Persediaan Ikan Warga Jakarta Tercukupi

Hal itu dikemukakan kepada UKM usai rapat dengar pendapat dengan Komisi B DPRD DKI Jakarta baru-baru ini. Menurut Mahat dan Hasan Syamsuddin, produksi ikan di Pelabuhan Nusantara Muara Angke tahun ini ada sedikit peningkatan dibanding menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah yang lalu. Yakni berada pada kisaran 1.835.10380 kg dengan nilai Rp 950 miliar lebih. Cold storage mencapai 1,1 ton dengan nilai lebih dari Rp 36 miliar, Pasar Ikan kurang lebih 6,5 ton dengan nilai sedkitar Rp 13 miliar. Jumlah seluruhnya hampir mencapai 10 ton.

Jumlah itu menunjukkan adanya kenaikan cukup signifikan dibanding periode sebelumnya. Kini terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen dan kulaitas ikan agar tetap fresh. Dengan naiknya produksi ikan di Pelabuhan Muara Angke, otomatis bissa mendongkrak kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) DKI Jakarta dari sektor perikanan.
Selain meningkatkan kualtas pelayanan masyarakat, meningkatkan kualitas kinerja aparat, meningkatkan kualitas produk dan pengelolaan Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke. Di samping menjadikan Pelabuhan Muara Angke sebagai Pusat Pelelengan Ikan, juga mengembangkan sebagai kawasan wisata bahari dan pusat jajan serba ikan (Pujaseri).
“Kami bukan hanya mengemban tugas sesuai Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah untuk melakukan pelelangan ikan, sekaligus merealisasikan Peraturan Daerah (Perda) tentang Destinasi Wisata Pesisir Utara Jakarta,” tambah Mahat. Hasan Syamsuddin mengemukakan, pembangunan sarana dan prasarana sedang berjalan. Diharapkan 2019 pembangunannya selesai dan segera dioperasikan. Jika target 2018 belum terpenuhi, tahun 2019 sarana dan prasarana sudah dapat dioperasikan secara maksimal.
Pelabuhan Perikanan Nasional Muara Angke banyak potensi, dan saat ini dalam pengembangan guna menunjang perekonomian rakyat, khususnya ekonomi nelayan. Karena itu pengembangan Pelabuhan Perikanan Muara Angke bukan hanya dimasukkan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2017-2022, tetapi Pemprov DKI Jakarta telah membuat rencana induk sebagai pedoman pengembangan pelabuhan yang pembangunanya dimulai 2019 ini.

DPRD Provinsi DKI Jakarta juga telah membentuk Panitia Khusus (Pansus) Muara Angke untuk menata pelabuhan menjadi dua wilayah. Yakni pelabuhan ikan Samudera yang lebih modern dan bertaraf international. Pelabuhan baru akan dikelola Kementerian Perhubungan. Selain menjadi Tempat Pelelengan Ikan (TPI), Pelabuhan Muara Angke juga diharapkan menjadi pelabuhan pengumpan, tujuan wisata yang modern dan nyaman, serta mampu mengakomodir penumpang dari Kepulauan Seribu. Karena pelabuhan ini satu-satunya milik Pemprov DKI Jakarta, harus terintegrasi dengan transportasi massal seperti Transjakarta, MRT dan LRT.

Terkait kondisi lingkungan, pencemaran dan jumlah toksik di Teluk Jakarta sebagai bermuaranya 13 sungai, setiap tahun meningkat tajam. Akibatnya ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta dinilai tidak sehat untuk dikonsumsi. Hal itu diungkapkan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Etty Riani. Teluk Jakarta bukan hanya mendapat bahan pencemar dari darat yang masuk mellaui sungai, tetapi juga dari kegiatan di perairan berkontribusi tinggi terhadap pencemaran.

Kegiatan pelabuhan menyumbang bahan pencemar toksik (zat yang bisa menyebabkan fungsi tubuh menjadi tidak normal) dan non-toksik yang jumlahnya sangat banyak. Menurut Etty, akumulasai logam berat dalam sedimen dan biota, khususnya kerang hijau, meningkat sangat tajam. Logam berat bisa masuk ke dalam ikan melalui permukaan tubuhnya. Kemudian sel chlorid pada insang atau melalui proses makan (biomagnifikasi) kemudian terakumulasi dalam organ tubuh, dan bersifat irreversible – tak bisa dilepas.

Akumulasi logam berat dan kerusakan organ yang lebih parah terjadi pada ikan barakuda, pepetek, sokang, beloso, dan kerang hijau. Bahan-bahan toksik itu juga telah mengakaibatkan terjadinya kecacatan pada sironomid di Waduk Saguling, di Jawa Barat. Akaibatkannya ikan tak aman dikonsumsi secara bebas. Mengonsumsi ikan dari Teluk Jakarta berpotensi terkena kanker dan penyakit degeneratif non-kanker.

Perilaku manusia sering mengakibatkan perubahan drastis pada lingkungan. Apalagi di wilayah DKI Jakarta dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Karena itu, perlu pengelolaan lingkungan agar bisa memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif. Opsinya, perlu pengelolaan terpadau antara sungai, pesisir dan laut sebagai kesatuan, Integreted River Basin, Coastaal and Ocean Management. Mahat dan Hasan Syamsuddin mengakui bahwa kondisi Teluk Jakarta memang tercemar.

Ketua Forum Komunikasi Ikan Muara Angke, Diding Setiawan menyatakan hal yang sama. Pencemaran di Teluk Jakarta tak lepas dari limbah pabrik di darat. “Kami tak bisa berbuat banyak. Sebab, banyak nelayan yang enggan alih profesi. Ikan-ikan yang sudah terkontaminasi limbah tetap dijual nelayan. Tetapi sebenarnya, sebagian ikan-ikan hasil tangkapan di Teluk Jakarta masih layak konsumsi, tidak semuanya tercemar” kata Mahat.
Kepala Suku Dinas (Kasudin) Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi DKI Jakarta, Rita Nirmala ketika dikonfirmasi mengakui, sejak lama kawasan Teluk Jakarta tercemar. Sifat ikan yang mobile, membuatnya rentan dari pencemaran lingkungan. Profesi yang dijalani nelayan berpuluh-puluh tahun membuat mereka enggan alih profesi.

Anehnya, usai menangkap ikan, mereka juga enggan makan ikan hasil tangkapannya, tapi menjualnya ke orang lain. Mungkin, mereka menyadari tingkat pencemaran sudah berada di atas ambang batas. Untuk mengatasi pencemaran, tindakan tegas harus dilakukan kepada pabrik yang membuang limbah – sampahnya ke kali yang akhirnya sampai Teluk Jakarta. (sutarwadi k.)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Sustainable Fesyen Produk Sandang Ramah Lingkungan

Besarnya kebutuhan manusia terhadap produk sandang, membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebab, fesyen menumbuhkan industri garmen – pakaian jadi, alas kaki, tekstil aksesori, perhiasan dan sebagainya.

“Clean Clothes Campaign, aliansi terbesar industri garmen dari serikat buruh dan organisasi non pemerintah mencatat, akhir tahun 2017 lebih dari 125 juta pekerja di seluruh dunia terserap di sektor industri tekstil, pakaian jadi dan alas kaki,” tutur Ir. Endah Setiawati S. Pardjoko, S.H., Pengurus Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jakarta Selatan kepada UKM di ruang kerjanya.

Endah menambahkan, pasar produk pakaian jadi di seluruh dunia bernilai lebih dari US$ 2,7 triliun, ekspornya mencapai lebih dari US$ 450 miliar dan total nilai industri fesyen mencapai lebih dari US$ 55,7 triliun. Pesatnya pertumbuhan industri fesyen membawa segudang dampak positif bagi perekonomian. Namun juga kerap memantik perdebatan adanya efek negatif dari industri fesyen terhadap lingkungan.

Pakaian yang kita kenakan sehari-hari bisa berasal dari bahan – cara pembuatan yang merusak habitat. Misalnya, penggunaan pestisida yang digunakan untuk melawan hama pada tanaman penghasil bahan tekstil. “Laporan dari organisasi non-profit Earth Pledge menyebutkan, setidaknya ada 8.000 jenis bahan kimia yang digunakan untuk mengolah bahan mentah menjadi tekstil. Dan 25 % pestisida dunia digunakan untuk menumbuhkan tanaman kapas nonorganik,” kata Endah.

Terungkapnya fakta-fakta pedih di balik gemerlap industri fesyen menimbulkan desakan untuk membuat industri itu lebih “beretika”. Dari sana lahir konsep sustainable fashion – fesyen berkelanjutan yang diklaim ramah lingkungan dan sosial. Seiring gencarnya kampanye sustainable fashion, para perancang mode dari berbagai belahan dunia, tak terkecuali dari Indonesia, mulai berlomba-lomba menawarkan produk fesyen yang berbasis ramah lingkungan dari segi metode pembuatan.

Dari beberapa desainer, antara lain Stella McCartney, Ryan Jude Novelline, dan Lucy Tammam. Selain itu, bermunculan pula label-label fesyen eco-friendly seperrti Amour Vert, Heavy Eco, Geeration Pasifique dan sebagainya. Beberapa hal yang harus dipertimbanagkan dalam pengembangan fesyen berkelanjutan adalah penggunaan serat alami yang bukan berbasis petrolium untuk membuat kain, kancing, kacamata, dan sebagainya. Juga penggunaan selulosa selain kapas, seperti rami, bambu, jagung, kedelai, nanas, pisang, dan banyak lagi. Lalu, penggunaan protein alami seperi stera, angora, bulu unta, wool, kasmir.
Proses pembuatannya pun memfungsikan bahan-bahan alami, seperti polimer jagung (polyalctic acid/PLA). Proses produksi busana juga dapat dilakukan melalui daur ulang atau pengolahan limbah. Sayangnya, sebagian besar perancang dan label fesyen yang berstatus ‘ramah lingkungan’ itu masih bercokol dari benua biru – Eropa, Kanada dan Amerika Serikat. Bagaimana perkebangan sustainable fashion di Indonesia?
Sejak tahun 2015 pemerintah menargetkan Indonesia mampu menjadi salah satu fashion hub dunia pada 2025. Keinginan itu diharapkan bisa terwujudkan melalui kerja sama dengan para peritel utuk memperkuat produk-produk pakaian jadi dengan merek dagang lokal yang berkualitas.

Indonesia memiliki andalan rayon dan polister. Untuk menjadi fashion hub, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian akan menggali sumber alam yang dapat dijadikan ciri khas Nusantara, seperti rami, sutera, serat pisang, serat nanas, dan pewarna alami. Sejak tahun 2016 pemerintah sudah membuat standar untuk produksi pakaian jadi buatan dalam negeri. Standar yang dimaksud dalam hal ukuran all size, agar dapat bersaing di pasar internasional, dan pas dikenakan orang dari negara mana pun.

Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM), Euis Saidah mengatakan, Indonesia mengawali langkah itu melalui perhelatan Swara Fest di Pantai Nembrala, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir 2015 dengan mengusung tema Road to Indonesia Ethical Fashion. Pemerintah mendorong industri fesyen untuk lebih ramah lingkungan. Langkah awalnya melalui promosi penggunaan bahan pewarna alami khas Indonesia.

Yang digadang-gadang antara lain penggunaan rumput laut untuk warna hijau, nila untuk warna biru, kayu tegeran untuk warna kuning, kayu tinggi untuk warna coklat, dan secang untuk warna merah. Cikal bakal fesyen di Indonesia pada zaman nenek moyang, memang sudah memanfaatkan bahan alami untuk membuat songket atau batik. Karena itu ethical fashion sebenarnya merupakan warisan budaya bangsa bernilai tinggi yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

Indonesia punya ciri khas warna sendiri, warna alami. Selain itu ada juga serat alami. Yang menarik acara Swara Fest yang melibatkan 250 orang dalam pembuatan tenun gedongan menggunakan pewarna alam itu berhasil memecahkan rekor MURI. Merdi Sihombing, desainer yang fokus pada pengembangan pewarnaan alami untuk busana mengemukakan, ide ethical fashion memang merupakan hal baru bagi Indonesia. Namun, pemahamannya telah tertanam sejak zaman dahulu. Alam Indonesia sangat menunjang untuk pengembangan industri fesyen ramah lingkungan. Pulau Rote, misalnya, adalah penghasil rumput laut terbesar kedua di Indonesia. Penenun songketnya kebanyakan dari Pulau Ndao.

Berbagai kalangan yang bergerak di bidang industri fesyen berharap, langkah dan upaya untuk membuat industri fesyen lokal lebih beretika tidak berhenti sekadar festival. Ke depan harus semakin banyak label garmen lokal eco-friendly yang mampu go internasional, dan kita bisa menjadi bangsa fahionable yang peduli lingkungan. (sutarwadi k.)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Makmur Berkat Kardus Jamur

Aldi, begitu dia akrab disapa, menyaksikan ayahnya membuang biji durian di sebidang tanah kecil di Lembang. Beberapa waktu kemudian, Aldi sempat kembali ke daerah tersebut. Tak menyangka, Aldi menemukan biji durian yang dulu dibuang begitu saja oleh ayahnya sudah menjadi pohon.

Dari sinilah pikiran Aldi terbuka, dan terus tersangkut pada peristiwa itu. Mengandalkan alam, bisnis tanaman diyakini mendatangkan keuntungan berlimpah. Aldi dan ketiga rekannnya; Annisa Wibi, Adi Reza, dan Robbi Zidna mulai mengembangkan bisnis tanaman, jamur tiram pilihannya. Menurut Aldi, terjun ke bisnis tanaman unik. Wibi, satu-satunya perempuan dalam tim adalah mahasiswi jurusan ekonomi. Namun, dia enggan jadi bankir. Aldi, dan dua rekannya berlatar belakang arsitek, tetapi tak tertarik menjadi hamba developer. Maka mereka berikhtiar membangun usaha unik, budidaya jamur tiram.
Budidaya jamur tiram dipelajari secara otodidak melalui penelitian yang membuat Aldi bak ahli jamur. Jamur tiram, bisa tumbuh subur dengan dua faktor, yaitu; kelembaban udara (humidity) dan asupan air. Dengan meletakkan jamur di dalam sekotak kardus, kelembaban udara dijaga di level 70% – 90%. Untuk menjaga kelembaban jamur harus disemprot air.
Setelah panen, jamur dikemas dalam kemasan yang menarik untuk kemudian dipasarkan. Wibi yang mempelajari bidang ekonomi bertugas mengurus strategi bisnis dan keuangan. Sedangkan ketiga pria berlatar belakang arsitek menggali ide dan peluang usaha tanaman jamur disinergikan dengan dimensi bidang, ruang, dan keindahan layaknya sebuah bangunan arsitektur elegan.

Kolaborasi mereka melahirkan usaha budidaya jamur tiram dalam wadah berbentuk kotak yang disebut Growbox. Menurut Aldi, tanaman jamur mudah dipelihara, tahan lama, dan mengandung keunikan bentuk estetika tersendiri. “Kalau tumbuh di alam bebas, jamur memang tampak tak menarik. Tetapi, kalau dikemas dan dipelihara dalam wadah yang bersih, jamur itu sangat menarik” ujar Aldi yang kini menjabat sebagai CEO Innovation Design Engineering Art and Science (IDEAS).

Berkat inovasi dan keunikan jamur tiram dalam growbox-nya, pada tahun 2013 Aldi sukses sebagai salah satu finalis Shell LiveWire Businees Start-Up Awards. Aldi menjelaskan, sejak awal, produk jamur tiram kemasan menyasar konsumen dari anak-anak sampai orang dewasa. Pelanggan dari kelompok orang tua diharapkan mau merogoh koceknya membeli bibit jamur untuk dibudiayakan. Aldi yakin, dengan desain kemasan yang bagus, anak-anak tertarik.

Ada tiga jenis jamur tiram yang bisa dipilih, yaitu; berwarna putih, merah muda, dan kuning. Jamur warna putih dijual dengan harga Rp 40.000, yang merah muda dan kuning harganya Rp 75.000. Tes pasar ke luar negeri, Singapura pun dilakukan untuk mengetahui seberapa besar respon calon konsumen, khususnya anak-anak. “Responnya sangat positif, mereka menyebut;” flowers is to mainstream” kata Aldi.

Kini, bibit jamur dalam kardus berlabel Growbox itu mampu menghasilkan omzet Rp 25 juta – Rp 40 juta setiap bulan. Capaian itu kata Aldi, belum maksimal jika dibandingkan potensi produksi mencapai 15.000 unit 25.000 unit kardus setiap bulan. “Kami terus berupaya untuk meningkatkan produksi dan penjualannya,” jelas Aldi. Bagi yang tertarik membeli produk Growbox atau sekedar mau melihat-lihat, bisa melalui facebook Growbox. Informasi lain, lewat akun twetter @growboxbdg. (sut)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Batu Akik, Akankah Bersinar Kembali?

Bagi sebagian masyarakat, tahun 2015 merupakan puncak euforia batu akik. Harga batu akik menyeruak logika, tak bisa dibayangkan orang biasa. Namun, seiring lambatnya pertumbuhan ekonomi, masyarakat menahan sikap konsumerisme. Dan pasar batu akik perlahan-lahan surut. Kini, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik. Tahun 2019 diperkirakan tumbuh 5,2%, berada di belakang China yang diperkirakan tumbuh 6,2%, sehingga kilau emas bisnis batu akik Indonesia yang sempat booming akan bersinar kembali, atau akan terus meredup?

Dulu, batu akik identik dengan hal-hal mistis. Bahkan perannya mengubah kelas sosial. Status masyarakat seolah naik kelas lantaran di jari-jemarinya melingkar batu akik yang digandrungi banyak orang. Hal itu yang membuat pasar batu akik bergerak suka-suka, naik turun bak roller coaster. Akibat eksploitasi sumber batu yang berlebihan menyisakan kerusakan alam.

Sejumlah problem pernah didiskusikan di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia (UI) bertajuk: “Batu Permata Asli Indonesia” dengan pembicara dari kalangan akademisi dan kolektor batu akik, Yudhi Soenarto. Dosen Program Studi Sastra Inggris UI itu menguraikan bahwa masyarakat Indonesia masih memandang batu akik dengan cara tradisional. Padahal, batu akik sudah dikenal dan digunakan sebagai perhiasan sejak ratusan – ribuan tahun silam.

Menurut kolektor batu akik dan batu mulia, cara pandang tradisional itu membuat pasar dan kebutuhan batu akik cenderung bersifat semu. Kebutuhan terhadap batu akik dengan mudah diciptakan dan cepat hilang dengan sendirinya. Akhirnya konsumen yang dirugikan. Di negara-negara lain, batu akik – batu mulia sudah dikembangkan menjadi industri yang dapat berkontribusi terhadap pendapatan negara.

Jika dijadikan industri dengan sistem yang terstruktur dan mendapat dukungan dari pemerintah, batu akik dan jenis batuan mulia lain asli Indonesia tidak akan bernasib seperti tanaman Anthurium atau ikan Louhan yang kini anjlok nilai jualnya. Perburuan batu mentah, pemotongan, dan penggosokan yang menjamur dimana-mana 3 tahun lalu merupakan puncak keberhasilan para pedagang sekaligus penanda berakhirnya demam batu akik.

Orang-orang yang latah ikut berdagang batu, padal tidak paham seluk beluk perbatuan, akhirnya menjadi korban karena tak tahu hukum supply and demand dalam dunia bisnis. Eksplorasi pengerukan batu Bacan di Pulau Kasiruta, misalnya, dilakukan sejak belasan tahun lalu oleh perusahaan asing. Begitu pula dengan penambangan batu Kalimaya di Banten. Perusahaan asing sejak lama telah membuat peta potensi batu mulia di berbagai wilayah Indonesia. Tetapi ilmu Gemology yang berkembang di banyak negara, belum dipandang serius di Indonesia. Alhasil, ketika sumber daya batu mulia di Tanah Air dikuasai asing dan produk turunannya dikirim dan dijual kembali ke Indonesia, maka kita yang dirugikan.

Harus diakui bahwa ahli Gemology di Indonesia masih sangat sedikit. Sedangkan negara lain memiliki banyak ahli Gemology. Sehingga, industri batu mulia mereka berkembang begitu pesat. Hal itu dibenarkan Gatot Mochamad Soedrajat, Ketua Komunitas Batu Nusantara dan Tilong Giek Pien, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI yang juga kolektor batu akik. Mereka sependapat seharusnya pemerintah juga lebih berperan dalam kegiatan industri batu mulia. Pemerintah tidak hanya berwacana tentang pengenaan pajak bagi pebisnis batu akik. Menyiapkan kredit permodalan, pendampingan peningkatan kualitas produksi dan mempromosikan hasil produksi adalah kebijakan yang sangat ditunggu para pebisnis batu mulia yang masih sekelas usaha kecil menengah (UKM).
Saat ini Sri Lanka merupakan pemegang merek batu-batuan, terutama produk batu Safir. Dari penjualan ekspor cenderung stabil. Puncaknya, tahun 2008 mencapai US$ 608,41 juta. Di negara itu ada dua lembaga yang berperan besar dalam pembentukan merek Ceylon Sapphires, yakni National Gems and Jewelry Authority (NGJA) yang dibentuk pemerintah dan Ceylon Sapphire Council Limited (CSCL) yang merupakan konsorsium pengusaha-pengusaha besar Safir Sri Lanka. Pembentukan dua lembaga merupakan langkah branding strategy untuk pasar AS, Eropa, Jepang dan negara lain. Lembaga itu mengatur segala hal terkait industri batu safir. Mulai dari izin penambangan, standarditasi produk, hingga perdagangan.

Sementara di Indonesia, masih individualis, hanya mencari keuntungan individu. Tidak ada sistem atau lembaga yang mengatur. Soal penambangan, NGJA memiliki aturana ketat. Terutama bagi penambangan menggunakan mesin. Untuk regulasi impor, Sri Lanka memberikan kemudahan impor bahan baku dengan memberlakukan tarif flat US$ 200.
Selain Sri Lanka, China juga dikenal sebagai penghasil batu mulia. Terutama sejak 1978 setelah kebangkitan ekonomi negara tersebut dan Oktober 2000, Shanghai Diamond Exchange (SDE) dibentuk. Lembaga ini juga mengatur segala hal terkait industri batu mulia. Mulai dari standardisasi produk, tarif impor dan ekspor, hingga pembentukan lembaga riset khusus di bidang Gemology.

Gemological Institute of Amerika telah memberikan pengajaran ilmu Gemology di Beijing sejak 1998. Melalui progarm ini, tercipta 30 lulusan terbaik setiap tahun yang disiapkan khusus untuk pengembangan industri batu mulia China. Gaji para ahli Gemology di China pun tak main-main. Khusus untuk pemotong dan desainer batu mulia mereka bisa mendapatkan penghasilan US$ 150.000 per tahun, atau sekitar Rp 2 miliar per tahun (kurs Rp 13.50 per dollar AS).

Yudhi Soenarto dan beberapa rekannya tengah berupaya mendorong pihak UI agar mengirimkan mahasiswa atau dosen untuk menuntut ilmu Gemology ke negara lain. Diharapkan suatu saat nanti UI bisa menjadi pionir yang memberikan pendidikan khusus di sekitar batu mulia sehingga bisa melahirkan ahli Gemology untuk mendukung pengembangan produk batu akik menjadi industri yang menyumbang devisa bagi negara.
Pasar Rawabening, yang indentik dengan sebutan pasar para pria, saat booming batu akik membuat kemacetan di sepanjang Jl Raya Bekasi Barat dan sekitarnya, kini kelihatan semakin sepi. Karena lokasinya sangat strategis, di depan stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, pengunjung dari ujung barat Pulau Jawa, atau Sumatera maupun dari ujung timur pulau Jawa dan Bali, akan dengan mudah menemukan Pasar Rawabening yang diklaim sebagai pusat pasar batu akik terbesar di Asia Tenggara.

Sejauh mata memandang, hanya tampak beberapa wanita di dalamnya. Perbandingan pengunjung wanita dan laki-laki bisa 1: 100. Artinya, hanya ada seorang wanita dari seratus pengunjung Pasar Rawabening. Pasar ini dikenal sebagai grosir khusus menjual batu mulia dari jenis kalimaya, bacan, rubi, hingga akik. Masing-masing pedagang, menggelar dagangan batu mulia serba gemerlap berwarna-warni.

Namanaya juga pasar, tak jauh berbeda dengan pasar tradisional umumnya, aktivitas di dalam pasar itu terjadi proses jual beli. Hanya saja, tak seramai tiga tahun lalu, ketika pasar batu akik sedang booming. Itu diakui Zulkarnaen dan Edo Jauhari maupun pedagang lainnya. Suasananya memang masih lesu. Tetapi belakangan sudah cukup lumayan. Pengunjungnya mulai ramai. Pasar yang buka pukul 08.00 Wib dan tutup pukul 16.00 Wib mayoritas pengunjungnya tetap kaum pria, dari berbagai usia, tua-muda.

Seperti diharapkan oleh Zul, salah seorang pedagang batu akik warga Rt 011 Rw 03, Kel. Pondok Bambu, Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur, setelah pesta demokrasi 5 tahunan, pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden periode 2019 – 2014 usai, gegap gempita dan gairah itu beralih ke pasar, sehingga para pedagang bisa meraih keuntungan. Edo Jauhari, asal Sumatera Barat yang sudah seperempat abad berdagang batu akik di Pasar Rawa Bening mengaku pernah mereguk keuntungan sehari sekitar Rp 2 juta dari pemburu batu bacan dan rubi. Tapi sekarang, bisa meraih sepertiganya saja sudah lumayan.
Tidak jauh dari Pasar Rawabening, ada Jakarta Gems Center (JGC), pasar modern, juga bursa batu aji dan batu permata. JGC terdiri 3 lantai, lantai dasar dikhususkan untuk pedagang batu mulia dan barang antik, lantai 2 pedagang obat-obatan, dan lantai 3 jajanan serba ada. Pasar modern ini mampu menampung 800-an pedagang. Meski tidak seramai waktu booming dulu, namun pengunjung GJC masih cukup ramai, karena suasananya lebih nyaman.

Pembeli, selain untuk dijual kembali, banyak juga yang untuk dipakai sendiri. Salah seorang pengunjung dari Bogor, Jawa Barat, Darmansyah Ali, yang sempat berbincang dengan Majalah UKM mengatakan; “Puas bisa berkunjung ke GJC, karena bisa memilih berbagai jenis batu mulia, yang membuatnya kebingungan memilih.” Yang berkunjung ke GJC banyak dari kalangan menengah – atas, kolektor batu mulia.

Zul yang juga grosir di GJC mengatakan, dalam dunia usaha ada masa dan masa panen. Saat booming, kata pemilik beberapa outlet di JGC itu, bisa meraup untung sangat besar. Tapi saat ini, bisa mendapat omzet Rp 5 juta – Rp 7,5 juta per hari sudah lumayan. Biasanya, bulan November – Desember banyak pembeli dari orang asing, seperti dari Jerman, Amerika, Korea, Thailand, Taiwan, Italia, dan sebagainya.

Orang yang senang pakai cicin batu akik, dulu hanya orang-orang tua. Tetapi sekarang, anak-anak muda tak mau ketinggalan. Ada yang mengatakan; tidak punya batu akik ketinggalan zaman. Tidak heran jika batu akik harganya juga mahal. Secara tradisi, cincin pengikat terbuat dari; logam mulia, perak, atau campuran dari bahan lain, seperti tembaga, perunggu, kuningan. Agar penampilan lebih indah, cincin diukir. (sutarwadi k.)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Ketika Koperasi Terbelit Persoalan Klasik

Salah satu yang menghalangi pertumbuhan dan kehadiran koperai adalah masih tingginya pajak yang dikenakan pemerintah serta masih banyaknya orang yang meminjam uang dari rentenir untuk modal usaha.

“Saat ini koperasi dikenakan pajak penghasilan (PPh) final atas pendapatan dan PPh badan. Selain itu sisa hasil usaha (SHU) bagi anggota, masih ada pengenaan pajak penghasilan sebesar 10% ke idividu anggota, sehingga dana bagi hasil dari koperasi ke anggota menjadi tidak besar,” kata H. Chaeruddin, Pembina Koperasi Berkah di Pasar Deprok Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Chaeruddin mendesak agar pelaku koperasi diberi keringanan seperti usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang diberikan insentif pajak berupa PPh final yang dipangkas dari 1% menjadi 0,5%. Ia menilai, pengenaan pajak terhadap omzet belum tentu mencerminkan bahwa koperasi tersebut memperoleh untung.

PPh final terhadap pendapatan usaha koperasi diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran brutto tertentu. Koperasi Berkah sudah berbadan hukum sejak didirikan pada tahun 2002. Anggotanya baru 52 orang. Jumlah itu baru sekitar 25% dari 215 pedagang di pasar tersebut.

Ketika ditanyakan kenapa koperasi ini belum mampu menarik minat seluruh pedagang di Pasar Deprok, mantan Lurah Pondok Bambu dan mantan Kepala Bazis Jakarta Timur dua periode itu mengatakan, karena di pasar juga ada Paguyuban Koperasi Pedagang dan masih ada pedagang yang menggunakan jasa rentenir. Karena menjadi anggota koperasi, sesuai 7 Prinsp Koperasi, adalah sukarela, tidak ada unsur pemaksaan. Jadi, yang mau menjadi anggota Koperasi Berkah, sifatnya juga sukarela.

“Tujuan kami ingin menyelamatkan peda­gang dari jeratan rentenir. Koperasi Berkah juga memberikan kemudahan kepada anggota. Bagi mereka yang mendaftar sebagai anggota, cukup mem­bayar simpanan wajib sebesar Rp 9.000 dan iuran sosial Rp 1.000. Bagi yang pinjam untuk modal usaha, maksimal pinjaman Rp 50 juta dengan jasa 2%. Sedangkan di Koperasi Paguyuban Pedagang, jasanya 5%. Kami juga tak bisa melarang pedagang pinjam ke rentenir. Kami hadir untuk memberi solusi,” ujarnya.

Ungkapan senada diutarakan Partono, Ketua Koperasi Berkah. Laki-laki asal Klaten, Jawa Tengah yang sehari-hari sebagai pedagang beras di Pasar Deprok itu mengemukakan, sejak Koperasi Berkah berdiri, sebagian pedagang menyadari, keberadaan koperasi sangat membantu meringankan beban soal permodalan.

Lambat tapi pasti, mereka mulai terbuka dan paham, koperasi itu dari anggota untuk anggota. Dengan jasa 2%, mereka mulai meninggalkan kebiasaan pinjam ke rentenir. Namun mereka diberi kebebasan apakah mau menjadi anggota Koperasi Berkah atau menjadi anggota Koperasi Paguyuban Pedagang. Yang ingin pinjam ke BRI atau rentenir, juga dipersilakan. Ada pula anggota Koperasi Berkah yang masih menjadi anggota Koperasi Paguyuban Pedagang.

Baik Chaeruddin, Partono, H.Sujoko (bendahara), dan Wartini (Sekre­taris) mengemukakan, telah menem­puh berbagai langkah untuk meningkatkan kualitas koperasi Berkah. Antara lain membangun koperasi berbasis information technology.

Untuk pengembangan koperasi, mengupayakan berbagai agenda, seperti mengkaji regulasi yang menghambat berkembang koperasi, memperkuat akses pembiayaan dengan menyiapkan koperasi menjadi penyalur kredit usaha rakyat (KUR). (sk/wien s)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Prof. Dr Rully Indrawan Akan Mengusulkan Kepada Menteri KKGJ Sebagai Konsultan Pengembangan Koperasi Guru di Indonesia

Sebagai aktivis Gerakkan Koperasi Indonesia (GKI), sudah lama mendengar cerita hebatnya Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ), salah satu koperasi besar di Indonesia. Maklum, sebagai aktivis dan intelektual, Guru Besar Universitas Pasundan Bandung, Prof. DR Rully Indrawan yang juga pernah menjabat Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Barat, Wakil Ketua Umum Dekopin Pusat, dan Rektor Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), wajib hukumnya mengetahui kiprah koperasi di Indonesia. Terutama koperasi-koperasi besar.

Karena ingin banyak tahu tentang KKGJ, ketika pengurus mengundangnya pada Rapat Anggota Khusus (RAK) untuk menyusun dan mengesahkan program kerja tahun buku 2019, dengan senang hati Prof. Rully memenuhi undangan tersebut. Padahal saat itu ada 2 acara penting lainnya, yaitu rapat Pengurus Dekopin dan pembahasan Rancangan Undang-unang (RUU) perkoperasian di DPR. “Namun, saya memilih ke KKGJ,” tutur Prof. Rully seraya menambahkan bahwa dirinya baru 4 hari usai dilantik (9-11-2018) sebagai Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM.

Saat masih menjabat Ketua Dekopinwil Jawa Barat, dia menaku, pernah bicara dengan Gubernur Jawa Barat; Masa kalah dengan orang Jakarta. Guru di Jawa Barat jumlahnya lebih banyak daripada guru di DKI Jakarta. Kenapa koperasi guru di Jakarta bisa masuk ranking 10 besar nasional, sedangkan koperasi guru di Jawa Barat tidak ada. Saat ini banyak koperasi guru di Jawa Barat hampir habis. Banyak anggota koperasi yang pinjam di koperasi, juga pinjam ke Bank Jabar. Ketika gajinya dipotong oleh bank untuk membayar angsuran pinjaman, tidak bisa bayar pinjamannya di koperasi. Biasanya, saat anggota mau pinjam di koperasi bersemangat – bahkan lebih galak. Saat harus bayar angsuran dia bilang; “nanti dulu kalau ada sisanya.” Mungkin karena merasa koperasi itu milik sendiri.

Fenomena tersebut, menurut Prof. Rully, tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi juga di daerah lain. Sebagai wakil ketua umum Dekopin berkesempatan mengunjungi koperasi di daerah-daerah. Koperasi di Riau, misalnya, juga sama. Saat berkunjung ke Riau, berpesan kepada pihak perbankan agar mau berbagi tugas. Kalau kebutuhan yang sifatnya konsumtif, atau untuk kegiatan produktif yang masih kecil biarlah koperasi sebagai sumber permodalan. Sedangkan perbankan untuk kegiatan-kegiatan besar seperti membangun jalan tol, jembatan dan sebagainya. Keluhan tidak berkembangnya koperasi pegawai sering disampaikan para bupati. “Waktu saya masih di Dekopinwil Jabar, ada tiga bupati yang mengeluhkan. Hal itu bukan lantaran regulasi, melainkan masalah cultural,” jelasnya.
Tetapi di Jakarta, lanjut dia, berbeda. Koperasi guru – KKGJ bisa berkembang kembang pesat. Ini yang menarik untuk dicontoh. “Saya akan usulkan kepada Menteri Koperasi dan UKM untuk koperasi-koperasi guru di berbagai provinsi dikembangkan dengan konsultannya dari KKGJ” jelas Rully Indrawan, seraya menambahkan bahwa kedua orang tuanya (ayah – ibu) guru sekolah dasar (SD). Guru zaman dulu gajinya kecil, hanya cukup sampai pertengahan bulan. “Untuk mentup kekurangan pinjam ke koperasi. Mau sekolah tahun ajara baru, beli buku baru, atau ada yang sakit, pinjamnya ke koperasi. Setiap bulan saya diajak ke koperasi. Sampai mau menikah pun datang ke koperasi,” katanya berterus terang. Dia merasa senang, ada salah satu koperasi yang didirikan oleh ayahnya berkembang cukup baik.

Karakter guru itu indentik dengan koperasi, saling mengayomi, kerja sama, dan saling tolong menolong, serta punya tujuan yang sama. Guru itu tujuannya sama, ingin mencerdaskan anak-anak bangsa. Guru merasa bangga jika mantan anak didiknya sukses. Koperasi tujuannya sejahatera bersama. Untuk mencapai tujuan sejahtera, harus pula berjuang bersama, dan itu tidak mudah. Hanya dengan kejujuran, loyalitas dan kedisiplinan yang tinggi sejahtera bersama itu bisa tercapai.

Terkait dengan perkembangan koperasi saat ini, menurut Rully Indrawan, cukup bagus. Benar bahwa jumlah koperasi di Indonesia menurun. Namun kontribusi terhadap kesejahteraan terus meningkat. Menurut indikator yang diditeksi Badan Pusat Statistik (BPS) koperasi sebagai lembaga usaha telah memberikan kontribusi terhadap PDB 4,48%. Ini bukti nyata. Bahkan kontribusi anggota kepada PDB, menurut BPS, telah mencapai 33%. Jadi, koperasi secara kumulatif sudah mendekati 40%. Luar biasa!
“Benar bahwa jumlah koperasi menurun. Namun, bukan animonya yang menurun,” tegas Rurlly. Sesuai kebijakan pemerintah; Reformasi Totol Koperasi, ada program menutup koperas-koperasi yang tidak aktif. Ada sekitar 52.000 unit koperasi yang tidak aktif, dan badan hukmnya (BH) dicabut. Dahulu, kebanyakan koperasi didirikan untuk mengejar fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh pemerintah.

Pada evaluasi 4 tahun pembangunan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ada 5 pilar pembangunan yang dipresentasikan oleh para menteri. Pilar pertama tentang Pembangunan Ekonomi dan Daya Saing Bangsa. Kementerian Koperasi belum termasuk di situ. Pilar kedua tentang Kesejahteraan, namun Kementerian Koperasi juga tidak tampil. Tetapi justru tampilnya di pilar kelima bersama-sama dengan Kemendikbud, Kemen Riset & Dikti, dan Menko Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu tentang Kebudayaan dan Prestasi Bangsa.

“Seperti koperasi telah diposisikan sebagai instrumen Membangun Budaya Bangsa yang baru. Sama dengan pendidikan. Karena itu Menkop, Menristek Dikti, dan Menko SDM berada di satu meja,” jelas Rully. Hal itu menurut Rully Indrawan, luar biasa, karena selama ini koperasi selalu dihitung modalnya berapa, asetnya berapa, berapa volume usahanya, dan berapa sisa hasil usaha (SHU). Semua serba angka. Seyogyanya dalam tugas pembangunan saat ini adalah membangun karakter bangsa.

Kita tahu, keberhasilan suatu negara karena ditopang oleh kelompok wirausaha. Tahun 2014 ketika Jokowi terpilih sebagai presiden, kelompok wirausaha baru sekitar mencapai 1,35%. Sekarang jumlah wirausaha muda telah mencapai 4%. Sekarang juga makin banyak kelompok baru wirausaha muda dengan berbagai inovasi dan kreatifitas yang luar biasa. Saat ini anak-anak muda yang bercita-cita menjadi pegawai semakin berkurang. Ada kecenderungan mereka lebih senang berwiusaha, dan menghadapi tantangan. Itu merupakan perubahan mindset – pola pikir – budaya yang baru.

Kalau ada yang mengatakan jumlah pengangguran tinggi, tidak bekerja di sektor formal, yes!. Tetapi mereka bekerja di sektor informal. Informal, bukan berarti pedagang kaki lima, atau pembantu rumah tangga. Anak-anak muda generasi milineal itu bekerja dengan kaki empat, diluar ruang dan waktu yang tidak terbatasi. Soal penghasilan, jauh dibandingkan menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta. Banyak anak muda berpenampilan sederhana, pakai celana pendek dipadu T shirt, sepatu ket, ternyata miliarder. Sementara yang berpenampilan perlente, pakai jas – berdasi, gajinya sekian juta saja.

Perkembangan teknologi saat ini menjadikan dunia semakin kecil, seakan tanpa batas antara satu negara dengan negara yang lain. Dengan perkembangan teknologi, ekonomi global mau tidak mau harus kita hadapi. Dan itu hanya bisa dimenangkan dengan kemampuan inovasi dan kreaktifitas yang tinggi. Indonesia sebagai leader di Asia Tenggara (ASEAN) baik dalam bidang ekonomi, keamanan maupun politik yang diakui oleh dunia internasional.
Sebagai negara yang maju di bidang perekonomian, keamanan dan pengembangan demokrasi, akan menjadi aneh jika tidak siap untuk bersaing di ekonomi dunia. Juga sangat aneh kalau tidak mampu bersaing dalam ekonomi global. Secara ekonomi, dan sosial kita siap untuk bersaing dalam era global. Bahwa masih ada produk-produk yang belum siap bersaing harus diperbaiki. Yang terpenting untuk kita sikapi, dalam melakukan transaksi internasional. Intinya, kita harus melakukan perubahan, melakukan inovasi, sehingga secara total siap berkompetisi.

Pemerintah mendorong koperasi dan UMKM agar siap bersaing di era ekonomi global. Jika yang diperlukan adalah bantuan permodalan pemerintah mempersiapkan melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh pemerintah diharapkan akan mampu menciptakan lapangan kerja lebih luas sehingga jumlah penganggur akan terus berkurang.

Para sarjana yang baru menyelesaikan tugas belajar pun didorong untuk menjadi pengusaha pemula. Pemerintah terus mensosialisasikan program bantuan permodalan bagi sarjana baru ke beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta. Dengan mendorong para sarjana membuka usaha, atau pengusaha pemula diharapkan mereka tidak mencari pekerjaan melainkan membuka lapangan kerja, minimal bagi dirinya sendiri.

Para sarjana punya kemampuan sangat tinggi, punya knowledge atau ilmu di atas rata-rata. Mereka sudah mengeluarkan biaya, mengeluarkan waktu, energi untuk menjadi sarjana. Kalau dulu mereka bermimpi menjadi sarjana, sekarang harus didorong untuk bermimpi menjadi pengusaha. Jika koperasi, para sarjana, dan UMKM bersatu padu, giat menciptakan inovasi ekonomi, kreatif dalam menciptakan pekerjaan sehingga penyerapan tenaga kerja semakin tinggi. (mar – adt)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Membangun Citra Produk Baru

Sebagai seorang wirausaha baru yang ingin penjual pruduknya secara langsung kepada konsumen, misalnya, memiliki toko online adalah pilihan yang paling tepat. Karena tidak harus memiliki ruangan yang cukup luas untuk memajang barang-barang yang dijual. Sebagai pebisnis, tentu ingin toko onlinenya banyak dikunjungi oleh pembeli agar penjualannya terus meningkat.

Namun untuk mendapatkan banyak pembeli bukanlah hal yang mudah. Apalagi menjual produk baru, dan toko online pun tergolong baru. Membangun image – citra dalam persaingan bisnis modern yang sangat ketat membutuhkan ketekunan, inovasi bisnis, dan cerdas membaca peluang. Untuk itu harus menciptakan dan meningkatkan brand awareness pembeli terhadap produk kita.

Lalu, apa saja cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan branding produk kita yang belum dikenal banyak orang? Langkah-langkah yang harus kita lakukan antara lain; menyesuaikan target pasar yang kita tuju dengan nama brand – merk dan produk yang kita jual. Misalnya, membidik target perempuan muda kelas menengah ke atas, kita buat merk produk dengan kata-kata yang lebih modern dan elegan. Selain itu, membuat nama toko online yang menggambarkan produk yang kita jual sehingga saat orang ingin membeli, mereka akan langsung teringat merk dan toko online kita.

Dalam hal jual-beli secara online, para calon pembeli tidak bisa melihat dan menyentuh secara langsung produk yang kita jual. Oleh karena itu, kita perlu untuk memberikan penjelasan sedetail mungkin tentang produk yang kita jual. Apalagi produk baru, harus tulis dengan bahasa sederhana, mudah dimengrti tentang spesifikasi, manfaat, cara penggunaan dan kelebihan produk yang kita jual pada deskripsi produk. Hal ini akan membuat target pasar yang kita bidik semakin tertarik untuk membeli produk yang kita jual.
Untuk nama produk maupun toko online, perlu dipilihlah kata-kata yang tidak biasa dan dipastikan belum ada merk dan toko online lain yang menggunakan nama tersebut. Nama produk dengan desain gambar yang unik membuat orang cenderung lebih mudah dalam mengingatnya. Mereka akan tertarik untuk mengklik toko online kita saat membaca nama dan gambar yang unik.

Penggunaan singkatan untuk nama, bisa memudahkan pembeli. Namun untuk merk produk baru dan toko baru, penggunaan singkatan akan menyulitkan pembeli untuk mengingatnya. Singkatan seperti toko ABC akan membingungkan pembeli, karena bisa saja banyak toko lain yang menggunakan singkatan tersebut. Contoh lain, Majalah UKM, sering dipertanyakan; “Ini majalahnya Kementerian UKM, Dinas UKM, atau Majalah Usaha Kecil Menengah?” Ketika ada pertanyaan seperti itu terpaksa harus menjelaskan bahwa Majalah UKM adalah sebuah nama, tidak ada kaitannya dengan lembaga lain.

Untuk melakukan branding di awal, sebaiknya memang menggunakan kata biasa (tanpa singkatan). Menggunakan singkatan akan lebih tepat setelah produk kita dikenal oleh masyarakat luas. Itu pun tidak boleh frontal melainkan harus secara perlahan, misalnya mencantumkan singkatan ditulis dalam kurung dengan huruf tidak terlalu besar. Tujuannya agar nilai promosi yang telah dilakukan sebelumnya tidak hilang percuma. Sebab biaya promosi itu cukup mahal. Selain singkatan, penggunaan angka untuk suatu produk atau nama toko juga cenderung membuat menjadi lebih sulit untuk diingat.

Strategi branding yang kita lakukan tentu akan mempengaruhi citra dan kesan terhadap produk kita di mata para penjual. Dalam bisnis, pelayanan dari penjual menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh untuk meningkatkan branding produk. Karena itu perlu memberikan pelayanan terbaik kepada pembeli, misalnya, ada calon pembeli yang menanyakan tentang spesifikasi produk, kita meresponnya dengan cepat, sopan dan ramah agar mereka pun merespon positif. Dengan memberikan pelayanan terbaik, maka pembeli akan puas.

Cara lain untuk meningkatkan branding produk dan membuat lebih banyak orang yang mengenal adalah dengan cara aktif di forum dan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Media sosial dan forum merupakan salah satu media untuk promosi secara gratis. Oleh karena itu, media ini perlu dijadikan sebagai media promosi.

Kita perlu sering-seringlah untuk share produk ke media sosial dan forum, agar lebih banyak lagi orang yang akan mengetahui keberadaan produk-produk kita sehingga jumlah orang yang berkunjung dan berbelanja di toko online kita pun akan semakin meningkat. Untuk lebih menarik orang-orang di media sosial ataupun forum, kita bisa aktif memberikan review tentang produk yang kita jual.

Tidak sedikit orang yang mencari produk, data, atau bacaan melalui mesin pencarian google dengan memasukkan keyword produk atau majalah tertentu yang ingin mereka cari, misalnya, saat mereka ingin mencari bacaan tentang koperasi dan UKM maka mereka akan memasukkan kata Majalah UKM pada kolom pencarian google. Dari situ, mereka akan menemukan website majalahukm.com. Agar produk kita bisa muncul pada halaman pertama mesin pencarian google, bisa dipelajari teknik Search Engine Optimization (SEO) dan menerapkannya pada bebsite kita.

Siapa yang tidak suka dengan bonus atau diskon? Semua orang tentu akan tergiur untuk membeli suatu produk jika produk tersebut diberi label diskon atau bonus, misalnya beli 1 gratis 1. Oleh karena itu, untuk menarik lebih banyak pembeli, tidak ada salahnya sesekali kita memberikan bonus kepada pelanggan yang sudah sering membeli produk kita. Bisa juga kita memberikan bonus pada event-event tertentu, misalnya anniversary – ulang tahun perusahaan. Hal tersebut tentu akan membuat pembeli menjadi lebih loyal. (my)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Kospin JASA Menjamin Santunan Imam dan Takmir Masjid se-Kota Pekalongan

Melihat perjalanan sepanjang tahun 2018, menurut Ketua Umum Kospin JASA, H.M. Andy Arslan Djunaid, S.E., banyak mengalami suka duka. Karena pada tahun 2018 itu ada perhelatan politik, pemilihan kepala daerah (Pilkada); gubernur, bupati – walikota, terutama di beberapa wilayah operasional Kospin JASA yang ada di Jawa Tengah. Kondisi itu diperberat oleh pertumbuhan ekonomi yang kurang bersahabat.

Pertengahan tahun 2018, misalnya, kurs rupiah mengalami keterpurukan menghadapi mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat. Kurs rupiah kita pernah menyentuh Rp 15.000,- per US $1. Kondisi tersebut mau tak mau berpengaruh pada perekonomian secara keseluruhan. Termasuk industri keuangan, baik perbankan, maupun koperasi seperti Kospin JASA.

Tentang perkembangan Kospin JASA secara umum, baik capaian target dari sisi pertumbuhan aset, pertumbuhan simpanan maupun dari sisi pertumbuhan pinjaman, memang diakui Andy tidak mencapai target. Kondisi perbankan pun relatif sama. Tetapi, menyangkut sisa hasil usaha (SHU) tahun buku 2018 yang dicapai melebihi, atau di atas target. Kalau tahun 2017 SHU yang dibagikan sebesar 13%, untuk tahun buku 2018 naik menjadi 17,8% atau setara Rp 35 miliar.

Terlampauinya target SHU menimbulkan pertanyaan. Andy menjelaskan bahwa ada beberapa kebijakan yang diambil Kospin JASA antara lain; Melakukan efisiensi secara ketat, penghematan di sana-sini untuk operasional, karena menyangkut kondisi komponen lainnya. Hasilnya positif, sehingga bisa meraih SHU melampaui target. Dengan dukungan total dan loyalitas anggota, Andy berharap tahun buku 2019 kinerja Kospin JASA juga akan meraih hasil lebih baik.

Gambaran kinerja untuk layanan konvensional aset tumbuh 4,12% dari Rp 6,4 triliun (2017) naik menjadi  Rp 6,69 triliun (2018). Simpanan sebesar Rp 4,7 triliun (2017) naik menjadi Rp 5,7 triliun (2018). Adapun pinjaman tumbuh 0,8% dari Rp 3,91 triliun (2017) menjadi Rp 3,94 triliun (2018).  Kinerja layanan syariah terdiri dari aset sebesar Rp 1,61 triliun (2018) naik 4,81% dari Rp 1,53 triliun (2017). Simpanan  tahun 2018 sebesar Rp 1,56 triliun, naik dari Rp 1,489 triliun tahun 2017 atau tumbuh 4,9%. Pembiayaan tumbuh 5,36% dari Rp 1,51 triliun menjadi Rp 1,59 triliun.

Yang juga menggembirakan, tahun buku 2019 Kospin JASA masih dipercaya untuk menjadi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR). Oleh karena itu Andy berharap agar para anggota mau memanfaatkannya dengan baik untuk mendapatkan pendanaan yang bunganya relatif rendah. Pemerintah, menurut Andy, luar biasa karena terus berupaya menurunkan suku bunga KUR dari yang semula 22% turun…, turun…, dan kini tinggal 7% per tahun. Kebijakan pemerintah itu sangat meringankan anggota koperasi. KUR hanya diberikan kepada mereka yang telah memiliki kegiatan produktif – usaha, meski mikro sekalipun.

Andy mengakui, tahun 2018 Kospin JASA memang belum optimal memasarkan KUR kepada anggota. Alasannya, ada perubahan sistem yang semula di-handle oleh Bank Indonesia (BI) dipindah ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Proses pemindahan itu membutuhkan koordinasi teknis dan lain sebagainya, waktunya cukup panjang. Baru bulan Oktober 2018 conform bahwa sistem Kospin JASA dari BI ke OJK tuntas, dan Kospin JASA diizinkan kembali melayani penyaluran KUR.

“Kalau penyaluran KUR tahun 2018 belum optimal, saya berharap program ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para anggota Kospin JASA sepanjang tahun 2019 untuk memperoleh permodalan dengan bunga sangat murah. Bahkan lebih murah dari jasa Kospin JASA sendiri. Tetapi, memang ada batasan-batasan. Ketentuan tersebut berlaku untuk seluruh penyalur KUR. Baik Kospin JASA maupun perbankan, aturannya sama,” tegas Andy.

Menurut penjelasan Menteri Koperasi dan UKM A.A. Gede Ngurah Puspayoga, saat memberikan sambutan pada pembukaan RAT Kospin JASA tahun buku 2018, sampai awal 2019, jumlah koperasi yang telah ditetapkan sebagai penyalur KUR baru 3 koperasi primer, yaitu Kospin JASA, Koperasi Kredit (Kopdit) Obor Mas, Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Guna Prima Dana, Badung, Bali. Walau ada target kinerja, termasuk penyaluran KUR belum mencapai target yang ditetapkan, namun Menkop dan UKM, mengapresiasi upaya yang dilakukan Kospin JASA. “Yang terpenting bagi anggota, dan harus disyukuri, SHU-nya melampaui target,” jelas Menkop dan UKM.
Kondisi perekonomian global akibat perang dagang Amerika Seringkat dengan China, berdampak pula terhadap pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia. Kita patut bersyukur bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2018 masih berada di tiga besar negara-negara anggota G 20. Negara yang pertumbuhannya tertinggi India 7,9%, China 6,7% dan Indonesia 5,17%. Bagi perekonomian nasional, kata Menkop & UKM, kontribusi koperasi dan UKM sangat penting. Sebelum program reformasi total koperasi dimulai, setidaknya sampai tahun 2014, kontribusi koperasi terhadap PDB hanya 1,71%. Tetapi sekarang sudah mencapai 4,48%.

“Kalau bicara koperasi, Kospin JASA luar biasa,” jelas Menkop. Tentu, apa yang diungkapkan berdasarkan data valid. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, misalnya, Kospin JASA memiliki 1.591 karyawan untuk melayani anggota dan calon anggota 253.385 orang. Sedangkan kantor cabang, cabang pembantu dan kantor kas yang tersebar di berbagai daerah berjumlah 135 unit. Namun harus diakui bahwa koperasi di Indonesia belum besar-besar amat.

Walau begitu, kata Menkop, kita tidak perlu membicarakan masa lalu. Kita harus memandang jauh ke depan. Pemerintah telah membuka seluas-luasnya kesempatan bagi koperasi untuk terus berkembang menjadi besar seperti koperasi di negara lain; New Zealand,  Singapura, Amerika Serikat, Jepang, atau Korea. Di negara-negara tersebut koperasi masuk dalam jajaran perusahaan besar. Karena itu pemerintah meminta koperasi-koperasi memberi masukan hal-hal yang diperlukan untuk menyusun regulasi terbaik bagi koperasi.

Penurunan bunga KUR yang kini tinggal 7% adalah salah satu contoh kebijakan pemerintah bagi koperasi untuk mendapatkan pinjaman modal dengan bunga rendah yang diusulkan oleh koperasi. Tujuannya, agar koperasi tidak kecil terus. Koperasi sama dengan PT harus bisa besar. Dan besarnya koperasi itu bersama-sama dengan anggota. Presiden Jokowi pada Hari Koperasi 2018, juga telah menegaskan bahwa koperasi itu harus besar. Pemerintah hadir dalam memberi regulasi untuk memudahkan koperasi menjalankan usahanya dan dapat berkembang seperti di negara lain.

Kegiatan tahun 2018 yang dilakukan Kospin JASA menyangkut program, untuk Tabungan Safari pelaksanaannya biasa. Salah satu produk unggulan Kospin JASA adalah Tabungan Prima yang diikuti sekitar 1200-an penabung. Pada April 2018 anggota yang ikut piknik, jalan-jalan ke Korea sebanyak 900 orang lebih. Ini luar biasa. Bahkan pemerintah Korea memberikan apresiasi kepada Kospin JASA. Pemerintah Korea mengundang 15 perusahaan dari Indonesia, yang secara institusi melakukan wisata ke Korea ternyata Kospin JASA membawa rombongan terbesar kedua, setelah rombongan dari salah satu perusahaan di Surabaya, Jawa Timur yang membawa 1.100 orang.

“Pihak pemerintah Korea menghubungi saya dan perusahaan yang lain untuk membicarakan kerjasama. Mereka berharap tahun-tahun ke depan Kospin JASA membuat produk yang sama, dan tujuannya Korea lagi. Saya bilang, oke-oke saja,” jelas Andy. Program Tabungan Prima yang kini sedang berlangsung, lanjut dia, untuk tujuan Singapura dan Malaysia menggunakan Kapal Pesiar diikuti 1.300 penabung. Direncanakan berangkat pada bulan September atau Oktober 2019.

Beginilah cara Kospin JASA menghimpun dana simpanan dari anggota. Menurut Andy, jika kita membuat produk-produk yang menarik, pesertanya akan banyak. Dari situ kita akan mendapatkan dana untuk kemudian disalurkan kepada anggota yang membutuhkan permodalan. Untuk tahun 2020 program Tabungan Prima dengan tujuan wisata ke Bejing dan Sanghai diikuti sekitar 1.400 orang. Andy mengaku, dari ngobrol bersama dengan para penabung yang ikut wisata ke Korea, mendapat masukan, mereka menginginkan dibuka Tabungan Prima dengan tujuan daerah wisata yang lain.

Atas permintaan para anggota maka pada saat RAT di-launching pula program Tabungan Wisata sekaligus dua program pilihan. Pertama, dengan tabungan nominal Rp 10 juta per bulan, wisatanya ke Turki. Kedua, tabungan nominal Rp 6 juta per bulan selama 24 bulan, wisatanya ke Bangkok dan Pataya. Anggota boleh pilih, tujuan ke mana yang disukai. Disamping itu, Kospin JASA juga telah membuka Tabungan Umrah. Ini pun atas permintaan anggota. Karena peminat dari Tabungan Umrah juga luar biasa, semula diprediksi 500-an penabung, ternyata yang menabung lebih dari 700-an orang, maka Kospin JASA memutuskan bekerjasama dengan biro perjalanan. “Inilah hakekat koperasi. Koperasi itu kerjasama, gotong-royong dengan penuh kegembiraan,” tutur Andy.

Kospin JASA juga mendorong para karyawan untuk memiliki koperasi sendiri. Kini, Koperasi Karyawan Kospin JASA itu bekerja sama dengan Indomaret, membuka toko untuk melayani warga masyarakat. Itu juga salah satu bentuk gotong-royong dan kerja sama Kospin JASA. Karena koperasi juga mengemban misi sosial, menggunakan dana CSR, kata Andy, Kospin JASA membangun sebuah rumah ibadah di salah satu kampung di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang luluh lantak akibat bencana alam gempa bumi tahun 2018. Andy mengaku dua kali ke Lombok, dan menyaksikan sendiri bahwa seluruh kampung tersebut hancur, puing-puing rata dengan tanah. Bukan hanya di Lombok, Kospin JASA membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah bencana alam di tempat lain.
Ketika Kospin JASA merayakan hari jadinya ke-45, Desember 2018, membuat berbagai kegiatan, ada kegiatan sosial, donor darah di beberapa kantor pelayanan. Karena diikuti banyak anggota terkumpul kurang lebih 1.700 kantong darah. “Ini pasti sangat bermanfaat untuk membantu sesam,” jelas Andy. Disamping itu, juga ada kegiatan membagi Sembako kepada masyarakat yang dianggap membutuhkan melalui kantor cabang – kantor pelayanan. Ada pula kegiatan olahraga. Karena Kospin JASA sudah bermacam-macam, mitranya sangat banyak, untuk relasi-relasi dari perbankan dan perusahaan besar lainnya diselenggarakan turnamen golf. Ada pula turnamen tenis meja. Karena sukses, Kospin JASA diharapkan penyelenggarakan turnamen secara rutin, sehingga masuk kalender kejuaraan perputaran nasional.

Tahun 2019 bgaimana? Kita semua tahu bahwa pada 17 April ada perhelatan politik yang sangat besar, yaitu pesta demokrasi; Pemilihan Umum (Pemilu) untuk anggota legislatif; DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten – Kota, DPD, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Harapannya, semua berjalan lancar. Tidak mungkin perekonomian akan stabil, jika dunia politik tidak stabil. Harapan kita semua, tahun 2019 perekonomian akan berkembang lebih baik.

Seperti biasa, dalam rangka penyusunan anggaran, menyusunan program kerja dan sebagainya, sebagai bagaian dari ihktiar untuk memperoleh hasil yang lebih baik, Kospin JASA sampai mengundang dua orang pakar. Yang pertama pakar ekonomi Aviliani, dan yang kedua karena tahun politik mengundang pakar politik, Burhanuddin Muhtadi untuk memberikan gambaran-gambaran bagaimana efek daripada Pilpres kaitannya dengan perekonomian kita ke depan. Itu salah satu ihktiar Kospin JASA agar tidak salah dalam mencanangkan program kerja tahun buku 2019.

Dengan masukan dari berbagai pihak, pengurus merencanakan target tahun 2019 aset Kospin JASA konvensional tumbuh 12%, simpanan tumbuh 23%, pinjaman atau pembiyaan tumbuh 13%. Sedangkan untuk syariah direncanakan aset tumbuh 18,75%, simpanan tumbuh 20% dan pembiayaan tumbuh 13,3%. Melihat situasi saat ini, mungkin ada yang pesimis. Tetapi dari awal kita harus optimis,” tegas Andy yakin. Akan semakin optimis, lanjut dia, jika anggota mendukung dan semakin loyal. Kalau semua target tersebut tercapai maka aset konsulidasi Kospin JASA per 31 Desember 2019 total sebesar Rp 9,3 triliun.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sudah biasa, dengan terus berupaya meningkatkan pelatihan-pelatihan teknis. Juga direncanakan melaku­kan audit manajemen. Audit manajemen ini diperlukan supaya bisa mengetahui apakah visi – misi Kospin JASA perlu diperbaharui untuk disesuaikan dengan kondisi yang ada. Terkait bidang sarana – prasarana, Kospin JASA tidak merencanakan untuk menambah kantor baru mengingat kondisi umum saat ini.

Tetapi, ada beberapa kantor yang sebelumnya sewa kemudian dibeli. Kontor Kospin JASA Syairah di Kendal, misalnya. Karena pemilik tak mau disewa, dan di sana perkembangannya cukup bagus maka dibeli. Di Cirebon, kantor lama realitif jauh dari pusat ekonomi. Karena akhir tahun 2018 dapat tempat di Jl. Dr Cipto, lokasinya di tengah-tengah pusat ekonomi, akan segera dibangun untuk meningkatkan pelayanan anggota di Kota Cirebon. Di Slawi, juga telah menempati kantor baru.

Kospin JASA banyak melakukan kerja sama, terutama dengan bankan syariah. Hampir semua bank syariah kerja sama dengan Kospin JASA. Yang terbaru; Bank Mega Syariah, Bank Niaga Syariah, dan Bank Sinar Mas Syariah. Bertepatan dengan pelaksanaan RAT juga ditandatangani MoU – kerja sama dengan PT Jamkrida Jawa Tengah. Kospin JASA juga punya program baru; memberikan santunan untuk Imam Masjid, Takmir Masjid dan Pengurus Masjid se-Kota Pekalongan, sebesar Rp 5 juta kalau meninggal dunia. Dananya diambil dari CSR-nya Kospin JASA.

Program dimulai Januari 2019, baru 2 minggu, sudah ada 4 orang yang meninggal dunia. Dana santunanya langsung diberikan kepada keluarga. Santunan itu sangat membantu keluarga yang ditinggalkan. Selama ini, menurut Andy, imam masjid, takmir masjid dan pengurus masjid tidak ada yang memperhatikan. “Ke depan, di kota-kota yang ada kantor pelayanan Kospin JASA, bisa seperti Pekalongan, jika Dewan Masjid Indonesia (DMI) bisa bekerja sama,” urai Andy.

Sebagai Ketua Umum Kospin JASA, mewakili seluruh anggota Andy menerima penghargaan tertinggi dari pemerintah Indonesia, Satyalencana Wirakarya yang diserahkan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo pada puncak acara Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) 2018 yang diselenggarakan di Indonesian Convention Exhibition (ICE) di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan pemerintah terhadap kiprah Kospin JASA selama ini.

Agar koperasi terus tumbuh berkem­bang menjadi besar dan semakin maju, harus didukung oleh seluruh anggota dengan loyalitas yang tinggi. Jika Kospin JASA besar, koperasi lain juga besar akan sangat banyak manfaatkan yang dirasakan oleh masyarakat.
45 tahun kami sudah membuktikan kepada bangsa Indonesia,” tegas Andy seraya berharap kepada anggota untuk mengajak, sanak saudara, tetangga, teman yang punya usaha, terutama yang baik-baik masuk menjadi anggota Kospin JASA. “Anggota Kospin JASA haruslah orang-orang yang baik,” pungkasnya. (adt – mar)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Ketika Orang-Orang Miskin Dipersatukan

Secara spiritual, dalam iman Katolik, Pintu Air diartikan Yesus. Dalam Alkitab, Yesus berkata; “Akulah pintu, barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.” (Yoh. 10:9 ). Dan, “Akulah air kehidupan, barang siapa minum air dari padaKu, ia tidak akan haus untuk selamanya.” (Yoh.4:14 ). Bagi yang percaya kepada Yesus, tidak ada yang mustahil, semua bisa terjadi.

Dan air kehidupan itu telah mengalir sejak 24 tahun silam, tepatnya 1 April 1995, dari Pintu Air di Dusun Rotat, sebuah dusun terpencil di Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski Dusun Rotat letaknya cukup jauh dari Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, namun air kehidupan itu terus mengalir sampai jauh, melampaui Bengawan Solo, yang oleh maestro keroncong, Gesang, diceritakan akhirnya ke laut.

NTT bukanlah “Negeri Tetap Tertinggal”, melainkan “Negeri Tanah Terjanji”. NTT adalah salah satu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kaya raya dalam berbagai sektor kehidupan. Negeri ini seperti kata Koes Plus dalam syair lagunya: “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Alam ini tinggal kita olah, batu, tanah, dan air bisa jadi uang. Kita harus mengubah cara pandang untuk melihat negeri sendiri sebagai negeri yang kaya dengan pola pikir; gotong royong, semangat juang, kerja keras, batu, tanah, air, hutan, laut, ikan, cadas, dan karang sekalipun merupakan investasi yang tak ternilai, dan tidak pernah habis. Kalau kita mau menggalinya, di dalam perut bumi NTT ada harta karun melimpah.

Dengan usianya yang semakin dewasa, Tri Windu, sebagai sebuah lembaga ekonomi kerakyatan, dengan mazab Koperasi Simpan Pinjam (KSP) – Koperasi Kredit (Kopdit) Kopdit Pintu Air yang semakin popular dengan sebutan baru Kopdit Pintar, benar-benar pintar merebut hati orang-orang kecil seperti; nelayan, petani, peternak, buruh (NTTB) dan pedagang kecil lainnya. Terbukti, sampai minggu ke-2 Maret 2019 Kopdit Pintar telah mampu menghimpun 221.222 anggota yang sebagian terbesar adalah dari kelompok NTTB. Anggota Kopdit Pintar 90% berasal dari masyarakat miskin, orang-orang dusun.

Kalau pada akhir tahun buku 2018 aset lembaga baru sebesar Rp 918 miliar, namun aset tersebut terus meningkat, dan sampai triwulan pertama tahun 2019 telah mencapai Rp 1 triliun lebih. Targetnya, tahun buku 2019 “harus” mencapai Rp 1,670 triliun. “Bukan ambisius, tetapi ambisi untuk meraih mimpi adalah optimisme,” begitu kata Ketua Kopdit Pintar, Yakobus Jano, ketika berbincang dengan Majalah UKM setahun silam, dan itu akan tetap berlaku terus sampai kapanpun. Sebab, tanpa ambisi dan optimisme, tidak mungkin mimpi – cita cita itu akan tercapai.

Keberhasilan itu tercermin pula dari terselesaikannya pembangunan gedung megah tiga lantai sebagai Kantor Pusat Kopdit Pintar di tanah kelahirannya, Dusun Rotat, sekaligus sebagai Monumen Kepercayaan Anggota yang menghabiskan dana gotong-royong sebesar Rp 15 miliar. Rencananya, kantor pusat yang akan dijadikan pusat kegiatan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2018 pada 4 April 2019, yang diawali kegiatan seminar, akan diresmikan oleh Gubernur NNT, pada 3 April 2019.

Dalam memberikan pelayanan kepada anggota Kopdit Pintar berpegang pada 3 hal pokok yaitu; menguntungkan, memuaskan, dan menyenangkan. Ketiga hal itu selalu menjadi yang terdepan. Adalah wajib hukumnya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada anggota. Karena maju mundurnya sebuah koperasi sangat bergantung pada anggota. Karena misinya adalah maju bersama, untung bersama, dan senang bersama. Tidak bisa setelah kita maju bersama lalu keuntugan atau profit itu hanya dinikmati oleh pengurus apalagi pendiri koperasi.

Meskipun Kopdit Pintu Air telah menjadi salah satu koperasi besar di Indonesia bukan berarti berjalan di atas permadani. Hal itu bisa diikuti dari pertumbuhannya, di mana saat didirikan 1 April 1995 jumlah pendiri 50 orang, kemudian tahun 1996 bertambah menjadi 74 orang, di tahun 1997 anggotanya menjadi 105 orang, tahun 1998 saat krisis melanda Indonesia pertambahan anggota lumayan banyak menjadi 164 orang, namun tahun 1999 hanya meningkat sedikit menjadi 185 orang, dan tahun 2000 baru mencapai 198 orang, kemudian tahun 2001 menjadi 232 orang dan tahun 2002 menjadi 329 orang.

Melihat perkembangan selama 7 tahun begitu lambat, maka dibuatlah rencana strategi (Renstra) jangka panjang 10 tahun, 2002 – 2012 jumlah anggota Kopdit Pintu Air harus mencapai 30.000 orang. Untuk itu dicetak selebaran dan pasang spanduk di mana-mana bahwa Kopdit Pintu Air tahun 2012 anggotanya akan mencapai 30.000. Banyak yang mengatakan; “terlalu ambisius”. Ada yang mengatakan, “gila”, logikanya tidak jalan. Selama 7 tahun anggota baru 329 orang, tetapi 10 tahun kemudian harus menjadi 30.000 orang.
Untuk mencapai mimpi, semua pengurus, pengawas. dan terutama manajemen dimotivasi, tetapi mereka ragu. Setiap orang punya impian, tekad Yakobus pun bulat. Mengutip firman Tuhan; “Imanmu sebesar biji sesawi, kamu akan pindahkan gunung ke laut.” Apa kata orang tak didengar, iman landasannya. “Jika mengandalkan Tuhan, merencanakan sesuatu harus di luar kemampuan manusia. Kenyataannya, terlampaui. Tahun 2012 anggota Kopdit Pintu Air mencapai 37.492 orang. Inilah kebesaran Tuhan. Dan pada 24 Agustus 2012 Kopdit Pintu Air memperoleh legalitas – badan hukum (BH) nomor; 02/PAD/BA/XXIX/VIII/2012.

Keberhasilan itu bukan karena doa semata, tetapi juga dibarengi kerja keras, kerja cerdas, disiplin, full time sampai malam, dan jujur. Sebelum bekerja, semua wajib berdoa. Karena banyak karyawan yang Muslim mereka berdoa secara Islam, dan yang Katolik berdoa secara Katolik. Dalam berkoperasi tidak dibeda-bedakan. Semua suku, dan semua umat beragama boleh menjadi anggota Kopdit Pintu Air.

Berkoperasi itu urusan kemanusiaan tidak menyebarkan agama. Yang namanya saling membantu, tidak membeda-bedakan; suku, agama, ras, antargolongan (Sara). Ketika sosialisasi, petugas lapangan juga masuk ke wilayah-wilayah yang mayoritas umat Muslim. Mereka sampai ke kampung-kampung, dan desa-desa terpencil. Ada yang mau masuk menjadi anggota bersyukur, karena itu yang diharapkan, tidak ada pun tak masalah. Yang penting kabar gembira telah disampaikan kepada masyarakat luas. Semua karena kuasa Tuhan, Kopdit Pintu Air disambut dengan suka cita. Setelah target 30.000 anggota terlampaui, mimpi baru pun bermunculan, misalnya; pingin punya swalayan, dan itu juga telah tercapai.

Selama tahun buku 2016, aktivitas utama Kopdit Pintu Air tetap pelayanan jasa keuangan. Prestasi kinerja diantaranya menempati ranking ke-4 nasional dalam jejaring Induk Koperasi Kredit (Inkopdit). Kalau pada tahun buku 2015 jumlah anggota baru mencapai 115.253 orang, menempati urutan ke-5 ranking Inkopdit, pada tahun buku 2016 meningkat menjadi 153.362 orang, dan ranking naik ke urutan 4 nasional. Untuk mendukung visi Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) dengan target tahun 2020 total jumlah anggota 10 juta orang, maka Kopdit Pintu Air mematok target jumlah anggota tahun 2020 sebesar 550.000 orang. Namun saat ini, Maret 2019 baru tercapai 221.222 anggota.

Untuk mengembangkan jenis usaha, namun tetap bernaung di bawah bendera koperasi dalam RAT, diputuskan untuk mendirikan koperasi yang berbadan hukum Koperasi Serba Usaha (KSU), maka didirikanlah KSU Pintu Air Asia (PAS). Baik Kopdit Pintu Air maupun KSU PAS berstatus primer provinsi. Saat ini PAS yang beralamat di Jln. Diponegoro, Kota Uneng – Maumere, melayani warga sekitaran. Seperti kebanyakan Swalayan, KSU PAS juga menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan harga relatif lebih murah dibandingkan dengan yang lain. Karenanya KSU PAS juga menjadi pusat kulakan bagi anggota yang membuka warung kelontong di rumahnya. Terutama anggota yang jauh di pedesaan.

Dalam RAT tahun buku 2016, dilontarkan gagasan baru, sebelum ulang tahun ke-25 (2020) Kopdit Pintu Air sudah harus punya pesawat terbang. Pesawat tersebut untuk transportasi umum (komersial), bukan hanya untuk kepentingan Kopdit Pintu Air sendiri. Yakobus Jano menyadari, pasti ada yang sinis. Tetapi juga yakin, pasti ada yang merespon baik. Sebelumnya, mau beli kapal laut. Tanah di pinggir pantai untuk pelabuhan pun telah dibeli. Rencananya untuk pelayaran perintis melayani kawasan Indonesia Timur. Ternyata, bisnis transportasi laut itu sangat rumit. Urusan perizinan; izin bongkar muat, tidak mudah. Belum lagi soal keamanan dan pengelolaan kapal pun ribet. Relatif lebih simple bisnis transportasi udara. Pesawat tidak harus dikelola sendiri, tapi bisa bergabung dengan maskapai penerbangan yang sudah ada.

Yakobus mengaku, angan-angan awalnya sangat sederhana, agar kehidupan anggota lebih sejahtera, membangun rumah layak huni, anak-anaknya mengenyam pendidikan yang lebih baik, dan membangun ekonomi di daerah sendiri. Namun di dalam perjalanan juga harus melihat perkembangan dunia sesuai zamannya. Karena itu mulai berpikir ke arah seperti investor besar. Punya pesawat, punya kapal laut, punya usaha air minum dalam kemasan, maupun bisnis-bisnis lain yang bisa menghasilkan keuntungan bagi anggota. Walaupun sisa hasil usahanya (SHU) tidak besar. Karena itu, yang sifatnya bisnis semua diajak terlibat.
Menurut Yakobus, tahun 2016 merupakan tahun yang paling membanggakan, karena semua usaha berhasil. Keberhasilan membangun PAS, seperti mimpi di siang bolong. Keberhasilan membangun gedung 3 lantai dengan luas bangunan 15 meter x 40 meter, sesuatu yang luar biasa. “Bagi kami, yang orang kampung, kumpulan orang lumpuh, orang buta. Dengan Mata Si Lumpuh, Si Buta Bisa Melihat, dan Dengan Kaki Si Buta, Si Lumpuh Bisa Berjalan mencapai tujuan. Saya lihat, orang-orang kecil itu bangga punya swalayan sendiri, dan belanja di swalayan sendiri. Mereka bangga bisa bergotong-royong membangun kebersamaan,” tutur Yakobus.

Mengerjakan sesuatu harus fokus, dan yang telah direncanakan, harus berhasil terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan rencana yang lebih besar. Harus satu-satu, tidak boleh satu belum selesai menggarap yang lain. Itu bisa berbahaya. Kalau satu belum selesai sudah menggarap yang lain, itu boleh dikatakan “tidak waras”. “Kami juga harus hati-hati jangan sampai ada anggota yang akhirnya keluar atau minta dicoret tidak ikutan, karena merasa bebannya terlalu besar, satu belum selesai sudah diberi beban baru lagi,” jelasnya. Kopdit Pintu Air berupaya untuk membuka ruang kepedulian lebih lebar. Seperti air yang terus mengalir dan menghidupkan segala jenis tanaman.

Memberdayakan anggota adalah upaya menghapus stigma tak nyaman didengar telinga, masyarakat miskin. Pemberdayaan anggota yang sedang digalakkan adalah usaha penggemukan babi. Seekor babi anakan yang digemukkan dengan baik, dalam kurun waktu 4 bulan (120 hari) beratnya bisa mencapai 100 Kg. Usaha produktif, ternak babi untuk menjawab kebutuhan yang terus meningkat. Usaha penggemukan babi dengan pendampingan dari Kopdit Pintu Air, mengarahkan anggota dari cara beternak tradisional ke cara beternak modern dan profesional. Berternak babi, bagi masyarakat NTT sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. Ternak babi secara tradisional pada umumnya tidak memperhitungkan untung rugi. Apalagi analisa usaha, hal yang dianggap tidak penting. Masyarakat memelihara babi hanya sebagai hobi dan tradisi. Meski waktunya lama, dan biayanya besar, tidak dipedulikan.

Bagi anggota yang ingin meningkatkan usaha ekonomi produktif, Kopdit Pintu Air menyiapkan dana pinjaman permodalan. Komponen biaya yang harus diperhitungkan adalah: anakan babi, pakan, kesehatan babi, administrasi kredit dan jasa pinjaman untuk 4 bulan. Apabila dana pinjaman setelah diperhitungkan dengan komponen pembiayaan masih punya kelebihan akan disimpan sebagai dana cadangan, dan bisa gunakan untuk pembelian tambahan pakan setelah usia 4 bulan andai belum terjual atau digunakan untuk modal tambahan pengembangan usaha berikutnya.

Dusun Rotat, boleh jadi hanya sebuah dusun kecil biasa-biasa saja, seandainya Kopdit Pintu Air gagal mengemban misinya membangun ekonomi rakyat berbasis kesetaraan dan kebersaman. Dari dusun kecil itu semangat berkoperasi menggelora untuk memperbaiki perekonomian masyarakat. Perubahan mulai terlihat ketika Yakobus turun langsung sebagai ‘motor’ penggerak. Awalnya, ia memang hanya bermain di balik layar (part-timer). Maklum kala itu masih berstatus pegawai Bank BRI. Saat memasuki masa pensiun, 2010, Yakobus melibatkan dirinya secara total (full-timer). Pengalaman panjang di perbankan menjadi modal besar bagi upaya menumbuhkan Kopdit Pintu Air.

Terbukti, pada puncak acara Harkopnas ke-68 di Kupang, 2015, koperasi ‘kampung’ itu mengejutkan banyak orang, karena berhasil meraih 3 penghargaan sekaligus, yaitu; Satyalencana Pembangunan Bidang Perkoperasian, Koperasi Berprestasi Nasional 2015, dan Koperasi Award 2015. Tak banyak koperasi yang dalam satu momen mendapat 3 penghargaan sekaligus. Juga pernah menerima penghargaan Indonesia Platinum Winner 2013 Best of the Best categori as the Best Service Excellent of the Year dari Rajasa Group. “Memperoleh penghargaan menjadi beban moril, kami harus bersatu, kerja keras, dan inovatif mengembangkan usaha. Semua pihak; pengurus, pengawas, dan manajemen tidak boleh terlena, harus terus kerja keras agar prestasi makin meningkat,” jelas Yakobus.
Kopdit Pintu Air yang semula hanya bergulat di Dusun Rotat dan Maumere, terus berkembang, di seantero NTT mulai dari; Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Alor, Lembata, Adonara, Larantuka, Mamuere, Paga, Masebewa, Watuneso, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Cancar, Lembor, hingga Labuan Bajo. Bahkan menyeberang ke Jawa Timur, DKI Jakarta dan Makasar, Sulawesi Selatan. Kini Kopdit Pintu Air telah menjadi Koperasi Primer Nasional.

Karena koperasi adalah milik anggota, maka anggota diwajibkan mengontrol pergerakan koperasi. Kontrol sosial dengan cara mengawasi perilaku pengelola, mulai dari kantor pusat sampai kelompok. Setiap bulan digelar pertemuan, dan anggota sebagai pemilik bisa menyampaikan hasil pengamatannya selama sebulan. Sehingga, bila ada kesalahan bisa langsung diperbaiki. (adit – mar)

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment

Membangun Gerakan Ekonomi Kerakyatan dari Dusun

Setiap pengurus Kopdit harus menempatkan diri pada porsi masing-masing, dan semua harus 100%. Ketika sebagai pengurus harus mengurus pekerjaannya 100%. Konsep 100% adalah konsep pengaturan diri dengan tanggung jawab penuh. Tidak ada tanggung jawab yang disepelekan, dilalaikan, dan waktu yang 24 jam itu dimaksimalkan pengaturannya. Banyak pelatihan manajemen diri; Managing Yourself For Others (MYFO). Jika seseorang mampu mengatur diri, dia akan mampu mengatur kehadiran di lembaganya dengan baik.
Credit Union (CU) yang juga disebut Kopdit selalu diingatkan oleh Asian Confederation Credit Union (ACCU) bahwa Kopdit harus konsentrasi pada jiwa asli dari gerakan co-operative. Saat ini, gerakan co-operative penetrasinya tingkat dunia 8% dari total penduduk dunia. Karena itu, mengapa mesti ragu dan takut berpegang pada prinsip dan nilai co-operative yang justru dihayati di Kopdit.

Sejak tahun 1800-an sampai hari ini, co-operative economics adalah ekonomi jalan tengah. Tidak seperti joget Maumere, ekstrem ke kanan dan ekstrem ke kiri. Karena itu gerakan Kopdit menjadi harapan praktik ekonomi yang berkeadilan, praktik ekonomi kesejahteraan bersama, praktik ekonomi yang betul-betul bersama dengan umat manusia secara keseluruhan tanpa perbedaan. Yang punya modal banyak, atau yang penghayatan relegiusnya tinggi, tidak terlalu ditekankan. Yang ditekankan adalah kehidupan bersama.
Jika ikut forum internasional, seperti ACCU Forum, misalnya, kita akan diberi selembar kertas dan diminta untuk menulis satu tindakan konkret yang akan dilakukan untuk kebaikan manusia. Apakah akan peduli mengenai pohon, kesehatan, pendidikan. Tahun 2016 ketika PBB mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs), gerakan co-operative internasional langsung menerima sebagai amanah. Ketika MDGs diberikan kepada gerakan co-operative sebagai tujuan pembangunan abad XXI, langsung diterima tidak ditawar-tawar dan tidak didiskusikan. Untuk membangun dunia lebih baik, serta kehidupan yang lebih baik, tahun 2018 gerakan co-operative bersama PBB mencanangkan; Co-operative Beautiful World.

Kalau hari ini masih cerita Kopdit simpan pinjam dan SHU, itu berarti masih belum beranjak. Jika ingin beranjak lebih jauh harus berbicara mengenai pembangunan manusia berkelanjutan. Gerakan Kopdit adalah gerakan kerja sama, sehingga terlibat aktif dalam pengembangan sosial ekonomi masyarakat. Kalau tidak terlibat aktif dalam pembangunan sosial ekonomi masyarakat, itu bukan Kopdit. Tujuan sosial ekonomi, adalah menghasilkan barang dan jasa bagi kemajuan umat manusia.

Sebenarnya, sudah lama era produksi…. produksi…. produksi, kita lewati. Tetapi makin lama orang makin susah di muka bumi. Lingkungan makin panas, air makin menjadi masalah, bencana alam makin banyak. Ini akibat pola berfikir yang lama kita tanamkan. Kalau merefleksikan kembali Kitab Kejadian; “Beranak cuculah, berkembang banyaklah, dan kuasailah bumi.” Semua akan dikuasai sampai hacur-hancuran.

Pengalaman membuktikan, bila Kopdit lebih fokus pada pembangunan manusia, kredit lalai bukan perkara luar biasa, dan bukan momok yang menakutkan. Banyak Kopdit yang kredit lalainya di bawah 2% – 3%, dengan standar access branding. Bisa seperti itu karena yang diutamakan adalah pembangunan manusia. Masalahnya sederhana. Dulu anggota diperlakukan – dilayani simpan dan pinjam. Sekarang ada pelatihan merajut, wirausaha, finansial literasi, dan pertemuan anggota. Mereka juga berhenti berdebat tentang simpan dan pinjam. Berhenti berdebat tentang memberi kredit – pinjaman berlipat. Contoh, kalau punya simpanan Rp1 juta boleh pinjam Rp5 juta, simpanan Rp10 juta boleh pinjam Rp100 juta.

Berdasarkan pengalaman, Kopdit harus melayani orang agar hidupnya lebih baik, produk pelayanan harus bermanfaat. Sehingga mereka memiliki loyalitas – kesetiaan untuk menggunakan produk – pelayanan, termasuk membayar simpanan dan pinjaman secara tertib. Perlu segera ditinggalkan memperlakukan Kopdit sebagai business is user, berpraktik bisnis seperti koperasi simpan pinjam (KSP) pada umumnya, tidak khas co-operative bekerja bersama dan bersama membangun kehidupan yang lebih baik. Meskipun Kopdit juga melayani keuangan, tetapi tujuan dari bisnis Kopdit adalah membangun kehidupan yang lebih berkualitas. Itulah yang dapat ditawarkan dalam situasi sekarang.

Di era distrubsi, era eksponensial – perkembangan kemajuan berlipat-lipat tanpa bisa diprediksi, Kopdit tetap mampu mengikuti perkembangan. Tentu harus dikemas dalam teknologi yang ada. Tetapi prinsip co-operative tak boleh hilang, karena itu yang akan menyelamatkan gerakan. Gerakan Kopdit terus melakukan updating. Kalau kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo membangun dari kampung, sama seperti yang dilakukan Gerakan Kopdit. Dalam ditulisnya, Elenita V. San Roque, Chief Executive Officer ACCU mengatakan; “Membangun kesejahteraan masyarakat harus dimulai dari wilayah-wilayah dusun (inproof life of people village).” Jadi, bila globalnya sebagai gerakan, harus dimulai dari titik…, titik…, gerakan di RT – RW.

Berfikir dan bicara global memperbaiki nilai-nilai kehidupan, tetapi tidak mulai action, akan dipertanyakan, action-nya mana? Action-nya, masuklah ke Community village – dusun, wilayah Rt – Rw. Di situ kita berkarya untuk memperbaiki kualitas hidup orang – masyarakat. Diibaratkan, Kopdit itu menyalakan lilin. Jika kita menyalakan lilin, hendaknya tidak hanya di satu tempat, tetapi tersebar di banyak tempat, di Nusa Tenggara Timur (NTT), di Aceh, di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, Bali, dan sebagainya, sehingga di mana-mana menjadi terang.

Di Pulau Flores, NTT, tepatnya di Dusun Rotat, Desa Ladogahara, Kecamatan Nita, 12 Km arah barat Kota Maumere, mantan karyawan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Yakobus Jano bersama 50 orang lainnya, membidani lahirnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Koperasi Kredit (Kopdit) untuk menyejahterakan kelompok masyarakat Nelayan, Tani, Ternak dan Buruh disingkatnya NTTB. Visi utama KSP Kopdit Pintu Air yang didirikan 1 April 1995 adalah Mengangkat Harkat dan Martabat Orang Miskin Menjadi Orang Kaya. Jano mengakui beban maha berat mengangkat kelompok NTTB supaya kehidupannya lebih baik.

KSP Kopdit Pintu Air terus bertumbuh, dan sejak 2018 telah menjadi koperasi primer nasional karena telah mampu operasional di beberapa provinsi, yaitu; di NTT, DKI Jakarta, Surabaya, Jawa Timur, Makasar, Sulawesi Selatan dan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun secara hukum, status primer nasional baru diperoleh tahun 2019, tepatnya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI Nomor 000036/PAD/Dep.1/II./2019 tanggal 23 Februari 2019 yang ditandatangani Deputi Bidang Kelembagaan, Prof. Rully Indrawan, M.Si.

Perubahan status primer nasional, membuktikan dan dimaknai sebagai gerakan pemberdayaan dari kampung yang sangat membanggakan, sekaligus tantangan berast skala nasional yang harus dihadapi. Langkah konkritnya, harus mampu menyatukan debersamaan berbagai perbedaan; suku, bangsa, bahasa dan agama dalam wadah koperasi. “Bukan hanya sebatas kata-kata, Kopdit Pintu Air sejak awal sudah bergerak ke arah sana. “Kami ingin mewujudkan hinneka Tunggal Ika,” tegas Jano.

Rintisan membuka cabang di berbagai daerah diawali dari partisipasi dan kebersamaan warga perantau asal NTT, khususnya dari Flores. Para perantau itu tersebar di Batam, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Manado, Makasar, dan kota-kota lain di Indonesia. Semakin banyak lilin-lilin dinyalakan, teranglah dunia. Itulah co-operative. Misi Kopdit memang berbeda dibanding koperasi yang lain. Kopdit menciptakan nilai, melihat peluang, pendidikan moral – dalam arti perilaku bersama, persahabatan, komunitas, kesehatan, keuangan, dan rekreasi.

Cita-cita Kopdit Pintu Air menggapai aset senilai Rp 1 triliun akhirnya tercapai. Akhir tahun buku 2018, aset Rp 939 miliar, bulan Maret 2019 sudah tercapai Rp 1 triliun. Ditargetkan sampai akhir tahun 2019 aset menembus angka Rp 1,670 triliun. Beberapa tahun silam, pengurus bermimpi untuk memiliki gedung sebagai Pusat Gerakkan menyejahterakan masyarakat di Dusun Rotat, Desa Ladogahara, Kecamatan Nita, 12 Km arah barat Kota Maumere, jauh dari hiruk pikuk kota. Ketika mimpi itu terdengar di masyarakat, dicemooh banyak orang. Tetapi kini, KSP Kopdit Pintu Air telah menggapai mimpinya, berhasil membangun Gedung Megah berlantai tiga senilai Rp 15 Miliar. Arsitekturnya modern dilengkapi lif.

Dipilihnya lokasi di Dusun Rotat, karena kelahiran Kopdit Pintu Air di dusun tersebut. Dan gedung yang menjulang tinggi di antara rumah-rumah penduduk itu akan menjadi Monument Kebersamaan dan Pusat Gerakkan Ekonomi Kerakyatan, karena dibangun secara gotong-royong, sesuai nilai-nilai koperasi dengan melibatkan seluruh anggota. Ketika diwawancarai wartawan Majalah UKM 2 tahun silam, Jano menjelaskan bahwa setiap anggota iuran 2 ekor ayam atau setara Rp 100.000,- Sedangkan pengurus dan penelola dibebani sumbangan Rp 200.000,- per orang. Filosofinya, kawanan semut meski kecil-kecil jika menyatu gajah pun tak bisa melawan. Gedung baru berukuran 30 x 40 meter itu, diresmikan 3 Mei 2019, sekaligus pembukaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2018. Lantai 1 menjadi kantor cabang utama, lantai 2 kantor pusat dan lantai 3 menjadi hall yang mampu menampung 1.000 orang.

Kepada para anggota Kopdit Pintu Air, Jano menitipkan 3 pesan; Pertama, anggota harus merasa memiliki Kopdit Pintu Air. Kedua, anggota harus berpartisipasi aktif untuk memajukan Kopdit Pintu Air. Dan Ketiga, anggota harus selalu mawas diri. Kopdit Pintu Air adalah lembaga keuangan yang berani memberikan pinjaman tanpa jaminan materi apa pun. Karena itu semua harus menjaga kepercayaan yang berikan. “Jangan sampai ada anggota yang rumahnya dikunjungi petugas karena lalai mengangsur pinjaman,” pesan Jano.
Ketika Kopdit ingin menuju access branding, agar tidak mengalami kesulitan tata kelolanya harus diproses dari misi. Bercita-cita meraih access branding, tetapi tidak mau membangun di atas misi dasar, akan sulit mencapai standar tata kelola. Banyak Kopdit merasa heran, sudah 3 tahun ikut access branding, tetapi tidak diproses oleh Inkopdit, tidak bisa diproses ACCU. Itu, karena pendekatannya hanya dari administrasi dan keuangan. Kita tidak bisa bicara impact social jika tidak memperkuat pelaksanaan misi sejati.

Banyak yang menghabiskan energi, rapat demi rapat berdebat, berkelahi tentang setruktur keuangan yang tidak sehat, karena lupa misi sejati yang fokus kepada orang, fokus pada komunikasi dan fokus value memperbaiki kualitas hidup orang. Cita-cita Friederich Wilhelm Raiffeisen pendiri CU, agar kemiskinan semakin hilang kita harus memperkuat orang yang menolong dirinya dari kekuatan sendiri, dikelola dengan baik dan tanggung jawab yang kuat.

Memang perlu kolaborasi dengan banyak pihak, namun bagi Raiffeisen menghilangkan kemiskinan harus diimbangi dengan kemandirian pribadi, kemandirian pengorganisasian bersama, kemampuan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama yang lebih luas. Itu sejatinya gerakan Kopdit. Kita tidak bisa, mau menghilangkan kemiskinan tetapi lupa prinsip gerakan Kopdit. Karena anggota sebagai pusat pelayanan, maka mereka adalah pusat dari tata kelola. Pengurus harus tahu apa saja; nilai, aspirasi, kebutuhan, dan potensi mereka. Itulah yang menjadi pergulatan.

Jadi, bisnis Kopdit adalah memberdayakan anggota. Anggota harus dicerdaskan, bisnisnya didampingi agar tumbuh dan berkembang menjadi besar. Anggotalah yang harus berbisnis, dan harus diberdayakan. Ada yang berpendapat, Kopdit selayaknya tidak usah spin off – mengembangkan berbagai kegiatan usaha. Tugas pengurus memberikan stimulus dan team asistensi – pendampingan kepada anggota agar mereka mengembangkan apa yang menjadi aspirasnya.

Karena potensi antara Kopdit satu dengan Kopdit yang lain berbeda, maka yang harus dieksplor adalah pontensi di wilayah masing-masing, membangun di wilayah dusun. Suatu Kopdit juga tidak bisa 100% menduplikasi pengalaman Kopdit lain. Tingkat kesulitan dan keberhasilannya pun berbeda-beda. Kalau melihat Korea, di sana koperasi menyediakan space – ruang cukup besar bagi anggota untuk berkreasi, mengungkapkan diri. Create values, sebenarnya bukan barang baru, dan kita tidak mengada-ada, karena inti sejati dari Kopdit basisnya di situ. Tantangannya, bagaimana Kopdit bisa menyediakan layanan yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan manusia, sesuai dengan perjuangan kehidupan kita.
Karena Kopdit itu masalah humanis, masalah kebutuhan manusia, kalau ada kondisi kurang baik harus segera dilakukan langkah-langkah penyelamatan. Jika bangunan Kopdit diperkuat dari misinya, akan menjadi sangat kuat, tidak susah di kemudian hari. Nilai-nilai Kopdit tidak akan terealisasi jika tidak dihayati oleh semua aktivis Kopdit. Karenanya Kopdit harus three in one; “Saya member- anggota, saya leader – pemimpin, saya volunteer– relawan.”

Banyak referensi tetang kekuatan volunteer. Tetapi ada hal penting jika volunteer dikaitkan dengan non profit organization – organisasi nirlaba dan non governance organization – lembaga swadaya masyarakat. Bagi mereka yang bekerja sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) atau karyawan swasta, agak sulit bicara volunteer. Tetapi sebagai gerakan yang tidak statis – tidak difungsikan sebagai institusi belaka, volunteer dibutuhkan.

Dalam gerakan reformasi sosial lebih praktis untuk mengandalkan relawan yang bekerja akhir minggu atau setelah makan malam tanpa bayaran, daripada membayar staf profesional yang bekerja 8 jam sehari. Ada pertanyaan, bagaimana kita bisa kembali memiliki volunteer kalau aset Kopdit masih kecil. Masalahnya di mana? Jika gerakan Kopdit ingin terus menjadi kekuatan untuk tanggung jawab sosial dan kerja sama ekonomi, para anggota dan pemimpinnya harus ingat bahwa relawan sangat dibutuhkan, dan terlatih sehingga menjadi kekuatan besar.

Gerakan Kopdit termaju di dunia adanya di Amerika Utara, Kanada, Amerika Serikat, dan seterusnya. Yang paling banyak bergerak adalah volunteer. Menurut penelitian, ketika diperbandingkan antara volunteer dengan non volunteer, atau yang dibayar dengan yang tidak dibayar, dari berbagai aspek hasilnya lebih signifikan yang tidak dibayar. Siapa volunteer di Kopdit? Bila didefinisikan, semua bisa menjadi volunteer. Di Kalimantan namanya Kelompok Inti, di beberapa Kopdit ada yang namanya, Sanayoka, Sedulur, Sahabat Sejahtera, dan Kerabat (Kelompok Relawan Buat Anggota). Sebenarnya; pengurus, pengawas, komite, bahkan staf pun volunteer, dalam arti spirit.

Para aktivis harus menghidupi nilai-nilai utama kehidupan Kopdit. Maka dalam skema Kopdit three in one, yang bisa mengajar di komunitas adalah volunteer yang mempraktikkan nilai-nilai kehidupan. Contoh, bila volunteer mengajak komunitas mengembangkan peternakan, pertanian, perkebunan, mestinya dia sendiri sudah mempraktikkan bagaimana berternak, bertani, dan berkebun dengan baik. Sehingga jika ada pertanyaan dari komunitas; “bapak beternaknya di mana, kebunnya di mana, sawahnya di mana, bisa menjawab. Jika volunteer mengajak; “Ayo kita cerdas keuangan.” Tetapi ketika ada yang bertanya; “Apa bapak sudah cerdas keuangan?” Dan dia tidak bisa menjawab, efeknya akan kurang baik.

Karena Kopdit merupakan kumpulan orang yang sepakat untuk suatu perjalanan bersama menuju kehidupan yang lebih baik, maka ada orang yang berperan sebagai perencana, mengarahkan, mengambil keputusan, dan mengimplementasikan. Kopdit yang ingin mencapai sebuah standar, harus memaksimalkan fungsi dan kehadiran masing-masing secara aktif dan memiliki kontribusi memadai. Itu yang akan menentukan keberlanjutan Kopdit di masa depan. Maka harus segera ditinggalkan cara kerja dengan menggantungkan diri pada figur- individu tertentu. Sebab, ketika orang tersebut tidak mengambil bagian lagi, Kopdit-nya akan mengalami kemunduran. Kaderisasi harus dibuat dalam system yang baik sehingga melahirkan kader-kader potensial. (adit-mar)

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment