mengenap di lembaga, kepada anggota yang punya kegiatan usaha mendapat prioritas pinjaman modal. “Sekarang cukup banyak anggota yang berwirausaha menggunakan permodalan dari CU,” jelas Andi. Bahkan mereka yang semula tidak tertarik berwirausaha, mulai ikut membuka usaha. Ada yang ternak ayam, ternak ikan lele, ada yang membuka bengkel. Banyak juga yang membuka warung pecel lele. Anggota yang punya kegiatan usaha diperkirakan ada sekitar 20%.

Untuk mengembangkan keanggotaan, CU Keluarga Kudus “go public” tidak lagi terbatas hanya umat Katolik yang boleh menjadi anggota. Semua etnis, juga tidak membedakan keyakinan – agama, siapa saja yang ingin berbuat baik, membangun kersamaan, dan ingin sejahtera bersama boleh menjadi anggota. “Kalau ber-CU bicaranya bukan soal agama, tetapi tentang ekonomi dan kesejahteraan bersama,” tegas Pius Daren.

Intinya, lanjut dia, ketika kita bicara tentang ekonomi, sebetulnya bagaimana kita memberantas kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup. Misalnya, yang awalnya mungkin sumber penghasilannya hanya dari satu sumber, dan sejenis, kemudian dikembangkan menjadi beberapa sumber penghasilan. Beberapa tahun terakhir, gerakkan CU, termasuk CU Keluarga Kudus telah mengembangkan pemberdayaan anggota untuk meningkatkan kesejahteraan. CU kini tidak lagi berbicara tentang uang saja. Pemberdayaan sosial dan ekonomi sesuatu yang harus berjalan bersamaan tidak bisa dipisahkan.

Uang, sering dikatakan hanya sebuah gagasan, atau ide saja. Sesungguhnya, uang itu bukan sesuatu yang nyata. Tetapi sebuah gagasan – memikirkan sesuatu, dimana pikiran itu tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang, juga tidak bisa diraba.

Tetapi, walau dibilang tidak nyata, ketika orang memikirkan pesawat terbang, pesawat terbang itu menjadi nyata, dan orang bisa naik. Dulu, ketika ada orang yang menggagas mau ke bulan, orang juga tidak percaya. Tetapi telah terbukti, manusia bisa ke bulan, dan kembali lagi ke bumi dengan selamat. Seperti itulah uang.

CU juga sudah digagas jauh oleh pendiri gerakkan CU, Walikota Flammersfield, Friedrich Wilhelm Raiffeisen pada 1849, adalah tentang kesejahteraan sosial. Tetapi kenyataan sekarang, khususnya di Indonesia, kita masih berkutat tentang finansial – uang. Sedangkan tentang sosialnya “terlupakan”. Padahal, ekonomi dan sosial adalah sesuatu yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, kata Pius, pemberdayaan ekonomi dan pemberdayaan sosial harus berjalan seiring. Tidak bisa ekonomi berjalan lebih dulu, baru kemudian sosialnya menyusul. “Terus terang, gerakkan CU baru 2 – 3 tahun terakhir tersadar, ada ketidakseimbangan,” kata Pius menjelaskan. Diskusinya, lanjut dia, di CU Pancur Kasih, misalnya, sudah cukup lama, belasan tahun silam. Namun untuk mengaplikasikan gagasan itu mengalami peredebatan panjang. Untuk memulainya terlalu lama.

Untuk tahun buku 2019 CU Keluarga Kudus telah menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebelum wabah Covid -19 melanda Indonesia. RAT dilaksanakan di Gardenia Resort and Spa, yang berada di jalan Ahmad Yani II, Arang Limbung, Kec. Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, pada Sabtu 18 Januari 2020. Kegiatan ini dihadiri dan dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalbar, Drs. Ahi, M.T. Hadir pula Pengurus Pusat Koperasi Simpan Pinjam Bumi Borneo, Andreas.

Ketua Panitia, Sisilia Ria Indrawati menjelaskan bahwa dalam RAT Tahun Buku 2019 kali ini, CU Keluarga Kudus mengusung tema “Mewujudkan Credit Union yang Sehat dan Terpercaya Melalui Pelayanan Prima dan Pemberdayaan Anggota yang Berkelanjutan”. Dalam tema yang diangkat pada tahun 2020 ini, bertujuan ingin mengedepankan atau mengangkat pemberdayaan anggota sebagai pelaksanaan misi sosial credit union. Pengurus ingin memberdayakan semua anggota yang ada, sehingga mereka bisa berjalan bersama beriringan dengan CU Keluarga Kudus dalam mencapai kesejahteraan secara bersama. Program pemberdayaan yang akan dijalankan CU Keluarga Kudus pada tahun 2020 ini ialah membentuk kelompok binaan, yang akan beriringan bersama dengan anggota yang nantinya akan menghasilkan produk-produk dari kelompok anggota binaan tersebut. Sehingga dari kelompok binaan tersebut, mereka bisa mendapatkan pendapatan tambahan, dan setiap anggota memiliki usaha masing-masing.

Ketua CU Keluarga Kudus, Ir. Marsianus Sy yang adalah mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalbar mengatakan bahwa saat ini jumlah anggota sebesar 4517 orang dari empat Tempat Pelayanan (TP) yang ada di wilayah Kalbar. Diakui bahwa masih banyak program yang dituangkan dalam program kerja 2019 yang belum tercapai. Misalnya, meningkatkan jumlah anggota. Sebenarnya masih banyak peluang dalam meningkatkan jumlah anggota CU. Di Kalbar terdaftar sekitar 5 juta penduduk, dan 1,5 juta yang menjadi anggota CU. Berarti masih ada sekitar 3,5 juta lainnya yang belum menjadi anggota CU. Tantangannya memang tidak mudah. Namun untuk tahun buku 2019 CU Keluarga Kudus mampu menambah anggota sebanyak 763 anggota, sehingga total saat ini sebanyak 4517 anggota.

Struktur manajemen telah diubah saat dilaksanakan Lokakarya Organizational Developmet pada 3 – 4 Januari 2020. Dan telah diangkat Kepala Bagian Pemberdayaan dan Staf Pemberdayaan yang akan fokus bekerja di bidang pemberdayaan anggota, sesuai dengan tema RAT. Di era digitalisasi saat ini juga telah mengikuti perkembangan teknologi dan telah meluncurkan Aplikasi Sikopdit Connect pada tahun lalu bekerja sama dengan Inkopdit. Aplikasi ini dapat digunakan dengan HP Android. Banyak kemudahan yang didapa8t dari Aplikasi ini, yaitu Informasi Saldo dan Kewajiban, Setor Simpanan, Setor Pinjaman, Transfer antar Sicantik, Pembelian Pulsa, Pembayaran PLN, PDAM, TELKOM, TV Berlangganan, Pembelian Token PLN, Pembayaran BPJS Kesehatan, dan Laporan Mutasi Rekening. (adit – mar)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Kopdit Bima Berbagi Kasih

Koperasi Kredit Bina Masyarakat (Kopdit Bima) menyerahkan bantuan masker berstandard di 4 Kabupaten di Kalimantan Barat (Kalbar) dalam rangka mendukung Pemerintah Daerah dan garda depannya menangani penyebaran Pandemi Covid-19 melaui Dinas Kesehatan di masing-masing wilayah.

Penyerahan bantuan masker dilaksanakan 3 kali yaitu pada 20, 21, 28 April 2020. Masker dari Kopdit Bima tersebut akan disalurkan kepada masyarakat melalui Satuan Tugas Covid-19.

Keempat Kabupaten yang meneriman bantuan yaitu; Kabupaten Melawi, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sintang. Jumlah masker yang disumbangkan dalam kegiatan “Kopdit Bima Berbagi” kasih sebanyak 3000 lembar. Masker tersebut berstandard dan sudah lolos uji. Ke-4 kabupaten penerima bantuan masker merupakan wilayah kerja Kodit Bima yang memiliki kantor pelayanan 40 unit, tersebar di wilayah kabupaten tersebut.

Kegiatan penyerahan masker kali pertama dilakukan di Kota Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, yang diserahkan langsung oleh Manager Kantor Cabang Kopdit Bima Melawi, dan diterima secara simbolis oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi, Dr. Ahmad Jawahir sebanyak 500 lembar. Penyerahan ke-2 di Kota Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu sebanyak 500 lembar ini dilakukan oleh Deputi Regio 3 Kopdit Bima, Sugeng Mulyadi, S.E, didampingi General Manager (GM) Kopdit Bima, Yohanes Damianus Yudisto, Coop-Secretary Lilis Suryani, staf Departemen MBD, dan Manager Kantor Cabang Kopdit Bima Putussibau. Masker diterima oleh Agustina Rotua Pakpahan, S. Farm.,Apt selaku Kepala Seksi Farmasi, Makanan dan Minuman di Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu.

Kemudian yang ke-3 dilakukan di Kota Sekadau, Kabupaten Sekadau, sebanyak 500 lembar oleh Deputi Regio 1, Imus Yosmarjes,A.Md, didampingi Kepala Departemen MBD, Moses Jon Herodi, M.Si, Manager Kantor Cabang Sekadau, Fransiskus, dan staf ahli Departemen MBD, Willy Waltergandalf, S.S. Bantuan masker untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Sekadau ini diterima langsung oleh Bupati Sekadau, Rupinus, S.H,.M.Si di Kantor Bupati Kabupaten Sekadau.

Lalu yang terakhir dilaksanakan di Kota Sintang, Kabupaten Sintang. Ada sekitar 1500 lembar masker yang disumbangkan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang. Mengingat Kabupaten Sintang merupakan basis Kopdit Bima, sumbangan diserahkan langsung oleh Ketua Pengurus Kopdit Bima, Kornelius Pujiono, S.E, didampingi GM, Coop-Secretary, dan beberapa staf Departemen MBD. Bantuan diterima secara simbolis oleh Wakil Bupati Sintang, Drs. Askiman, MM, disaksikan jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Kopdit Bima atas situasi yang sedang kita hadapi bersama. Kopdit Bima mendukung pemerintah daerah di 4 kabupaten willayah kerja kami dalam menangani pandemi Covid-19. Dampak Covid-19 dirasakan oleh kita semua. Kopdit Bima mendukung penuh upaya pemerintah dan masyarakat dalam mencegah
penyebaran pandemi yang semakin meluas. Juga aktif membantu pemerintah terkait penyampaian informasi yang akurat mengenai tata cara penanganan Covid-19 sesuai himbauan Pedmprov Kalbar,” jelas Kornelius Pujiono, seraya menambahkan bahwa Kopdit Bima tercatat sebagai Kopdit pertama di Sintang yang berbagi kasih bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Kopdit Bima berkomitmen selalu menjadi yang terdepan untuk bergerak membantu masyarakat.

Kopdit Bima, kata Yohanes, berharap bantuan masker sedikit banyak dapat membantu pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ini. Kedepan, Kopdit Bima ingin berperan aktif membantu masyarakat – anggota melalui pelayanan sebagai lembaga koperasi. Kopdit Bima yang telah ber-Badan Hukum No. 1555/BH/X/1955, pada tahun 2020 ini genap berusia 32 tahun, didirikan tepat pada hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1988. Tetap eksis karena terus berinovasi. Telah pula meluncurkan beberapa aplikasi layanan berbasis digital (fintech) seperti SAKTI.Link dan SAKTI.Pay. Istilahnya berkoperasi kekinian dan praktis, terutama bagi kaum milenial.

Hingga tahun 2020 Kopdit Bima memiliki 23 kantor cabang, 14 kantor cabang pembantu, 2 kantor kas dan 1 kantor pusat untuk melayani melayani 33.430 anggota (per 30 April 2020), dan 26.091 Nasabah (Pengguna Produk Non-Anggota). Beberapa penghargaan telah ditrima baik dari tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional yaitu dari Kementerian Koperasi & UKM RI tahun 2011 dan 2012, dari Gubernur Kalbar tahun 2003 dan 2010, dari Bupati Sintang tahun 1996 dan 2009, dan yang terbaru memperoleh penghargaan Paritrana 2020 (Jaminan Sosial dan Ketenagakerjaan) dari Gubernur Kalbar, Februari 2020 dalam kategori Perusahaan Menengah Terbaik Se-Kalimantan Barat.

(Kamilus Willy Waltergandalf,S.S.)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Perbankan Masih Malu-Malu Melayani UMKM

Benar bahwa usaha mikro kecil dan menengah(UMKM) mempunyai peran sangat penting dalam membangun bangsa, membangun masyarakat, memberikan kesempatan lapangan kerja yang lebih luas, pertumbuhan ekonomi nasional dan juga pemerataan pembangunan.

“Namun dalam konteksekspor, harus diakui bahwa peran UMKM masih perlu ditingkatkan.
Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti; Singapura, Malaysia, dan Thailand, misalnya, kita masih kalah. Ekspor UMKM masih sangat rendah,” jelas
Sekretaris Menteri (Sesmen) Koperasi danUKM, Prof. Rully Indrawan, dalam suatu
diskusi temu bisnis UKM di UniversitasGadjah Mada (UGM), Jogyakarta, beberapa
waktu silam.

Harus dipahami, secara daya saing UMKM dihadapkan pada berbagai kendala. Mulai dari masalah akses pembiayaan, design, inovasi produk, marketing – pemasaran, termasuk regulasi, dan terjadinya turbolence – pergolakan ekonomi global kadang juga mengganggu kontinitas dari UMKM. Harus akui, regulasi kita juga masih banyak yang belum bisa mengikuti dinamika yang terjadi. Implikasi daripada persoalan pengurusan izin membuat ekspor yang dilakukan oleh UMKM masih sangat rendah.

Satu hal yang harus pula dipahami bahwa Kementerian Koperasi dan UKM bukan satu-satunya kementerian yang mengurus UMKM maupun koperasi secara nasional. Undang-undang (UU) No 20 tahun 2008 mengisyaratkan ada 18 Kementerian dan Lembaga (KL) yang mengatur UMKM dan koperasi. “Sifat Kementerian Koperasi dan UKM adalah koordinatif,” tegas Prof Rully. Sejujurnya, kata dia, tidak cukup selesai hanya di 18 KL. Dengan adanya otonomi daerah masalah UMKM dan kopersi juga menjadi domainnya Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. Dengan demikian ada persoalan membangun sinergitas antara para pelaku kebijakkan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Itu yang menjadi harapan ke depan.

Kemudian ada persoalan lain yang harus menjadi fokus perhatian Kementerian Koperasi dan UKM yaitu perubahanperubahan dunia, perubahan perilaku masyarakat, perubahan pola pekerjaan memberikan penekanan bahwa wirausaha saat ini menjadi habit baru bagi masyarakat, dan ini berdampak kepada tumbuh dan berkembangnya UMKM secara nasional. Kita amati bahwa rasio wirausaha nasional dari tahun ke tahun secara nasional mengalami peningkatan.

Walau secara umum kita masih jauh dari Amerika Serikat (AS) yang kini telah mencapai 12%, China 10%, Jepang 10%, Singapur 7%, Malaysia 5%, Thailand 4,5% dan Indonesia baru 3,46%. Namun kini ada indikasi terjadinya sebuah perubahan yang mengisyaratkan pentingnya regulasi – pentingnya kebijakan baru dalam upaya memberikan iklim yang lebih sehat, memberikan suasana pembelajaran yang lebih baik bagi generasi baru didalam membangun habit baru pada dunia kewirausahaan.

“Banyaknya persoalan teknis yang dihadapi para pelaku UMKM menghambat pertumbuhan mereka untuk naik kelas. Terkait akses pembiayaan, misalnya, perbankan masih malu-malu melayani UMKM. Saat ini total kredit yang diberikan oleh perbankan kepada UMKM baru di kisaran 18% – 19% per tahun. Dan UMKM yang menikmati kredit dari perbankan tersebut hanya sekitar 11,80%. Sekarang sisanya yang 80% itu dapat permodalan dari mana? Ada yang dari rentenir, lembaga keuangan mikro (LKM) koperasi dan sebagainya. Tentu saja hal itu akan memberikan implikasi terhadap daya saing secara masif bagi pelaku UMKM,” urai Prof. Rully.

Kementerian Koperasi dan UKM, lanjut dia, akan berupaya untuk memfasilitasi berbagai persoalan tersebut. Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) yang beberapa waktu silam dilakukan moratorium, misalnya, dibangkitkan kembali karena para pelaku UMKM sangat membutuhkan akses pembiayaan dengan beban bunga yang terjangkau dan kompetitif. Kredit Usaha Rakyat (KUR) bunganya memang sudah turun, tetapi persoalannya tidak selesai dengan turunnya suku bunga. Fakta membuktikan bahwa banyak sekali UMKM tidak mudah mengakses dana KUR di perbankan. Ada persoalan administratif yang kadangkadang susah dijangkau para UMKM. “Karena itu LPDB dioptimalkan agar pelaku UMKM bisa mengakses permodalan lebih mudah,” tegasnya.


Indonesia sampai saat ini masih kekurangan wirausahawan. Akan tetapi, untuk mencetak sebanyak mungkin pengusaha dalam waktu singkat nyaris mustahil. Salah satu acuan pendidikan wirausaha yang bagus adalah Jepang. Sejak ratusan tahun lalu, institusi pendidikan dan masyarakat bahu-membahu menanamkan pemahaman mengenai kemandirian. Makanya di Jepang tidak sulit menemukan perusahaan yang sudah berdiri ratusan tahun. Pabrik kue saja di sana ada yang usianya 250 tahun. Jadi transisi itu berjalan sangat panjang dengan mindset – pola fikir yang sama dan terus menerus dipelihara, serta dikembangkan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong munculnya para entrepreneur baru di Indonesia dari kalangan anak-anak muda kreatif dan inovatif. Presiden mengatakan; “Hampir di setiap negara maju, standardnya memiliki (penduduk) entrepreneur di atas 14%. Sementara kita, angkanya masih 3,46%. Artinya perlu diadakan percepatan dan kemudahan agar pelaku ekonomi Indonesia bisa meningkat jauh.” Karena itu Presiden mengapresiasi langkah-langkah yang menebarkan nilai-nilai entrepreneurship, baik kepada siswa-siswii sekolah, mahasiswa, bahkan santri di pondok pesantren.

Dalam cara yang berbeda, Korea Selatan kini juga sedang mengejar capaian negara-negara maju. Salah satunya, dengan memperbanyak pengiriman pelajar ke negara lain. Ini langkah yang dulu dilakukan Jepang. Bahkan untuk negara menengah ke atas, Korsel tidak segan belajar ke negara berkembang. Sebab, diharapkan pada masa mendatang, pengetahuan mengenai kebudayaan negara lain bisa membantu perusahaan di sana memasuki pasar.

Di Universitas Indonesia (UI), Depok, misalnya, setiap tahun ada 600-an orang Korea belajar di sana. Semua yang ada di Indonesia mereka catat dan dilaporkan ke pemerintahnya. Jadi saat perusahaan Korea masuk ke Indonesia akan dapat secara cepat berkembang. Para mahasiswa Korea itu sepertinya sekaligus bertugas sebagai inteljen ekonomi. Selain pendidikan sejak dini yang mendukung dunia usaha, reformasi struktural diperlukan buat memperbanyak wirausahawan. Perizinan ala Korea Selatan diyakini bisa mengatasi hal tersebut. Di Korea menerapkan izin usaha tunggal, tidak memerlukan berbagai tahapan dari lembaga pemerintah.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memiliki program mendidik santri untuk menumbuhkan wirausaha baru. Salah satunya menjalankan Program Santripreneur – kewirausahaan yang menjadi implementasi dari road map – Peta Jalan Making Indonesia 4.0, dalam pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Program Santripreneur adalah bahwa santri masa kini dituntut untuk tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu berwirausaha.

Upaya konkret yang dilakukan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) untuk mendorong jiwa wirausaha para santri, antara lain memfasilitasi dengan alat-alat produksi, misalnya, Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen diberikan mesin dan peralatan pembuat roti untuk dimanfaatkan para santri agar bisa produktif dan berwirausaha. Alat produksi itu antara lain; 1 unit meja stainless, 1 unit planetary mixer, 1 unit spiral mixer (mesin pencampur adonan), satu unit proofer (mesin pengembang adonan), 1 unit oven, 1 unit tabung gas beserta regulator dan LPG, 1 unit timbangan digital, 1 unit rak bakery pan, 1 unit mesin potong roti, 1 unit lemari es, dan 1 unit impulse sealer (alat perekat plastik).

Dengan bantuan peralatan produksi tersebut, setelah lulus dari pesantren, para santri selain menjadi ahli dalam bidang ilmu agama, sekaligus bisa menjadi wirausaha yang andal. Jadi, belajar di pesantren, sambil menimba ilmu agama sekaligus sambil berlatih membuat roti, tentunya harus juga bisa menjualnya. Ponpes merupakan lembaga pendidikan berbasis keagamaan yang dikenal sebagai lembaga yang mandiri, sekaligus agen pembangunan yang menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat.

Ponpes telah dikenal menjadi tempat untuk menempa para santri yang berakhlak dan berbudi pekerti luhur, ulet, jujur, serta pekerja keras. Ponpes juga memiliki potensi pemberdayaan ekonomi, mengingat sudah banyak Ponpes yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit bisnis berskala IKM, dan memiliki inkubator bisnis. Seluruh potensi ini merupakan modal yang cukup kuat dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Kemenperin telah menyiapkan beberapa model pengembangan pemberdayaan ekonomi berbasis Ponpes dan menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan di kalangan santri maupun alumni santri. Model pertama, Penumbuhan Wirausaha Industri Baru dan Pengembangan Unit Industri di lingkungan Ponpes, dikenal dengan program Santri Berindustri. Tujuannya untuk mewujudkan kemandirian industri nasional berbasis ekonomi syariah. Dan Santripreneur adalah program pengembangan IKM di lingkungan Ponpes.

Untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebihbaik, tugas dan tanggungjawab bersama, pemerintah dan masyarakat. Karena itu pemerintah mendorong agar para santri selepas lulus dari Ponpes tidak hanya menjadi guru di mushola atau masjid tapi, juga menjadi seorang santripreneur. Program Penumbuhan Wirausaha Baru IKM di Ponpes Darunnajah 14, di Serang, Banten, diberikan dalam bentuk Bimbingan Teknis Produksi dan Fasilitasi Mesin Konblok (Paving Blok).

Peserta bimbingan yang merupakan santri, alumni dan pengurus Ponpes diharapkan menjadi wirausaha mandiri, dan pionir bagi santri lainnya untuk maju dan berkembang dalam berwirausaha. Beberapa sektor usaha yang didorong yakni; olahan pangan dan minuman, perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana muslim dan seragam, daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair, kosmetik dan home care, kemudian kini di bidang pembuatan konblok atau paving block.

Pengembangan wirausaha di kalangan santri dan Ponpes di Indonesia dinilai sebagai arus baru ekonomi Indonesia yang potensial. Menurut Direktur Utama Santri Milenial Center (Simac) Nur Rahman, peran umat dan pesantren dalam membangun
perekonomian bangsa sudah saatnya diperbesar karena bisa menjadi arus baru ekonomi Indonesia. Perlu ada gerakan bersama bagi para santri untuk menjadi usahawan – santripreneur karena potensi gerakan ini untuk memberikan kontribusi pada pembangunan ekonomi bangsa sangat besar termasuk untuk mengantisipasi resesi.

Menurut data Kementerian Agama RI, jumlah pesantren hingga tahun 2020 ini tercatat sebanyak 28.194 pesantren dengan 5 juta santri mukim. Jika ditotalkan dengan santri yang bolak balik rumah ke pondok pesantren dan sebaliknya serta taman-taman pendidikan Al-Qur’an dan madrasah, maka jumlah santri kita sebanyak 18 jutaan orang dengan kurang lebih 1,5 juta tenaga pengajar. Apabila sebagian santri telah lulus maka jumlah SDM lulusan pesantren menjadi sebuah potensi yang perlu dikembangkan.

Untuk menjadikan santri milenial sebagai salah satu potensi penggerak ekonomi digital di Indonesia bisa memanfaatkan teknologi digital dalam mengoptimalkan bisnis. Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin mengatakan, tantangan Indonesia ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Dengan segala potensi yang dimiliki perlu ada program yang memiliki target untuk peningkatan soft skill SDM, salah satu sasaran yang memiliki potensi besar adalah santri. “Santri harus mengambil peran dan tanggung jawab dalam perubahan sosial dan penguatan ekonomi Indonesia. Peran santri dalam pembangunan ekonomi harus dikelola dengan baik,” kata Ma’ruf Amin.

Santri dapat i kut berperan mengembangkan ekonomi syariah karena memiliki berbagai potensi yang dapat menyokong kesejahteraan pesantren dan para santrinya dan ikut membantu mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia (Sustainable Development Goals SDGs). Paling tidak ada tiga potensi pesantren dalam memandirikan umat. Pertama, potensi jumlah santri yang besar. Kemudian potensi masyarakat sekitar pesantren, dan ketiga potensi zakat dan wakaf umat. Semua potensi itu dapat membantu mewujudkan kemandirian usaha di pondok pesantren serta membantu meningkatkan kesejahteraan santri.


Pengusaha muda adalah mandat sangat penting. Sebagian besar mungkin baru memulai kariernya, awal dalam kehidupannya dan merupakan generasi penerus bagi pengusaha di Indonesia. Mereka menggambarkan mengenai masa depan Indonesia. Jadi, masa depan bangsa ada di seluruh pengusaha muda. Mereka pemegang estafet dari keberlanjutan cita-cita Indonesia untuk selalu menjaga kedaulatan, kedamaian, persatuan kemerdekaan dalam rangka mewujudkan negara bangsa yang adil makmur. Ini adalah cita-cita setiap generasi terus-menerus dititipkan dan diteruskan. Indonesia tidak mungkin maju ekonominya tanpa ada pengusaha-pengusaha yang maju.

Kenapa China bisa begitu cepat membangun kreasi ekonomi dan bisa membuat negara tersebut maju? Ternyata China melakukan dengan cara-cara ATM; amati, tiru, dan modifikasi. Contoh, mobil Wuling di Indonesia, teknologinya luar biasa menyamai dengan negara maju. Mobil tersebut sebenarnya meniru, mengamati, tapi memodifikasi. Jepang saat kalahkan automotif dari Amerika juga menggunakan ATM, begitu pula dengan Korea Selatan.

Kalau kita coba melakukan hal yang sama, tentu nanti ada suatu percepatan pembangunan ekonomi kreatif. Masyarakat Indonesia wajib bersyukur karena mulai tahun 2016 Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dan berkolaborasi dengan Kementerian Hukum dan HAM, telah memfasilitasi daftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di 34 provinsi seluruh Indonesia.

Dulu tidak pernah ada, sekarang cukup besar, bagus, dan terus berkembang. Kemudian program itu di-back up dengan satu keputusan kolaborasi dari Kemenko Polhukam dan Kemenkumham, dengan membentuk program Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli), yang masih banyak hambatan di berbagai daerah. Pungutan liar ini mengganggu pertumbuhan ekonomi menjadi lambat, bahkan menurun.

Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa pemerintah juga tak bisa berdiri sendiri. Butuh satu kerja sama dengan pihak swasta maupun perguruan tinggi. Dengan meningkatkan kegiatan yang kita lakukan, maka Indonesia setapak demi setapak akan mencapai suatu persyaratan standar negara maju, 14% pelaku entrepreneur.

Para pengusaha generasi lama harus banyak belajar dari unicorn Indonesia. Sebab unicorn dibangun oleh generasi muda yang mengerti dengan peluang bisnis di era digitalisasi. Kunci sukses dari startup yakni memperhatikan secara detail peluang bisnis bahkan pada hal-hal yang dianggap sepele yang terlewatkan dan tidak diperhatikan oleh para pengusaha konvensional.

Starup memikirkan yang tak dipikirkan pengusaha senior. Mereka meng-connect yang tadinya dianggap sepele dan kecil, kalau di-scale up hasilkan jutaan, miliar, bahkan triliun. Dari pengalaman pendiri unicorn Indonesia diketahui, generasi muda sangat detail menangkap peluang bisnis. Contoh, yang dilakukan anak usaha Gojek, yakni Gopay. Perusahaan itu rela turun ke lingkungan tempat tinggal, arisan keluarga. Mereka ingin tahu putaran uang kecil untuk arisan, atau beli panic. Hal kecil itu diperhatikan secara detail. Setiap rupiah yang beredar itu artinya bisnis bagi mereka.

Kini sudah ada 4 perusahaan startup Indonesia yang menjadi unicorn. Artinya, memiliki valuasi sebesar USD1 miliar. Ke-4 perusahaan itu yakni Go-Jek, Bukalapak, Traveloka, dan Tokopedia. Ada pesan dari mereka yang telah meraih sukses; “Mulailah jalankan bisnis sendiri karena itu mengasyikan. Anda tidak dikontrol, tidak ada bos, dan tidak ada pilihan jam kerja.” Di Inggris dan AS keinginan menjadi entrepreneur baru berkembang. Namun di beberapa negara, menjadi wiraswasta adalah kebutuhan.

Anda harus membuat peluang Anda sendiri ketika tidak ada banyak pekerjaan yang tersedia. Menurut sebuah penelitian dari Approved Index yang berbasis di Inggris, menemukan Amerika Serikat menempati urutan ke-41 di dunia untuk jumlah pengusaha, atau naik 4,3% dari populasi. Sementara itu, Inggris berada di urutan ke-37 dengan 4,6%. Jumlah tersebut dihitung dengan persentase penduduk yang memiliki atau memulai memiliki bisnis baru dan telah membayar gaji atau upah selama 3 bulan atau lebih.

Di negara-negara di mana ekonominya lebih miskin, dan tingkat pengangguran lebih tinggi, warga akan beralih untuk memulai usaha sendiri dimana mereka melihat peluang itu ada. Berikut ini adalah negara yang jumlah wiraswasta (entrepreneur) terbanyak:

Uganda, sebanyak 28,1% dari populasi penduduknya adalah pengusaha. Mereka memanfaatkan kebebasan yang datang setelah pemerintahan diktator selama bertahun-tahun. Banyak wiraswasta yang melihat usaha mereka akan berkembang, apalagi negara ini baru membuat serat optik yang menghubungkan desa-desa terpencil dengan internet.

Thailand, ada 16,7% dari populasi penduduk menjadi wiraswasta yang bekerja untuk diri mereka sendiri. Transportasi merupakan salah satu sektor terbesar seperti tuk-tuk, yang menjadi andalan di sektor pariwisata. Brazil, jumlah wiraswasta mencapai 13,8%, dan hampir dari setengahnya didominasi pengusaha perempuan. Kamerun, sebanyak 13,7% penduduk dari negara ini menjadi wiraswasta dan bergerak di bidang layanan dan makanan.

Vietnam, sekitar 13,3% penduduk dari negara tersebut wiraswasta. Vietnam terkenal untuk warung produktif dan “tukang cukur jalanan.” Angola, sebanyak 12,4% pekerjaan di negara ini adalah menjadi wiraswasta. Penjual “zungueiros” untuk laki-laki dan “zungueiras” untuk perempuan, membuat sebagian besar pekerja mandiri. Jamaika, sebanyak 11,9% penduduk di negera ini adalah wiraswasta dan pedagang kaki lima. Namun pemerintah mendorong para pengusaha agar membuat banyak ide dengan datangnya teknologi.

Botswana, sebanyak 11,1% dari populasi penduduk berprofesi sebagai pengusaha. Mereka mendirikan kios untuk usaha mereka. Chili, negara ini dianggap yang paling stabil dan makmur di kawasan Amerika Selatan. Ada 11% dari populasi penduduk lebih memilih menjadi wiraswasta.

Bersama dengan perusahaan komunikasi Y&R, BAV Consulting serta tim riset Wharton School of the University of Pennsylvania, US News mengeluarkan daftar tahunan tentang negara dengan predikat paling baik. Salah satu faktor yang dinilai dalam survei ini adalah kesempatan wirausaha. Menurut survei yang diberi nama Best Countries for Entrepreneurship tersebut, semakin banyak kesempatan wirausaha di sebuah negara maka semakin baik pula iklim ekonomi di negara tersebut. Berikut ulasannya melansir USNews.com.

  1. Swiss – Pemerintah Swiss menghabiskan 2,97% pendapatan domestik bruto (PDB) negaranya untuk riset dan pengembangan wirausaha. 4. Inggris, sama layaknya Swiss, Inggris juga menghabiskan 1,66% PDB-nya untuk membangun iklim wirausaha semakin baik. 3. Amerika Serikat, di AS, para inovator dan wirausahawan sangat disanjung dan dihargai di media. Fakta ini diperoleh dari 68% responden survei. 2. Jepang, skor Jepang sangat tinggi untuk kategori kewirausahaan dan negaranegara dengan pengaruh budaya terbesar, dibantu oleh stabilitas politik dan ekonomi. 1. Jerman, Jerman menempati posisi teratas karena sejumlah alasan, terutama perihal ekonomi. Negara ini mendapatkan nilai kewirausahaan tertinggi. Selain itu, nilai positif lain didapatkan di bidang kekuasaan dan kewarganegaraan.

Global Talent Competitiveness Index (GTCI) telah merilis hasil riset terbaru mereka tentang pemeringkatan kemampuan daya saing global negara-negara yang ada di dunia. Tahun 2019, laporan GTCI berfokus pada daya saing global khususnya bidang kewirausahaan terutama bagaimana entrepreneurship ini didorong, dipelihara dan dikembangkan di seluruh dunia dan bagaimana hal ini memengaruhi daya saing relatif dari berbagai negara.

Laporan yang dirilis oleh INSEAS ini
lebih lanjut menunjukkan 2 kesimpulan utama yakni: Negara dan kota dengan peringkat tertinggi cenderung paling terbuka terhadap pengembangan bakat wirausaha. Digitalisasi dan globalisasi meningkatkan peran bakat kewirausahaan. Indikator penilaian Tidak main-main, GTCI menggunakan banyak indikator obyektif dalam melakukan pemeringkatan ini mulai dari pendapat perkapita, infrastruktur teknologi komputer informasi, tingkat korupsi, isu jender dan lingkungan, tingkat toleransi, stabilitas politik hingga hubungan antara pemerintah dan dunia bisnis, serta banyak lainnya.

Menggedor Potensi Wirausaha Generasi Milenial Indikator pendidikan turut menjadi indikator penting dalam penentuan tingkat kompetisi wirausaha global ini. Beberapa aspek bidang menjadi pendidikan yang dijadikan skor penilaian di antaranya: pendidikan formal, pendidikan vokasi, literasi baca-tulis-hitung, peringkat internasional universitas, jurnal ilmiah, mahasiswa internasional, relevansi pendidikan dengan dunia bisnis, jumlah lulusan teknisi dan peneliti, hingga jumlah hasil riset dan jurnal ilmiah.

Berdasarkan indikator tersebut, GTCI menyusun peringkat negara-negara dengan tingkat kompetisi global wirausaha terbaik. 10 negara terbaik kompetisi global bidang wirausaha: (1). Swiss dengan skor 81,82 (2). Singapura dengan skor 77,27 (3). Amerika Serikat dengan skor 76,67 (4). Norwegia dengan skor 74,67 (5). Denmark dengan skor 73,85 (6). Finlandia dengan skor 73,78 (7). Swedia dengan skor 73,53 (8). Belanda dengan skor 73,02 (9). Inggris dengan skor 71,44 (10). Luxembourg dengan skor 71,18.

Posisi kompetisi wirausaha Indonesia dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia memperoleh skor 38,61 dan berada di posisi ke-67 dunia. Posisi ini berada setingkat di bawah negara tetangga ASEAN, Thailand yang memiliki skor 38,62. Indonesia masih unggul dari beberapa negara Asia lain antara lain; Meksiko (posisi 70), Brazil (72), India (80), Mesir (96) dan Iran (97). Dalam peringkat negara Asia, Indonesia memperoleh ranking 9 setelah berturutturut negara Singapura, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Brunei, China dan Filipina dan Thailand.

Menurut laporan US News and World Report dalam 2019 Best Countries, Indonesia dan Filipina menempati peringkat kedua terendah dalam dimensi kewirausahaan. Skor yang diperoleh Indonesia dan Filipina sebesar 0,7 dari skala 10. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi pula iklim kewirausahaan dalam suatu negara. Di tingkat dunia, Indonesia berada di peringkat ke-50 dari 80 negara yang disurvei.

Rendahnya peringkat kewirausahaan Indonesia disebabkan rendahnya skor pada semua indikator, yaitu di bawah 2 dari skala 10. Ada beberapa indikator yang mendapatkan skor rendah, yakni kerangka hukum yang baik dan keahlian teknologi dengan skor masing-masing sebesar 0,3 dan 0,5. Skor tertinggi yang diperoleh Indonesia adalah 1,8 untuk indikator terhubungnya Indonesia ke seluruh dunia. Survei ini dilakukan terhadap 21 ribu responden dari lima kawasan. Kawasan tersebut adalah Amerika, Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika yang tersebar di 80 negara dunia, sedangkan di ASEAN sebanyak tujuh negara. (mar – adt – agb)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

UMKM Tangguh dan Berkelanjutan Mendukung Kedaulatan Ekonomi Bangsa

Pukulan pandemi Covid-19 cukup keras bagi produk lokal yang sebagian besar berskala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Penjualan produk mereka anjlok. Namun tak ada kata mundur, lelah dan menyerah. Berbagai inisiatif menggeliatkan usaha bermunculan. Upaya itu untuk menjaga usaha, membuka peluang usaha dan mempertahankan pekerja. Dari pengalaman beberapa kali krisis, pelaku UMKM tetap mampu bertahan dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Dalam krisis akibat virus Covid-19 yang oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ditetapkan sebagai wabah dunia, UMKM masih menjadi tumpuan ditengah kondisi perekonomian yang tidak pasti. UMKM tidak hanya berperan dalam ekonomi domestik,
tetapi juga didorong menjangkau pasar asing. Salah satu cara mendorong UMKM menguasai pasar di dalam negeri adalah dengan meminta industri perhotelan beralih menggunakan produk hasil UMKM. Produk itu antara lain; sabun, sampo, tempat sampah, furniture dan sebagainya.

Produk-produk UMKM kita tidak buruk, banyak yang berkualitas. Kita ingin mengurangi defisit neraca perdagangan. Semua harus memiliki komitmen, membatasi impor. Dengan demikian pasar bisa memanfaatkan industri UMKM dibandingkan industri yang bergantung pada bahan baku impor. Untuk itu UMKM harus mampu menciptakan inovasi produk unggulan yang berbeda dengan yang nberedar di pasaran. Dengan cara itu konsumen akan tertarik membeli produk UMKM.

Optimis tersebut diungkapkan Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta Prof. DR. Ir Panut Mulyono, M. Eng dalam acara Workshop dan Temu Bisnis Nasional UKM beberapa waktu silam. Dikatakan bahwa perkembangan UMKM terus mengalami pertumbuhan yang sungguh sangat menggembirakan. Hal ini dapat kita lihat, dari data yang tersaji bahwa jumlah UMKM sebelum krisis moneter tahun 1998 – 1999 sebanyak 40
jutaan. Setelah 21 tahun totalnya menjadi 64 jutaan. Berarti terjadi pertumbuhan UMKM sebesar 62,5%. Sebuah angka yang cukup dramatis. Peran strategis UMKM dalam menumbuhkan ekonomi nasional diantaranya adalah penyerapan tenaga kerja. “Hal yang sangat penting bagi sebuah negara agar penyerapan tenaga kerja selalu ada karena pertumbuhan penduduk kita yang sangat besar. Pengolahan sumber daya lokal, pemberian layanan ekonomi yang luas kepada masyarakat, pemerataan
dan peningkatkan pendapatan masyarakat serta potensi pembentukan usaha yang
lebih produktif dan berdaya saing yang cukup luas,” urainya.

Selain itu tentu saja bahwa UMKM di Indonesia juga memiliki peranan penting dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi melalui peningkatan pendapatan domestik broto (PDB) dan juga ekspor. Betapa banyak ekspor kerajinan dari UMKM kita. Sektor UMKM mempunyai sumbangsih dalam menopang penghasilan rumah tangga dan mengurangi tingkat kemiskinan. Sehingga berperan besar.

Selain itu UMKM juga mengembangkan ekonomi lokal. Menciptakan pasar dan inovasi melalui fleksibilitas dan sensitifitasnya serta keterkaitan dinamis antara kegiatan usaha dan memberi kontribusi terhadap peningkatan ekspor non migas. Untuk pemberdayaan UMKM didalam menghadapi pasar global dan era revolusi industri 4.0, menurut Rektor UGM itu, perlu dilakukann upaya meningkatkan kualitas produk, akses pasar dan pemanfaatan teknologi yang tepat agar memberikan pemanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat dan bagi bangsa.

Beberapa aspek inovasi yang diperlukan bagi UMKM dalam mengembangkan inovasinya adalah inovasi dalam bidang teknologi, proses produksi, inovasi dalam bidang pemasaran dan jaringan, inovasi dalam disaign produk untuk menyesuaikan agar bentuk-bentuk produk yang diproduksi oleh UMKM sesuai dengan selera dari para pengguna – konsumen.

Dengan penerapan inovasi teknologi tersebut diharapkan UMKM mampu bersaing baik di tingkat lokal maupun di tingkat global. Dalam menerapkan inovasi teknologi ini diperlukan dukungan berbagai aspek, seperti aspek regulasi kebijakan, keungan, kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan teknologi.

Meskipun UMKM telah menunjukan pernanannya dalam perekonomian nasional namun, kata dia, masih ada berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Beberapa di antaranya terkait dengan produksi, pengolahan, pemasaran, SDM, design, teknologi, permodalan dan iklim usaha.

Untuk itu pelaku UMKM harus didorong, dan didampingi untuk meningkatkan kemampuan, menciptakan wawasan, pengetahuan, pengalaman mengelola dan mengembangkan kegiatan usahanya, membangun karakter dan indentitas produk, sehingga mampu bersaing pada era pasar global dan pasar disrubtif. Memberikan inspirasi, memantik inovasi untuk pengembangan produk dan proses produksi usaha yang
berkelanjutan. Membangun jejaring kemitraan yang memberi manfaat dan saling menguntungkan. Terutama yang akan menjamin kelangsungan usaha bagi UMKM.

Banyak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berhasil, tetapi juga banyak yang gagal karena tidak ada Human Resource-nya yang mampu mengelola organisasi usahanya. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka dibentuklah PT Mitra BUMDes Nusantara sebagai holding agar ada pendampingan. Supaya tidak ada risk estimet salah perencanaan BUMDes. Bila satu BUMDes menyalurkan produk-produk subsidi bisa punya keuntungan
penjualan Rp 100 juta per bulan – setahu Rp 1 miliar lebih. Jumlah seluruh BUMDes di Indonesia sekitar 75.000 BUMDes jika dikonsulidasikan, maka akan terakumulasi Rp 75 triliun net profit – keuntungan bersih.

UMKM merupakan satu program yang sangat strategis dalam pemerintahan periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi) – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), kemudian dilanjutkan pada periode kedua bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Presiden sadar benar, dan selalu diutarakan diberbagai kesempatan dalam rapat Kabinet bahwa pertumbuhan ekonomi yang baik buat Indonesia tanpa dibarengi dengan pengurangan kemiskinan dan kesenjangan akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak
akan sustain – berkelanjutan. Akibatnya akan menimbulkan ketimpangan.

Masalah ketimpangan ini menjadi masalah yang serius bagi bangsa Indonesia. Karena Indonesia adalah negara yang terdiri dari multi etnis, multi bahasa multi agama, membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atas dasar kesepakatan bersama. Hal terpenting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah mempertahankan persatuan dan kesatuan negara. Salah satu hal yang menyebabkan persatuan dan kesatuan terganggu karena masalah ketimpangan dan kemiskinan.

Ketimpangan baik secara pendapatan, ada yang kaya, ada yang miskin maupun dalam hal kesempatan berusaha. “Bila kesempatan berusaha tak diberikan pemerataan juga akan menimbulkan masalah. Kita bisa melihat banyak negara yang lebih besar, bahkan negara super power seperti Uni Soviet pun pecah akibat ketimpangan. Demkian pula negara-negara Arab pecah, karena masalah kesenjangan dan ketimpangan,”urai Eko Putro Sanjoyo, yang menjadi nara suber utsms dalam temu bisnis UKM tersebut.

Kalau berbicara masalah UMKM, lanjut dia, yang harus dihidupkan adalah
jiwa enterprenuer – jiwa kewirausahaan terlebih dulu. Apa pun usahanya, harus
memiliki jiwa wirausaha. Tidak mungkinseseorang berbisnis, usahanya bisa maju
jika dia tidak memiliki jiwa wirausaha. Dannomor satu, harus memiliki willing to take risk – keberanian untuk mengambil resiko.Banyak UMKM binaan gagal karena begitu ada challenge – tantangan sedikit, mundur tidak berani menghadapi resiko.

Salah satu karakter dari pengusaha adalah keberanian mengambil resiko. Karena berani mengambil resiko itu yang menjadi jembatan usahanya bisa berkembang dan sukses. Disamping itu juga mempunyai ide cemerlang, inovatif, kreatif, mau kerja keras dan pantang menyerah. “Jadi, bukan sekedar ikut-ikutan tetapi memiliki dream – mimpi atau citacita yang jelas, sehingga mampu bergerakcepat. Itu yang harus dibangkitkan. Baru kemudian faktor eksternal, bagaimana membangun ekosistem yang memberikan kesempatan agar ada economic activity – aktifitas ekonomi,” jelasnya.

UMKM tidak bisa jalan jika tidak adaaktifitas ekonomi, tidak ada market – pasar
dan sebagainya. Kegagalan terbesar darisetiap UKM juga karena terbatasnya
modal. Kalau mereka dihadapkan untuk bersaing dengan perusahaan besar pasti
berat. Sebab mereka tidak memiliki net work – jejaring. Kalaupun punya, kalah.
Kemudian tidak punya akses finansial sebesar perusahaan-perusahaan besar
pada umumnya. Juga tidak punya akses pasar. Pun kalah dalam bidang sumber daya manusia (SDM). Di era distrubsi ini, dimana dunia terus berubah, apa yang
sukses sekarang tidak menjamin kesuksesandi masa yang akan datang. Jadi, inovasi
menjadi sangat penting.

Jangankan UKM, kita bisa lihat perusahaan-perusahaan besar yang menguasai pangsa pasar terbesar di dunia di bidangnya, banyak yang kolaps lantaran mereka terlalu rigit, menjadi slow dan tidak inovatif. Seperti Kodak, misalnya, zaman dulu semua film masih pakai film seloluid, bukan digital. Dan Kodak menguasai pasar dunia. Mungkin banyak yang tidak terlalu memperhatikan bahwa Kodak-lah perusahaan yang kali
pertama menciptakan digital fotografi.

Namun temuan yang memang belum sempurna itu, karena baru pertama, tidak dikembangkan, dan oleh Kodak “dimasukan” ke dalam laci. Akhirnya dikembangkan oleh Casio, Canon, Nikon, Sony, Olympus, Minolta yang terus berinovasi teknologi digital sehingga mereka tetap bisa survive. Sedangkan Kodak sudah tidak mampu mengejar ketertinggalannya, dan akhirnya brangkrut. Yang namanya film seloluid, kini tidak ada lagi, semua kamera menggunakan teknologi digital.

Di masa lalu juga ada yang namanya Blackberry begitu fenomenal. Dalam waktu singkat, perusahaan itu maju pesat mengalahkan Motorola dan lainlain. Tetapi tidak inovatif, terlalu terjaga dan puas dengan keberhasilannya, kini dengan adanya smart phone, android yang dimotori oleh Sam Sung kemudian muncul produk-produk China seperti Oppo, Huwai, Xiaomi, OnePlus, akhirnya Blackberry hilang begitu saja, tidak bisa survive.

Kita juga bisa melihat perusahaanperusahaanotomotif, dulu ada Volvo, sebuah perusahaan yang prestise, usianya sudah tua dan terkenal dengan keselamtannya. Namun kini Volvo sudah diakuisisi oleh Geely, sebuah perusahaan baru dari China. Kita juga bisa melihat perusahaan Jaguar dan Land Rover, perusahaan elite yang menjadi kebanggaan pemerintah Inggris, kini diakuisisi oleh perusahaan yang mulanya perakit truk Mercy, Tata Motors yang terus berinovasi dan mempertahankan Economic Force Skills. Banyak perusahan besar lain, karena ketidak-mampuannya berinovatif, tidak bisa survive. Apalagi UKM.

Dimasa yang lalu, semua pemerintahan dukungannya kepada UKM cukup besar. Di era pemerintahan Presiden Soeharto ada yang namanya Kredit Usaha Kecil (KUK), Kredit Investasi Kecil (KIK). Di era pemerintahan Presiden BJ Habibie, ketika Menteri Koperasi dan UKM-nya Adi Sasono, anggaran untuk Koperasi dan UMKM juga besar Rp 11 triliun. Untuk ukuran saat itu (1998 -1999) Rp 11 triliun besar sekali. Namun kenapa, program-program yang dirancang tidak sustain – berkelanjutan. Di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dimana program KUR dimulai (2007), kalau kita mau jujur KUR itu lebih banyak diberikan kepada perusahaan trading – perdagangan.Sebab mudah meng-konform comercial loan-nya, karena setiap bank punya target loan. Kenapa KUR tidak efektif di masa lalu? Karena kita hanya memaksakan, memberikan KUR kepada UKM tetapi lupa bahwa kita tidak meng-handle risk-nya UKM. Oleh pemerintahan Presiden Jokowi, KUR terus dilanjutkan, dan anggarannya dari APBN juga terus ditingkatkan. Untuk APBN 2020 anggaran KUR mencapai Rp 190 triliun. Agar semakin banyak UKM mendapatkan kredit permodalan dengan bunga rendah, bunga KUR terus diturunkan. Diawal pemerintahan Presiden Jokowi bunga KUR 22% pertahun kemduian diturunkan menjadi 12%, diturunkanlagi menjadi 9% dan saat ini hanya 6% per tahun.

Kalau kita ingin program-program loan bisa berjalan dengan baik, yang harus dilakukan adalah membantu mengkriet satu bussines model dimana UKM itu risk-nya kecil. Dengan risk yang kecil, tidak diminta pun bank dengan sendirinya memberikan KUR kepada UMKM. Karena bank itu selalu power business, dalam memberikan kredit kepada nasabah selalu menganut prinsip kehati-hatian. Sebab, bila terjadi kredit macet yang harus menanggung resikonya adalah pengelola bank tersebut.

Jika memperhatikan masa yang lalu, KUR yang benar-benar diberikan kepada UKM atau petani dan nelayan hanya sekitar20% atau tidak lebih dari kemampuanbank untuk mencadangkan kredit macet. Sisanya lebih banyak diberikan perusahaan perdagangan yang relatif sudah jalan, hanya di-KUR-kan saja. Dengan businness model yang risk-nya kecil, tanpa diminta bank akan memerikan kepada UKM.

Tidak percaya? Sekarang banyak
kredit tanpa agunan. Praktis, kredit tanpa agunan – finteck itu risk-nya kecil. Maka kita yang tidak kenal pun sering ditelphone. Mereka hanya melihat dari big data, risk profile dan record transaksi keuangannya. Bila recordnya bagus mereka bisa diberikan kredit tanpa agunan kepada calon nasabah antara Rp 100 juta – Rp 200 juta dan sebagainya. Chalenge – tantangan yang paling besar, bagaimana mengkriet satu model bisnis bagi UKM itu risk profile-nya kecil. Tugas kalangan akademisi – perguruan tinggi melakukan kajian mendalam dan konsep strategis agar UKM itu risk profilenya kecil.


Di KemenDes ada program namanya UKDes. Karena di desa mayoritas profilenya dari sektor komoditi, lebih dari 82% masyarakat desa tergantung dari sektor komoditi. Sekarang nicher – ceruknya dari sektor komoditi harus besar, dan terintegrasi secara vertikal. Kita juga ada satu paradigma yang salah. Demi mendukung yang kecil, kita terus memaksakan usaha-usaha skala kecil. Padahal Indonesia adalah negara berkembang yang GDP per kapita terus naik. UMR Indonesia di Jakarta tahun 1991, misalnya, hanya Rp 50.000,- per bulan. Sekarang UMR di Jakarta sudah mencapai Rp 4 juta lebih per bulan. Jadi, kalau masih menggunakan business proses atau bussiness model dengan UMR Rp 50.000,- tidak akan bisa survive di dunia yang UMR-nya sudah Rp 4 juta. Padahal kita tahu, setiap tahun UMR naik 10%. Artinya setiap 5 tahun dobel, dan jika UMR sekarang Rp 4 juta maka 5 tahun ke depan UMR sudah akan mencapai Rp 8 juta, kemudian 10 tahun lagi Rp 15 juta dan 15 tahun lagi sudah Rp 30-an juta. Kalau dengan UMR Rp 30 juta kita juga menghasilkan miliaran rupiah. Terutama kaum ibu, untuk menjaga kebugaran tubuh, tetap langsing proporsional, dan tetap cantik bisa menghabiskan jutaan rupiah. Itu membuka banyak kesempatan bagi UKM, seperti membuka spa, rumah kebugaran, gim-gim yang dikelola UKM. Di desa-desa pun banyak tempat untuk yoga dan senam yang dikelola oleh BUMDes-BUMDes.

Ada contoh sangat menarik, Desa Ponggoh, di Klatemn, Jawa Tengah, misalnya, di Desa itu ada sebuah kolam renang tua yang dibangun pada zaman Belanda. Karena warga desanya kreatif, kolam renang tua yang semula menghasilkan Rp 15 juta per tahun itu modelnya diubah. Di dalam kolam diberi pasir, karang, ikan, tanaman air, juga televise, sepeda motor, sepeda, dan banyak lagi. Dari luar kelihatannya kolam renang tua, tetapi begitu kita masuk ke dalam, sangat indah. Lebih indah dari Bunaken, di Manado, Sulawesi Utara. Maka tumbuh penyewaan alat-alatnya, home stay dan sebagainya. Ini bisa dibuat oleh UKM di seluruh Indonesia.

Pendapatannya melonjak dari Rp 15 juta tahun 2015 menjadi Rp 6,3 miliar dengan keuntungan bersih Rp 3 miliar. Gara-gara kolam renang tua – jadi cantik, warung-warung makan bermunculan, Pujasera selalu ramai pengunjung, dan perajin sovernir pun kebagian rezeki.

Keuntungan dari pengelolaan kolam renang tersebut dibagikan kepada masyarakat, setiap rumah Rp 5 juta untuk modal menjadikan salah satu kamar rumahnya sebagai home stay. Sekarang, Dasa Ponggoh mengantongi keuntungan lebih dari Rp 10 miliar per tahun. Desa ini punya program membahagiakan semua orang tua yang tidak mampu dengan membeayai hidup mereka dari dana kas Desa. Setiap keluarga juga wajib mencetak seorang sarjana. Yang menggembirakan, kata Eko Putro Sanjoyo, banyak perusahaan besar seperti Astra, misalnya, walau bergerak dibidang otomotif, jika diperhatikan selalu berpatisipasi aktif dalam pembangunan desa yang diinisiasi Presiden Jokowi, Membangun Indonesia Dari Desa. Program pembangunan desa, dengan dana desa yang secara masif diberikan kepada seluruh desa di Indonesia untuk membangun infrastruktur desa, dampaknya, pendapatan masyarakat desa dalam 5 tahun terakhir naiknya hampir 43% lebih dari Rp 572.000 per kapita per bulan menjadi Rp 804.000,- per kapita per bulan.

Apa artinya ? Diperkirakan 7 – 8 tahun ke depan, pendapatan masyarakat desa akan mencapai Rp 2 juta per kapita per bulan. Sekarang penduduk desa sekitar 130 juta jiwa, diperkirakan 7 – 8 tahun ke depan mencapai 150 juta jiwa. Jika dikalikan, 150.000.000 X Rp 2.000.000,- = Rp 300 triliun per bulan. Dengan Rp 300 triliun itu akan mampu menciptakan konsumsi sebesar Rp 1.500 triliun sebulan, Rp 18.000 triliun setahun atau US$ 1,4 triliun GDB. Jumlah tersebut lebih besar GDB Indonesia saat ini yang hanya sebesar US$ 1,2 triliun. Jadi, peluangnya di desa sangat besar. Jika perkiraan tersebut benar terjadi, berapa yang akan beli sepeda motor, berapa pula yang akan beli mobil Avanza, Kijang, dan sebagainya. Potensi itu akan menjadi pasar besar Astra, dan produsen otomotif lainnya. Astra termasuk yang mendampingi UKM di 600 desa, di berbagai daerah Indonesia, memberikan pelatihan sekaligus net work – jejaring pasarnya.

Industri otomotif di Indoneia juga akan dikembangkan, dari otomotif berbahan bakar fosil view menjadi bahan bakar batrai, misalnya. Hal ini akan banyak memberikan kesempatan kepada UKMUKM. Kementerian Perindustrian telah membina IKM bekerja sama dengan produsen otomotif bertenaga listrik agar para IKM itu didik sehingga kelak menjadi bagian dari suplay change untuk industri otomotif. Industri otomotif kita tidak berkembang pesat seperti di China atau Korea, karena supporting suplay change-nya sebagian besar masih impor. Jadi ekspor kita masih tergantung dari komponen impor.

Yang juga surpise, pengangguran di desa hanya 50% dari angka pengangguran di kota. Hal itu terjadi karena banyak sektor informal yang digerakkan oleh UKM jalan cukup baik. Dengan adanya aktivitas ekonomi di desa-desa akibat dari program dana desa, angka kemiskinan di desa dalam 2 tahun terakhir turun lebih cepat dibandingkan turunnya angka kemiskinan di kota. Bahkan 2 kali lipat lebih besar daripada penurunan di kota. Tahun lalu penurunan angka kemiskinan secara nasional 1,8 juta orang, di kota hanya turun 580.000 orang, sedangkan di desa mencapai 1,2 juta orang lebih. Karena itu kesempatan UKM berkembang di desa-desa sangat besar.

Peran perguruan tinggi mengirim mahasiswanya turun ke desa-desa melakukan kuliah kerja nyata (KKN) sebagai pendamping, sangat diharapkan. Namun sebelum dikirim ke desa mereka juga sudah dibekali entrepreneurship skill, sehingga ketika turun ke desa bukan hanya membantu masyarakat desa, tetapi mereka juga bisa melihat peluang-peluang bisnis yang ada di desa. Sehingga setelah menyelesaikan kuliah mereka kembali ke desa membangun desa. (dm- mar – adt)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Yakobus Jano Mengalirkan Air Kehidupan Dari Lereng Gunung Kimang Buleng

“Dibesarkan dengan sakit, dicibir, diejek, diolok, dicemooh, bahkan dibilang ‘gila’. Namun, karena komitmen pada kesejahteraan bersama dan Tuhan menjadi dasar keyakinan, maka Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air mampu bertahan, terus bertumbuh, berkembang sampai hari ini,” tutur Ketua Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano kepada Majalah UKM, melukiskan ziarah – perjalanan Kopdit terbesar di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tahun 2020 genap berusia seperempat abad (25 th), didirikan pada 1 April 1995.

Andai tak terjadi wabah yang menggemparkan dunia dan menyengsarakan umat manusia di seluruh muka bumi, yaitu wabah Corona, Covid-19, pengurus Kopdit Pintu Air didukung penuh anggota yang ditetapkan dalam RAT tahun 2018 sebagai program tahun buku 2019, saat merayakan Pesta Perak direncanakan mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Dusun Rotat, tempat kelahiran Kopdit Pintu Air yang beranggota kaum Nelayan pe-Ternak pe-Tani Buruh (NTTB).

Hari ulang tahun (HUT) ke-25 Kopdit Pintu air memiliki pertalian unik dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT Bank Rakyat Indonesia (BRI), almamater Yakobus Jano. Di tahun yang sama ketika KSP Kopdit Pintu Air merayakan HUT ke-25, negara kita Indonesia merayakan HUT ke-75, dan BRI dimana Jakobus banyak menimba ilmu keuangan, merayakan HUT ke-125 tahun. Ini merupakan sebuah kebetulan, semacam pertalian yang luar biasa.

Acara yang telah tersusun antara lain; Peluncuran produk minyak goreng kelapa merek Pintar, produk garam, peluncuran program pendaftaran anggota system online. Peluncuran produk-produk baru tersebut untuk menjawab tantangan Gunernur NNT Viktor Laiskodat dalam seminar sehari kala Kopdit Pintu Air berusia Triwindu (24 th) 2019, dimana Kopdit Pintu Air menjadi penyelenggara seminar bersama saudara tuanya, Kopdit Obor Mas. Gubernur mengatakan: “Saya tidak mau setiap tahun hanya mendapat laporan jumlah anggota sekian puluh ribu, aset koperasi sekian ratus miliar. Laporkan kepada saya produk apa saja yang dihasilkan oleh koperasi, produksinya di kabupaten mana saja, dan berapa banyak telah memanfaatkan potensi yang dihasilkan masyarakat NTT.” Direncanakan pula peluncuran buku sejarah Kopdit Pintu Air dan buku Napak Tilas Yakobus Jano.

Bisnis utama Kopdit Pintu Air memang di bidang keuangan, produk-produknya antara lain; Simpanan Saham (simpanan pokok dan simpanan wajib) dan Non Saham. Simpanan Non Saham terdiri atas Simpanan Bunga Harian (Sibuhar), Simpanan Dana Pendidikan (Sidandik), Simpanan Wisata Rohani (Sipintar), Simpanan Sukarela Berjangka (Sisuka), dan Simpanan Masa Depan (Simada). Untuk mendapatkan pemasukan tambahan Kopdit Pintu Air membuka usaha  Pintar Asia Swalayan, Media Ekora NTT, dan Jasa Transportasi.

Unit usaha terbaru yang semula diharapkan bisa diresmikan oleh Presiden pesta perak adalah rumah produksi dan pengolahan minyak kelapa mentah (crude coconut oil) menjadi minyak goreng kelapa. Usaha mengolah potensi kopra hasil pekebun masyarakat dimulai tepat pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-74, bertempat di Kantor Pusat dilakukan transaksi perdana pembelian minyak kelapa mentah dari petani. Pembelian minyak kelapa mentah dari petani secara langsung dengan harga layak. Selama ini petani terbelenggu oleh harga penjualan yang tak berpihak kepada mereka.

Harga komoditi kelapa terutama kopra, yang bertahun-tahun sangat rendah tidak memberikan kesejahteraan kepada pekebun kelapa. Gagasan menjadikan produk minyak goreng kelapa sebagai produk lokal yang unggul dan berdaya saing di Flores NTT, merupakan jawaban dan kepedulian Kodpit Pintu Air meningkatkan kesejahteraan anggota dan perekonomian rumah tangga pekebun kelapa pada umumnya.

Akibat banyak pekebun kelapa kecewa karena harga komoditi kopra terlalu rendah membuka peluang tumbuhnya budaya instan – ingin cepat dapat uang. Maka buah kelapa tidak diolah dan diproduksi menghasilkan produk turunan, namun dijual gelondongan ke luar Pulau Flores. Kini Kopdit Pintu Air mulai memberdayakan anggota, membali minyak kelapa untuk kemudian diolah kembali agar memiliki nilai tambah.

 Menyadari kebutuhan transporasi udara di wilayah timur Indonesia sangat tinggi, sejak 2 – 3 tahun silam Kopdit Pintu Air juga telah mempersiapkan rencana pembelian pesawat terbang untuk melayani penerbangan komersial. Pengurus pun telah melakukan pendekatan dengan calon mitra, PT Trans Nusa, yang telah lama membangun bisnis penerbangan di kepulauann Provinsi NTT. Bahkan, Jakobus didampingi GM, Gabriel Pito Sorowutun, Ketua Pengawas, Barnabas Hening, Sekretaris Martonsius Juang, Kepala Humas, Agustinus Nong, telah melakukan pembicaraan serius dengan Boss PT Trans Nusa Leo Budiman, di Kantor Pusat PT.Trans Nusa di Jakarta Pusat.

Leo memaparkan secara gamblang peluang dan tantangan bisnis penerbangan. Bisnis di bidang transportasi udara tidak mudah, resikonya sangat tinggi. Selain harga pesawat mahal, biaya operasional dan pemeliharaan juga butuh biaya besar. Karena itu, harus dikaji dan dipertimbangkan secara matang mengenai untung dan rugi. Kini, rencana beli pesawat untuk sementara waktu ditunda, karena situasi perekonomian juga sedang kurang baik akibat wabah global Covid-19. Persiapan lainnya, membangun pabrik air minum dalam kemasan, SPBU, peternakan dan holticultura.

Tentang alasan mendasar mengundang Presiden, kata Jano, begitu dia sering dipanggil, karena kerinduan seluruh anggota Kopdit Pintu Air – kaum Nelayan, pe-Tani, pe-Ternak dan Buruh (NTTB) ingin melihat secara langsung Presiden, yang selama ini hanya disaksikan lewat teve. Kehadiran seorang pemimpin yang berasal dari rakyat biasa, sederhana, jujur, pekerja keras membangun perusahaan sendiri dari bawah menjadi sukses, kemudian menjadi Walikota, Gubernur sampai menjadi Presiden, pasti menjadi motivasi dan pemberi semangat yang luar biasa. “Sudah puluhan tahun kami orang kampung memiliki impian bisa melihat secara langsung Presiden hadir di tengah-tengah perjuangan kami,” jelas Jano.

Menurut Yakobus, usia 25 tahun menjadi satu batu loncatatan, sebuah tongkat estafet yang harus dilanjutkan untuk mengantar Kopdit Pintu Air menuju Usia Emas, 50 tahun kelak yang juga bertepatan dengan seabad (100 th) Indonesia Merdeka. “Ini menjadi sejarah, ketika kita merayakan ulang tahun ke-25, diberikan hadiah oleh Tuhan dengan sebuah wabah. Dalam hal ini kita tidak hanya melihat peristiwa Covid-19 dari perspektif jasmani semata, tetapi juga dari perspektif iman, bahwa rencana Tuhan bukan rancangan manusia. Anggota Kopdit Pintu Air juga harus merefleksikan bahwa inilah kehidupan. Mari mensyukuri peristiwa Covid-19 ini dari dua sisi. Saya ibaratkan seperti dunia yang diciptakan dengan adanya siang dan malam, sehingga kita harus mensyukuri itu, baik itu siang maupun malam,” urai Yakobus tetap bersyukur.

***

Sejak awal didirikan, lanjut Yakobus, ada saja tantangan yang menghadang. Ketika digagas mendirikan koperasi, tidak serta merta peserta arisan menerimanya. Bahkan banyak menolaknya. “Namun kami tidak patah semangat. Ada 50 warga Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kab. Sikka, NTT akhirnya sepakat mendirikan koperasi. Ke-50 perintis itu tahu betul betapa sakit melahirkan usaha bersama bernama Kopdit Pintu Air,” jelas Yakob. Sejak awal, para perintis berhadapan dengan situasi sosial di kampung yang kurang baik. Era 90-an kehidupan masyarakat NTT, Rotat khususnya, diselimuti berbagai kesulitan, terutama masalah kemiskinan.

Sebagian besar warga Rotat bermatapencaharian sebagai petani atau buruh tani karena tidak punya tanah sendiri. Celakanya, tidak semua lahan pertanian tanahnya subur. Karena itu banyak yang memanfaatkan lahan di sekitar Sungai Wair Puang yang tanahnya cukup subur, dan dimusim kemaraupun mata airnya tetap menalir. Sungai Wair Puang bermata air dari balik rimba pepohonan besar berusia puluhan – bahkan ratusan tahun. Alam nan elok itu tetap terjaga dengan baik oleh masyarakat setempat.

Dua wartawan Majalah UKM, majalahukm.com dan Chanel Youtube ukm auvi, D. Marjono dan F. Adityo, dipandu oleh salah seorang penduduk asli Dusun Rotat, Lukas, yang juga anggota Kopdit Pintu Air, berkesempatan menelusuri jalan setapak di punggung Gunung Kimang Buleng. Lereng-lerengnya cukup terjal berbahaya, hanya bisa dilewati orang berjalan kaki dan kuda mengangkut hasil panen. Perjalanan dari jalan kecamatan masuk hutan untuk mencapai sumber air bersih di lembah yang mengalir jauh sampai ke Kota Maumere, jaraknya kurang lebih 20 kilometer, dibutuhkan waktu sejam lebih. Perjalanan lebih lama ketika mendaki, pulang.

Menuruni lereng yang diselimuti semak belukar, harus ekstra hati-hati. Lengah, terpeleset kaget karena tiba-tiba muncul ular besar dan berbisa yang konon masih banyak, bisa masuk jurang yang dalamnya tidak kurang dari 40 – 50 meter. Sebelum masuk hutan, Lukas sudah berpesan; “Kita pelan-pelan saja! Karena wajah baru (belum dikenal), perlu pakai ini,” kata Lukas seraya melingkarkan gelang di tangan kami berdua sebagai “tanda persahabatan” dengan alam seisinya. Gelang itu terbuat dari tumbuhan merambat entah apa namanya.

Bagi orang-orang seperti Lukas yang terbiasa keluar masuk rimba belukar, bisa berjalan cepat. Tetapi bagi pendatang yang terbiasa melewati rimba kendaraan macet di jalanan, harus berjalan pelan-pelan seperti keong. Belum lagi ketika harus berjalan di atas pipa besi yang menghantarkan air minum ke masyarakat Kota Maumere, tidak bisa menjaga keseimbangan, jatuh ke sawah atau ke kali. Yang menimbulkan pertanyaan, bagaimana cara membawa pipa-pipa besi berdiameter cukup besar sampai ke lembah, kemudian menyambungnya melewati lereng terjal. Menurut Lukas, semua dikerjakan secara tradisional, padat karya digotong ramai-ramai.

Sampai di lembah berfnafas lega bisa melewati tantangan berat berbahaya. Namun masih harus berjalan lagi cukup jauh untuk sampai di pusat mata air. Gemericik air membentur bebatuan mengalir jernih di anak sungai, ditimpali sayup-sayup gesekan ranting pepohonan berdaun lebat tertiup angin lembut, menimbulkan simponi sahdu, membuat siapa pun betah menikmati kedamaian alam. Menurut kitab suci, utamanya Injil Tuhan, AIR adalah sumber kehidupan. Tidak ada kehidupan tanpa setetes air. Pun tak ada rumah tanpa pintu. Secara harafiah, orang hidup memang selalu membutuhkan air untuk minum, dan pintu untuk masuk – keluar rumah.

Di lembah alam nan asri, hamparan padi menguning, juga tanaman palawija dan sayur-sayuran tumbuh subur. Saat itu bulan April, masih musim hujan. Kadang pagi hari pun turun hujan lebat. Siang itu, seorang ibu berusia sekitaran 60 tahun, sibuk memetik kangkung di sawah untuk dijual. Dia menyapa ramah dengan bahasa daerah, sehingga Lukas harus menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Namun ternyata wanita perkasa itu fasih juga berbahasa Indonesia.

Di lahan berbeda ada beberapa petani, ada yang pasangan suami isteri paruh baya sedang panen. Mereka bahu-membahu, ada yang potong jerami dengan padinya, ada yang merontokan gabah untuk dijemur, baru kemudian dibawa pulang. Sore hari yang perempuan pulang ke rumah, sedangkan laki-laki bermalam di gubuk yang dibuat permanen, menjaga gabah supaya aman. Para petani tersebut mengaku, mereka juga anggota Kopdit Pintu Air. Hampir 100% warga Dusun Rotat memang anggota koperasi.

 Sebagai petani, masyarakat Dusun Rotat membudidayakan lahannya dengan menanan padi, jagung, palawija dan sayur-sayuran, terutama kangkung. Hasilnya, dijual ke pasar-pasar di Kota Maumere. Waktu itu kangkung Wair Puang sempat jadi primadona. Kecuali tanaman berusia pendek, 2 – 3 bulan sudah bisa panen, banyak juga yang berkebun kakao – cokelat dan kelapa. Bahkan, sejak berabad-abad silam, kakao dari NTT pada umumnya sudah terkenal di manca negara. Karena kualitasnya sangat baik diekspor ke luar negeri, kebanyakan ke Eropa. Namun hasil pertanian itu setiap tahun terus menurun, sehingga tak lagi menjadi andalan ekonomi keluarga.

Persoalan lain, kehadiran rentenir sangat meresahkan. Para lintah darat menjual uangnya dengan bunga tinggi untuk meraup keuntungan besar, sehingga mencekik orang yang sedang mengalami kesulitan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, warga Rotat yang bergejolak akibat hasil panen minim harus menelan pil pahit perilaku kotor rentenir. Karena beban ekonomi keluarga makin berat, banyak orang tua tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya. Terpaksa anak-anak harapan masa depan bangsa itu putus sekolah.  

Sebenarnya, tahun 1990-an di Kabupaten Sikka bermunculan koperasi baru. Ada beberapa koperasi, Koperasi Unit Desa (KUD), misalnya, sering menebarkan cerita suksesnya. Salah satu koperasi sukses dan terkenal, Koperasi Kopra. Kecuali koperasi yang didirikan masyarakat Rotat sendiri, kata Yakobus, ada juga koperasi dari luar yang membuka kantor cabang – pelayanan, di Rotat. Sayangnya, koperasi-koperasi itu tidak berusia panjang. Lebih banyak cerita koperasi yang ambruk dalam usia muda. Baru 2 – 3 tahun didirikan mati, lantaran salah kelola pengurusnya tidak paham berkoperasi. Dampaknya, orang tidak percaya lagi jika akan mendirikan koperasi baru.

Masalah-masalah sosial dan ekonomi itu merupakan tantangan sangat berat bagi para perintis Kopdit Pintu Air yang kini memiliki kantor pusat sangat megah, bahkan kantor koperasi termegah di NTT yang dibangun di dusun kelahirannya, Rotat. Adalah Maria Densiana, seorang bidan desa mengajak kerabat dekatnya untuk membentuk usaha bersama simpan pinjam (UBSP) yang ternyata menjadi cikal bakal Kopdit Pintu Air. Ajakan itu tujuannya untuk perbaikan ekonomi keluarga.

Kebetulan dia pernah belajar koperasi di Dinas Kesehatan Sikka. Pernah pula menjabat sekretaris di Koperasi Bola. Karena berkoperasi itu sangat baik, dan banyak manfaatnya maka dia ajak orang sekampung mendirikan koperasi. Ada yang tertarik kemudian bergabung, banyak pula yang ragu-ragu. Mereka sanksi, lantaran banyak koperasi salah kelola lalu gulung tikar. Menjadi anggota koperasi memang pilihan, dan sukarela.

Yang mengecewakan, ada pihak yang menghasut agar tidak bergabung menjadi anggota koperasi rintisan Maria. Maria tidak peduli suara miring, cibiran dan olok-olokan orang yang meragukan keseriusannya mendirikan koperasi. Setiap bulan mereka berkumpul di bawah rimbunan pohon kakao di tengah kampung, membahas usaha bersama yang baru dimulai. Untuk urusan konsumsi, swadaya. Ada yang membawa beras, kayu api kopi dan gula. Kadang, ada yang membawa lebih dari yang disepakati.

Karena semua sedang proses belajar berkoperasi, hampir setiap pertemuan membahas masa depan koperasi terjadi debat kusir, ngotot, gaduh, mempertahankan pendapatnya, ingin menang sendiri. Karena perdebatan-perdebatan itulah pelan namun pasti yang membuat koperasi menjadi besar. Adalah Yakobus Jano orang yang selalu tampil di depan dan mampu mengendalikan suasana. Karena mimpi-mimpinya yang sering tak terjangkau orang lain, dia dianggap “orang gila”. Dan itu diakui, memang gila untuk membuat masyarakat lebih sejahtera.

Kamu susah aku bantu, aku susah kamu bantu adalah spirit gotong-royong yang digelorakan Kopdit Pintu Air dan bermuara pada satu visi mendampingi anggota menjadi orang kaya, sangat tepat. Ya kaya semangat, kaya ide, kaya usaha dan akhirnya meraih sukses yang dinantikan. Sebuah semboyan yang sekilas nampak ambisius dan hanya slogan namun syarat nilai kasih dan optimisme.

Mantan pejabat kantor cabang bank plat merah, Bank BRI di Maumere yang sering disebut kerah putih, pencuri uang dengan santun, berhasil mengolah selisih paham, ocehan, ejekan, cemooh, fitnah menjadi energi untuk membangun koperasi. Putera pasangan Petrus Moa dan Yuliana Sareng ini punya credo tersendiri; “Tidak ada yang tidak mungkin karena kita berjalan bersama Moang Gete – Tuhan”. Kalimat itu memiliki roh penyemangat kebersamaan untuk membangun Kopdit Pintu Air.

Berkat kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dengan dukungan pengurus dan manajemen Kopdit Pintu Air berkembang pesat. Ide kreatif, visioner dan kepiawaian Yakobus dalam manajemen, mematahkan tradisi lama bahwa membangun koperasi itu hanya menunggu kapan waktunya bubar. Kini pelayanan Kopdit Pintu Air genap berusia ke-25 tahun. Usai yang cukup matang dengan berbagai prestasi yang diraih.

Cabang Kota Maumere sekitar 12 Km arah timur dari Dusun Rotat, merupakan ‘sulung’ yang lahir dari ibu kandung Rotat. Setelah mendapatkan status badan hukum primer kabupaten tahun 2004 dan dinilai jumlah anggota di Kota Maumere sudah banyak, pengurus Kopdit Pintu Air memutuskan membuka cabang pada 1 November 2008. Sejak saat itu, sayap pelayanan terus dikepakkan ke berbagai wilayah lain. Manajemen Cabang Kota Maumere melayani belasan ribu anggota dan beberapa kelompok seperti; Watubuku, Wolomude, Unit Habi, Tomu, Neleloran, Nele Urun, Nangahure, Kolisia, Magepanda, Watuwa, Ndete, Koro.

Bagaikan mata air di lereng Gunung Kimang Buleng terus yang mengalirkan kehidupan ke berbagai penjuru, dan terus mengalir makin jauh ke Alor, Lembata, Adonara, Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Sumba, Larantuka, Maumere, Paga, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Lembor, hingga Labuan Bajo. Manajemen juga serius merintis beberapa kota lainnya seperti Jogjakarta, Sidoarjo, Depok, Jakarta, Batam, Kalimatan dan Papua. Tim yang diketuai Sekretaris Pintu Air Pusat, Marton Djuang dan Humas Vinsen Deo terus bergerak mensosialisasikan keunggulan Kopdit Pintu Air ke pelosok Nusantara.

Karena telah melintasi beberapa provinsi, maka pengakuan level nasional ditandai dengan naiknya status Kopdit Pintu Air menjadi Koperasi Primer Nasional tertanggal 23 Oktober 2017. Itu artinya Kopdit Pintu Air akan dapat membuka cabang lebih banyak di luar provinsi NTT dan mendapat pembinaan langsung dari Kementerian Koperasi dan UKM Indonesia. Total kantor cabang ada 51 dan 26 KCP Pintu Air. Sedangkan jumlah anggota per 31 Desember 2019 sebanyak 260.000 orang lebih, dan total aset Rp 1,4 triliun. Fakta membuktikan, apapun tantangan yang dihadapi para perintis Kopdit Pintu Air berhasil disingkirkan. Namun, bukan tidak mungkin tantangan dalam wujud yang berbeda akan dihadapi esok hari.

Kopdit Pintu Air telah berhasil membangun gedung megah sebagai Kantor Pusat berukuran 30 X 40 meter, terdiri 3 lantai senilai Rp 15 miliar. Arsitekturnya modern dilengkapi lif. Sangat kontras dengan bangunan lain yang ada disekitarnya. Ini adalah monument keberhasilan masyarakat dusun yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Idenya saat itu sederhana. Setiap anggota dibebankan sumbangan Rp 100 ribu atau seharga 2 ekor ayam pedaging. Pengurus dan pengelola dibebani sumbangan Rp 200.000,-

Filosofi penting dari pembangunan gedung, kata Yakobus, kawanan semut yang telah menyatu, ayam bahkan gajah sekalipun tak bisa melawan. Anggota Kopdit Pintu Air yang 90% kaum nelayan, tani, ternak dan buruh (NTTB) itulah yang diumpamakan sebagai semut yang mandiri. Gedung megah yang dibangun langsung di Dusun Rotat itu menjadi cerminan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak berasal dari mana-mana, tetapi dari masyarakat Desa. Kalau orang desa digerakan dengan benar maka mereka akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk kemajuan daerah dan dan bangsa.

***

Adalah Romanus Woga (Rommy) salah seorang tokoh gerakkan Credit Union (CU), Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Swadaya Utama Maumere yang pernah memimpin Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), kini menjabat Wakil Bupati Sikka, NTT, berperan besar menghantar sukses Kopdit Pintu Air, sehingga kini berada di jajaran 4 besar dari 800-an Kopdit prime di Indonesia.

Kepada Majalah UKM yang mewawancarai khusus di rumah dinas, Wakil Bupati mengatakan; “Ketika diminta oleh Pak Yakobus memperkenalkan CU kepada 50 orang yang hadir dalam pertemuan 5 April 1995 di bawah pohon kakao, saya tidak percaya kalau mau ber-CU. Bagaimana orang bank, sudah 30 tahun, mengundang untuk bicara koperasi. Namun, karena itu adalah kewajiban, saya datang untuk memperkenalkan koperasi kredit, terutama, di mana pun dan kapan pun.”

Setelah mendapat jawaban, Yakobus pun mengatakan; “Bapa di bank kami bikin uang, di CU kami bikin manusia.” Jawaban Yakobus itu membuat Rommy merasa yakin bahwa Raiffeisen muda asal Rotat ini akan mampu membawa CU seperti diharapkan Frederich William Raiffeisen pendiri credit union dunia. Raiffeisen sedari awal sudah berpesan; “Jangan berfikir tentang uang. Uang akan datang bila manusia mau bersatu.”

Di bawah pohon cokelat, yang tanahnya juga miring sehingga kursi pun tidak bisa berdiri tegak, kenang Rommy, mereka berembuk – berdiskusi membicarakan bagaimana cara menanggulangi ekonomi yang saat itu bernar-benar morat-marit, banyak petani di kampung susah untuk menyekolahkan anaknya. Mereka saat itu juga banyak yang menjadi korban rentenir.

Para rentenir memberikan pinjaman dengan bunga 30% per bulan. Bahkan ada yang 6 bulan bunganya 1 ½ kali dari pokok. Saat itu banyak warga masyarakat yang sawahnya – sebidang tanah untuk kehidupan, terpaksa digadaikan karena sulit mendapatkan uang tunai untuk biaya keluarga yang dirawat di rumah sakit, atau pendidikan anak. Kini, para perintis Kopdit Pintu Air boleh tersenyum bahagia lantaran perjuangan dan halang rintang yang dihadapi saat membangun kepercayaan berhasil.

Menerapkan konsep intervensi ala BRI ke berbagai daerah terus dikembangkan. Bagi Yakobus Jano sebagai mantan petinggi kantor cabang BRI di Maumere, konsep tersebut memang dikuasai dengan baik. Membangun jejaring melalui warga NTT yang merantau ke berbagai daerah di Indonesia, bisa diibaratkan sebagai jalan tol untuk mencapai tujuan.

Kepala Badan Penghubung Provinsi NTT, Viktorius Manek, menyambut baik program Kopdit Pintu Air membuka kantor cabang di Jakarta. Menurutnya, kehadiran Kopdit Pintu Air tentu sangat mendukung ekonomi warga NTT yang ada di Jakarta dan di daerah lain. Dia bahkan membolehkan Kopdit Pintu Air membuka kantor pelayanan di Badan Penghubung NTT, karena menjadi pusat berbagai pertemuan seluruh ikatan keluarga besar (IKN) dari seluruh kabupaten.

Sebagai corong Pemprov NTT di Jakarta, Viktorius siap fasilitasi seluruh warga NTT yang datang ke Jakarta untuk membangun berbagai usaha dalam mendukung pembangunan ekonomi rakyat NTT. “Ini terobosan ekonomi yang baik bagi peningkatan ekonomi dan partisipasi rakyat dalam mendukung pembangunan di NTT,” kata Viktor yang juga sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Badan Penghubung Seluruh Indonesia (FORKABSI), yang berkantor Tebet Jakarta Selatan.

Jembatan tol untuk menyeberang ke berbagai daerah melalui warga NTT yang merantau di seluruh Indonesia, meski berbau kedaerahan, hanyalah sarana untuk menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia. Karena yang menjadi anggota Kopdit Pintu Air semua lapisan masyarakat yang berasal dari berbagai suku dan agama yang ada di Indonesia. “Orang sukses itu bukannya tidak pernah gagal. Tetapi orang yang tidak pernah menyerah, berakhir happy ending – bahagia” tutur Romanus.

Berdasarkan hasil penelitian dari pengalaman CU Asia maupun CU di seluruh dunia, lanjut dia, ada 10 kunci sukses. Antara lain; SDM yang berkualitas. Ini penting. Karena itu di cabang-cabang SDM anggota perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kreteria anggota berkualitas seperti hymne credit union; simpan teratur, pinjam bijaksana, angsur tepat waktu, terencana, pendidikan selalu ikut, rapat-rapat selalu ikut.

Kemudian, kepercayaan anggota tinggi. Jadi, setiap cabang harus selalu melihat dan memantau berapa banyak anggota yang betul-betul mempunyai kepercayaan tinggi kepada cabang tersebut. Lalu, pelayanan yang berkualitas menjadi batu penjuru. Tokoh, pimpinan yang kompak, strong – kuat. Tokoh – pimpinan itu bukan hanya di pengurus pusat, tetapi juga di cabang-cabang, maupun di kelompok basis. Semua harus kompak dan kuat, karena anggota akan melihat. Jika pengurusnya tidak kompak, yang lalai mulai merasa punya kesempatan. Tetapi, jika pengurus kompak dan kuat, mereka juga akan takut.

Rommy juga berpesan, rolling – safari kunjungan pengurus ke semua cabang harus tetap dilakukan. Jangan lihat biaya, tetapi yang harus dilihat hasilnya kelak. Dan, produk koperasi harus yang betul-betul dibutuhkan anggota. Media komunikasi pun termasuk salah satu dari 10 kunci sukses. Kopdit Pintu Air telah melaksanakan dengan menerbitkan Ekorantt.

Untuk meningkatkan loyalitas dan militasi anggota, hal yang paling utama adalah melalui pendidikan. Pendidikan di koperasi tidak seperti di pendidikan formal di sekolah-sekolah. Pendidikan melalui pertemuan bulanan harus net working – mata rantai, masing-masing cabang yang harus mempertanggungjawabkan. Contoh, cabang A di Maumere, punya kelompok di dusun X, maka kelompok basis di dusun X itu yang harus dibimbing militansi.

Artinya, memberi pemahaman orang per orang sehingga menjadi komunitas yang siap pakai. Satu kelompok anggotanya 10 – 20 orang. Masing-masing kelompok, setiap bulan wajib ketemu di tempat yang mereka sudah sepakati. Bisa saja di rumah pengurus kelompok, atau di tempat bangunan yang telah ditetapkan.

Anggota, khususnya kelom[ok basis yang memiliki kegiatan produktif – pelaku UMKM, harus terus diingatkan bahwa koperasi adalah salah satu pilar penggerak ekonomi masyarakat terkhusus bagi UMKM. Jadi, anggota koperasi adalah penggerak ekonomi bangsa. Anggota koperasi harus menjadi pelaku ekonomi yang profesional untuk menghidupkan roda usaha, agar berdampak pada masa depan masyarakat mandiri dan maju.

Kopdit Pintu Air memberikan kemudahan mendapatkan dana tanpa agunan bagi anggota. Tujuannya agar anggota mengelola potensi yang dimiliki, misalnya, membuka usaha warung, pertanian atau peternakan, sesuai kondisi wilayahnya guna peningkatan kualitas ekonomi keluarga. Masyarakat, khususnya anggota perlu menangkap peluang tersebut. Pemerintah, seperti dijanjikan oleh Gubernur NTT akan mensuport koperasi yang meningkatkan kualitas anggotanya melalui pelatihan ketrampilan.

“Kopdit Pintu Air bertekad menciptakan usahawan baru melalui pemberdayaan NTTB. Sebagai investor lokal ingin menjadi pemain utama bukan sebagai penonton. Untuk itu siap menggulirkan pembiayaan hingga Rp 1,22 triliun,” tegas Yakobus. (mar – adit)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Rp 150 Triliun Untuk Memulihkan Sosial Ekonomi

Juni, nama bulan keenam itu kabarnya berasal dari nama Dewi Juno, isteri dari dewa Jupiter, dalam meitologi Romawi. Kabarnya lagi, Dewi Juno setara dengan Dewi Hera, isteri Zeus, mahadewa dalam mitologi Yunani. Tentu bukan karena Dewi Juno adalah ratunya para dewa maka kita menunggu bulan yang menggunakan namanya. Bulan Juni 2020 diharapkan saat berakhirnya krisis wabah virus Covid-19. Setidaknya, itulah harapan dengan penetapan masa darurat bencana wabah Covid-19 hingga 29 Mei 2020

Apa yang dapat diharapkan terjadi pada bulan Juni? Pertama, tentu masih terkait dengan wabah virus Covid-19 itu sendiri. memang rumus penanganan wabah Covid-19 masih terus dicari, ibaratnya ‘we are building a ship while sailing it’. Dan dalam bulan Juni ‘kapal itu’ diharapkan sudah selesai dan kita dapat berlayar dengan lebih percaya diri. Salah satu wujudnya adalah obat atau vaksin Covid-19 dudah diproduksi dan sudah dapat dipergunakan, atau setidaknya, sudah ada kemajuan yang lebih berarti lagi dalam bidang itu.

Tatacara pengobatan dan penanganan penyakit juga sudah semakin mantap dan efektif. Infrastruktur kesehatan untuk penanganan wabah sudah lebih tersedia dan berfungsi lebih baik. Kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam penangan penyakit sudah pada tingkat yang tinggi. kesemua itu membuat pertambahan pasien atau warga yang tertular Covid-19 sudah akan jauh berkurang dan korban yang meninggal sudah dapat ditekan hingga minimal.

Kedua, diharapkan kehidupan sosial ekonomi mulai menggeliat kembali di bulan Juni. Toko-toko dan bisnis muai berjalan. Pabrik-pabrik berbagai proses produksi, logistic dan perdagangan mulai berjalan. Orang-orang telah mulai kembali bekerja dan pendapatan sudah mulai kembali normal, daya beli menguat kembali.

Pelaku usaha tentu masih dalam proses pemulihan dari tekanan bisnis dan ekonomi yang terkena dampak wabah Covid-19 selama Januari – Mei. Namun ‘obat ekonomi’ juga telah disiapkan; dan tampaknya ‘obat ekonomi’ ini jauh lebih besar dan lebih pasti dari proses penanganan wabah Covid-19nya sendiri.

Amerika Serikat meluncurkan stimulus ekonomi hingga US$ 2 triliun untuk membantu ekjonominya keluar dari pengaruh wabah. Uni Eropa menggelontorkan ‘obat ekonomi’ senilai US$ 800 miliar. Jepang melakukan injeksi ekonomi senilai US$ 500 miliar, dan China mengeluarkan paket ekonomi senilai US$ 400 miliar. Belum lagi negara-negara ekonomi besar seperti Jerman dan Inggri yang juga mengeluarkan miliaran dola untuk menstimulus ekonomi agar segera keluar dari pengaruh wabah. Tampaknya ini akan menjadi paket stimulus ekonomi global dalam sejarah.

Kesemua usaha tersebut diharapkan akan membuat ‘kesehatan ekonomi’ dunia lebih baik, setidaknya berangsur-angsur membaik selama Smester ke-2 tahun 2020. Dan seperti halnya wabah, dalam keterkaitan negara yang kian erat secara global ekonomi yang membaik di negara-negara lain, terutama di negara-negara besar itu, akan berdampak nyata ke ekonomi Indonesia.

Pemerintah Indonesia juga telah menyiapkan pake stimulus ekonomi senilai kurang lebih US$ 10 miliar atau setara Rp 150 triliun untuk memulihkan sosial ekonomi domestic setelah wabah virus Covid-19 berakhir. Injeksi sebesar itu disebar di sektor; pariwisata, kesehatan masyarakat, industri, jejaring pengaman sosial, dan dukungan langsung untuk mempertahankan daya beli masyarakat.

Tentu masih harus ditunggu bagaimana pelaksanaan pemberian seluruh ‘obat ekonomi’ itu nantinya. Dan bagaimana obat itu dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat yang sekarang sudah menderita secara ekonomi, disamping sedang berjuang menghadapi wabah. Tetapi paling tidak, ‘cahaya di ujung terowongan gelap’ wabah Covid -19 ini sudah terlihat.

Pelaku usaha perlu bersiap. Memang sekarang harus menahan diri, menutup usaha terlebih dahulu, tidak melakukan kegiatan, tidak melakukan ekspansi; namun banyak hal yang dapat dipersiapkan dengan bekerja di rumah. Bersiap, aktif mencari informasi tentang paket stimulus, bangun komunikasi, perkuat jejaring bisnis, jaga hubungan dengan seluruh mitra, lakukan konsulidasi dengan pegawai dan karyawan. Bersiap, sehingga bila stimulus itu tiba pelaku usaha memang akan mendapat manfaat yang optimal dari berbagai paket stimulus yang memang ditujukan bagi mereka. (Red)

Posted in Dari Redaksi | Tagged | Leave a comment