Rp 150 Triliun Untuk Memulihkan Sosial Ekonomi

Juni, nama bulan keenam itu kabarnya berasal dari nama Dewi Juno, isteri dari dewa Jupiter, dalam meitologi Romawi. Kabarnya lagi, Dewi Juno setara dengan Dewi Hera, isteri Zeus, mahadewa dalam mitologi Yunani. Tentu bukan karena Dewi Juno adalah ratunya para dewa maka kita menunggu bulan yang menggunakan namanya. Bulan Juni 2020 diharapkan saat berakhirnya krisis wabah virus Covid-19. Setidaknya, itulah harapan dengan penetapan masa darurat bencana wabah Covid-19 hingga 29 Mei 2020

Apa yang dapat diharapkan terjadi pada bulan Juni? Pertama, tentu masih terkait dengan wabah virus Covid-19 itu sendiri. memang rumus penanganan wabah Covid-19 masih terus dicari, ibaratnya ‘we are building a ship while sailing it’. Dan dalam bulan Juni ‘kapal itu’ diharapkan sudah selesai dan kita dapat berlayar dengan lebih percaya diri. Salah satu wujudnya adalah obat atau vaksin Covid-19 dudah diproduksi dan sudah dapat dipergunakan, atau setidaknya, sudah ada kemajuan yang lebih berarti lagi dalam bidang itu.

Tatacara pengobatan dan penanganan penyakit juga sudah semakin mantap dan efektif. Infrastruktur kesehatan untuk penanganan wabah sudah lebih tersedia dan berfungsi lebih baik. Kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam penangan penyakit sudah pada tingkat yang tinggi. kesemua itu membuat pertambahan pasien atau warga yang tertular Covid-19 sudah akan jauh berkurang dan korban yang meninggal sudah dapat ditekan hingga minimal.

Kedua, diharapkan kehidupan sosial ekonomi mulai menggeliat kembali di bulan Juni. Toko-toko dan bisnis muai berjalan. Pabrik-pabrik berbagai proses produksi, logistic dan perdagangan mulai berjalan. Orang-orang telah mulai kembali bekerja dan pendapatan sudah mulai kembali normal, daya beli menguat kembali.

Pelaku usaha tentu masih dalam proses pemulihan dari tekanan bisnis dan ekonomi yang terkena dampak wabah Covid-19 selama Januari – Mei. Namun ‘obat ekonomi’ juga telah disiapkan; dan tampaknya ‘obat ekonomi’ ini jauh lebih besar dan lebih pasti dari proses penanganan wabah Covid-19nya sendiri.

Amerika Serikat meluncurkan stimulus ekonomi hingga US$ 2 triliun untuk membantu ekjonominya keluar dari pengaruh wabah. Uni Eropa menggelontorkan ‘obat ekonomi’ senilai US$ 800 miliar. Jepang melakukan injeksi ekonomi senilai US$ 500 miliar, dan China mengeluarkan paket ekonomi senilai US$ 400 miliar. Belum lagi negara-negara ekonomi besar seperti Jerman dan Inggri yang juga mengeluarkan miliaran dola untuk menstimulus ekonomi agar segera keluar dari pengaruh wabah. Tampaknya ini akan menjadi paket stimulus ekonomi global dalam sejarah.

Kesemua usaha tersebut diharapkan akan membuat ‘kesehatan ekonomi’ dunia lebih baik, setidaknya berangsur-angsur membaik selama Smester ke-2 tahun 2020. Dan seperti halnya wabah, dalam keterkaitan negara yang kian erat secara global ekonomi yang membaik di negara-negara lain, terutama di negara-negara besar itu, akan berdampak nyata ke ekonomi Indonesia.

Pemerintah Indonesia juga telah menyiapkan pake stimulus ekonomi senilai kurang lebih US$ 10 miliar atau setara Rp 150 triliun untuk memulihkan sosial ekonomi domestic setelah wabah virus Covid-19 berakhir. Injeksi sebesar itu disebar di sektor; pariwisata, kesehatan masyarakat, industri, jejaring pengaman sosial, dan dukungan langsung untuk mempertahankan daya beli masyarakat.

Tentu masih harus ditunggu bagaimana pelaksanaan pemberian seluruh ‘obat ekonomi’ itu nantinya. Dan bagaimana obat itu dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat yang sekarang sudah menderita secara ekonomi, disamping sedang berjuang menghadapi wabah. Tetapi paling tidak, ‘cahaya di ujung terowongan gelap’ wabah Covid -19 ini sudah terlihat.

Pelaku usaha perlu bersiap. Memang sekarang harus menahan diri, menutup usaha terlebih dahulu, tidak melakukan kegiatan, tidak melakukan ekspansi; namun banyak hal yang dapat dipersiapkan dengan bekerja di rumah. Bersiap, aktif mencari informasi tentang paket stimulus, bangun komunikasi, perkuat jejaring bisnis, jaga hubungan dengan seluruh mitra, lakukan konsulidasi dengan pegawai dan karyawan. Bersiap, sehingga bila stimulus itu tiba pelaku usaha memang akan mendapat manfaat yang optimal dari berbagai paket stimulus yang memang ditujukan bagi mereka. (Red)

Posted in Dari Redaksi | Tagged | Leave a comment

Melawan Persaingan dengan Partisipasi Penuh dan Terus Menerus dari Anggota Koperasi

Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2019 bagi dua koperasi berbeda jenis usaha, satu Koperasi Serba Usaha (KSU) Tunas Jaya dan satu lainnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Wira Karya Jaya yang diselenggarakan secara bersamaan pada 1 Maret 2020 di tempat yang sama, Graha Pemuda, Senayan, Jakarta, bukan kali pertama. Tahun buku 2018 silam keduanya juga melaksanakan RAT bersamaan di Auditorium Kampus Lembaga Adminstrasi Negara (LAN), Bendungan Hilir, Jakarta.

Kebersamaan melaksanakan RAT itu dimaksudkan untuk efesiensi biaya karena biaya gedung, misalnya, ditanggung berdua. Namun, konon kabarnya adalah sebuah rintisan kerja sama lembaga yang bukan tidak mungkin kelak akan melangkah lebih jauh, misalnya, melakukan amalgamasi – peleburan bergabung menjadi satu lembaga. Ketika hal itu Majalah UKM tanyakan kepada Ketua KSU Tunas Jaya H.Sugiharto, dijawab bahwa belum ada rencana konkret untuk melakukan amalgamasi. Namun, karena banyak anggota KSU Tunas Jaya juga menjadi anggota Kowika Jaya, atau sebaliknya.

Untuk melebur jadi satu lembaga memang dibutuhkan kajian-kajian mendalam agar tidak menimbulkan dampak negatif dan merugikan anggota koperasi. Setiap terjadi perubahan yang diharapkan adalah dampak positif menuju kondisi, yang lebih baik. Namun sejatinya, selintas melihat suasana kebatinan para anggota saat RAT bersama telah mencerminkan adanya harmoni yang memungkinkan mereka berada dalam satu lembaga. Karena KSU Tunas Jaya juga memiliki unit simpan pinjam (USP) sedangkan KSP Kowika Jaya usaha utamanya adalah simpan pinjam, inilah yang mungkin akan sedikit mempermudah penggabungan.

Terkait dengan perkembangan usaha sepanjang tahun buku 2019, dimana KSU Tunas Jaya telah genap berusia 43 tahun, suatu usia yang boleh dibilang tidak muda lagi, dan menurut Sugiharto dalam kondisi gampang-gampang susah, atau berat-berat enteng, tetap bersyukur karena KSU Tunas Jaya masih mampu bertahan, bahkan jalan pelan-pelan. “Hal itu dimungkinkan karena dukungan dan partisipasi semua anggota, yang kini jumlahnya 1.003 orang,” jelas Sugiharto.

Kalau melihat perkembangan ekonomi tahun 2019, secara nasional, lanjut dia, hampir seluruh sektor usaha mengalami pelambatan, tidak seperti yang diharapkan semua pihak. “Apalagi sektor koperasi, usaha kecil dan mikro. Beban semakin berat akibat wabah korona – Cocid-19 yang menjadi wabah seluruh dunia. Namun kita harus tetap bersemangat untuk tidak menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai suatu masalah berlebihan. Kita harus mencari solusi terbaik agar mampu bertahan dan bertumbuh,” katanya optimis.

Dalam laporan pertanggungjawaban pengurus Sugiharto menyampaikan bahwa perkembangan koperasi diukur dari volume usaha tahun 2019 relatif sama dengan tahun 2018. Hal ini karena adanya beberapa faktor, baik internal dengan anggota maupun eksternal pengaruh kondisi umum bidang usaha mikro, dimana sebagaian besar anggota KSU Tunas Jaya adalah pelaku usaha mikro – kecil (UMK) yang belum mampu bersaing dengan usaha-usaha besar. Terutama usaha-usaha warung sembako kalah dengan hypermarket – supermarket dan minimarket.

Pertumbuhan KSU Tunas Jaya diakui cukup lambat, namun tetap bersyukur karena tidak stag – berhenti total. Sebagai gambaran, total aset bertumbuh 4%, masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang tahun 2019 mencapai 5,2%. Untuk total pinjaman yang diberikan kepada para anggota tumbuh 5%, hampir mirip dengan pertumbuhan nasional. Sedangkan modal sendiri tumbuh 2%, istilahnya Pak Samin alias sangat minim. Total kewajiban lembaga tumbuh 3%. Artinya partisipasi, tabungan anggota dan sebagainya masih cukup lumayan. Namun perlu ditingkatkan. Walau tahun 2020 tantangannya jauh lebih berat. Total tabungan anggota, khusus tabungan tumbuh 0,25%. Analisa laporan keuangan tahun 2019, likuiditas masih mencapai 178%, berarti masih sangat likuid. Solvabilitas 116% dan rentabilitas 3%.

“Itulah kondisi perkembangan KSU Tunas Jaya sepanjang tahun buku 2019. Justru dalam persaingan yang sangat ketat ini hanya bisa dijawab dengan bagaimana anggota bisa memenuhi seluruh kewajibannya, berpartisipasi secara penuh dan terus menerus terhadap usaha koperasinya. Hanya dengan cara itulah persaingan bisa dilawan,” tegas Sugiharto.

Ketua Kowika Jaya periode 2018 – 2021, Supriyanto, S.Pd dalam RAT ke-23 itu melaporkan tentang perkembangan usaha koprasi yang dipimpinnya selama tahun buku 2019, antara lain; pelaksanaan program kerja berjalan baik, jumlah anggota per 31 Desember 2019 menpai 516 orang, dilayani karyawan 104 orang. Total aset lembaga sampai akhir Desember 2019 mencapai Rp 44 miliar. Namun modal sendiri tabungan dari anggota baru mencapai Rp 7,5 miliar. Kewajiban lembaga cukup sebesar yaitu 32,6 miliar. Sedangkan realisasi dari Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) khusus untuk pinjaman anggota yang ditetapkan hanya mencapai 90%. Tabungan anggota juga hanya mencapai 97%, pendapatan tercapai 84%, dan surplus hasil usaha tercapai Rp 146 juta.

Tidak tercapainya 100% program yang ditetapkan, karena begitu banyak kendala yang dihadapi. Pangsa pasar anggota Kowika Jaya di pasar-pasar tradisional di wilayah pinggiran Kota Jakarta Timur, juga tidak terlepas dari perkembangan ekonomi nasional yang sangat lesu, daya beli masyarakat sangat rendah akibat banyak perusahaan tutup dan PHK karyawan menambah jumlah pengangguran. Tidak adanya keberpihakan pemerintah, khususnya pemerintah daerah terhadap ekonomi kerakyatan tercermin dari tiadanya pembinaan kepada koperasi dan usaha mikro kecil. Bahkan penertiban kepada pedagang kaki lima (PKL) yang dilakukan oleh Satpol PP semakin tidak manusiawi karena menyita peralatan dan dagangan mereka. Padahal para pelaku usaha mikro itu menggunakan modal pinjaman.

Dampak dari usaha-usaha besar, usaha multinasional yang masuk ke wilayah usaha rakyat sangat memberatkan rakyat kecil dan menghancurkan usaha mikro kecil. Belum lagi dampak kenaiakan harga barang-barang kebutuhan pokok lainnya, seperti sembako, menambah kesulitan rakyat kecil untuk berusaha dan mendapatkan lapangan pekerjaan baru.

Pemerintah di segala tingkatan; baik pusat, provinsi, kabupaten – kota, menurut Undang-undang (UU) No 25 tahun 1992 tentang perkoperasian, khususnya Pasal 60 s/d 65 berkewajiban membina, memberdayakan, menumbuhkembangkan, menciptakan kondisi kondusif bagi bisnis koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Namun untuk Pemprov DKI Jakarta sampai saat ini tingkatnya masih dalam wacana, wacana dan wacana bagaimana menghidupkan, menumbuhkembangkan, menggairahkan dan memotivasi koperasi dan usaha mikro – kecil.

Program OC Oke yang dulu dijadikan andalan kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada) Gubernur DKI Jakarta oleh pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno, sehingga mereka meraih kemenangan, juga masih dalam bentuk wacana, belum ada implementasi yang menyentuh ke lingkungan usaha mikro, kecil, dan koperasi. “Semua terpulang ke pemerintah daerah untuk meninaklanuti,” tegas Sugiharto.

Satu hal yang sangat ironis, lanjut dia, untuk kegiatan usaha Pemprov DKI Jakarta menetapkan system zonase; hijau, kuning dan merah. Yang namanya usaha mikro – kecil, domisilnya pasti di lingkungan masyarakat kecil berpenghasilan rendah, zonasenya, merah sehingga tidak akan mendapatkan keterangan domisili. Untuk bisa mendapatkan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR), program pemerintah pusat yang bunganya sangat murah hanya 6% per tahun, tidak bisa karena tidak memiliki domisili.
Padahal, fasilitas permodalan dengan bunga rendah sangat dibutuhkan pelaku usaha mikro kecil. “Ini yang tidak sinkron. Yang salah bukan karyawannya, tetapi pejabat yang menetapkan zonase tanpa kecuali itulah yang salah. Koweka Jaya, misalnya, karena kantornya berada di zona merah, sampai sekarang tidak memiliki surat domisili. Anaknya sendiri buka usaha dipersulit, sehingga untuk memperpanjang surat motor saja ruwet. Karena domisili itu mutlak,” tegas Sugiharto.

Untuk memotivasi para anggota agar lebih aktif berpartisipasi dan bertransaksi dengan koperasi, baik KSU Tunas Jaya maupun Kowika Jaya sama-sama memberikan penghargaan kepada anggota terbaik dan penabung terbaik. Kecuali piagam juga hadiah sebuah teve 32 inc. Kepada siswa-siswi (SD, SMP dan SLTA) anak anggota yang dianggap kurang mampu juga diberikan bantuan biaya pendidikan. Untuk tingkat SD sebesar Rp 1 juta, SMP Rp 1,2 juta dan tingkat SLTA Rp 1,5 juta. Harapannya, kata Supriyanto maupun Sugiharto, kelak mereka menjadi penerus gerakkan koperasi, dan wiraswasta koperasi.

Dalam kondisi perekonomian nasional yang sedang kurang baik, namun KSU Tunas Jaya dan KSP Kowika tetap berjalan maju. Surplus hasil usaha (SHU) memang yang diharapkan oleh setiap orang yang memiliki kegiatan usaha. Namun SHU yang menurun, tidak perlu dirisaukan. Jika kegiatan usaha tersebut dikelola dengan prinsip kehati-hatian, diyakini, ke depan masih ada kesempatan untuk bertumbuh berkembang dan maju. (adit – mar)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

KPPD DKI Jakarta Menuai Hasil dari Tanamannya

Bagi Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) DKI Jakarta, yang tahun 2019 genap berusia 40 tahun, usia yang boleh dibilang sangat matang bagi sebuah organisasi. Namun laporan tahun buku 2019 yang dilaksanakan pada 27 Februari 2020 di Auditorium Wisma Antara, Jakarta, merupakan kali pertama pengurus dan pengawas melaporkan pertanggungjawaban kinerja yang program kerjanya telah disahkan dalam Rapat Anggota Khusus (RAK) tahun sebelumnya (2018).

Selama ini, program kerja KPPD DKI Jakarta selalu disahkan berbarengan saat Rapat Anggota Tahunan (RAT). Walau RAT selalu dilaksanakan awal tahun, sekitaran bulan Februari, namun dampaknya pengurus, pengawas dan manajemen hanya punya waktu bekerja untuk melaksanakan program kerja selama 10 bulan karena per 31 Desember tahun berjalan juga sudah harus tutup buku. Akibatnya, hasil eksekusi program juga kurang optimal. Sebab, jika disahkan bulan Februari, baru pada bulan Maret bisa memulai kerja dengan program baru.

Menurut Ketua Umum KPPD DKI Jakarta, H. Hasanuddin, B.Sy, SH, dari aspek pelaksanaan tiga unsur utama dapat terlaksana dengan baik. Pertama, pengelolaan organisasi dan kelembagaan secara umum kegiatannya terlaksana dengan lancar dan baik. Pengurus telah melakukan pendidikan dan pelatihan (Diklat) kepada anggota yang dibagi dalam 2 katagori yaitu tingkat dasar dan lanjutan.

Pelaksanaan Diklat di Royal Safari Garden Hotel, salah satu hotel bintang 4 di kawasan wisata berudara sejuk, Cisarua – Puncak, Bogor, Jawa Barat pada 20 – 21 September 2019. Tujuan dari Diklat yang diikuti 250-an peserta tidak hanya menanamkan ilmu berkoperasi secara baik dan benar, tetapi juga untuk membangun kecintaan dan sikap militansi terhadap koperasi, terutama tentu bagi KPPD DKI Jakarta sebagai miliknya.

Kemudian Diklat kedua 2019 dilaksanakan khusus bagi anggota yang 3 – 5 tahun ke depan jelang purna tugas. Diklat perdana bagi calon pensiunan yang diikuti 75 peserta itu dilaksanakan di Bandung. Tujuannya memberikan bekal kepada mereka agar bisa mempersiapkan diri menjadi wirausaha tangguh. Program tersebut merespon saran Wakil Gubernur (kemudian menjadi gubernur) DKI Jakarta Syaefulah Yusuf agar KPPD mempersiapkan anggotanya menjadi wirausaha setelah pensiun tidak nganggur total. Menurut Syaefulah, setelah pensiun potensi anggota menjadi wirausaha ada.

Diklat memang diprioritaskan bagi anggota yang 3 – 5 tahun jelang pensiun, karena, menurut Hasanuddin, tahun pertama mereka belajar praktek usaha. Misalnya, buka warung di rumahnya, atau buka bengkel. Dua tahun belajar, pada tahun ketiga saat pensiun, sudah paham benar cara mengelola usahanya. Soal modal, KPPD yang mendukung melalui pinjaman. Jika anggota punya kegiatan usaha, koperasi akan sangat diuntungkan. Anggota tidak harus keluar, dan keuangan koperasi akan terus berputar dengan lancar.

Diklat yang baru kali pertama dilaksanakan itu adalah realisasi MoU kerja sama antara KPPD DKI Jakarta dengan Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN), Jatinangor, Bandung, Jawa Barat satu-satunya perguruan tinggi koperasi di Indonesia. Karena baru kali pertama, sifatnya masih bisnis secara umum. Namun untuk pelaksanaan yang akan datang akan disesuaikan dengan minat dan bakat peserta. Misalnya, Diklat tentang bagaimana ternak lele, ternak ayam, membuka rumah makan, dan sebagainya. Mereka akan mendapatkan pinjaman modal dengan jasa rendah.

Sebagai realisasi kerja sama KPPD – Ikopin, pelaksana Diklat Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBI) Ikopin. Sedangkan KPPD DKI Jakarta akan menjadi Kampus Praktek mahasiswa Ikopin yang akan mengakhiri masa kuliahnya. Menurut Rektor Ikopin Prof. DR. Ir Burhanuddin Abdullah, MA, ini adalah kali pertama perguruan tinggi yang dipimpinnya menjalin kerja sama formal dengan koperasi. “Saya sering menandatangai MoU – kerja sama. Tetapi kalau tidak dengan perbankan, dengan Pemerintah Daerah yang memberi tugas belajar bagi pegawainya,” jelas mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu.

Dari kegiatan usaha, khususnya penyaluran pinjaman kepada anggota realisasi untuk tahun buku 2019 dilaporkan tidak mencapai target karena semakin banyaknya persaingan dengan bank-bank yang melakukan promo ke SKPD – UKPD Pemprov DKI Jakarta dalam menawarkan produk pinjamannya. Sedangkan KPPD DKI dalam melayani pinjaman kepada anggota tetap menganut prinsip kehati-hatian agar tidak terjadi kredit macet. Untuk itu manajemen selalu berusaha memberikan layanan prima.
Dalam upaya melindungi terjadinya resiko pinjaman uang kepada anggota sebagai bentuk menjaga keutuhan modal, pengurus KPPD DKI pada awal tahun 2018 telah mengeluarka suatu kebijakan tentang dana resiko pinjaman anggota dengan cara mengelola sendiri secara professional. Hal ini sangat membantu apabila anggota meninggal dunia, ahli waris tidak terbebani kewajiban hutangnya. Selain itu manfaatnya pun dapat dirasakan oleh ahli waris karena dapat menerima pengembalian pinjaman yang telah dibayarkan oleh anggota. Selama tahun 2019 anggota KPPD DKI Jakarta yang meninggal dunia dan mempunyai hutang telah melakukan klaim dana resiko ke koperasi sebanyak 32 anggota dengan jumlah uang pertanggungan sebesar Rp 2,219 miliar lebih.

Usaha utama KPPD DKI memang simpan pinjam. Walau tidak mencapai target, namun usaha lain, kredit elektronik pada tahun buku 2019 penyalurannya meningkat sangat signifikan. Realisasi penyaluran kredit elektronik mencapai Rp 13,393 miliar dari rencana yang hanya Rp 8,730 miliar. Meski banyak toko elektronik dan perusahaan lain menawarkan kredit elektronik kepada anggota KPPD DKI, namun mereka masih lebih tertarik kredit ke koperasinya sendiri. Karena koperasi memberikan kemudahan.

Juga dilaporkan bahwa kredit pembiayaan untuk sepeda motor pun meningkat, dan melampaui target. Tahun 2019 KPPD DKI berhasil menjual sebanyak 1.011 unit kendaraan dengan nilai jual sebsar Rp 32,269 miliar dari rncana penyaluran sebanyak 988 unit dengan nilai sebesar Rp 27,260 miliar. hal ini juga lantaran ada kemudahan dalam prosedur penjualan yang ditawarkan KPPD DKI kepada anggota. Bahkan angsurannya pun lebih ringan daripada dealer-dealer motor lainnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, KPPD DKI juga merambah bisnis dibidang rumah kost. Kini sudah memiliki dua lokasi, yaitu 10 kamar yang terletak di belakang secretariat, di Jl Jaksa No 25 Jakarta Pusat dan 7 kamar di Kota Bambu Jakarta Barat. Masih ada satu lagi rumah kontrakan yang dikelola oleh pihak ketiga yaitu rumah di Kota Bambu Selatan sebanyak 9 kamar. Ada pula kios-kios yang disewakan antara lain; di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, di Sunter Podomoro, Jakarta Utara dan di Perumahan Karyawan DKI Jakarta di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi jelang lebaran, setiap tahun KPPD DKI juga menjalin kerja sama dengan PD Dharma Jaya, salah satu Perusahaan Daerah (PD) milik Pemprov DKI Jakarta. Pada tahun 2019 penjualan paket daging jelang lebaran mencapai Rp 86, 325 juta dari rencana Rp 100 juta.

Sesuai program kerja tahun 2019 tentang penjualan online, KPPD DKI telah melakukan Perikatan Kerja Sama (PKS) dengan PT Outlet Worldwide Indonesia, sebuah perusahaan perdagangan digital berbasis aplikasi android yang mampu mengakomodir dan menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga termasuk sembako. Kerja sama ini bertujuan untuk lebih meningkatkan kualitas dan model pelayanan kepada anggota. Termasuk menyediakan kemudahan dalam berbagai macam transaksi pembayaran jasa online seperti; tagihan listrik, telpon, pulsa HP dan lain-lain yang pembayarannya bekerja sama dengan anak perusahaan Bank BRI. Inovasi bisnis terus diekmbangkan, dan kini KPPD DKI juga telah memiliki SPBU. Dari berbagai program bisnis, secara akumulatif, kata Hasanuddin tahun buku 2019 mencapai target 100% sehingga berhasil meraih surplus hasil usaha (SHU) bersih Rp 10,049 miliar. Lebih besar dari tahun buku sebelumnya, 2018 yang sebesar Rp 7,939 miliar.

Seperti tahun-tahun sebelumnya KPPD DKI yang kini memiliki total liabilitas dan kekayaan bersih (aset) sebesar Rp 251,718 miliar selalu membagikan hadiah akhir tahun kepada 11.288 anggota. Seperti; menunaikan ibadah umrah ke tanah suci bagi yang Muslim atau wisata rohani ke Yerusalem bagi yang Kristiani. Jumlahnya cukup banyak, untuk 4 orang. Kemudian ada 4 hadiah sepeda motor, 6 unit teve LED 43 inc, 6 unit mesin cuci, 350 teve unit 32 inc, 6 unit kulkas dua pintu, 6 unit AC, 450 unit kompor gas bagi anggota yang pensiun, dan vocher belanja jelang hari raya Idul Fitri. Jumlah hadiahnya, kata Hasanuddin, terus meningkat, khususnya vocher belanja. Bagi anggota yang meninggal dunia, ahli waris – keluarga juga diberikan uang duka Rp 3 juta.

Dalam gerakkan koperasi Indonesia, KPPD DKI yang kini telah genap berusia 40 tahun termasuk salah satu koperasi besar dan sehat sehingga mampu melayani anggota dengan prima. Di berbagai kesempatan, Hasanuddin selalu mengatakan bahwa pengurus dan manajemen akan selalu melayani anggota dalam waktu cepat. Untuk pelayanan transaksi pinjaman, misalnya, dijanjikan 15 menit pinjaman bisa cair. Dengan catatan, semua persyaratan lengkap dan anggota masih memiliki gaji dan TKD mencukupi untuk dipotong sebagai angsuran.

Dengan jumlah anggota telah mencapai 11.288 orang, jika potensi yang dimiliki KPPD DKI terus dieksplor dan dikelola dengan prinsip kehati-hatian dipastikan koperasi ini akan berkembang pesat. Apabila semua anggota menyadari bahwa koperasi adalah perusahaan milik sendiri, dan anggota bersepakat menghimpun dana investasi diluar simpanan wajib sebesar Rp 400.000,- per bulan dan simpanan sukarela, minimal Rp 1 juta per anggota per tahun, maka akan dapat terkumpul dana segar ratusan miliar per tahun. Dari sektor usaha, khususnya untuk kebutuhan sehari-hari (sembako dan sebagainya) bila setiap anggota rata-rata belanja Rp 3 juta per bulan, omzetnya sekitar Rp 30 miliar per bulan, atau Rp 360 miliar per tahun. Bila dari transaksi itu koperasi untung 5%, keuntungan per tahun dari kebutuhan sehar-hari tidak kurang dari Rp 18 miliar. Potensi-potensi tersebut perlu ioptimalkan.

Dari segi kepengawasan, Badan Pengawas (BP) yang diketuai oleh Drs. H. Subaning R,MM melaporkan bahwa sesuai Peraturan Menteri Koperasi dan UKM No 15 Tahun 2016 (pembaharuan) tentang pendapatan hasil usaha koperasi sebesar Rp 1 miliar ke atas wajib diaudit oleh akuntan publik. Untuk itu KPPD DKI mepercayakan kepada akuntan independen Abdul Aziz Fiby Ariza, melakukan audit seluruh transaksi dan kekayaan lembaga pada kurun waktu 2019. Hasil audit menjelaskan bahwa KPPD DKI Jakarta mendapat kreteria Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Dari pengawasan internal, menurut Subaning, menunjukan adanya peningkatan baik hasil yang dicapai maupun peran dan fungsi manajemen pengelolaan KPPD DKI Jakarta oleh pengurus dan segenap jajaran serta para karyawan. ”Dan yang tidak kalah penting kepercayaan dan partisipasi anggota terus meningkat. Ini tidak lain karena hasil Diklat yang terus dilaksanakan secara berkesinambungan dan berjenjang sehingga anggota semakin paham bagaimana berkoperasi secara baik dan benar. Tidak hanya menuntut hak, tetapi juga tahu bagaimana kewajibannya. Artinya, kini KPPD DKI telah mulai menuai hasil dari apa yang ditanam, yaitu melakukan Diklat dan pembinaan,” jelas Subaning.

Pengawasan dilakukan pada pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan aktifitas yang dilakukan baik pengurus, karyawan maupun anggota. Pengawasan dilakukan secara periodic perkembangan usaha dan keuangan, kemudian hasilnya dilaporkan kepada pengurus setiap triwulan. Sedangkan pengawasan yang dilakukan tahunan meliputi pencapaian target seluruh program dari yang direncanakan dan ditetapkan selama tahun buku 2019, lalu hasilnya dilaporkan kepada anggota dalam RAT sebagai pertanggungjawaban pengawas dalam melakukan tugas pengawasan.

Laporan hasil pengawasan yang selalu mendapat perhatian besar dari anggota adalah tentang aset dan surplus hasil usaha. Untuk tahun buku 2019 aset KPPD DKI Jakarta menurut hasil pemeriksaan BP sebesar Rp 251.718.021.550,- mengalami kenaikan dari tahun buku 2018 yang sebesar Rp 238.544.920.592,- Rencana surplus hasil usaha (SHU) tahun buku 2019 sebesar Rp 10.616.888.064,- dan terealisasi sebesar Rp 12.732.445.246,- (melampaui dari rencana) sebesar 19,93%. Untuk tahun buku 2019 KPPD DKI berinvestasi lagi untuk pembelian SPBU di daerah Cilengsi, Bogor, Jawa Barat senilai Rp 26.783.133.650,- Investasi – tanaman baru tersebut tujuannya adalah untuk menambah penghasilan usaha lembaga. (adit – my)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

UMKM telah menjadi backbone dan buffer zone

Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya system kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin, juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini.

Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya pada diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan tetap bertahan hidup – tetapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda. Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedaruatan. Keputusan-keputusan yang di masa normal butuh pertimbangan bertahun-tahun sekarang akan diputuskan dalam hitungan jam.

Ketika suatu wabah penyakit mematikan menyerang di suatu negara, maka salah satu dampak yang paling nyata adalah ekonomi. Apabila tidak tertangan secara baik bahkan dapat menyebabkan kondisi chaos dan melebar menjadi masalah sosial politik. Dampaknya, secara ekonomi akan mudah sekali menyerang mereka yang dalam kelompok rentan. Mereka adalah yang tidak memiliki uang yang cukup untuk dibelanjakan tidak memiliki persediaan makanan yang cukup dan tidak memiliki perlindungan sosial maupun kesehatan yang memadai.

Keselamatan mereka tidak hanya menjadi paling mudah terancam wabah penyakit, tetapi juga terancam hidupnya karena kesulitan mencari sumber pendapatan. Dalam konteks Indonesia, kelompok rentan itu seperti penganggur terbuka, pekerja outsourching – pekerja informal, buruh tani, dan lain sebagainya. Mereka menjadi rentan karena usahanya selama ini juga bersifat subsistem. Tidak memilik tabungan atau harta benda yang berarti untuk digadaikan.

Di negeri ini mereka adalah yang dominan. Pengangguran terbuka masih sekitar 5% atau setara 68 juta orang dari 136 juta angkatan kerja. Pekerja informal jumlahnya sebanyak 71% atau setara 74 jutaan dari jumlah tenaga kerja. Buruh tani 74% dari jumlah petani kita sebanyak 35 juta orang. Sementara kita tahu, kondisi sosial ekonomi Indonesia saat ini dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan.

Tumpuannya berharap kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Ada tiga faktor yang membuat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa bertahan dalam kondisi ekonomi yang krisis. Pertama, umumnya UMKM menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Pendapatan masyarakat yang merosot ketika krisis ekonomi terjadi tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan UMKM. Ini berbeda dengan kondisi usaha skala besar yang justru bertumbangan saat krisis terjadi. UMKM malah bisa tetap mampu bergerak dan menyerap tenaga kerja meski jumlahnya terbatas. Seperti itu pulalah yang terjadi di Jepang pasca luluh lantak oleh bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang mengawali kebangkitannya dengan memperkuat sektor riil yang digerakkan oleh UMKM.

Kedua yakni pelaku usaha UMKM umumnya memanfaatkan sumber daya lokal, baik itu untuk sumber daya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan UMKM tidak mengandalkan barang impor. Ketiga, umumnya bisnis UMKM tidak ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri. Dengan kondisi itu, ketika sektor perbankan terpuruk ataupun suku bunga melambung tinggi, UMKM tidak terpengaruh.

Meskipun tingkat pertumbuhannya belum signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional, namun UMKM telah menjadi backbone dan buffer zone yang menyelamatkan negara dari keterpurukan ekonomi yang lebih dalam. Pemerintah kini tengah menyiapkan stimulus bagi para pelaku UMKM guna menekan dampak wabah virus Covid-19  terhadap kegiatan ekonomi pelaku usaha tersebut.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, sebenarnya dibalik tekanan terhadap ekonomi akibat wabah virus Covid-19, ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku usaha, khususnya UMKM. Untuk UMKM ada yang terdampak dan ada peluang, terutama mensubstitusi impor buah-buahan, sayur dan lain-lain. Namun demikian, pemerintah tetap akan menyiapkan stimulus bagi para pelaku UMKM. Hal ini agar sektor tersebut bisa terus tumbuh meski muncul tekanan terhadap ekonomi akibat wabah virus Covid-19.

Kini uga sedang dipersiapkan kebijakan stimulus ekonomi untuk UMKM guna meningkatkan penjualan. Sejak Kementerian Koperasi dan UKM membuka saluran pengaduan (hotline) melalui Call Center sudah terkumpul 21 laporan dari masyarakat atau pelaku UMKM yang terdampak wabah Covid 19. Karena memang tujuan dari call center untuk mengetahui kondisi usaha para Pelaku Koperasi, dan UMKM yang terdampak wabah virus Covid-19.

Pemerintah, dalam hal ini Kemenkop dan UKM sering mengklaim bahwa 993% atau sekitar 63 juta pelaku usaha kita adalah UMKM. Sebeut saja misalnya mereka para pelapak di pasar tradisional, bakul bakso. Ci;ok, jamu keliling, bakul gorengan, ojol becak dan lain sebagainya. Bahkan petani dan nelayan pun termasuk pelaku UMKM. Mereka itu adalah pengusaha-pengusaha yang hari ini jualan dan hari ini hasilnya untuk hidup. Usaha mereka saat ini jelas terdampak langsung karena mereka tidak memiliki dana cadangan seerti halnya usaha menengah dan usaha besar. Kemenkop harus fokus dulu kepada mereka juga berkaitan dengan keamanan nyawa mereka.

Kelompok UMK akan tetap nekad berjualan sebisanya karena kalau tidak keluarganya akan makan apa? Ini artinya berkaitan dengan upaya mitigasi keselamatan jiwa di masa emergensi. Kelompok inilah mayoritas pengusaha kita. Mereka harus diselamatkan terlebih dulu. Pekerjaan juga sebagian besar atau di atas 90% ada di sektor ini. Jika pemerintah kesulitan pendanaan untuk membiayai mereka, maka seluruh program pemerintah yang lainnya itu tidak relevan. Sebab, nyawa adalah yang pertama. Untuk bisnis kelas menengah dan besar apakah tidak terdampak? Tentu semua terdampak. Tetapi skema talangan atau bailout-nya itu harus menyasar ke mereka. Ini sama sekali berbeda dengan bentuk penanggulangan krisis ekonomi yang lain. Karena yang dihantam adalah sektor riil, ke hulu dan hilir dari bisnis.

Menurut Menkop dan UKM, pemerintah menyadari wabah virus Covid-19 berdampak terhadap ekonomi secara nasional. Karena itu, pemerintah perlu melakukan pendataan untuk mengambil langkah-langkah cepat menjaga kelangsungan usaha pelaku UMKM. Data yang terangkum pada hari pembukaan hotline mengenai Data KUKM yang terdampak oleh virus Covid-19 sebanyak 21 Masyarakat yang melapor. Kategori permasalahan terdampak, yakni terkait permintaan menurun sebanyak 17 pelapor (80%), Bahan baku  2 pelapor (10%) dan Proses Distribusi 2 Pelapor (10%).

Di antara semua rekomendasi yang diinginkan oleh pihak pelapor sangat bervariatif, yakni mayoritas menginginkan adanya subsidi agar penjualan tetap berjalan, dan sebagian menginginkan kepastian tentang bahan baku agar tetap tersedia dan mudah didapat, di carikan alternatif pasar,  ingin melakukan transaksi langsung kembali, dan meminta pemerintah untuk bantu memasarkan produknya.

Penyebaran virus Covid -19 yang semakin agresif membuat kita perlu berpikir dua kali untuk mengunjungi gudang usaha secara langsung. Langkah alternatif yang perlu dilakukan adalah memeriksa status persediaan barang secara berkala melalui jarak jauh.  Dengan fitur Inventory dari Jurnal, kita dapat memonitor stok barang secara real time tanpa perlu ke gudang fisiknya. Tak hanya menghitung persediaan barang, tetapi juga mengetahui harga jual beli rata-rata, dan menginformasikan ketersediaan stok saat itu juga.

Kita juga bisa memperoleh referensi terkait kinerja produk, dan pemberitahuan stok yang kosong. Jurnal membantu kita mengimpor data persediaan dalam jumlah besar secara cepat dengan template spreadsheet yang tersedia. Jadi, sebagai pelaku bisnis UKM tidak perlu cemas. Pastikan bisnis tetap berjalan dan mampu bertahan pada saat kondisi pandemi saat ini.

Terkait dengan stock pangan, menurut data Badang Pusat Statistik (BPS), produksi padi tahun 2019 adalah sebanyak 54,60 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 31,31 juta ton beras. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 265 juta jiwa dan konsumsi pangan (beras) per kapita per tahun sebanyak 114,6 Kg, maka kebutuhan beras bagi masyarakat Indonesia setiap tahun diperkirakan sebanyak 30,37 juta ton.

Selain itu, untuk musim tanam (MT) Oktober 2019 – Maret 2020 beberapa daerah sudah memasuki musim panen, termasuk panen padi pada daerah-daerah yang memiliki program perluasan areal tanam yang dilakukan pada lahan rawa pasang surut. Dengan demikian tidak ada alasan bagi sebagian masyarakat kita untuk berbelanja bahan pangan utama untuk stock – persediaan dilakukan secara berlebihan (panic buying) karena kekawatiran semata.

Harus diakui, untuk beberapa bahan pangan seperti bawang putih bawang bombai, kedelai dan gula pasir produksi di dalam negeri dengan jumlah terbatas karena berbagai faktor teknis dan non teknis sehingga selama ini untuk menutupi kekurangan kebutuhan di dalam negeri mengandalkan impor darfi luar negeri. Kelangkaan komoditas-komoditas tersebut terutama bawang putih bawang bomai dan gula pasir bahkan belakangan memang sempat menaikkan harganya baik di warung-warung, pasar tradisional, maupun pasar modern (ritel).

Namun demikian dengan penguatan koordinasi, sinergi dan pembenahan regulasi anat Kementerian – Lembaga peningkatan produksi bahan pangan sangat mungkin dapat direalisasikan, selain secara selektif dilakukan impor dari negara-negara yang surplus bahan pangan. Dengan komitmen kuat dari pemerintah melalui penetapan regulasi dan kebijakan refocusing anggaran baik APBN maupun APBD tahun 2020 termasuk di sektor pangan dan pertanian, sangat dimungkinkan dapat terjaga dengan baik hal-hal yang terkait dengan ketersediaan, distribusi stabilisiasi harga dan akses bahan pangan hingga di tingkat rumah tangga di seluruh wilayah Indonesia. (mar)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Penyebar Virus Covid-19 Bukan Kalangan Bawah

Meskipun masih dalam suasana sangat berduka dan baru selesai melaksanakan pemakaman Ibunda tercinta, Ibu Sudjiatmi Notomihardjo, (26 Maret 2020) malamnya mulai pukul 19.00 di Istana Bogor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri dan berpartisipasi dalam pertemuan pimpinan G20 untuk membahas pandemic virus Corona – Covid-19. Seorang pemimpin dengan dedikasi luar biasa dan komitmen tiada tara untuk Bangsa dan Negara, kita sungguh terharu dan bangga.

Covid 19 tidak lagi hanya menjadi masalah kesehatan namun telah menjadi ancaman kemanusiaan, sosial, ekonomi dan keuangan dunia. Untuk memerangi pandemic Covid 19, Pemimpin G20 meminta lembaga internasional WHO, UN, IMF dan World Bank bersama seluruh negara melakukan kolaborasi dan kerjasama kebijakan, instrument dan langkah penanganan Covid 19.

Langkah penting meliputi kerjasama pencegahan penyebaran virus, melindungi pekerja di bidang kesehatan dan upaya menemukan vaksin secepat mungkin. Menangani dampak sosial ekonomi dan ancaman stabilitas sistem keuangan, dengan fokus melindungi masyarakat terutama yang paling lemah dan usaha kecil menengah (UKM). Kerjanya global perlu diperkuat dan dipererat untuk keberhasilan melawan ancaman Covid-19. Seperti disampaikan oleh Raja Salam dari Saudi Arabia sebagai tuan rumah G20, Para Pemimpin G20 berkomitmen; “Bersama kita akan dapat mengatasi krisis Covid 19”.

Kita patut berkabung atas banyaknya korban meninggal akibat serangan virus Covid-19 di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Kita juga sangat mengapresiasi langkah-langkah yang diambil pemerintahan Presiden Jokowi. Banyak kendala yang dihadapi, tetapi pemerintah juga mengambil langkah-langkah dengan scenario yang diperhitungkan penuh kehati-hatian. Kolaborasi di antara aparat pusat berjalan lancar di bawah kepemimpinan Gugus Tugas Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo.

Pemerintah terus berupaya untuk menangani pandemik Covid-19 di Indonesia, termasuk memutus rantai penyebarannya. Presidenminta agar kebijakan pembatasan sosial maupun pembatasan fisik berskala besar dilakukan lebih tegas, lebih disiplin, dan lebih efektif lagi. Apotek, toko-toko penyuplai kebutuhan pokok tetap buka untuk melayani kebutuhan warga dengan tetap menerapkan protokol jaga jarak yang ketat.

Pemerintah juga telah menyiapkan program perlindungan sosial dan stimulus ekonomi bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pelaku usaha, dan pekerja informal. Pemerintah sudah berupaya mencari solusi dengan membuat kebijakan ekonomi. Masalahnya bagaimana mengawasi agar kebijakan itu tidak salah sasaran. Polisi, media massa, kejaksaan, pemerintah daerah perlu dikerahkan untuk mengawasi pelaksanaannya.

Laporan Bank Indonesia (BI), menunjukan bahwa kita aman-aman saja, hanya ada sedikit gangguan psychological impact, tetapi belum serius banget. Pasar valuta terkoreksi menjadi Rp 16.386,50 per US$ 1, dan IHSG jatuh ke angka Rp 4.489,70,-  (31 Maret 2020) dari sebelumnya di angka Rp 5.000,- Bagi para eksportir, terutama yang mengekspor produk berbahan baku lokal, kenaikan kurs dolar akan meningkatkan keuntungan lebih besar.

Membndingkan dengan krisis yang terjadi 1997 – 1998 krus dolar melompat dari US$ 1 – Rp 2.500 menjadi Rp 15.000,- dan international trade – perdagangan internasional tidak bergerak, kecuali impor, karena masyarakat internasional nyaris tidak berani pegang rupiah, lantaran lompatannya yang menajubkan. Saat ini pun pasar internasional tidak bergerak akibat wabah Covid-19.

Dalam diskusi di grup WA muncul pertanyaan, apakah kondisi ekonomi saat ini dibiarkan terus terjun bebas sedangkan korban meninggal akibat Covid-19 masih terus bertambah. Sampai berapa besar dana dari APBN yang harus dialokasikan untuk penanganan Covid-19? Berapa banyak devisa dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah yang terus terdepresiasi? Berapa jumlah korban meninggal akibat Covid 19 yang termasuk angka minimum? Apakah pemerintah mampu mengambil langkah-langkah baru agar bisa lebih efisien dan efektif dalam penanganan korban Covid-19 dengan tetap menjaga perekonomian tumbuh di kisaran 4%?

Diyakini masih ada alternatif terbaik walau memerlukan kajian secepatnya dan mendalam sebelum diimplementasikan. Mereka yang potensial mengalami korban meninggal, yaitu orang-orang yang memiliki daya tahan – antibody rendah, terutama lansia dan pengidap penyakit menahun, perlu diisolasi jika masuk ODP atau dirawat jika masuk PDP. Sedangkan yang memiliki daya tahan dan antibody cukup kuat biar tetap melakukan aktivitas sepanjang tetap sehat karena antibodinya mampu membunuh virus yang masuk ke dalam tubuhnya dalam tempo 2 – 3 minggu.

Virus Covid 19 telah menyebar secara global. Jumlah pasien kasus corona di seluruh dunia (200 negara) per 31 Maret 2020 mencapai 785.797 kasus. Dari jumlah tersebut 165.659 dinyatakan sembuh, dan 37.818 meninggal dunia. Meski banyak korban tertular hingga meninggal dunia, tetapi ada berita menggembirakan, bahwa jumlah korban meninggal dunia rata-rata di sekitar angka 3% – 10% dari jumlah yang tertular. Sejumlah 90% – 97% dapat kembali sembuh sehat.

Dari pengalaman berbagai negara, kebijakan yang diambil dalam menanggulangi penyebaran Covid-19 berbeda-beda. Perbedaan terutama dengan mempertimbangkan titip ekuilibrium yang optimal antara kepentingan pertumbuhan ekonomi dan resiko kemanusiaan akibat Covid-19. Pilihan masing-masing negara cukup berbeda. Sebagian besar memilih untuk mengisolasi ODP, dan merawat PDP tanpa membedakan usia atau kekuatan antibody si korban.

Keterbatasan fasilitas dan tenaga medis menjadi persoalan dunia. New York hanya memiliki sekitar 54.000-an ruang rawat inap dan emergrncy – ICU, sementara yang dibutuhkan lebih dari 100.000 kamar, sehingga terpaksa membangun baru dan memanfaatkan gedung yang ada. Biaya penanganan seperti ini akan sangat besar. Turkey menyediakan lebih dari US$ 15 miliar khusus untuk penanganan Covid-19. Sebagian negara menerapkan lockdown.

Semua kebijakan itu akan membebani perekonomian. Langkah ini tidak akan memperhatikan efisiensi, efektivitas, dan opportunity cost setiap dana yang dikeluarkan. Karena korban meninggal akan cukup banyak. Terutama dari kalangan Lansia dan pengidap penyakit kronis, yang notabene orang-orang yang memiliki antibody rendah.

Yang menarik respon pemerintah Israel yang disampaikan Menteri Pertahanan yang ditunjuk sebagai panglima perang melawan Covid 19. Menteri Pertahanan Israel menyampaikan konsep berbeda dan bertolak belakang dengan kebijakan banyak negara lain. Dalam narasinya dia mengasumsikan data penduduk dalam 2 katagori. Pertama, penduduk usia muda yang memiliki antibody kuat sekitar 80% dari total penduduk negara. Sedangkan sisanya 20% memiliki antibody yang relatif lemah. Mereka terdiri dari Lansia dan usia muda yang mengidap penyakit.

Dengan asumsi tersebut, maka sebagian dari penduduk yang 80% diperkirakan akan tertular virus Covid-19 karena tetap normal melakukan aktivitasnya, tetapi mereka tidak bermasalah karena antibodinya mampu membunuh virus tersebut jika masuk ke dalam tubuhnya. Mereka tidak perlu dibawa ke RS. Diperkirakan mulai hari ke 7 antibodinya mulai membunuh virusnya hingga pada hari ke 16 bersih total dari virus Covid-19 dan yang bersangkutan tetap sehat wal’afiat, tidak perlu dijadikan PDP atau dirawat di RS. Mereka tidak akan mengalami gejala apapun. Hanya perlu menjaga stabilitas kesehatannya hingga dalam waktu 2 – 3 minggu.

Bagaimana dengan katagori kedua penduduk yang 20%? Mereka harus mengisolasi diri di rumah dan secara fisik tidak boleh dekat dengan yang 80% (termasuk dengan anak dan cucu). Jika mereka ada yang diduga terpapar, maka mereka boleh dimasukkan sebagai ODP untuk diisolasi atau PDP bagi mereka yang membutuhkan perawatan di RS khusus. Mereka harus diberikan obat-obatan yang memperkuat antibody. Yang di rumah dan tidak terpapar juga perlu diberikan kemudahan mendapatkan obat-obatan dan makanan untuk memperkuat antibody. Sehingga RS khusus tersebut hanya diisi oleh orang-orang yang masuk katagori PDP dari kelompok penduduk yang 20%, bukan dari penduduk yang 80%. Sehingga pemerintah bisa lebih fokus, dan korban jadi minimal.

Jadi, penduduk yang masuk katagori 80% bisa saja bebas bekerja untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan respon yang tepat, diperkirakan dalam tempo 1 – 2 bulan seluruh penduduk yang 80% akan terpapar virus tetapi sudah kembali sehat karena antibody, sementara yang 20% tidak sempat tertular dan tetap sehat. Sedangkan yang diduga positif terpapar Covid-19 barangkali sudah banyak kembali sehat dari RS, karena penanganannya lebih bagus dan realistis.

Jika kebijakan seperti ini diambil maka diyakini perekonomian juga tidak akan banyak terkena dampak negatifnya. Sementara jumlah korban meninggal akibat Covid- 19 akan sangat minimal. Sebaliknya, sebagaimana respon banyak negara termasuk Indonesia, jika setiap orang yang terpapar virus dimasukkan sebagai ODP dan PDP tanpa membedakan 2 katagori tersebut di atas, maka jumlah korban terpapar tidak akan banyak yang bisa ditangani karena terbatasnya fasilitas dan tenaga medis di RS. Sehingga akan banyak korban Covid-19 yang meninggal, terutama dari kelompok yang 20%  – Lansia dan orang mengidap penyakit kronis.

***

Secara sederhana kita sepakat, bahwa masyarakat terbagi dalam dua kelas sosial yang besar, yaitu kelas menengah dan kelas miskin – berkekurangan. Katagori ini diturunkan dari analisis kelas Marxisme yang sangat popular itu. Borjuis dan proletar. Agama memperkenalkan istilah si kaya dan si miskin atau berkekurangan. Katagori ini boleh saja diperdebatkan batasannya. Tetapi kali ini bisa digunakan untuk melihat respon dua kelas sosial yang berbeda terhadap virus Covid-19.

Faktanya, Covid-19 adalah penyakit kelas menengah – atas. Kelompok yang tertular dan menularkannya kali pertama adalah warga kelas menengah. Virus ini menyebar melalui relasi internasional kelompok elite. Atau, paling tidak, adalah mereka yang telah pulang dari perjalanan internasional seperti umrah. Pasien-pasien awal bertipikal ini. Sebagai contoh, pasien 01 dan 02 di Indonesia adalah seorang seniman tari di Indonesia yang cukup terkenal. Dia terpapar oleh koleganya dari Jepang.

Menariknya, dalam kasus 01 dan 02, pembantu pembantu – sekretaris rumah tangganya justru negatif dari virus Covid-19 tersebut. Contoh ini semakin terlihat  kebenarannya Ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, juga terpapar, plus sejumlah pejabat tinggi di level pemerinrtahan kabupaten kota seperti; Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Bupati Karawang,dr. Cellica Nurrachadiana, Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana, Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri.

Juru bicara pemerintah RI untuk kasus Covid-19 Achmad Yurianti mengatakan Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan (Menhub) RI dirawat karena positif terjangkit virus corona. Yurianto juga mengatakan, untuk meningkatkan kewaspadaan, telah dilakukan pemeriksaan kepada menteri dan pejabat yang hadir dalam rapat tersebut. Pemeriksaan terhadap para pejabat tersebut telah dilakukan di RSPAD Gatot Subroto. Dalam dua pekan terakhir Menhub Budi Karya sebelumnya sempat mengikuti rapat di Istana Kepresidenan Jakarta pada tanggal 4 dan 11 Maret 2020.

Covid-19 sampai sekarang masih menjadi masalah global di berbagai negara. Wabah virus yang sudah dinyatakan oleh WHO (Wordl Health Organization) sebagai pandemi sudah menyerang 152 negara termasuk Indonesia (data per 18 maret 2020). Dan bisa menyerang siapa saja dan tak pandang bulu, banyak dari negara yang telah positif terjangkit virus Covid-19 sudah melakukan aksi lock down atau menutup negara mereka dan melakukan isolasi di rumah, demi memutuskan rantai penularan Covid-19 agar tidak semakin meluas.

Dari sekian banyak masalah dan isu terkait virus Covid-19 yang kini sedang jadi topik panas di dunia. Salah satu yang juga paling banyak dibicarakan adalah berita mengenai beberapa orang penting hingga artis hollywood yang telah dikonfirmasi positif terjangkit Covid-19. Dikumpulkan dari berbagai sumber, berikut deretan pejabat hingga artis yang telah dikonfirmasi terjangkit virus Corona di dunia:

Tom Hanks (63) mengumumkan di akun twitter pribadinya (12/3) bahwa dia dan istrinya Rita Wilson telah didiagnosis coronavirus. Sebagai artis hollywood pertama yang secara terbuka mengakui dirinya terjangkit virus ini, Tom Hanks menulis di twitternya bahwa dia dan istri terjangkit Covid-19 di Australia untuk menghadiri acara penghargaan film di Sydney Opera House. Tom Hanks pun juga membagikan berbagai gejala yang dirasakannya selama mengisolasi dirinya dan istri sejak dinyatakan positif terjangkit Covid-19.

Setelah Tom Hanks, Olga Kurylenko jadi selebriti kedua yang positif terjangkit virus Corona. Melalui akun Instagramnya, Olga memberitahu jika sedang mengisolasi dirinya sendiri usai positif COVID-19.  Bond Girl di seri Quantum of Solace dalam unggahannya menulis jika dirinya positif terjangkit virus Corona setelah melakukan tes. Dia menjelaskan jika seminggu terakhir merasakan demam dan kelelahan.

Aktor Hollywood Idris Elba membuat pengumuman mengejutkan Senin (16/3) melalui akun media sosialnya. Aktor 47 tahun itu mengatakan bahwa ia positif virus Covid-19. “Pagi ini saya dinyatakan positif Covid-19,” tulis Idris Elba dalam pernyataannya di akun Twitter resmi @idriselba. “Saya merasa baik-baik saja, tidak ada gejala sejauh ini tapi telah diisolasi sejak saya tahu kemungkinan saya terpapar virus,” imbuhnya. Tidak disebutkan bagaimana dirinya bisa terpapar virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok ini.

Istri Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau Sophie Trudeau (45 tahun) dinyatakan terjangkit COVID-19. Ia didiagnosis coronavirus 12 Maret 2020. Sophie Gregoire Trudeau dikonfirmasi positif terinfeksi virus Covid-19 pihak pihak kantor Trudeau sendiri. Sebagai tindak pencegahan, Sophie sudah melakukan isolasi diri selama 14 hari sesuai dengan yang disarankan. Sebelumnya dia sempat menyampaikan pidato pada konferensi WE UK Day di London pada 4 Mare4 2020. Dia pun menunjukan gejala seperti flu setelah kepulangan dari acara di London tersebut.

Mikel Arteta, dinyatakan positif terinfeksi virus corona jenis baru Coid-19. The Gunners mengumumkan kabar mengejutkan tersebut pada Kamis (12/3) atau Jumat pagi WIB. Dinyatakan positif virus Covid-19 pelatih berkebangsaan Spanyol tersebut mengaku kecewa namun Dia berjanji bakal segerea kembali setelah dinyatakan sembuh. “Ini benar-benar mengecewakan tetapi saya mengikuti tes setelah merasakan hal yang buruk . Saya akan berada di tempat kerja segera setelah saya diizinkan.”

Bek tengah Juventul, Danieli Rugani (25) bek asal Italia dikonfirmasi posisitf mengidap virus Covid-19. Hal ini disampaikan langsung oleh pihak dari Juventus sendiri pada 11 Maret 2020. Klub Juventus mengatakan bahwa Rugani telah didiagnosis positif corona namun untuk saat ini belum menunjukkan gejala-gejalanya. Karena terdapat pemainnya yang sudah positif terjangkit. Juventus akhirnya membatalkan seluruh kegiatan mulai dari latihan hingga pertandingan dan mewajibkan seluruh pemainnya dan staf untuk karantina. Rugani adalah pemain Serie A pertama yang didiagnosis positif terinfeksi virus Covid.

NBA memutuskan untuk menunda seluruh pertandingan karena salah satu pemainnya Rudy Gobert telah positif terkena virus corona. Dilansir dari NBA.com, Rudy Gobert sebenarnya tidak ada di Chesapeake Energy Arena, markan Oklahoma City Thunder. Meski begitu, NBA tetap mengambil langkah waspada. Sampai saat ini, pihak NBA belum bisa memberikan informasi yang pasti mengenai kapan NBA akan bergulir lagi. NBA mengutamakan kesehatan para pemain dan staff sebagai alasan utama dari penundaan. NBA juga mengatakan akan terus memantai status penyebaran Covid-19 yang sudah dinyatakan pandemik oleh WHO.

Shooting guard klub NBA Utah Jazz berusia 23 tahun ini positif virus corona COVID-19, warga negara Amerika Serikat didiagnosis pada 11 Maret 2020. Pada akhir Februari, Wakil Presiden Iran Masoumeh Ebtekar didiagnosis positif terjangkit virus Covid-19. Masoumeh sendiri dinyatakan sebagai anggota kabinet Presiden Iran Hassan Rouahani yang pertama dinyatakan positif terinfeksi Cpvid-19. Waki menteri kesehatan Iran, Iran Haririch menyatakan sendiri bahwa dirinya telah positif terjangkit coronavirus satu harus setelah dikabarkan mengalami demam saat konfersi pers. Dalam sebuah video yang dia unggah di media sosial, dia mengatakan bahwa dia harus diisolasi karena positif terjangkit Covid-19. Sebelumnya, dalam sebuah konfersi pers, Haririchi memang terlihat batuk-batuk.

Nadine Dorries adalah anggota parlemen pertama Inggris yang terinfeksi Covid-19. Seperti yang telah dikutip dari BBC, Dorries mengatakan sudah melakukan berbagai tindak pencegahan yang diketahuinya setelah mengetahui dirinya terinfeksi dan telah mengisolasi dirinya di rumah. Dia pun mengatakan sebelumnya dia baru saja menghadiri resepsi di kediaman resmi Perdana Menteri Bors Johnson 2 hari sebelum dinyatakan positif Corona.

Franck Riester dinyatakan positif terinfeksi oleh salah satu media berita Perancis, Reuters pada 3 Maret 2020. Franck terjangkit karena telah melakukan kontak dengan orang-orang di parlemen Perancis yang terinfeksi virus ini. Diberitakan, sebanyak 5 anggota parlemen Perancis telah terinfeksi virus Covid-19. Dan Menteri Kesehatan Olivier Veran pun memberikan update mengenai kondisi Franck Riester masih baik-baik saja dan sedang menjalani proses isolasi dirumahnya.

Hudson-Odi mengatakan dalam video yang diunggahnya di media sosial pribadinya bahwa dia telah terinfeksi virus selama beberapa hari, namun tidak perlu khawatir karena kondisinya berangsur pulih. Hudson-Odi juga mengatakan dia benar-benar mengikuti pedoman kesehatan yang diterimanya dan mengisolasi dirinya dari semua orang selama seminggu dan berharap bisa kembali bertanding dalam waktu dekat setelah benar-benar dinyatakan sembuh dari coronavirus.

Nah, yang panik dan merespon dengan semangat juga kelas menengah. Misalnya, teriakan “sosial distancing” atau “lock down” adalah teriakan-teriakan kelas menengah. Bahasa asing yang digunakan semakin menegaskan watak sebagai kelas menengah. Mereka saling mengingatkan untuk “menjauhi” virus ini dengan mengubah tindakkan sosial dari intim menjadi berjarak.

Kapanye sosial distancing bergema di kalangan sesame kelas menengah. Gerakkan sunyi dan pendekatan spiritual yang bersifat individual juga menggema dari kelas menengah. Para agamawan kelas menengah pun kompak untuk meniadakan sholat Jumat. Tjuannya jelas, hifdzun nafs, tentu yang dimaksud adalah nafs kelas menengah. Tampak dengan jelas, bahwa kelas menengah adalah kelompok sosial yang paling rawan, dan sekaligus paling ketakutan menghadapi virus Covid-19 ini.

Gerakkan ini tampak cukup sukses di kalangan kelas menengah. Kampus, sekolah kantor, bahkan masjid dan gereja ditutup. Mall hotel coffe shop – warkop tempat kelas menengah berkumpul menjadi sepi. Bahkan banyak mall atau pusat belanja tutup sementara. Tanpa perintah tutup pun, mall pasti tutup. Sebab pengunjung mereka adalah dari kalangan kelas menengah yang sedang mengurung diri di rumah. Justru mereka akan mengalami kerugian besar apabila memaksakan tetap buka. Mereka akan kesulitan menanggung beban operasional tanpa dibarengi pemasukan. Pilihan tutup sementara adalah pilihan yang sangat rasional dari sudut pandang bisnis.

Dasar kelas menengah. Gerakkan sosial distancing mulai dibarengi dengan panic buying – memborong segala keperluan untuk mencukupi hidup mereka selama 14 hari. Masker, hand sanitizer, vitamin C ludes dari pasar. Para kelas menengah memburu semua resources untuk menyelamatkan diri tanpa mempedulikan warga kelas bawah berpenghasilan pas-pasan. Bahkan mereka tidak punya penghasilan tetap seperti buruh pekerja harian.

Dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki mereka “mengurung diri” di rumah dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus. Para “penghuni” kelas menengah ini kemudian tampil di media sosial sebagai pejuang dan petarung dengan cara nikmat tidur-tiduran dan bersenda-gurau dengan keluarga. Kalau bosan, membuat Youtube dan membuat status heroic di Facebook (FB).

Kelas menangah tanpa sadar menciptakan dan memelihara “suasana horror”. Satu data tambahan positif covid segera dialirkan melalui berbagai grup WA. Suasana “horror” semakin tercipta, dan warga kelas menengah semakin ketakutan. Sikap penghuni kelas mengah yang sedang mencari selamat ini terancam dengan sikap acuh kelompok kelas bawah. Kaum “proletar” ini sama sekali tidak terpengaruh dengan virus Covid-19. Suasana perkampungan tetap berlangsung normal.

Virus ini tidak mengubah perilaku sosial untuk mengurung diri. Sebagian dari kelas bawah ini justru mentertawakan ketakutan kelas menengah terhadap virus ini. Mengawa kelas bawah terliha santai? Bagi mereka virus Covid ini adalah penyakit elite. Dan para elit itu tidak banyak bergaul dengan rakyat kecuali untuk kepentingan yang bersifat politis. Jika jawaban dari virus ini adalah social distancing, maka mereka pasti selamat. Bukankah jarak social distance sudah lama terjadi. Kaum kelas menengah tidak pernah benar-benar menjalin hubungan sosial kecuali untuk kepentingan politik ekonomi, dan ritual keagamaan.

Bukankah sebagai kelas menengah, waktunya sudah tersita oleh kesibukan yang diciptakan sendiri melalui rekayasa sistem ekonomi kapitalisme? Bukankah mereka hanya bertemu dengan tetangga atau orang miskin ketika datang menawarkan sayuran, ikan, atau undangan pernikahan, akikah, dan kematian?

Alasan lain, warga kelas bawah sudah lama hidup dalam kekawatiran karena ekonomi. Ancaman untuk kelaparan dan tidak mendapatkan penghasilan adalah ancaman klasik, yang sudah mereka rasakan bertahun-tahun. Untuk bertahan hidup, warga kelas bini sudah terbiasa “berdamai” dengan penyakit yang ada dalam tubuh. Demam, flu, batuk dapat sembuh asalkan masih bisa berkeringat, mengangkat batu, mereka pasti keluar rumah. Tinggal di rumah sama saja mempercepat kematian. Pilihan satu-satunya adalah keluar rumah, dan mengais di tengah ketidakpastian.

Jadi, ketika kampanye social distancing mulai menggema dari kelas menengah, mereka hanya tertawa dan mengumpat. Kira-kira begini suara hati mereka, “Woi, kalian minta kami tetap tinggal di rumah dengan segala bahasa asingmu untuk menyelamatkan jiwa kalian, tetapi kami semua akan mati di rumah, siapa yang peduli kami?” Jadi, apabila warga kelas menengah ini benar-benar menginginkan sosial distancing  berjalan, hal yang perlu dilakukan bukanlah stay at home saja tetapi juga mengaktifkan jaminan sosial.

Setiap warga kelas menengah harus bergerak untuk memastikan satu keluarga miskin – berkekurangan tidak meninggal dunia karena kelaparan dalam kurun waktu social distancing dengan cara menjamin hidupnya. Jika egoism kelas masih bertahan dengan memperhatikan keselamatan sendiri, maka apa yang bisa menahan kelas bawah untuk tetap di rumah sambil menahan perus kelaparan? Jangankan untuk membeli masker dan hand sanitizer yang harganya membubung tinggi. membeli beras saja mereka belum tentu bisa.

Yang paling kasihan dari dampak virus C 19 ini adalah orang berkekurangan dan berpenghasilan rendah pun tidak. Jumlahnya cukup besar, puluhan juta orang. Banyak pedagang kecil jualan keliling yang kehilangan pembeli. Warung-warung pun sepi pengunjung. Toko kelontong banyak yang kehabisan dagangan tetapi uang untuk belanja lagi tidak cukup karena harganya sudah naik. Pada saat yang sama mereka yang paling rentan terkena dampak karena tidak punya pilihan social distanding dan berkurangnya penghasilan dengan drastis. Pekerja pabrik yang dihadapkan pada pilihan yang terkadang bagaikan buah simalakama.

Yang dilakukan pemerintah ada beberapa pilihan, namun harus melihat mana yang paling memungkinkan untuk dilakukan segera dan ketersediaan dana. Misalnya, bantuan langsung tunia (BLT). Indonesia sudah punya pengalaman ini, dan bisa dilakukan dengan cepat. Kemudian mendorong orang-orang yang belum ikut BPJS untuk ikut BPJS, bisa dengan memberikan insentif potongan beberapa bulan seharga premi kelas 3, dan ini nantinya bisa menaikan jumlah kepersertaan dan iuran yang terkumpul dari BPJS setelah badai ini sirna.

Bisa juga bantuan pangan non tunai ditambah jumlah beras yang didapat, ditambah lagi untuk sabun dan jika memungkinkan sejumlah kecil masker untuk emergency. Listrik untuk 450 dan 900 VA digratiskan beberapa bulan. Pendapatan tidak kena pajak dinaikan. Pajak untuk UMKM juga ditiadakan untuk beberapa bulan. Itu hanya beberapa contoh kecil kebijakan yang bisa diambil oleh pemerintah.

Sedangkan dari masyarakat, hendaknya juga bisa aktif berpartisipasi misalnya, memberikan sedekah dan zakat atau persepuluhan sekarang, istilah lain peduli sesama tidak harus menunggu Paskah atau Natal. Bisa gunakan grup WA antar tetanggan, lingkungan, antar profesi, antar kelompok alumni, SMA, Perguruan Tinggi untuk saling memberikan semangat mengajak membantu yang lain.

Mengumpulkan nomor telpon tukang sayur, tungkang buah, tukang roti, tukang makanan di sekitar lingkungan kita, toko kelontong ajak untuk memerikan service delivery ke lingkungan kita, dan bayar sedikit lebih. Kegiatan ini bisa menjadi simbosia mutualisme.  Memberikan tips lumayan dermawan untuk Ojol yang telah membantu.

Menggunakan grup WA untuk mendata siapa yang patut diberi dukungan rezeki agar sediti teringankan beban kehidupannya. Setidaknya adalah tetangga terdekat yang pasti diketahui keberadaan kondisi ekonomi sebenarnya. Termasuk penjaja makanan yang biasanya lewat, pembuang sampah lingkungan atau petugas kebersihan atau tetangga yang berkekurangan. Juga tidak kalah penting, memastikan tidak ada warga – tetangga yang mengalami kelaparan dengan memberikan bantuan makanan; beras, sabun cuci dan sebagainya.

Bersama menggunakan circle of influence kita untuk saling berbagi nasehat akan informasi yang benar, berbagi nasehat tentang kesabaran dan kasih sayang. Memberikan perhatian dan hadiah, menyediakan kebutuhan untuk perawat dan tenaga medis lainnya yang berjuang di garda terdepan.

Sedangkan yang bisa dilakukan para pengusaha, memproduksi kebutuhan sanitasi dan alat pelindung diri dengan menjualnya secara wajar, dan harga peduli. Karena dalam situasi kronis, bukan saatnya untuk mengejar profit – keuntungan. Jual dengan harga wajaar, agar yang menjual dengan harga selangit menjadi jera. Para pengusaha perlu memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk melakukan social distancing. Memberikan gaji ke-13 atau ke-14 sekarang, tidak perlu menunggu saat lebaran atau Natal seperti biasanya.

Para pengusaha khususnya yang bergerak di bidang produksi perlu fokus dan terus berinovasi mengembangkan apa yang bisa dilakukan untuk bisa meningkatkan kapasitas produksinya guna memenuhi apa yang laing dibutuhkan. Apa prosedur yang bisa lebih efisien dan efektif. Indentifikasi gap yang dimiliki dalam hal ketrampilan. Situasi saat ini tepat mendorong para karyawan untuk belajar meningkatkan ketrampilan lewat online learning – belajar dari internet.

Bagi para pengusaha saatnya melakukan CSR masal kerja sama bagaimana bisa menolong lebih banyak orang yang berkekurangan dan rentan, serta menolong pemerintah dalam memastikan kesiapan supply side. Jika kita melakukan sendiri-sendiri, bagaikan setetes air. Sedangkan jika kita bersama-sama, bisa menjadi gerimis di pagi hari dapat memekarkan bunga. Saatnya sekarang kita kampanyekan; “Mari berbagi. Selamatkan hidup mereka  untuk menyelamatkan hidupmu!” (adit – my- ag)

Posted in Sajian Khusus | Tagged | Leave a comment

Langkah-langkah Menyelematkan UMKM

Pemerintah telah menetapkan Covid-19 sebagai jenis penyakit dengan faktor risiko yang menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat. Karenanya, pemerintah menetapkan status kedaruratan kesehatan masyarakat.

Untuk mengatasi dampak wabah tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memutuskan dalam Rapat Kabinet bahwa opsi yang dipilih adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sesuai undang-undang (UU), PSBB ini ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang berkoordinasi dengan Kepala Gugus Tugas Covid-19 dan kepala daerah. Dasar hukumnya UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Pemerintah juga sudah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Keputusan Presiden (Kepres) Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat untuk melaksanakan amanat UU tersebut. Dengan terbitnya PP ini, semuanya jelas. Para kepala daerah diminta tidak membuat kebijakan sendiri-sendiri yang tidak terkoordinasi. Semua kebijakan di daerah harus sesuai dengan peraturan, berada dalam koridor UU dan PP, serta Keppres tersebut. Polri juga dapat mengambil langkah-langkah penegakan hukum yang terukur sesuai UU agar PSBB dapat berlaku secara efektif dan mencapai tujuan mencegah meluasnya wabah.

Kita harus belajar dari pengalaman negara lain, tetapi kita tidak bisa menirunya begitu saja. Sebab, semua negara memiliki ciri khas masing-masing, baik luas wilayah, jumlah penduduk, kedisiplinan, kondisi geografis, karakter dan budaya, perekonomian masyarakatnya, kemampuan fiskalnya, dan lain-lain. Oleh karena itu, kita tidak boleh gegabah dalam merumuskan strategi, semuanya harus dihitung, semuanya harus dikalkulasi dengan cermat, dan inti kebijakan kita sangat jelas dan tegas:

Pertama, kesehatan masyarakat adalah yang utama. Oleh sebab itu, kendalikan penyebaran Covid-19 dan obati pasien yang terpapar. Kedua, kita siapkan jaring pengaman sosial untuk masyarakat lapisan bawah agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pokok dan menjaga daya beli. Ketiga, menjaga dunia usaha utamanya usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah (UMKM), agar tetap beroperasi dan mampu menjaga penyerapan tenaga kerjanya. Dan pemerintah akan fokus pada penyiapan bantuan untuk masyarakat lapisan bawah.

Pertama, tentang Program Keluarga Harapan (PKH), jumlah keluarga penerima akan ditingkatkan dari 9,2 juta (keluarga penerima manfaat) menjadi 10 juta keluarga penerima manfaat. Sedangkan besaran manfaatnya akan dinaikkan 25%, misalnya komponen ibu hamil naik dari Rp2,4 juta menjadi Rp3 juta per tahun. Komponen anak usia dini Rp3 juta per tahun. Komponen disabilitas Rp2,4 juta per tahun, dan kebijakan ini efektif mulai (bulan) April 2020.

Kedua, Kartu Sembako. Jumlah penerima akan dinaikkan dari 15,2 juta penerima menjadi 20 juta penerima manfaat, dan nilainya naik 30% dari Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu, dan akan diberikan selama 9 bulan.

Ketiga, tentang Kartu Prakerja. Anggaran Kartu Prakerja dinaikkan dari Rp10 triliun menjadi Rp20 triliun. Jumlah penerima manfaat menjadi 5,6 juta orang, terutama adalah untuk pekerja informal serta pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang terdampak Covid-19, dan nilai manfaatnya adalah Rp650 ribu sampai Rp1 juta per bulan selama 4 bulan ke depan.

Keempat, tentang tarif listrik. Disampaikan oleh Presiden bahwa untuk pelanggan listrik 450VA yang jumlahnya sekitar 24 juta pelanggan, akan digratiskan selama 3 bulan yaitu untuk bulan April, Mei, dan bulan Juni 2020. Sedangkan untuk pelanggan 900VA yang jumlahnya sekitar 7 juta pelanggan akan didiskon 50%, artinya hanya membayar separuh saja untuk bulan April, Mei, dan bulan Juni 2020.

Kelima, perihal antisipasi kebutuhan pokok. Pemerintah mencadangkan Rp25 triliun untuk pemenuhan kebutuhan pokok serta operasi pasar dan logistik. Keenam, perihal keringanan pembayaran kredit. Bagi para pekerja informal baik itu ojek online, sopir taksi, dan pelaku UMKM, nelayan dengan penghasilan harian, dengan kredit di bawah Rp10 miliar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan aturan mengenai hal tersebut dan mulai berlaku bulan April 2020. Telah ditetapkan prosedur pengajuannya tanpa harus datang ke bank atau perusahaan leasing, cukup melalui e-mail atau media komunikasi digital seperti WA (Whatsapp).

Menjawab pertanyaan wartawan terkait relaksasi kredit, yang belum jalan di lapangan. Karena masih banyak pengemudi ojek online dan taksi yang masih ditagih oleh debt collector, lalu OJK juga mengakui, aturan untuk leasing belum rampung, Presiden mengatakan bahwa sudah mengkonfirmasi ke OJK, efektif dimulai bulan ASpril. Presiden juga telah menerima Peraturan OJK khusus yang berkaitan dengan kredit tersebut.

Semua skenario disiapkan dari yang ringan, dari yang moderat – sedang, maupun yang terburuk. Darurat sipil itu apabila memang terjadi keadaan yang abnormal sehingga perangkat juga harus disiapkan dan disampaikan kepada masyarakat. Tetapi kalau keadaannya seperti sekarang ini ya tentu saja tidak. Karena sudah ada payung hukumnya, diharapkan mulai efektif berjalan. Oleh sebab itu Presiden minta agar provinsi, kabupaten, dan kota, sesuai dengan UU yang ada, disilakan berkoordinasi dengan Ketua Satgas Covid-19 agar semua kita memiliki sebuah aturan main yang sama, yaitu UU, PP, dan Keppres yang telah disahkan.

Dalam paparannya kepada awak media melalui conference call, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mengalami kontraksi hingga 0,4 persen di akhir tahun. Sementara untuk skenario berat, perekonomian RI hanya akan tumbuh di kisaran 2,3 persen.

Sebelumnya, Menkeu sempat memaparkan, sekario berat hingga terburuk pertumbuhan ekonomi RI akan berada di ksiaran 2,5% hingga 0%. “Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3%, bahkan skenario lebih buruk -0,4%,” ujar Sri Mulyani.

Risiko pandemik corona yang kian meluas pun diproyeksi akan menjalar ke sektor keuangan. Bendahara Negara itu mengatakan, risiko gagal bayar kredit atau peningkatan rasio non performing loan (NPL) kredit macet akan mengalami peningkatan. Sebab, banyak perusahaan tidak bisa melanjutkan kegiatan produksinya dan menyebabkan pembayaran utang menjadi terhambat.

Sehingga kondisi ini akan menyebabkan penurnan kegiatan ekonomi, maka berpotensi menekan lembaga keuangan kemudian kredit-kredit tidak bisa dibayarkan. Outlook pertumbuhan ekonomi yang menurun 2,3% bahkan mengalami kontraksi hingga 0,4% disebabkan konsumsi rumah tangga yang menurun serta pertumbuhan investasi yang juga mengalami tekanan.

Konsumsi rumah tangga diperkirkan anjlok dari biasanya dikisaran 5% menjadi hanya 3,2% hingga 1,6%. Begitu juga dengan arus investasi yang anjlok dari yang semula diperkirakan bisa tumbuh hingga 6% tahun ini menjadi hanya 1% atau bahkan negatif hingga 4%.

Sementara itu, kinerja ekspor juga akan lebih mengalami kontraksi lebih dalam, begitu juga kinerja impor. Sektor UMKM yang selama ini terbukti mampu tahan dalam setiap kondisi krisis diperkirkan akan terpukul paling depan karena tidak adanya kegiatan sosial akibat pandemik Covid -19. Padahal saat krisis 1998, UMKM mampu menjadi penopang ekonomi Indonesia.

“UMKM yang biasanya jadi safety net mengalami pukulan besar karena adanya restriksi kegiatan sosial. Ketika hadapi kondisi tahun 97-98 UMKM resilient, sekarnag UMKM terpukul paling depan karena tidak ada kegiatan diluar rumah masyarakat,” tegasnya.

Kementrian Koperasi dan UKM mendorong skema program bantuan untuk Koperasi dan UMKM yang terdampak virus Covid-19. Terdapat skema yang mampu menyelamatkan koperasi dam UMKM. Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan menjelaskan, pemerintah perlu mengeluarkan beberapa program untuk membantu Koperasi dan UMKM yang terdampak virus Covid-19.

Program tersebut; Pertama, relaksasi dari perbankan dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB KUMKM) kepada pinjaman koperasi tersebut. Kedua, program pinjaman khusus kepada koperasi yang mengalami kesulitan likuiditas karena kebijakan relaksasi internal atau karena mengeluarkan kebijakan baru untuk membantu anggotanya yang usahanya terganggu musibah virus Covid-19. Ketiga, pembebasan pajak koperasi pada objek terkait. Keempat, mencegah keluarnya kebijakan sepihak dari pemerintah daerah yang merugikan kredibilitas dan keberlangsungan koperasi.

Diakui, saat ini keadaan tidak normal, kurang menguntungkan bagi siapapun, termasuk bagi pemerintah. “Jangan sekali-kali ingin menangguk keuntungan sendiri dari keadaan ini,” pesan Ruly. Dicontohkan, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dimana pemilik dan nasabahnya sama. Maka, kebijakan relaksasi ataupun penangguhan pembayaran ditentukan melalui mekanisme rapat anggota. Anggotalah yang menetapkan suatu kebijakan itu baik atau tidak bagi koperasi.

Sementara itu, Dirut LPDB KUMKM Supomo menjelaskan, pihaknya sudah mulai menghitung atau mengkaji terkait apa yang sudah disampaikan Presiden Jokowi. LPDB akan memperhatikan koperasi-koperasi sebagai mitra untuk melakukan relaksasi. Misalnya, restrukturisasi terkait masalah penundaan pembayaran. Bagi Supomo, tidak menutup kemungkinan LPDB tetap memikirkan hal-hal relaksasi itu seiring dengan apa yang dilakukan OJK. “Jangan khawatir, kami sedang memikirkan hal itu kepada mitra-mitra koperasi. Untuk kondisi seperti sekarang ini, tidak ada keuntungan yang tidak menurun. Intinya, LPDB siap melakukan relaksasi terhadap mitra-mitra koperasinya,” pungkas Supomo.

Keberlanjutan usaha KUMKM juga menjadi prioritas penting yang diselamatkan di tengah pandemi virus Covid-19. Hal tersebit ditegaskan Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki. Peran pelaku KUMKM di tengah krisis atau wabah untuk tetap menjaga bergeraknya sektor riil di Tanah Air menjadi sangat penting. Diketahui Presiden Jokowi sebelumnya meminta semua jajaran pemerintah melakukan relokasi anggaran dan refocusing kebijakan guna memberi insentif ekonomi bagi pelaku UMKM dan informal, sehingga tetap dapat berproduksi dan beraktivitas juga tidak melakukan PHK.

“Oleh karena itu Presiden memberikan perhatian yang serius terhadap pelaku UMKM dan sektor informal dalam menyikapi dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19,” kata Teten dalam siaran pers yang diterima Majalah UKM Rabu (25/3). Di sisi lain, Pemerintah juga sudah memastikan akan ada relaksasi kredit bagi UMKM terutama untuk nilai kredit di bawah Rp10 miliar sebagai upaya meminimalisasi dampak wabah Covid-19.  Kredit itu terinci baik kredit perbankan maupun industri keuangan non-bank. Relaksasi yang diberikan bisa berupa penundaan cicilan sampai satu tahun dan penurunan bunga.

Untuk pelaku UMKM ada relaksasi cicilan kredit di bank agar usaha tetap berjalan. Untuk ojek online juga penting penundaan cicilan kredit. Apalagi dalam kondisi social distancing begini, servis dari ojek online lebih dibutuhkan untuk distribusikan produk UMKM. Adapun, bagi para pekerja harian termasuk tukang ojek, supir taksi, hingga nelayan juga akan ada relaksasi kredit yang diberikan berupa pembayaran bunga atau angsuran diberikan kelonggaran selama 1 tahun.

“Saya melihat ojek online ini adalah ujung tombak para pelaku UMKM di tengah dampak Covid-19. Ojek online menjadi garda depan untuk mendistribusikan penjualan. Keringanan penundaan cicilan kredit untuk ojek online penting agar UKM tetap hidup. Saya mengajak pelaku KUMKM dan para pekerja harian tetap optimistis dan tidak perlu khawatir namun tetap waspada di tengah pandemi virus Covid,” tuturnya.

Pemerintah juga merancang pinjaman khusus bagi koperasi yang mengalami kesulitan likuiditas karena kebijakan relaksasi internal atau karena mengeluarkan kebijakan baru guna membantu anggotanya yang usahanya terganggu karena virus korona. Ada juga pembebasan pajak koperasi pada objek terkait dan mencegah keluarnya kebijakan sepihak dari pemerintah daerah yang merugikan kredibilitas dan keberlangsungan koperasi.

***

Sejumlah pelaku bisnis UMKM pasti kesulitan untuk mencapai target-target yang harus dicapai saat perekonomian nasional terganggu akibat Corona. Selain kesulitan mencapai target tertentu, pelaku bisnis biasanya urung melakukan ekspansi.

Mewabahnya virus Covid membuat perekonomian lesu dan sulit melakukan penjajakan produk di dalam maupun ke luar negeri. Pelaku bisnis UKM biasanya baru bisa bergerak untuk mulai proses ekspansi setelah wabah virus Corona mulai reda. Pasar yang lesu akibat dampak dari virus Corona tidak mampu mendongkrak angka penjualan para pelaku bisnis UMKM. Imbasnya pendapatan yang diterima pun tidak sesuai harapan. 

Hal ini menyebabkan keseimbangan keuangan perusahaan terganggu. Dampak terburuknya, bisnis yang dijalankan bisa saja gulung tikar akibat dana yang ada habis sebelum bisnis tersebut berkembang atau balik modal. Menjalankan bisnis UMKM saat perekonomian Indonesia terdampak virus Covid-19 sangat sulit. Bahkan beberapa sektor usaha hampir mengalami kelumpuhan yang ujung-ujungnya mempengaruhi perekonomian negara dan menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi secara global.

Pada akhirnya, pelaku bisnis UMKM harus memutar otak untuk menjaga kondisi perusahaannya agar tetap prima, tanpa perlu saling bertatap muka dan khawatir tertular virus Covid-19. Untuk mengatasi persoalan ini, pelaku bisnis bisa menjalankan sejumlah strategi agar bisnis tetap berjalan lancar di tengah ancaman resesi ekonomi akibat Covid-19.

Arus kas adalah salah satu unsur yang paling penting dalam berbisnis. Sehingga suatu bisnis harus mampu mengelola uang tunai secara optimal dan baik. Jika tidak maka risikonya bisnis yang kita jalankan mengalami kebangkrutan. Untuk itu penting bagi kita untuk menjaga kondisi arus kas agar tetap seimbang. Pengelolaan arus kas dapat menentukan hidup dan matinya bisnis kita.

Misalnya dalam situasi seperti saat ini, pelaku bisnis rentan melakukan penagihan atau pembayaran secara langsung kepada mitra usaha. Pasalnya, hal itu bisa meningkatkan risiko terkena virus Covid-19. Namun pelaku usaha punya pilihan untuk membuat dokumen pernyataan penagihan atau pembayaran secara mudah. Faktur (invoice) dapat dikirim atau diterima otomatis melalui e-mail sebagai pemberitahuan resmi kepada mitra usaha untuk melakukan transaksi tanpa perlu bertemu pelanggan secara fisik.

Jika menggunakan software akuntansi online Jurnal, kita akan memperoleh kemudahan dalam membuat faktur, dilengkapi 11 desain profesional yang berbeda sesuai kebutuhan bisnis perusahaan. Tentu disertai rincian jumlah barang – jasa, harga satuan, dan total harga, serta tanggal pembelian di dalam faktur. 

Fitur lain yang bisa dimanfaatkan adalah Jurnal Pay yang memudahkan kita untuk menerima pembayaran dari pelanggan. Jurnal Pay tersedia untuk pembayaran Virtual Account (bank transfer) dan Kartu Kredit dengan biaya minimal dan sekali pengaturan. Tidak hanya itu, pencatatan pembukuan terhadap pembayaran yang telah diterima akan dilakukan otomatis oleh sistem secara instan. Penagihan untuk penjualan Anda menjadi lebih mudah, cepat, dan professional.

Rencana anggaran biaya dalam bisnis adalah sebuah outline yang sengaja dibuat untuk mengorganisir bisnis mereka sesuai dengan budget atau pengeluaran yang diperlukan. Langkah ini perlu dilakukan terutama untuk mengevaluasi kinerja bisnis, apakah menguntungkan atau justru dalam posisi rugi. Tidak hanya itu, membuat rencana anggaran biaya terbilang sangat penting dalam bisnis untuk mengkalkulasikan seluruh anggaran yang akan dilakukan dalam business plan di periode selanjutnya. Tanpa adanya rencana yang jelas, pengusaha akan kesulitan untuk menentukan biaya modal yang akan digelontorkan dan target pendapatan yang ingin dicapai.

Di saat situasi ekonomi terpuruk akibat virus Covid-19, pelaku bisnis harus benar-benar jeli dalam mengambil keputusan. Diperlukan strategi yang tepat demi kelangsungan usaha.  Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat pembukuan perusahaan yang rapi. Seluruh transaksi keuangan, baik pemasukan, pengeluaran, dan transaksi lainnya harus terdokumentasi dengan baik. 

Para pelaku bisnis tak terlepas dari aktivitas transaksi perbankan. Untuk menghindari risiko terkena virus Covid-19 di ruang publik, kita sebaiknya menghindari kunjungan ke kantor cabang perbankan secara langsung dan lebih memilih transaksi via online. Melalui fitur Cashlink pada Jurnal, kita dapat melakukan rekonsiliasi bank secara otomatis tanpa perlu repot mengunjungi kantor fisik.

Jurnal akan menampilkan ringkasan rekonsiliasi bank pada semua akun kas dan bank, serta perubahan saldo kas dan bank yang belum dicatat. Caranya, dengan mencocokkan data rekening koran dan transaksi di Jurnal pada halaman yang sama. Jadi, tidak perlu mencetak rekening koran lagi. Data rekening koran dapat dimasukkan ke Jurnal melalui fitur impor bank statement dan melalui direct feeds atau penarikan data otomatis dengan menghubungkan bank dengan akun Jurnal kita. 

Kemudian, kita juga bisa menggunakan fiturSmart Bank Reconciliation. Dengan fitur Smart Bank Reconciliation, Jurnal akan secara otomatis memberikan rekomendasi untuk pencocokan transaksi berdasarkan angka, tanggal, ataupun deskripsi transaksi yang sama. Dengan begitu, proses rekonsiliasi akan semakin mudah dan cepat. (adit – my – ag)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Revitalisasi SMK Wujudkan Link and Match dengan Dunia Kerja

Keterhubungan dan keselarasan – link and match antara dunia pendidikan vokasi, khususnya sekolah menengah kejuruan (SMK) dan industri menjadi kunci dalam optimalisasi penyerapan tenaga kerja terampil. Tanpa adanya link and match, lulusan SMK bisa sia-sia, menganggur. Industri pun potensial kehilangan peluang dalam penyiapan tenaga kerja jangka panjang.

Bendahara Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi DKI Jakarta,Drs. H. Achmad Nawawi, SH., Msi mengemukakan, link and match sebagai pola ideal pendidikan vokasi penting menjadi fokus lembaga pendidikan dan industri. Sehingga pengangguran dari lulusan SMK akan bisa ditekan asalkan ada keterhubungan dengan industri.

Keterhubungan dengan industri menjadi kunci mengatasi pengangguran tenaga kerja terampil dari SMK. Jika tidak  terhubung dengan industri, sekolah akan kesulitan menyalurkan lulusan mereka. Sedangkan dari sisi industri, keterhubungan bisa menjamin penyiapan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan standar mereka masing-masing.

Ada empat kunci yang perlu dijalankan untuk mengembangkan link and match SMK dengan industri. Pertama, kuantitas. Pengembangan vokasi SMK kini diarahkan tidak lagi pada banyaknya lulusan SMK semata. Lulusan didorong untuk sesuai dengan kebutuhan industri di wilayah masing-masing.

Kedua, kuantitas. Lulusan SMK dipacu agar memenuhi demand – permintaan industri. Hal itu diberi ruang melalui sinkronisasi kurikulum pembelajaran dengan standar industri. Kelulusan SMK menyesuaikan kurikulum ajar didorong melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 34 Tahun 2018 mengenai Standar Nasional Pendidikan SMK/ Madrasah Aliyah Kejuruan. SMK diberikan keleluasaan membuat kurikulum yang implementatif. Penyelarasan kurikulum dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan atau industri bisa dilakukan.

Ketiga, faktor kebutuhan sumber daya manusia (SDM) oleh industri. Kebutuhan terhadap beragam pekerjaan terampil dapat berubah-ubah trennya sesuai perkembangan pasar. Terlebih saat ini tengah terjadi revolusi industri 4.0 yang juga menggerus sebagian tenaga terampil. Karena itu, SMK harus mencermati tren yang berkembang. Ada 4 kompetensi keahlian baru (jurusan) yang ditetapkan oleh Kemendikbud berdasarkan masukan dunia usaha – dunia industri dan asosiasi profesi; retail, manajemen logistik, hotel & restoran, dan produksi film.

Permintaan dari empat sektor tersebut akan tumbuh pesat ke depan, sehingga SMK harus menyiapkan tenaga terampil sesuai dengan kebutuhan. Ritel daring, misalnya, sangat berkembang pesat dan membutuhkan tenaga terampil. Jasa logistik – pengiriman saat ini juga tumbuh pesat.

Keempat, geografis. Keberadaan SMK tidak boleh mengabaikan potensi wilayah yang dibutuhkan pasar lapangan kerja, diminati masyarakat, dan industri setempat.

Badan Pusat Statistik (BPS mencatat, lulusan SMK menjadi penyumbang tertinggi tingkat pengangguran terbuka di Indonesia. Bahkan, Presiden Joko Widodo merespons masalah revitalisasi terhadap 5.000 SMK demi terwujudnya link and match dengan mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2017 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan, untuk membantu menciptakan link and match dan meningkatkan kualitas SMK.

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mencatat, pengangguran lulusan SMK terus menurun. Tahun 2016 tercatat 9,8% tahun 2017 menjadi 9,2%, dan tahun 2018 sebesar 8,92%. Angka partisipasi tenaga kerja lulusan SMK dari waktu ke waktu juga positif, mengalami tren kenaikan. Jika tahun 2015 hanya 10,83 juta orang, meningkat menjadi 13,68 juta orang tahun 2018. Kita optimis, revitalisasi SMK yang mulai menunjukkan dampak positif terhadap turunnya pengangguran lulusan SMK terus berlanjut.

Menurut H.Nawawi yang menjabat Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) DKI Jakarta, adanya Inpres Nomor 9 Tahun 2016, Kemendikbud tentu sudah menyusun peta jalan pengembangan SMK, dan meningkatkan kerja sama dengan dunia usaha dunia industri (DIDU). Kemudian melakukan pengembangan dan penyelarasan kurikulum, mendorong inovasi, peningkaran profesionalisme guru dan tenaga kependidikan dan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK.

Bidang garapan revitalisasi SMK akan diterapkan di 5.000 SMK. Yang jadi sasaran revitalisasi akan fokus pada bidang manufaktur, pariwisata, pertanian, kemaritiman, industri kreatif dan energi pertambangan. Sedikitnya ada 142 kompetensi keahlian yang sudah tersedia skema sertifikasinya untuk kualifikasi level II dan III. Kemendikbud fokus ke pengembangan karakter kerja agar lulusan SMK siap  memasuki  dunia kerja.

Saat ini strategi Indonesia dalam mempersiapkan tenaga terampil lulusan SMK yakni pada kebutuhan industri – demand side. Dengan demikian, penyusunan kurikulum dan peran serta industri sebagai calon pengguna semakin ditingkatkan. Hal ini berlaku baik  untuk tingkat nasional, regional, maupun internasional. Karena itu, kurikulum 60% ditentukan oleh dunia usaha. Kemudian, proses belajar mengajar juga lebih banyak pada praktik di dunia usaha dan industri.

Dalam Inpres ditekankan, perlu upaya kerja sama dengan Kementerian – Lembaga termasuk pemerintah daerah dunia usaha atau industri. Untuk mencapai tujuan tersebut, Kemendikbud melalui Direktoat Pembinaan SMK dan Kemenperin bekerja sama dengan PT Komatsu Indonesia dengan melibatkan 35 SMK terpilih se Pulau Jawa. Peluncuran Kelas Komatsu dilakukan melalui sinergi Kemendikbud dan Kemenperin.

Realisasi penyelenggaraan Komatsu Class sudah dimulai sejak tahun 2016 dengan penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Industri Alat Berat, sinkronisasi kurikulum, magang guru, penyediaan alat peraga pendidikan serta penyusunan silabus dan modul pembelajaran. Terakhir, Komatsu melakukan uji coba pembelajaran dan praktik kerja di Pusat Pelatihan Komatsu Indonseia bagi 508 siswa SMK sejak April 2018 hingga Juli 2019.

Direktur Utama Komatsu Indonesia, Pratjojo Dewo menyatakan program link and match merupakan bentuk konsistensi atas komitmen perusahaan untuk berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bentuk mempersiapkan siswa SMK untuk memasuki dunia kerja. Khususnya di industri manufaktur alat berat.

Di setiap sekolah ada sekitar 35 siswa yang ikut program tersebut. Sehingga setiap tahunnya akan lulus sekitar 1.225 siswa yang bisa memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri alat berat. Bukan hanya di Komatsu Group, tetapi juga di perusahaan lain. (sutarwadi.k)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Membesarkan UMKM Indonesia Sangat Unik

Membicarakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang oleh pemerintah jumlahnya diklaim 64 jutaan unit (bila data itu akurat), adalah membicarakan semangat juang diri kita sendiri, bagaimana untuk setiap kita secara hakiki dapat berusaha mandiri, berkembang dan terus maju, mulai dari rumah (kampung), ke tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten – kota, kemudian ke tingkat provinsi, nasional, antar negara ASEAN hingga lintas mancanegara.

Bila dilihat dari awal, UMKM itu memiliki visi besar dan mulia. Misinya dimulai dari langkah kecil, sederhana, kongkret, riil, membumi, dan terus menerus berubah, berkembang, maju terus pantang mundur dan pantang menyerah. Prinsip umum dan sederhana ini sering terlewatkan. UMKM ingin instant dan di-instant, seperti memompa ban motor baru yang masih kempes, bagaimana agar cepat dan siap berjalan cepat. Tetapi bagaimana mengemudikan motor dan memelihara ban agar selain bermanfaat juga awet seringkali terlewatkan.

UMKM itu seringkali tiba-tiba dipompa supaya cepat muncul. Namun sering pula kempes lagi, dan dipompa lagi, demikian seterusnya hingga kini. Banyak Kementerian – Lembaga dan Swasta mengatakan; “Punya binaan sudah berkontribusi bagi penciptaan lapangan kerja, pembiayaan, penyerapan produksi dan jasa serta peningkatkan UMKM. Tetapi tetap saja dalam berbagai diskusi kesulitan pembiayaan, perizinan, peningkatan akses pasar domestik hingga potensi ekspor masih banyak yang belum mengetahui road map things to do & things to take it’ – peta jalan untuk melakukan langkah konkret.

SMESCO Indonesia sebagai rumahnya UMKM tentu diharapkan menjadi rumah yang “nyaman” untuk ditingali produk-produk UMKM lintas lintas kabupaten – kota dan lintas provinsi dari seluruh Indonesia. Dan produk-produk itu tidak hanya dipamerkan dari waktu ke waktu. Smesco diharapkan dapat menjadi ‘Agent of improvement” bagi UMKM mulai dari start – ide, penciptaan – pelaksanaan, pemupukan agar kuat, juga jadi saluran pemasaran offline & online, penjualan riil hingga repeat order – pemesanan berulang-ulang. Sehingga roda bergerak terus dalam semangat kewirausahaan yang mandiri dan produktivitas tinggi dari para UMKM yang terus hidup dan semakin hidup.

Satu keniscayaan yang sudah kita ketahui semua, di kolong langit ini tidak ada yang tidak bisa. Masalahnya, kita mau atau tidak. Meminjam pelajaran di bangku kuliah, dalam prinsip manajemen umum & sederhana dari Philip Kottler yang abadi: POAC (planning, organizing, actuating & controlling), dimana semestinyalah Smesco yang sudah dibangun dan exist hingga saat ini dapat lebih berkembang dan maju melalui peran tidak pada segelintir orang, tetapi mengikutsertakan;

Para pelaku usaha (bukan pengijon, calo atau mediator), Komunitas Koperasi UMKM, Kopitu, misalnya. Juga akademisi yang rela & mau berkontribusi, Pemerintah, terutama Kementerian – Lembaga terkait, Kemenkop dan UKM sebagai “induk semang”. Bank BUMN yang kompeten dan berintegritas pada KUMKM. Perusahaan BUMN dan Swasta yang memiliki hati berhasrat menciptakan binaan UMKM unggul.

Yang juga sangat diharapkan segera ada Bank UMKM yang source fund-nya dari hibah negara-negara donor, CSR BUMN – Swasta, dana bantuan dari dalam negeri sehingga dapat memberi extra very low interst sekitar 0,5% per tahun dibanding sekarang 6% per tahun. Dan masih banyak hal lainnya yang dapat turut serta dalam gerbong panjang yang ditarik “loko motif”; Smesco Indonesia menuju tujuan UMKM from local to global.

Smesco Indonesia merupakan brand dari Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM (LLP – KUKM) yang didirikan era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada Maret 2007. Tujuan didirikannya LLP – KUKM adalah untuk memberikan layanan promosi dan pemasaran produk-produk koperasi dan UMKM yang memiliki nilai unggul.

Tugas utama dan fungsi LLP – KUKM sebagai pelaksana layanan; informasi pasar, sarana pemasaran, promosi produk dan jaringan pemasaran, distribusi produk KUKM, konsultasi pemasaran, peningkatan kemampuan manajemen, teknik pemasaran dan inkubasi pemasaran. Smeco saat ini menjadi show room berbagai produk unggulan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia. Produk-produk itu didisplay pada stand di paviliun provinsi yang terletak di lantai 1 dan 2 Gedung Smesco di Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 94, Jakarta Selatan, salah satu daerah segi tiga emas.

Tempatnya sangat strategis sebagai sarana pemasaran produk-produk unggulan dari berbagai provinsi, co-working space & office serta arena pameran. Lokasinya mudah dijangkau dari arah mana saja. Baik dari arah Pelabuah Tanjung Priuk, dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan dari Sumatera sekalipun. Semua bisa lewat jalan tol, keluar pintu tol Patung Dirgantara, Pancoran, Tebet, Jakarta Selatan.

Beberapa waktu silam dilakukan revitalisasi provinsi dan revitalisasi paviliun sebagai upaya menata ulang ruang display produk unggulan ke lokasi yang lebih strategis. Sehingga wajah baru paviliun provinsi menjadi citra baru terhadap indentitas daerah dengan menampilkan local heritage dan keunikan produk. Revitalisasi paviliun provinsi sejak Januari 2018 merupakan langkah mengintegrasikan semua potensi yang ada agar Smesco menjadi icon – citra baru dalam pencapaian pengembangan dan pemasaran produk-produk unggulan Koperasi dan UKM.

Dalam prosesnya, revitalisasi dilakukan dengan pendekatan terintegrasi, visitor oriented, dan dedicated to local SME agar berdaya guna. Juga dimaksudkan untuk menghasilkan Smesco yang tampil beda, berdaya saing dan mampu menghasilkan values bagi pengunjung. Sebagai citra baru Smesco Indonesia akan menjadi referensi terbaik untuk mencari dan mendapatkan produk lokal, produk KUKM Indonesia. Smesco menjadi wadah promosi produk lokal, produksi KUKM, sekaligus wadah untuk meningkatkan daya saing KUKM daerah.

Smesco diharapkan dapat menjadi area one stop shopping bagi konsumen lokal maupun internasional yang ingin membeli produk-produk KUKM Indonesia. Sinergi dan integrasi dilakukan utamanya dengan lembaga terkait, pusat promosi produk KUKM untuk kegiatan promosi dan pemasaran produk unggulan daerah. Sebagai sebuah lembaga yang berorientasi daya saing, Smesco berkonsep consumer driven, yakni berorientasi kepada kepentingan pengunjung, serta mempertimbangkan keinginan dan kemudahan yang mereka perlukan.

Keberadaan paviliun bukan sekedar representasi daerah, tetapi juga memberi manfaat bagi KUKM lokal. Produk yang ditampilkan di paviliun provinsi berpotensi ekspor ke mancanegara, meliputi fesyen, furniture, alas kaki, dan kuliner. Inilah yang membedakan produk unggulan Indonesia yang ada di Smesco dengan tempat lain. Harga setiap produk merupakan harga langsung dari perajin ditambah pajak 10%.

Sebelumnya, ke-34 stand yang menjual produk dari 34 provinsi ditempatkan di lantai 3,11, 12 dan 15 Gedung Smesco. Menkop UKM kala itu, AA Ngurah Puspayoga dalam acara Re-lounching produk unggulan provinsi pada 31 Maret 2018 mengatakan; “Kita berharap jika orang datang ke Smesco dapat melihat miniaturnya Indonesia. Pelaku UKM dapat menititipkan dan menjual produk di stand masing-masing provinsi. Misalnya, pelaku KUKM dari DKI Jakarta, di Paviliun DKI Jakarta. Begitu juga dengan provinsi-provinsi lainnya.”

Kondisi saat ini, dengan adanya pembangunan LRT, dan aturan ganjil genap untuk kendaraan mobil, serta kemacetan yang menjadi masalah utama di DKI Jakarta, menjadikan lokasi Smesco tidak strategis lagi jika dibandingkan dengan Sarinah yang berlokasi di Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Beberapa bulan sebelum merebak pemberitaan virus corona – Covid 19, di Smesco ada sebuah acara, tetapi sepi. Yang berkunjung sangat sedikit, tidak seperti beberapa tahun silam. Kondisinya seperti Sarinah sebelum direvitalisasi. Kini pengunjung ke Sarinah jauh lebih ramai.

Sewajarnya, Smesco Indonesia dikelola oleh para millenials yang penuh inovatif,  agresif mengelola bisnis dan dijadikan tempat yang bisa bersinergi dengan Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan salah satu pusat KUKM yang wajib dikunjungi turis dari mancanegara bila ke Jakarta. Seperti yang dilakukan oleh Korea dan China dimana setiap wisatawan wajib mengunjungi tempat-tempat wisata yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini tentu harus juga bekerja sama dengan biro perjalanan. Sehingga Smesco Indonesia bisa memberikan wajah baru pusat bisnis produk-produk unggulan.

Pertanyaannya, ada tidak dari sekitar 64 juta UMKM yang sudah lulus menjadi besar, memiliki best practices atau success story untuk memimpin Smesco. Kalau ada satu dua tiga empat atau lima yang berhasil, perlu ditelusuri untuk dibentuk team, bisa ditetapkan yang punya leadership untuk memimpin Smesco. Memimpin unit kerja pemerintah itu gampang-gampang susah. Dan membesarkan UMKM mungkin juga jauh lebih susah. Endingnya, sekarang ada di tangan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Dengan kata lain Quo Vadis Smesco Indonesia.

Usai pelantikan dalam acara ngobrol santai, Direktur Utama (Dirut) Smesco Indonesia, Leonard, menekankan program kerja ke depan menyiapkan perencanaan adanya marketspace (Collective Studio), Aktifitas Edukasi, Link and Match, Co-Working Area, Retail Gallery, Event Area, Food and Beverage Area, Legal Corner, hingga Consulting Area.

Hal itu sesuai visi Menkop dan UKM dalam membangun KUKM ke depan, yaitu meliputi riset, pengembangan SDM, penguatan proses produksi, pemetaan kebutuhan pasar secara holistik dan seluruh elemen pendukungnya, persyaratan administrasi ekspor, dan sebagainya. Smesco akan diperkuat sebagai fungsi simpul komersial dengan ragam program link and match dengan pembeli lokal sampai global. Intinya, Smesco Indonesia akan menjadi ajang akademis dan komersial.

Yang jelas, Smesco memiliki beberapa fokus yang bakal dikerjakan dengan pondasi kebutuhan di masa depan. Di antaranya mengembangkan industri kuliner berbasis kearifan lokal. “Kita akan membangun UKM kuliner dari kebun hingga restoran. Kita akan menjual produk khas dan unik asli Indonesia. Fokus lainnya, pada future craft terkait dengan seni budaya khas Indonesia. Juga akan mengembangkan produk KUKM berbalut budaya,” urai Leonard.

Terkait mobilitas, juga dipandang sebagai sesuatu yang penting karena di depan Gedung Smesco ada jalur LRT. Itu kelak akan mengubah mobilitas penduduk Jakarta yang akan menciptakan UKM dengan produk-produk baru. Smesco juga bisa menjadi tempat simulasi bagi project-project yang akan dikerjakan. Future living akan ada di Smesco dalam menghadapi tantangan globalisasi. Smesco juga akan menjadi Public Space dengan adanya LRT.

Ke depan, pengembangan Sarinah dan Smesco diharapkan agar tidak saling tumpang tindih. Begitu juga dengan produk fesyen bakal dikembangkan secara benar. Itu semua membutuhkan Research and Development secara silmutan. Sekarang kita lihat realisasi konkret dari strategi yang sudah diwacanakan dalam 100 hari pertama kerja yang sebentar lagi akan habis apakah berdampak langsung ke KUKM Indonesia dan membikin kondisi Smesco menjadi lebih ramai, dan keuangannya tidak merah.

Ternyata, hasilnya sampai sekarang Smesco tetap sepi. Sedikit agak ramai jika ada acara Kementerian atau event pernikahan – kondangan atau event-event lain yang sebenarnya tak ada keterkaitannya KUKM. Contoh, Job Fair – bursa kesempatan kerja. Para pelaku UMKM Indonesia masih lebih melirik Pasar Tanah Abang maupun Thamrin City dan Sarinah. Sehingga membuat keuangan Smesco tetap merah. Dan semakin sunyi sepi setelah wabah corona merebak di di seluruh dunia.

 Smesco peruntukannya mutlak bagi pelaku usaha kelas bawah dan menengah, seperti pedagang konveksi di Pasar Tanah Abang atau Thamrin City, dan kuliner. Setrategi pengelolaannya harus benar-benar mengenal pelaku UMKM, bukan cara membikin setrategi seperti di Pasific Place. Saat ini peranan daya ungkit perusahaan besar untuk membikin KUKM naik kelas belum diterapkan sama sekali.

Ada yang berpendapat, perusahaan besar seperti Unilever tidak akan pernah mau menaikkan kelas UMKM kecuali yang mau menjadi resellernya. Perusahaan kelas dunia susah minta izinnya dari level negara ke regional ke global. UKM juga tidak akan bisa menjadi pemasok bahan baku karena kuantitas dan konsistensi kualitas. Untuk itu lupakan saja datangnya malaikat penolong dari perusahaan besar. UKM harus bisa mandiri, didukung oleh ekosistem yang didesain pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten – kota.

Dan juga jangan terlalu berharap kepada kaum UKM milenial, sebab mereka punya dunia sendiri. Sementara, biarkan mereka dengan ekosistem yang ada. Saat ini yang menjadi persoalan, pelaku UKM yang belum tersentuh, perlu dipikirkan Smesco dengan setrategi tepat sasaran. UKM Indonesia setrateginya harus beda, tidak bisa disamakan dengan setrategi manajemen di Pasific Place Jakarta, misalnya.

Boleh ambil study kasus, Sandiaga Uno dalam setrategi mengatur UKM, apa hasil akhir OK OC? Yang terjadi banyak kegagalan. Contoh, OK OC Mart banyak yang tutup. Kurang apa Sandiaga Uno. Sekolah lulusan luar negeri, financing OK OC banyak menggunakan dana dari kantong sendiri, tidak melibatkan anggaran pemerintah. Tetap saja mengalami kegagalan.

Kegagalan Sandiaga dikarenakan tidak mengenal benar dunia UMKM Indonesia. Yang dimiliki Sandiaga Uno sebatas teori dan gagasan. Sedangkan perjalanannya tidak pernah mengalami usaha mikro kemudian naik kelas menjadi kecil, lalu naik menjadi menengah dan besar. Sandiaga mulai lahir sudah mapan sampai kuliah di USA dan bekerja di perusahaan investasi. Bagaimana bisa membranding dirinya untuk sukses di kalangan UMKM Indonesia. Saran kepada Menkop dan UKM, pilihlah Manajemen Smesco yang pernah besar dari UMKM di dalam negeri.

Membesarkan UMKM di Indonesia ini sangat unik. Lika-likunya sangat spesifik, tidak ada di negara lain manapun. Ibarat selancar di arus banyak karang, dan ganasnya ombak luar biasa sehingga pengendaliannya butuh ketrampilan tinggi. Sebuah ilustrasi masalah riil yang dihadapi pelaku UMKM, sebut saja namanya Jaswadi.

Dia bilang; “Saya masih punya tanggungan pucuk teh dengan Pak Sabar, petikan bulan Januari sampai dengan Maret, tetapi lupa berapa totalnya. Karena sakit selama 2 bulan tidak bisa cari uang, pembayaran pucuk teh tertunda juga.”  Minggu kedua Maret memutuskan tak beli pucuk teh sampai kondisi perekonomiannya stabil dan utangnya lunas. Hitungan teh yang masih jadi tanggungan; Januari 18 Kg, Februari 41,5 Kg, Maret 51,5 Kg. Harga per Kg Rp 4.000,- Jadi total utang, 111 Kg X Rp 4.000,- = Rp 444.000,-

Pembina; “Nomor rekeningnya mana Pak Jaswadi? Bapak sudah mulai usaha dan sudah dipercaya oleh banyak pihak harus bisa menjaga kontinitas ke pihak penjual. “Saya bantu tambah modal, dan lunasi hutangnya supaya bisa ambil pucuk teh lagi. Kalau ambil bahan baku, setelah dapat pembayaran harus segera dibayarkan ke pemasok. Jangan berhutang terlalu lama. Bapak dibayar oleh toko secara tunai atau dihutang?”

Jaswadi: “Baik Pak,.. kemarin karena terkendala sakit, jadi semua uang terpakai untuk berobat dan yang lain. Karena kalau saya sakit, lumpuh juga ekonomi keluarga. Baru mulai timik-timik, eee… wabah corona datang, Pak”

UKM lain, Warsini pedagang batik; “Titip jual ya Bu….” Nota paling banyak di Hamzah Batik Malioboro. Untuk cair per satu nota butuh proses 3 bulan baru bisa dapat uang. Yang di Toko Jaya, per tanggal 10 setiap bulan. Kirim minggu akhir sekitar tanggal 23 – 25 setiap bulan, dan dibayarnya pada tanggal 10 bulan berikutnya. Dari cerita itu kita tahu modal UMKM sangat terbatas. Sudah begitu, modal terpakai ketika dia sakit. Mereka tak bisa utang ke pemasok, sedangkan pembeli menghutang ke dia. Jadi, usaha yang jauh lebih besar hidup dari memutar income dari UKM dengan term – jangka waktu pembayaran cukup lama.

Intinya, perusahaan besar kode genetik usahanya berfalsafah kapitalisme. Mereka terikat dengan harapan pasar modal kapitalis. Tidak bisa dipaksakan untuk membantu UKM yang beresiko tinggi kelanjutan usahanya seperti contoh di atas. Modalnya terkuras ketika dia sakit, dan tidak ada yang melanjutkan usaha. Kecuali usaha menengah yang dimitrakan. Yang perlu didata, jenis usaha dan jumlahnya. Usaha mikro dengan usaha menengah permasalahannya berbeda.

Perbedaan UMKM dengan usaha besar; UMKM modal, pasar, daya produksi, SDM terbatas. Jika owmer – pemilik santai maka belum bisa surveive, dan tidak bisa dapat uang. Keterampilan manajerialnya pun terbatas. Salah satu solusinya; bangun usaha dengan 4 kaki meja dengan bahagia. Alokasikan uang pendapatan minimal 20% untuk investasi. Bangun sistem usaha sendiri, kerja aktif, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.

Investasi pada usaha bersama, 2 – 3 orang menerapkan sistem koperasi. Karena koperasi itu dasarnya adalah kerja sama, untuk kepentingan bersama. Usaha bersama dimana cash flow hariannya tinggi seperti restoran atau kebutuhan pokok. Pun berinvestasi pada aset. Sering silahturahmi dan berbuat baik kepada siapa pun akan banyak rezeki yang tak terduga. Juga harus dihindari kebiasaan berhutang sebagai solusi utama untuk pengembangan usaha.

Pola pikir bank; menyukai UMKM jika mengembangkan usahanya dengan dana hutang. Kalau banyak dana yang dipakai UMKM dari bank, maka targetnya tercapai. Konon, bila kita bayar setara dengan nilai hutang, bank sudah dapat keuntungan. Apalagi jika dikenai bunga dan lain sebagainya. UMKM kasihan kena bunga tinggi. Sedangkan pengusaha besar menganggap bank sebagai komoditas uang, distributor uang.

Sebaiknya UMKM mendirikan koperasi sebagai lembaga keuangan bersama. Jika UMKM sebagai anggota koperasi – pemilik koperasi, sekaligus pelanggan koperasi produktif, dan disiplin bertransaksi di koperasi akan membuat koperasinya tumbuh dan berkembang lebih pesat. Semakin kuat induknya, semakin banyak pula usaha dan manfaat investasi di koperasinya.

Kalau pengusaha besar, pemilik pabrik rokok Djarum, Bank BCA, Indofood dan sebagainya, mereka sudah tidak berfikir untuk uang karena sudah memiliki sistem. Kuncinya, usaha itu pada system yang baik. Karyawan – SDM-nya berkualitas. Jika sudah punya sistem usaha bagus, maka 24 jam tidak dijaga pun akan selalu meningkat dengan sendirinya. Bila sudah punya aset, nilai aset semakin lama akan semakin tinggi tanpa dijaga 24 jam. (mar)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Sally Giovanny : Melestraikan Batik, Memberdayakan UMKM

Ada lima tokoh terpilih sebagai Tokoh Perubahan 2019 versi Harian Umum Republika. Salah satunya pemilik Batik Trusmi Group, Sally Giovanny. Dia terpilih sebagai tokoh perubahan karena berhasil melestarikan batik dan memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Yang menarik dari Sally, karena tahun 2013 dia pernah memperoleh piagam penghargaan dari Museum Rekord Indonesia (MURI) sebagai pemilik toko batik terbesar saat usia baru  23 tahun. Dalam perbincangan dengan Majalah UKM Sally menuturkan bahwa dirinya pernah memperoleh banyak cemoohan karena menikah terlalu muda Ibnu Riyanto.

“Masyarakat sekitar tempat tinggal saya, Trusmi, Cirebon, Jawa Barat, menilai, pernikahan di usia muda hanya akan membuat beban keluarga. Bahkan banyak pendapat mengatakan, usia perkawinan kami hanya akan bertahan seumur jagung. Pandangan meremehkan itu juga kami terima ketika memulai bisnis. Karena saat itu menikah setelah lulus SMA dan belum memiliki ilmu dan pengalaman bisnis. Semua pandangan negatif itu menjadi pesemangat untuk membuktikan, kami bisa,” tuturnya.

Merasa tertantang, Sally dan suaminya mengubah energi negatif menjadi positif. Saat orang lain bilang tidak mungkin jadi orang sukses, justru menjadi semangat, pasti bisa. Sally dan Ibnu mengaku, mulai bisnis batik dari nol, sehingga benar-benar merasakan suka dukanya. Namun semua kisah itu menjadi momentum untuk mengubah bisnisnya besar.

Tekadnya bulat, membesarkan usaha agar bisa membuka lapangan kerja lebih luas. Karena itu terus berusaha lebih visioner dan berinovasi menciptakan produk–produk baru. Dikeyakini dengan melakukan perubahan dari diri sendiri, akan mampu membuat perubahan bagi orang lain.

Batik yang dulu dipandang sebagai busana untuk kondangan, dan mayoritas yang mengenakan orang tua, ia ubah memenuhi selera kaum muda. Model dan motif batinya batiknya lebih beragam. Hasilnya, batik produksinya bisa menjamah semua kalangan dan bisa dipakai disetiap kesempatan. Baik dalam suasana resmi, santai, kondangan, jalan-jalan ke mal dan sebagainya.

Sally juga membangun Toko Batik BT Trusmi di Sentra Batik Trusmi, luasnya lebih dari dua hektar.Bekas pabrik rotan dan tekstil itu dulu oleh masyarakat dianggap angker karena bangunannya mangkrak lebih dari 10 tahun. Oleh Sally disulap menjadi toko batik terbesar dan terluas di Cirebon. Dan bukan hanya menjadi pusat batik, tetapi juga pusat oleh-oleh khas Cirebon, arena permainan anak dan workshop tempat masyaraat belajar membatik.

Saat ini, Sally dan suaminya telah memiliki 10 toko batik di lima kota besar di Indonesia. Bisnisnya kini telah meluas ke bidang kuliner dan properti. Kalau dulu hanya punya 10 karyawan saat ini sudah 1000 pegawai, serta memberdayakan 100 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Meski sudah memiliki lebih dari 1.000 karyawan dan memberdayakan lebih dari 100 UMKM, ternyata belum membuat Sally dan Ibnu merasa puas. Mimpi ke depan, memiliki sejuta keluarga besar Batik Trusmi. Mereka berharap dari usahanya itu akan ada sejuta orang yang diberdayakan untuk berkarya yang bermanfaat.

“Saya ingin menularkan perubahan kepada orang banyak. Karena itu, saya keliling ke berbagai perguruan tinggi, juga dari satu tempat ke tempat lain untuk membagikan pengalaman merintis bisnis. Bagi mereka yang hanya lulusan SMA seperti saya tetap bisa menghasilkan karya. Kita punya kemampuan untuk itu,” kata Sally yang juga juga sibuk mengisi berbagai seminar bagi yang baru merintis bisnis.

Mimpi yang lain, Sally ingin membangun Uinversitas Batik, agar generasi muda mengenal, mencintai dan memiliki keahlian membatik. Karena saat ini perajin batik kebanyakan sudah tua. Generasi muda jarang yang mau membatik. Menurut Sally, mereka menganggap membatik itu kuno dan membosankan.

Padahal, membatik itu sesungguhnya membanggakan karena menghasilkan karya seni bernilai tinggi. UNESCO sudah mengakui bahwa batik sebagai warisan budaya adiluhung. Namun anak-anak muda menganggap, batik itu kurang gaul, tak keren dan membosankan. “Saya ingin mengubah mindset tersebut agar mereka gemar membatik,” ujarnya. Langkah yang dilakukan lanjut dia, gencar kampanye cara membatik ke sekolah-sekolah dan instansi-instansi. Pengunjung yang datang ke tokonya pun tidak hanya belanja, tapi juga bisa belajar membatik dan membawa hasil batiknya pulang ke rumah masing-masing.

Sally mengaku, kurang lebih 12 tahun jatuh bangun usaha. Banyak hikmah yang diperoleh. Diyakini, tak ada rasa sakit membuat mati. Justru rasa sakit itu akan membuat semakin kuat dan besar. Rasa sakit dan pahit getirnya membangun usaha malah menjadi obat, dan kebahagiaan bagi banyak orang yang turut menikmati buah dari jerih payahnya. Bisnis yang dianggap gagal, jualan kain kafan. Waktu itu mulai belajar mengenai bahan dasar batik ke tetangganya yang perajin batik.Bahan dasar batik ada 3 jenis, yaitu; katun, sutera dan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Ketika memegang kain katun, dia merasa sangat mengenalnya, kemudian langsung pulang mengambil kain kafan. Saat ditunjukkan kepada perajin batik, kain kafan itu merupakan bahan katun, yang biasa  disebut kain mori. “Saya senang, karena bisa menjual kain mori ke perajin batik. Jadi, terbuka peluang besar. Sejak saat itu, saya keliling Desa Trusmi naik sepeda menjajakan kain mori ke perajin batik. Dan dari mereka belajar tentang batik. Kita bisa lho jualan sambil belajar. Saya sudah buktikan,” ujarnya.

Sambil jualan, Sally mulai produksi batik sendiri. Jualannya ke luar kota, antara lain ke Pasar Tanah Abang Pasar Baru, Jakarta. Alat transportasinya mobil box sewaan. Sally dan suaminya biasa istirahat dan tidur di mushola, mandinya di SPBU. Dia mengaku, 3 tahun berjuang, kerja keras dan prihatin sambil mengandung anak pertama sampai lahir.

Ketika buah cinta mereka lahir, dengan rasa cinta pula ke manapun berjualan diajaknya. Bahkan sering terpaksa menidurkan bayinya di lantai mushola hanya beralaskan kain. Walau hati nurani sebagai ibu tidak tega, terpaksa dilakukan karena uangnya harus dibagi; untuk sewa mobil, beli bensin, makan, modal dan membayar perajin batik.

Ketika mulai terkumpul modal Sally membuka toko kecil-kecilan di garasi rumah mertua, dan berbagi tugas dengan sang suami. Dia menjaga toko merawat anak dengan kasih sayang, suami jual batik ke pasar. Toko kecil di garasi rumah mertua itu semakin hari semakin banyak dikunjungi konsumen dan berkembang, sehingga akhirnya membuka toko cabang dengan nama Raja Batik IBR.

Saat sedang menikmati manisnya hasil jerih payah, tahun 2011, badai besar menghantam, dikhianati orang kepercayaan hingga membuat goyah bisnisnya. Dari 3 toko yang dimiliki, terpaksa 2 toko ditutup, dan tinggal mengelola 1 toko. Dari badai yang menghantam bisnisnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik. “Kami sulit, namun terus berusaha untuk bisa bangkit. Berjuang tanpa henti adalah kunci menggapai keberhasilan,” katanya optimis.

Terbukti, akhirnya 2 toko yang sempat ditutup bisa dibuka kembali. Bahkan kemudian bisa membuka toko baru BT Batik Trusmi yang berhasil menghantarkan untuk menerima penghargaan Rekor MURI sebagai toko batik terluas dengan pemilik usia termuda, tahun 2013. Kemudian tahun 2018 Sally menerima piagam penghargaan sebagai salah seorang Tokoh Perubahan 2017.

Dan pada tahun 2018, Sally menerima piagam penghargaan sebagai salah seorang Tokoh Perubahan 2017. Sally yakin, siapa pun bisa sukses selama kerja keras, kerja cerdas, tekun dan fokus. Bersama sang suami terus mengembangkan bisnisnya. Bisnis kuliner dan property kini telah menggapai sukses. Konsekuensinya tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang isteri dan ibu untuk ketiga anaknya.

Dan belajar pun tiada henti. Karena haus ilmu, selalu belajar dan mengambil ilmu dari orang-orang yang telah sukses besar. Terbang tinggi jauh ke Balikpapan, Kalimantan Timur, hanya untuk mengikuti seminar tentang Revolusi Bisnis yang disajikan oleh motivator kondang Tung Dasem Waringin. Karena tak pernah belajar di bangku kuliah, katanya memberi alasan, harus banyak belajar di lapangan. Atas sukses yang kini telah dinikmati, Sally selalu mau berbagi kepada mereka yang memtuhkan. (Sutarwadi)

Posted in Kiat Sukses | Tagged | Leave a comment

Produksi Sampah Plastik Indonesia Terbanyak Kedua di Dunia?

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian sampah plastik di perairan dalam Indonesia, yakni di Selatan Jawa, Bali, dan Selat Makassar. Penelitian yang dilakukan 18 November hingga 25 Desember 2019 untuk mengetahui benarkah sampah plastik di laut Indonesia berasal dari masyarakat Tanah Air.

Kita tahu, Indonesia penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Namun, benarkah sampah plastik di laut itu produksi kita? Atau sampah yang lewat dari utara ke selatan dari negara lain. Itulah pentingnya riset dilakukan. Jenis sampah Styrofoam yang mendominasi di laut Indonesia. Penelitian yang dilakukan LIPI di 18 kota utama Indonesia menemukan 0,27 juta ton hingga 0,59 juta ton sampah masuk ke laut Indonesia selama kurun waktu 2018.

Sampah-sampah tersebut, masuk dari jalur sungai atau muara menuju laut lepas bukan akibat dari transportasi kapal. Sampah styrofoam lebih dominan dari jenis sampah lain, karena sampah plastik botol masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Jadi oleh pemulung, botol dan plastik diambil karena masih bisa didaur ulang sedangkan styrofoam tidak bisa.

Untuk mendapatkan hasil optimal penelitian bisa memakan waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Yang dideteksi bukan hanya sampah plastik yang terlihat namun juga sampel air. Air yang diambil menggunakan Rosette bottle untuk dianalisis kedalamannya 1.000 meter lebih. Alat itu ditenggelamkan sampai kedalaman 2.000 – 3.000 meter. Saat alat tersebut diangkat akan menangkap air yang terkontaminasi, lalu dianalisis.

Kita juga perlu tahu larva ikan tuna di mana menetas dan membesarnya, dan dimana harus ditangkap. Karena itu perlu dipetakan secara baik. Jika tidak, kita hanya akan mendapatkan tuna kecil-kecil. Padahal sebenarnya kita bisa mendapatkan yang lebih besar. Ini sangat penting bagi masyarakat. Data tersebut akan digunakan untuk memberikan masukan bagi institusi lain.

Indonesia di urutan ke-2 dalam daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut. Urutan teratas ditempati China yang membuang 3,5 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahun. Data ini terungkap dari hasil penelitian yang dimuat di jurnal Science. Disebutkan, setiap tahun lautan di seluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton. Besarnya jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan berbagai faktor. Ini akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di negara tersebut.

Indonesia menempati urutan ke-2 disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka. Julukan sebagai negara nomor 2 penghasil sampah plastik di dunia, awalnya diberikan oleh peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Jenna Jambeck. Australia meski tidak termasuk dalam 20 besar, juga turut membuang sampah plastik ke lautan sekitar 0,01 juta ton. Itu data tahun 2010. Dan populasi Australia tidak besar di samping telah memiliki sistem pengolahan sampah yang maju. Selama ini volume sampah plastik di lautan diukur dengan cara perkiraan, sehingga angkanya dilihat kisaran.

Tim peneliti yang dipimpin Dr Wilcox menggunakan model memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi suatu negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, dan jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai. Dengan menggunakan data tahun 2010 untuk 192 negara, tim peneliti ini kemudian menghitung sebanyak 275 juta ton sampah dihasilkan tahun itu. Dari jumlah tersebut dibuat rentang antara jumlah minimal dan maksimal sampah plastik yang terbuang ke laut. Ditemukan angka antara 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton.

Dr Wilcox menyebut, insentif untuk memungut sampah plastik kurang menarik karena harga bahan plastik murah. Wilcox bisa membantu suatu negara mengelola sampahnya. Yang paling utama adalah membuat bahan baku plastik itu lebih berharga. Dalam siklus 11 tahun, jumlah sampah plastik mengalami peningkatan 2 X lipat, dengan kemasan dan bungkus makanan atau minuman jenis sampah plastik terbesar.

Data terkait time series atau data dari waktu yang sangat panjang tentang arus oceanography di daerah samudera, seperti Samudera Hindia dan Selat Karimata. Data time series sangat penting untuk mengetahui berapa jumlah air yang mengalir dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia, kemudian bagaimana efeknya, bagaimana suhu, keasinan, sehingga diketahui polanya, perubahan sepanjang tahun terhadap iklim, dan cuaca ekstrim di Indonesia dan dunia.

Untuk memperoleh data time series membutuhkan waktu cukup lama. Karena diperlukan korelasi dengan data stasiun Current, Temperature, and Depth (CTD), serta data biota yang menjadi bahan pembanding untuk mengetahui sejauh mana pengaruhnya. Hasilnya tak langsung keluar karena perlu time series analisis itu dengan data-data yang tahun sebelumnya agar dapat gambaran menyeluruh terhadap aspek oceanography, terkait dengan pola arus, kecepatan arus, keasinan dan lain-lainnya.

Guna mengkonfirmasi hasil penelitian Jambeck, yang menempatkan Indonesia negara ke-2 penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, mendorong Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penelitian sampah plastik di perairan Indonesia. Pmerintah telah membuat rencana aksi nasional (RAN) pengelolaan sampah laut dengan anggaran sebesar US$ 1 miliar dengan target 2025 pengurangan 70% sampah plastik. Untuk mencapai target tersebut, masyarakat, lembaga pemerintah dan swasta harus mengubah perilaku, terutama menekan penggunaan sampah sekali pakai.

Bagi KKP, sebaran informasi tersebut harus bisa dimentahkan dengan data dan fakta yang akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu, BRSDM KKP berencana segera melaksanakan penelitian berkaitan dengan produk sampah plastik yang berasal dari daratan dan masuk ke wilayah laut. Upaya untuk mengungkap produksi sampah plastik yang ada di lautan Indonesia, menjadi tugas penting bagi Indonesia.

Salah satu permasalahan yang kerap kali ditemukan di laut adalah terganggunya kehidupan biota laut beserta sumber daya laut lainnya. Sampah plastik yang masuk ke dalam air, diketahui membawa partikel mikro dan nano plastik yang sangat berbahaya karena bisa termakan tanpa sengaja oleh ikan. Kalau (mikro dan nano) plastik itu masuk ke dalam struktur daging ikan, maka itu akan sangat berbahaya jika kita mengonsumsinya.

Pemerintah Indonesia tengah menyusun konsep untuk pertemuan kerja sama Asia Pasifik (Asia Pacific Economic Cooperation/APEC) yang akan berlangsung Juni mendatang di Cile. Indonesia membagikan pengalaman berkaitan dengan upaya dan kebijakan penanganan sampah plastik di laut yang bisa mengancam lingkungan dan ekonomi. Diperkirakan, mikroplastik yang ada di laut Indonesia jumlahnya kisaran 30 hingga 960 partikel per liter. Keberadaan mikroplastik di laut Indonesia, jumlahnya sama dengan jumlah mikroplastik yang ditemukan di Samudera Pasifik dan Laut Mediterania. Namun, lebih rendah dibandingkan di pesisir Tiongkok, Pesisir California, dan Barat Laut Samudera Atlantik.

Keberadaan mikroplastik di laut Indonesia tak ubahnya monster mini yang setiap saat merusak ekosistem di dalamnya. Keberadaan mikroplastik, harus segera ditangani untuk mencegah kerusakan yang lebih luas lagi di dalam laut. Salah satu cara yang bisa dilakukan, adalah dengan mengubah perilaku manusia yang menjadi konsumen utama mikroplastik. Setiap tahunnya manusia menggunakan plastik hingga sebanyak 78 juta ton. Dari jumlah tersebut, hanya 2% saja yang dilakukan daur ulang dan sebanyak 32% diketahui masuk ke dalam ekosistem darat yang kemudian masuk ke dalam laut. Sementara, sisanya diolah secara bervariasi untuk kebutuhan manusia lagi.

Dengan fakta tersebut ancaman kerusakan ekosistem di laut semakin besar dan tak bisa dicegah. Jika itu terjadi, maka biota laut akan menjadi korban pertama yang merasakan dampak buruknya. Hal itu terjadi, karena mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh biota laut, akan merobek usus dan merusak pencernaan. Salah satu yang menjadi korban adalah penyu. Jika mikroplastik masuk ke dalam tubuhnya, maka dia akan mati secara perlahan. Penyebabnya, karena jika nanoplastik masuk ke darah, maka itu akan merusak otak.

Bahaya lain dari mikro dan nanoplastik adalah karena ukurannya sangat kecil dan bisa dengan mudah dimakan oleh biota laut dari yang berukuran sangat kecil hingga besar. Untuk itu, saat ada di dalam air laut, keberadaan mikro dan nanoplastik akan membahayakan biota laut seperti penyu yang berukuran besar, hingga plankton yang berukuran super kecil. Padahal, plankton ini dimakan ikan kecil, dan ikan kecil dimakan oleh ikan besar. Nah, ikan besar ini dimakan oleh manusia. Jadi, manusia juga sangat rentan.

Saat mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia, maka bahan pencemar akan bekerja untuk mengusir plastik dan tubuh pada akhirnya akan menjadi penuh dengan polusi. Kemudian, jika mikroplastik dimakan oleh biota laut, maka berikutnya akan muncul tumor di tubuhnya. Walau tidak seberbahaya kanker, namun tumor itu bisa mengancam populasi mereka.

LIPI menilai pemerintah memerlukan sebuah teknologi standar untuk memproses pembuangan hingga pembakaran sampah. Terutama bagi sampah styrofoam agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Kini sedang dikembangkan di LIPI misalnya memakai insinerator yang dilengkapi dengan unit plasma. Dengan mekanisme unit plasma tersebut LIPI menyakini kandungan racun seperti dioksin dapat diurai hingga mendekati nol %.

Unit plasma adalah sebuah alat yang menggunakan metode plasma non-thermal yang menguraikan gas buang yang beracun menjadi tidak beracun.  Metode plasma sendiri adalah teknologi yang menggunakan proses tumbukan elektron yang dapat mengionisasi dan menguraikan gas beracun seperti NOx. SOx, dioxin dan furan menjadi gas yang aman dan dapat dilepas ke lingkungan. Selama ini masyarakat memproses sampah dengan cara dibakar menggunakan insinerator non standar. Cara itu akan menimbulkan kandungan dioksin sehingga bisa meracuni ekosistem sekitar serta membahayakan kesehatan.

Kota metropolitan Jakarta dan daerah penyangga seperti; Bekasi dan Tangerang merupakan penghasil sampah dengan angka signifikan dibanding daerah lain. Bahkan, dalam hitungan KLHK setiap orang di kota tersebut menghasilkan 0,7 kilogram per hari. Sedangkan di daerah kota kecil angkanya antara 0,3 – 0,5 kilogram. Berdasarkan riset yang dilakukan LIPI, tingginya volume sampah di kota-kota besar dipengaruhi gaya hidup masyarakat yang cenderung menginginkan segala sesuatunya serba praktis. Hasil riset monitoring peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menunjukkan pula 59% sampah yang tiap hari masuk ke Teluk Jakarta adalah plastik.

Hasilnya dipublikasikan dalam makalah berjudul “Major Sources and Monthly Variations in the Release of Land-derived Marine Debris from the Greater Jakarta Area” yang terbit pada 10 Desember 2019 di jurnal Scientific Reports. Berdasarkan hasil riset, peneliti mengestimasi aliran sampah dari kawasan Jakarta, Tangerang, dan Bekasi mencapai 8,32 ton per hari. Angka itu 6 – 16 kali lebih rendah dibandingkan dengan estimasi dalam studi-studi berbasis model.

Berdasarkan persentase 19 kategori sampah plastik yang dikumpulkan di sembilan hilir sungai di Kota Tangerang, Jakarta, dan Bekasi yang berakhir di Teluk Jakarta, sumbangan polistirena Tangerang 31,69%, Jakarta sebanyak 11,47%, dan Bekasi sebanyak 25,45%. Styrofoam, merek dagang busa polistirena, banyak digunakan untuk mengemas makanan.

Urgen pengurangan secara sistematis penggunaan plastik dan polistirena di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Peraturan tentang pembatasan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan sejak Maret 2019 sudah diterapkan di Tangerang, Jakarta, dan Bekasi. Namun plastik sekali pakai masih digunakan dalam kegiatan perdagangan di pasar-pasar tradisional dan layanan pengiriman makanan berbasis aplikasi daring.

Pelarangan penggunaan bahan polistirena untuk mengemas makanan dan minuman baru diterapkan di beberapa kota. Bandung adalah salah satunya. Kebijakan tersebut merupakan inisiatif lingkungan yang perlu diikuti oleh pemerintah daerah yang lain di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Publikasi hasil studi monitoring sampah juga menyebutkan bahwa Indonesia memproduksi 1,65 juta ton plastik per tahun. Di Indonesia Kota Bandung menjadi pelopor larangan penggunaan styrofoam. Berdasarkan catatan Pemkot Bandung, sampah berbahan styrofoam di wilayahnya mencapai 27 ton per bulan.

Data World Wide Fund for Nature (WWF) mencatat dunia kini memproduksi hampir 300 juta ton plastik setiap tahun. Sebagian besar dari jumlah tersebut adalah sampah yang tidak didaur ulang. Kebanyakan di antaranya dibuang begitu saja ke laut. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Maret 2019, organisasi lingkungan itu mendokumentasikan adanya peningkatan tajam produksi plastik sekali pakai sejak tahun 2000. Saat ini, dilaporkan 85% sampah laut adalah plastik. Selain itu, diprediksi pada 2030 nanti limbah plastik akan bertambah hingga 104 juta ton.

Isu pengurangan sampah masih jadi problem utama di hampir semua negara. Sampah terutama plastik dan styrofoam pasalnya sulit diurai. Kantung plastik setidaknya butuh 10-20 tahun untuk bisa terurai dengan tanah. Sementara styrofoam baru bisa hancur setelah 50 tahun. (damianus)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment