Ada Potensi Pasar Ekspor untuk Plastik Daur ulang

Dengan 17.504 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki panjang garis pantai mencapai 95.181 kilometer, terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia. Dan 65% dari total 467 kabupaten – kota yang ada di Indonesia berada di kawasan pesisir.

Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) sensus penduduk tahun 2015 tercatat 238.518.000 jiwa. Tahun 2020 BPS akan mengadakan sensus penduduk. Diperkirakan jumlah penduduk meningkat menjadi 271.066.000 jiwa. Sebagian terbesar, lebih 80% hidup di kawasan pesisir.  

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jenna Jambeck dari University of Georgia tahun 2015 terhadap 192 negara partisipan yang memiliki garis pantai, termasuk Indonesia menyebutkan bahwa jumlah keseluruhan sampah yang dihasilkan negara partisipan mencapai 2,5 miliar metrik ton, dan 275 juta metrik tonnya – setara 10%, plastik. Sebanyak 8 juta metrik ton sampah plastik itu mencemari laut. Dan yang mengejutkan, Indonesia dinyatakan sebagai kontributor sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok dengan estimasi laju input 0,48 – 1,29 juta metrik ton per tahun.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total jumlah sampah Indonesia di tahun 2019 mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah yang ada. Hingga akhir tahun 2020 KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik hingga 2 juta ton. Untuk itu diperlukan upaya sistematis pengarusutamaan ekonomi lingkungan yang berkelanjutan.

Majalah UKM merangkum diskusi tentang problem penanganan sampah dari aktivis lingkungan hidup, pelaku daur ulang dan pemerintah. Narasumber dalam diskusi tersebut adalah; Sekretaris Direktorat Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PSLB3 KLHK) Suaib Muhadar. Direktur Eksekutif Sustainable Waste Indonesia Dini Krisyanti. Direktur Sustainability Development PT Danone Indonesia Karyanto Wibowo, Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) Jabodetabek Daniel Lorence dan Direktur Eksekutif Divers Clean Action Swietinia Puspa Lestari, tersimpul bahwa persoalan sampah perlu ditangani secara serius dan fokus oleh semua pihak.

Dicontohkan, Jepang yang rakyatnya terkenal kedisiplinannya yang tinggi, dalam mengelola sampah sangat baik. Sebelum dibuang ke tong sampah, misalnya, warga memilah sampah sesuai katagori. Ada 4 katagori sampah yang harus dipilah; 1. Moeru gomi – sampah dapat dibakar, seperti kertas (tisu, popok bayi) dan sisa makanan. 2. Moenai gomi – sampah tak bisa dibakar, seperti logam, periuk, kaca, dan sebagainya. 3. Sodai gomi – sampah besar, seperti barang elektronik, sepeda, kulkas, dan teve. 4. Shigen gomi – sampah yang bisa didaur ulang, seperti kaleng, botol plastik, kertas koran atau majalah bekas.

Sampah-sampah tersebut dimasukkan ke kantong plastik transparan secara terpisah sesuai jenisnya. Di Negeri Sakura, kantong-kantong pembungkus itu berwarna-warni, misalnya, warna kuning untuk sampah makanan, warna putih untuk sampah plastic, warna hijau untuk sampah organik. Setelah penuh, sampah tersebut dibuang ke tong sampah sesuai katagorinya. Di sana juga ada jadual pengambilan sampah sesuai katagori sampah. Sampah-sampah itu kemudian dikirim ke industri daur ulang untuk disulap menjadi barang yang bisa digunakan kembali dan bernilai ekonomi tinggi.

Contoh lain, Swedia, negara ini juga berhasil mengelola sampahnya menjadi energy dan barang-barang yang dapat dimanfaatkan kembali. Ini salah satu circular economy – ekonomi sirkuler – ekonomi melingkar yang bisa menjadi contoh Indonesia. Negara ini mampu mengelola 90% sampahnya didaur ulang dan hanya 1% sampah residu yang masuk ke TPA. Uniknya, negara ini juga mengimpor sampah sebanyak 800.000 ton dari beberapa negara Eropa seperti Inggris. Sampah itu untuk menambah volume sampah yang dihasilkan warganya sebanyak 4,4 juta ton per tahun sampah rumah tangga. Dari jumlah itu dikonversi jadi energy atau waste to energy (WTE) dan sisanya didaur ulang.

Karena paham, sampah bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomi, perspektif masyarakat tentang sampah pun berubah. Dengan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, mereka memilah sampah mulai dari rumah, tempat usaha hingga perkantoran. Sampah itulah yang dikirim ke WTE. Di pabrik WTE sampah dibakar dan uapnya digunakan untuk memutar turbin yang dapat memproduksi listrik.

Listrik yang dihasilkan dapat mencukupi kebutuhan panas bagi 950.000 rumah tangga dan memasok listrik bagi 2.600 rumah, memasok listrik untuk transportasi publik di kota Stockholm, Swedia. Lalu sampah jenis lainnya, sampah kertas didaur ulang jadi kertas, sampah plastik didaur ulang jadi perabotan rumah tangga, dan sampah organik jadi kompos atau gas.

Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menyebut saat ini daur ulang plastik masih dipandang sebelah mata di domestik. Padahal plastik daur ulang di Eropa sudah dianggap sebagai salah satu solusi pengelolaan limbah yang cukup efektif. Ketua Umum ADUPI Christine Halim menyebut dari total plastik daur ulang yang dilakukan oleh anggotanya sebanyak 70%-nya diekspor ke luar negeri.

Selain harganya lebih kompetitif, apresiasi pasar di luar negeri juga lebih besar ketimbang market domestik. Barang-barang produk daur ulang yang diekspor ke Eropa dengan harga lebih mahal 50%. Kalau domestik hanya US$ 800, bila diekspor bisa US$ 1.200 per metrik ton. Menurut data di Kementerian Perindustrian, secara nasional kebutuhan plastik 7,2 juta ton, namun kita baru mampu memproduksi 3,2 juta ton saja. Kekurangannya disupply dari industri daur ulang. Namun mereka baru bisa mengisi supply 1 juta ton saja.

***

Marine debris – lebih dikenal sebagai sampah yang dihasilkan dari proses antropogenik berupa sampah padat (didominasi plastik) yang berada dalam ekosistem laut, baik yang sengaja atau tidak, berpotensi mengurangi daya dukung kelautan dan terjadi proses pencemaran. Sampah plastik yang bersifat polimer, kini dihasilkan dalam jumlah besar jadi sorotan utama sumber marine debris dan ramai diperbincangkan.

Tak dapat disangkal, kehidupan manusia sekarang ada ketergantungan terhadap plastik. Sifat materialnya yang kuat, elastik, tahan lama dan secara ekonomi terjangkau menjadikan penggunaan material plastik melampaui sebagian besar materi buatan manusia lainnya. Plastik dapat terfragmentasi menjadi ukuran lebih kecil dan memiliki peluang besar untuk terkonsumsi oleh bio laut, bahkan oleh invetebrata ukuran kecil sekalipun.

Publikasi Purnaningrum mengungkapkan bahwa komposisi dan material plastik adalah polymer dan zat additive lainnya. Polymer tersusun dari monomer-monomer yang terikat oleh rantai ikatan kimia. Global Environment Facility Council Meeting melaporkan bahwa produksi plastik convensional saat ini sangat tergantung terhadap bahan bakar fosil (gas alam dan minyak bumi) serta sumberdaya air dimana satu kilogram plastik membutuhkan 185 liter air untuk proses produksinya.

Kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI tahun 2018 menyatakan bahwa bio laut yang mengkonsumsi plastik dapat mengalami gangguan metabolism, iritasi sistem pencernaan, hingga menyebabkan kematian. Selain itu, sifatnya yang persisten memungkinkan kandungan plastik yang berada lama di dalam tubuh bio laut pindah ke manusia melalui skema rantai makanan. Kajian yang dilakukan lembaga Ocean Conservancy menemukan bahwa 28% ikan di Indonesia mengandung material plastik (telah mengkonsumsi partikel plasik).

Meningkatkan sampah plastik yang dikelola di daratan merupakan salah satu jawaban atas ancaman peningkatan jumlah sampah plastik di laut Indonesia, mengingat 60% sampah di laut berasal dari aktivitas manusia di daratan yang termobilisasi ke laut dan hanya 20%-nya timbul dari kegiatan perkapalan, transportasi dan pariwisata.

Hasil riset juga menyebutkan bahwa produksi sampah plastik di Indonesia  setiap hari mencapai 175.000 ton, 1 tahun hampir mencapai 64 juta ton. Sebenarnya, tidak hanya di Indonesia sampah plastik menjadi masalah pelik. Hampir semua negara di dunia menganggap pelik. Pertanyaannya, apakah kita harus melarang pengunaan semua jenis plastik. Apa ada masalah yang bisa diatasi, tidak menggunakan plastik.

Selain perannya yang cukup vital dalam rantai industri, plastik masih dipandang sebagai produk yang menghasilkan sampah, yang mengotori lingkungan. Hasil riset  menyebut, kurang dari 10% sampah plastik didaur ulang dan lebih dari 50% berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Sisanya berakhir menjadi sampah di lautan. Disisi lain kebutuhan dan ketergantungan yang masih tinggi terhadap plastik menyebabkan konsumsi plastik dipredikisi masih akan terus meningkat.

Saat ini konsumsi plastik orang Indonesia rata-rata sekitar 22 Kg per kapita per tahun. Ke depan dengan adanya teknologi baru jumlah itu bisa ditingkatkan mencapai 40 Kg per kapita per tahun. Jumlah tersebut tidak mungkin dicapai tanpa peran serta industri daur ulang. Untuk itu diperlukan setrategi kebijakan yang tak hanya fokus pada pengendalian, namun juga langkah solutif dalam manejemen dan pemanfaatan sampah plastik. Termasuk pengelolaan sampah plastik berbasis circular ecomoy – ekonomi sirkuler – melingkar yang kini dikembangkan sejumlah industri. Model ekonomi sirkuler memungkinkan sampah plastik diolah sehingga memiliki nilai ekonomi.

Daur ulang menjadi tumpuan untuk mengurangi timbulan sampah plastik dengan memproses menjadi barang yang bernilai ekonomi. Namun, penyerapan industri daur ulang saat ini belum optimal. Menurut catatan KLHK, serapan industri daur ulang untuk sampah plastik masih rendah, kisaran 10% – 12%. Minimnya serapan daur ulang menjadi indikator dominannya sampah plastik yang berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ekonomi sirkular untuk mengatasi masalah sampah yang membanjiri tempat pembuangan, dan kelangkaan bahan baku plastik. Salah satu mata rantai penting penopang ekonomi sirkular, keberadaan bank sampah. Data di KLHK ada sekitar 7.500 unit bank sampah di seluruh Indonesia. Namun kontribusinya mengurangi sampah nasional baru 1,7%. Bank sampah diharapkan tumbuh lebih banyak untuk menyuplai industri daur ulang. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) sepakat daur ulang menjadi bagian penting dalam menciptakan ekonomi sirkular.

Konsep ekonomi sirkuler dapat lebih mudah dipahami jika meninjau aspek alam, dimana semua sistem kehidupan berfungsi secara maksimal karena satu sama lain komponen saling mempengaruhi. Produksi barang dilakukan dengan mendesain material agar dapat didaur ulang sehingga selalu ada nilai tambah dari setiap perubahan yang dilakukan dan menekan residu sampah hingga nol.

Implementasi dari ekonomi sirkuler membutuhkan keterlibatan dan komitmen tinggi dari berbagai stakeholders. Peran pemerintah adalah menyiapkan kerangka analisis acuan, aspek perencanaan, meyakinkan sektor industri dan bisnis, mendorong kesadaran konsumen, menguatkan keuntungan yang bisa dirasakan masyarakat luas.

Sektor bisnis perlu mendesain ulang supply chains secara keseluruhan untuk efisiensi sumber daya dan sirkularitas. Pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) disertai dengan transisi perubahan sosial yang baik menjadi motor utama program sirkuler ekonomi dapat terlaksana. Bentuk transisi yang menjadi fokus dalam sirkulator ekonomi adalah; reusing, repairing, refurbishing dan recycling produk dan material yang ada – dikenal sebagai sampah – menjadi sumber daya terbarukan.

Ekonomi sirkuler merupakan alternatif terhadap skema pengelolaan sampah yang linier, proses produksi, penggunaan, model ekonomi dimana mempertahankan sumber daya yang digunakan selama mungkin, untuk mengekstrak nilai maksimum yang ada dalam mekanisme penggunaan, re-cover produk, dan regenerasi produk atau material pada sisa usia penggunaannya. Ekonomi sirkuler mempromosikan model produksi dan konsumsi yang bersifat restoratif dan regenearif melalui suatu desain.

Desain yang dirancang harus dipastikan bahwa nilai produk, material maupun sumber daya diatur dalam skema ekonomi pada tingkat tertinggi utilitas dan nilai (dalam jangka waktu yang lama) dengan mengurangi produksi sampah. Konsep sirkukerl sirkuler dapat diimplementasikan terhadap aspek biologis maupun teknis dari material. Sistem ini mampu meningkatkan inovasi dan pemikiran untuk memastikan aliran material yang berkelanjutan melalui value circle bersama dengan industri manufakatur, sektor bisnis dan pemerintah.

Industri daur ulang plastik saat ini masih memiliki kapasitas menganggur 20%. Jika dioptimalkan, produksi daur ulang plastik bisa mencapai 2 juta ton per tahun. Utility industri daur ulang kini 80%, artinya masih idle. Masalahnya, sampah plastik dari hilir kerap tercampur dengan sampah lain sehingga sulit diproses. Nilainya jadi turun jika tercampur. Kita perlu mengubah paradigma pengelolaan sampah di hilir dari kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-proses.

TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang beroperasi sejak 1989, luas lahan 113,15 hektar terdiri dari landfill 81,40 hektar dan sarpras 23,30 hektar. Kapasitas total timbulan sampah mencapai 7.708 ton  per hari. Komposisi dan karakteristik sampahnya 43% sampah organik dan 35% plastik yang bisa didaur ulang – Poly Ethylene Terephthalate (PET).

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang jadi lokasi pilot project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), proyek kerja sama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan Pemprov DKI Jakarta. Kapasitas 100 ton per hari, PLTSa menghasilkan output listrik hingga 700 Kw per jam, digunakan untuk keperluan internal PLTSa. Tahun 2020 PLTSa ditargetkan beroperasi penuh.

Pola pengelolaan sampah di TPST Bantar Gebang terlihat cukup menjanjikan. Ekonomi sirkuler pun mulai dijalankan. Dahulu sampah hanya menjadi sampah (waste to waste), kini dapat menjadi energi (waste to energy). Sesuatu yang positif – prospektif. Sejumlah terobosan yang dilakukan di TPST Bantar Gebang dengan landfill mining, pemanfaatan gas metana, dan PLTSa, jadi percontohan di Indonesia. Kedepan sampah jangan dilihat sebagai hal yang tidak berguna, tetapi harus berguna secara ekonomi. 

Komitmen penerapan ekonomi sirkular juga dibutuhkan dari produsen kemasan plastik. Produsen penghasil kemasan plastik bakal diwajibkan mengurangi sedikitnya 30% produksi dalam jangka waktu 10 tahun ke depan. Produsen juga akan diwajibkan mengambil kembali sampah kemasan plastik untuk didaur ulang. Regulasinya tengah dipersiapkan oleh pemerintah.

Tanggung jawab produsen akan berlaku secara fair bagi semua sektor penghasil kemasan plastik baik itu manufaktur, retail dan pusat perbelanjaan, serta industri jasa makanan dan perhotelan. Sampah menjadi tanggung jawab bersama bagi semua produsen. Peran mereka sangat penting dalam pengurangan sampah. (adit – mar)

Posted in Sajian Utama | Leave a comment

Strategi Koperasi Menjangkau Pasar Anak Muda

Keberlangsungan koperasi akan sangat dipengaruhi kaum muda saat ini. Berbicara tentang kaum muda, dan bila kita buka kacamata secara nasional tentang kaum muda, kelihatannya cukup memprihatinkan. Karena itu harus ada perhatian kita lebih besar terhadap kaum muda ini.

Generasi muda secara global – tingkat dunia mewakili 18% penduduk dunia atau kurang lebih 1,2 miliar jiwa. Dan 87%-nya dari 18% itu tinggal di Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.Permasalahan yang terus dihadapi kaum muda itu adalah soal tidak memperoleh peluang kerja. Kaum muda Indonesia yang belum memperoleh pekerjaan masih cukup tinggi.

Tingkat pengangguran terbuka usia muda (15 – 29 tahun) mencapai 19,9%. Ternyata para penganggur itu tingkat pendidikannya terbesar adalah SD, SMP atau putus sekolah. Tingkat kesulitan mencari lapangan kerja 5 kali lebih besar dari kesulitan yang dialami orang dewasa. Kalau kondisi ini kita biarkan, tidak ada upaya untuk menurunkannya maka akibatnya akan terjadi pengangguran yang lebih besar, atau pengangguran masal, dan struktural, turun menurun.

Kalau kondisi yang memprihatinkan ini dibiarkan akan turun menurun, diwariskan kepada generasi beriktunya dalam keadaan terpuruk, miskin. Maka gerakan koperasi ditantang, apa peran koperasi dan apa kontribusi koperasi untuk ikut berperan mengangkat generasi muda dari pengangguran. Sangat salah kalau kita mengabaikan potensi kaum muda. Kita harus memberikan perhatian khusus kepada mereka.

Sebenarnya koperasi menggarap pasar kaum muda ini bukan sekedar menambah jumlah banyaknya anggota. Tetapi dengan terlibatnya generasi muda lebih dini. Kita bisa mengkaderisasi lebih awal, dan menggiatkan terus menerus keterlibatan generasi muda. Kaum muda itu memiliki semangat membara, berapi-api, dan gampang sekali dipengaruhi terkait dengan sesuatu yang baru, terutama teknologi, seperti hand phone, ipad, dan sebagainya.

Kalau ada HP model baru atau aplikasi baru mereka cepat sekali tahu. Sedangkan orang-orang tua biasanya lambat menangkap teknologi baru. Ciri lain, anak-anak muda biasanya ingin bebas. Sebelum hal-hal yang material, penamilan juga meniru gaya yang sedang popular di kalangan anak muda. Untuk menjangkau generasi muda itu perlu pemetaan demografinya untuk melihat potensinya. Koperasi dunia telah membuat pengelompokan berdasarkan tingkat usia. Ada Kids, yaitu usia 0 – 9 tahun, twen 10 – 12 tahun, kemudian teen 13 – 19 tahun, dan young – kaum muda dewasa 20 – 35 tahun.

Ketika mau menentukan strategi bagaimana merangkul kaum muda, kita perlu mencermati – mempelajari perilaku kelompok anak-anak muda. Pada umumnya, anak muda itu konsumtif, mudah terpancing dengan sesuatu yang baru. Pikirannya selalu membeli dan membeli. Para marketer itu konsen sekali pada peta dan demografi kaum muda. Demografi itu penting sekali untuk mengetahui perilaku masing-masing kelompok.

Perilaku anak muda dimanfaat oleh pihak marketer, kalangan industri. Mereka menggabungkan psikologi anak dan kiat-kiat pemasaran. Mereka ingin mengetahui apa yang diperbuat anak-anak dan apa yang membuat anak-anak sangat tertarik. Mereka berani mengeluarkan biaya besar untuk melakukan survey – meneliti dan menganalisis perilaku anak, kehidupan, mimpi-mimpi anak, lalu menentukan strategi apa untuk memasarkan produk-produknya sehingga terjangkau oleh anak-anak.

Di beberapa Negara, seperti Bangkok, Thailand, juga Philipina strategi yang merekalakukan mulai mengadakan pendidikan mengelola keuangan bagi kaum muda. Di Philipin, yang namanya financial letarcy – melek keuangan tidak hanya diberikan kepada kelompok orang tua, tetapi juga diperkenalkan di sekolah-sekolah. Mereka menganggap penting untuk mengetahui bagaimana cara mengelola blok mulai dini. Melalui federasi nasionalnya mereka membuat program tentang aktivitas koperasi yang masuk sekolah-sekolah. Maka dicarilah sekolah-sekolah yang berdekatan dengan koperasi, dan melakukan pendekatan. Kalau kita konsen pada pendampingan kaum muda, bisa dibuat acara khusus seperti apa. Ada kiat-kiat tertentu yang dikhususkan untuk generasi muda koperasi.

Bagi generasi muda yang ingin mendalami tentang koperasi perlu difasilitasi melalui magang. Diajak ke koperasi melihat lebih dekat bagaimana pengelolaan koperasi. Atau dibuat program khusus untuk pendampingan. Gerakkan koperasi di Negara lain sudah mendampingi kaum muda koperasinya dengan memberi pelatihan – memfasilitasi entrepreneur agar bisa lebih kreaktif untuk berwiraswasta. Membantu pengusaha kaum muda sangat efektif untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Kaum muda koperasi juga perlu membuat jaringan, mulai dari tingkat lokal, nasional, regional, dan tingkat internasional. Sehingga mereka bisa saling mengenal, saling berkomunikasi, berdiskusi sharing dan tukar pengalaman sebagai anak muda.

Setiap pemimpin mempengaruhi orang lain dengan caranya masing-masing. Mother Theresa dengan perbuatannya, keluar dari biaranya, pergi ke masyarakat dan membentuk komunitas baru dengan caranya sendiri. Nelson Mandela keluar masuk penjara akhirnya jadi presiden. Bung Karno harus keluar masuk penjara untuk memerdekakan bangsanya dan kemudian menjadi presiden. Itu salah satu bukti bahwa perjuangan itu tidak mudah.

Kita masing-masing juga seorang pemimpin. Setiap orang menjadi pemimpin. Kemempiminan adalah proses mempengaruhi orang lain dengan caranya sendiri. Tindakan pemimpin, mempengaruhi perilaku orang lain. Sama seperti para pengurus koperasi harus mampu mempengaruhi perilaku anggota untuk menjadi lebih baik. Gaya kepemimpinan yang ditampilkan ketika mencoba mempengaruhi orang lain sebagaimana mereka sendiri menganggapnya demikian. Di koperasi kalau kita melakukan hal-hal yang baik, tanpa harus mengatakannya mereka akan menilai bahwa itu adalah baik. Tetapi kalau kita melakukan hal yang tidak baik mereka akan menilai bahwa itu tidak baik.

Pimimpin ada dua katagori, yaitu pemimpin yang reaktif dan pemimpin yang proaktif. Yang reaktif, kalau ada manajernya melelakukan sedikit kurang pas dia akan menegur; “Kenapa begitu!” Hanya itu yang bisa dilakukan, tak ada lagi. Tetapi yang proaktif dia akan bilang; “Mari kita lihat alternatif-alternatif baru yang mungkin akan bisa lebih baik dari kondisi kita saat ini.”

Kemudian ada lagi yang mengatakan; “Wah ini sudah saya katakan kemarin kepada pengurus. Jangan lakukan seperti ini, konsultasi dulu baru bisa kita ambil keputusan.” Bagi pemimpin yang proaktif, memilih pendekatan yang berbeda. Dia akan coba alternatif-alternatif baru. Yang proaktif, sifatnya lebih positif dibandingkan dengan yang reaktif. Yang rekatif lebih menyalahkan situasi, sedangkan yang proaktif, bagaimana mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Kaum muda coba suruh memimpin rapat, tidak ada yang mau. Dia bilang, ah, nggak mau, kamu saja. Kalau disuruh melaksanakan tugas terlalu berat, tidak berani menerima tantangan. Kalau mau memimpin harus paham diri kita sendiri. Apa yang menjadi kelebihan, sehingga orang mau mengikuti. Karena pemimpin itu memberi pengaruh. Pemimpin beda dengan manajer. Namun seorang manajer harus memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Tetapi untuk menjadi pemimpin tidak harus menjadi manajer atau tidak mesti menjadi manajer. Bekerja pada area yang memerlukan perbaikan, ini tugas pemimpin. Kalau maunya di tempat yang enak-enak saja, itu artinya tidak punya jiwa pemimpin.

Dalam tata kelola koperasi tak semata-mata hanya melihat unsur financial – keuangan, tetapi ada beberapa unsur lain yang mesti diperhatikan. Terkait kepuasan anggota; pelayanan yang prima kepada anggota, internal bisnis, pertumbuhan dan pembelajaran SDM-nya. Jadi, balance core card mendekati masalah keuangan, namun tidak langsung ke sana. Dalam manajemen, idealnya kehidupan anggota ditingkatkan sehingga koperasi pun meningkat. Tidak terbalik, hanya memperkuat institusi kelembagaannya hebat, tetapi anggotanya terlalaikan. Jadi dua-duanya mesti seimbang.

Diperspektif balance core card; keuangan, internal bisnis, anggota atau pelanggan perlu pembelajaran. Setiap perspektif memiliki tujuan strategis. Untuk mengoptimalkan sumber daya koperasi; pengurus, pengawas dan manajemen yang memegang kunci. Koperasi bisa membantu anggota mencapai tujuan keuangannya melalui produk dan pelayanan yang diberikan. Penekanannya adalah kebahagiaan members satisfaction – para anggota. Kebahagiaan dimaksud, karena mencapai tujuan keuangan, mencapai kebebasan keuangan, tidak kawatir lagi dengan hal-hal yang terkait dengan kesejahteraan dalam rumahnya.

Dalam gerakkan Credit Union (CU) – Koperasi Kredit (Kopdit) dikenal adanya access branding dengan 4 perspektif yang memuat 86 indikator untuk membantu mengecek apakah Kopdit masih tetap setia pada misi yang ada dalam rumusan misi sejati Kopdit. Ke-86 indikator ini juga mengukur sejauh mana impact – dampaknya pada cita-cita transformasi sosial yang diperjuangkan oleh gerakan Kopdit. Jadi, access branding adalah tolls untuk memastikan bagaimana mengelola Kopdit mencapai misi sejati. Di gerakkan Kopdit accss branding sudah diperkenalkan sejak tahun 2006, dan diyakini sebagai alat untuk membawa Kopdit mencapai misi sejati.

Ada 7 faktor yang sangat menentukan keberhasilan sebuah Kopdit. Untuk menguji eksistensinya bisa menggunakan 86 indikator. Itu yang namanya penilaian sendiri, assestment. Namun jika memerlukan pihak luar untuk melakukan penilaian, ini yang disebut access branding. Bila koperasi sudah diisi ribuan orang, tapi tata kelolanya tidak baik, akan kolaps. Dampaknya terasa untuk ribuan orang tersebut. Karena satu dengan yang lain saling berkait, jika ada koperasi yang kolaps akan sangat berpengaruh, dan hilangnya kepercayaan.

Karena itu ke-86 indikator tidak boleh dianggap sebagai kendala, problem, masalah, namun harus dilihat sebagai kesempatan memperbaiki diri, memperbaiki tata kelola agar dapat bertahan dan berkesinambungan. Ancaman terbesar, karena merasa sudah nyaman, bahagia, tidak melihat bahwa itu bahaya. Ada bom yang siap meledak. Jadi, branding itu sebuah proses. Di dalamnya ada nilai yang mesti ditepati dan ini keys behavior, moral, perilaku. Access branding bukan hanya sebuah alat untuk branding saja, melainakan juga untuk merubah perilaku dalam tata kelola.

Pengurus memberi janji kepada anggota, bukan sekedar untuk menjual uang, memberi pinjaman, tapi berjanji; “Kami akan menemani Anda dalam menghadapi dan memperjuangkan tujuan keuangan. Kami akan bersama Anda menemani sampai mencapai tujuan keuangannya.” Karena itu nilai-nilai kejujuran, integritas, profesionalisme harus dimonitor. Bila mengikuti access branding, dan sukses itu adalah sebuah bonus. Kalau bisa mencapai access branding, tidak hanya mencapai akreditasi tapi ini bonus, itu yang seharusnya didapat. Jadi motivasinya, bagaimana menterjemahkan access branding ke dalam aksi.

Perspektif pelanggan dan anggota, bicara mengenai produk pelayanan yang mengantar anggota menuju tujuan finansial. Mengantar anggota bebas financial, dan kemandirian dalam keuangan. Pinjaman dan tabungan harus mengantar anggota pada tujuan keuangan. Tidak boleh terjadi orang masuk menjadi anggota dan menabung di koperasi karena melihat figur pengurus dan manajer. Dia berani menabung tetapi ketika pengurus – manajer koperasi diganti semua tabungannya ditarik. Itu yang dimaksud sistem belum jalan. Jika sistem sudah jalan dengan baik berganti orang – pengurus atau manajer tidak masalah. Karena kepercayaan itu sudah digerakan oleh sistem, bukan individu.

Yang dibutuhkan perspektif baru bahwa pengurus, pengawas yang terlibat itu adalah mereka yang mau aktif, dan ada kompetensi yang dipenuhi. Manajemen harus berkualitas, dan gembira. Kalau dia gembira dan bahagia, pasti anggota yang dilayani juga akan bahagia. Jika Kopdit ingin mengikuti access branding, ACCU bisa membantu dengan melatih auditornya seperti yang dilakukan di Kopdit Obor Mas. Tidak perlu khawatir karena pelatihan tersedia. Budaya kerja profesional harus dihayati para staff. Bila terjadi access branding, dan perubahan sampai behavior bukan hanya menantikan gaji, menunggu tutup kantor, tapi sungguh menghayati.

Koperasi perlu perkembangan semua aspek. Namun yang terpenting adalah pertumbuhan dari keanggotaan. Semakin banyak anggota masyarakat yang terlibat dalam berkoperasi, maka semakin banyak yang meningkat kehidupannya. Tolak ukurnya, 30% dari total penduduk yang ada di area koperasi jadi anggota. Mengukur tujuan, berdasarkan harapan seseorang berbeda-beda. Ada yang membayangkan menjadi milioner, ada yang ekspektasi utamanya keberhasailan anaknya di bangku pendidikan, ada juga yang ingin mendapatkan rumah yang bagus. Jadi, sangat berbeda ekspektasi orang per orang. Jika kita mengatakan membantu mereka mencapai financial destination berarti membantu mencapai harapan yang dibuat masing-masing.

Kredit yang diberikan adalah bagian dari usaha koperasi membuat anggota menolong dirinya menggunakan pinjaman itu. Misi Kopdit sudah sangat jelas, tidak pernah berubah sejak dahulu meski bentuk apapun kooperatif. Tapi visi lembaga bisa berbeda satu sama lain sesuai dengan tujuan organisasi yang dirumuskan dalam strategic planning.

Mengaku gerakan kooperatif namun tidak bagus dalam saling bekerja sama, ibarat koneksi internet. Jika koneksinya tidak dilakukan secara baik, tidak properly, maka tidak terjadi komunikasi. Ibarat jaringan, pasti ada elemennya. Apabila tidak terkoneksi lagi, ada elemen yang tidak berfungsi, maka jaringan tidak jalan. Karena selalu berpikir tentang diri sendiri dan merasa punya uang, semua bikin sendiri. Mau berkooperatif, realitasnya tidak mudah karena orang tidak mudah bekerja sama.

Apakah gerakan Kopdit memberi dampak pada kaum marjinal, dan apa betul melawan kemiskinan sungguh-sungguh. Apakah seperti itu atau lebih mengabdi dan melayani kaum menengah ke atas? Kalau mau menerapkan kontribusi yang sejati, tidak ada jalan lain harus mau turun kembali ke akar rumput, ke marjinal. Dalam microfinance, ada alat lain yaitu social performance management, alat pengukur kinerja social. Tujuan microfinance mengangkat orang-orang keluar dari kemiskinan, dan mesti dibuat alat untuk mengukur seberapa banyak orang yang keluar dari lingkaran kemiskinan.

Misi Kopdit sejati yaitu memperbaiki kualitas hidup anggota secara holistik. Ciri anggota yang semakin berkualitas hidupnya, diantaranya mereka merasa bahagia. Indikator bahwa mereka bahagia, mereka mencapai tujuan keuangannya kemudian tidak khawatir akan masa depannya dan bisa mandiri. Poin berikutnya, konsisten dengan gagasan utama menolong diri sendiri, mengelola diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kemudian orientasi pasar terarah kepada masyarakat golongan menengah ke bawah. Swadaya sebagai kekuatan dan jati diri Kopdit.
Ciri utama dan peran utama Kopdit bukan sekedar mengelola keuangan tetapi sebagai lembaga pendidikan nila-nilai yang baik dan benar. Nilai-nilai yang merupakan kekuatan untuk menyelesaikan persoalan dan mewujudkan cita-cita. Nilai-nilai yang dihayati antara lain partisipasi demokrasi, kejujuran, kepedulian, kearifan, keadilan dan keberanian. Inilah yang harus dikembangkan terus menerus. (damianus)

Posted in Kiat Sukses | Tagged | Leave a comment

UKM Perlu Dukungan, Indonesia Makin Atraktif Bagi Investor

Tumpuhan pertumbuhan ekonomi Indonesia terbesar adalah dari sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) supaya level konsumsi tetap terjaga tinggi. Karena UMKM sektor yang tidak sensitive terhadap pelemahan ekonomi global, dan basis usahanya di sektor konsumsi primer.

Karena itu meskipun semuanya sudah mahfum indentifikasi diprioritaskan dulu persoalan-persoalan UMKM. Paling tidak terkait dengan keterbatasan akses modal usaha, penyediaan bahan baku, kemampuan sumber daya manusia (SDM), teknologi (untuk saat ini soal digitalisasi yang infonya baru sekitar 5%) dan pasar baik domestik maupun global. Dengan pisau analisis tertentu, setelah diprioritaskan Kementerian Koperasi dan UKM bisa segera tancap gas.

Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1997 – 1998, peran UMKM tercatat dengan baik dalam ingatan publik sebagai sektor yang tangkas dan tangguh. Di tengah gejolak ekonomi global saat ini peran UMKM tetap diandalkan untuk menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian.

Pelemahan ekonomi global hendaknya semakin menguatkan political will – kebijakan kepada sektor Koperasi dan UMKM. Sebaliknya, pelaku koperasi dan UMKM juga harus cepat memanfaatkan momentum ini dengan berbenah diri, dan merapatkan barisan agar kekuatannya menyatu. Sebuah kata mutiara mengatakan; “Keberuntungan tidak pernah datang untuk kedua kali…”

Presiden Joko Widodo saat memperkenalkan jajaran Kabinet Indonesia Maju menyampaikan tugas Menteri Koperasi dan UKM untuk membawa UMKM ke tingkat global. Mengacu pada visi misi Presiden, Kemenkop menyiapkan sejumlah langkah untuk mengembangkan Koperasi dan UMKM di Tanah Air. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki kemudian menyampaikan roadmap – peta jalan pengembangan Koperasi dan UMKM tahun 2020 – 2024, dan ada 5 target yang hendak dicapai, yakni; kenaikan ekspor UMKM, kontribusi UMKM terhadap pendapatan domestik bruto (PDB), rasio kewirausahaan dan UMKM naik kelas. Menteri tidak boleh punya visi sendiri. Sekarang, visi menteri adalah visi Presiden.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 62,58%. Artinya UMKM menjadi elemen penting penggerak utama perekonomian nasional. Kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja serta menekan angka kemiskinan merupakan dua hal penting usaha di sektor ini patut didukung penuh. UKM di Indonesia berpotensi besar menjangkau pasar global. Karena itu UKM didorong untuk tumbuh menjadi kian modern dan masuk ke pemapasaran dalam jaringan. UKM diharapkan masuk pasar global dengan produk yang spesifik. Produk kerajinan tangan berkualitas diyakini bisa menjadi kekuatan Indonesia.

Sebagai latar belakang situasi perekonomian global sedang kurang baik. Di sisi lain selama ini UMKM menjadi andalan dalam menyerap tenaga kerja. Terkait hal ini Presiden berharap UMKM tidak stagnan, harus naik kelas. Produk-produk UMKM harus mampu menembus pasar ekspor selain berkompetisi di pasar dometik. Ada beberapa tantangan yang harus diatasi, mulai dari standar produk, kelembagaan, pembiayaan, dan sebagainya. Semua harus dilakukan oleh Kemenkop dan UKM.

Sesuai arahan Presiden, Menkop dan UKM pun melakukan pembicaraan dengan Otoritas Jasa Keuangan OJK, Gubernur Bank Indonesia, dan Menteri Keuangan. Secara bertahap Menkop dan UKM akan melakukan pembicaraan dengan bank pelaksana, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Skema khusus dibutuhkan pelaku UMKM yang masih mengalami masalah kelembagaan. Kemenkop juga seeding mencari terobosan, yakni melalui kemitraan dengan usaha-usaha besar.

Harapannya pelaku UMKM tidak kesulitan dalam pembiayaan karena ada penjamin. Jadi, pembiayaan tidak boleh hanya bagi-bagi begitu. Sejak awal sudah harus masuk dalam skema pembiayaan yang komersial. walaupun untuk yang kecil-kecil tentu harus ada skema pembiayaan khusus. Hal paling penting, kita juga harus mulai menumbuhkan bibit-bibit UMKM skala dunia, termasuk dalam penerapan teknologi tinggi.

Melihat pertumbuhan sangat menggembirakan, melalui berbagai kementerian pemerintah menyedian program-program pendampingan kepada UMKM agar segera dapat naik kelas. Sejalan hal tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) TBk terus menunjukan komitnya menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM, dan terus mendorong pertumbuhan UMKM melalui Rumah Kreatif BUMN (RKB) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kini tercatat sebanyak 328.810 UMKM menjadi anggota di 54 RKB. Bank BRI juga mengakselesari pelaku UMKM agar go modern, go digital, go online, dan go global sehingga tercipta digital economy esosytem.

Secara berkala Bank BRI melakukan berbagai pelatihan dan pendampingan bagi UMKM. Melalui program BRI Incubator tercatat sebanyak 3.994 pelatihan dilakukan oleh RKB. Anggota RKB BRI juga mendapatkan akses memperluas pasar secara daring melalui blanja.com dan Indonesia Mall. Dalam rangka HUT ke-124 Bank BRI menyelenggarakan program pelatihan bagi 10.000 UKM. Diharapkan pelatihan itu dapat meningkatkan kapabilitas UMKM, sekaligus mendorong pelaku usaha dapat go global.

Pameran yang digelar selama 3 hari itu tujuan utamanya mempertemukan pengusaha UMKM dengan pembeli potesial dari luar negeri. Ada 155 UMKM dan 74 calon pembeli potensial dari Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia, Australia dan negara lain dapat bertransaksi langsung dengan para UKM. Bank BRI juga menyalurkan kredit permodalan kepada UMKM, mendorong UMKM naik kelas, melakukan berbagai kegiatan pelatihan, pembinaan, dan program kemitraan.

Pameran UMKM Export BRILian Preneur 2019 yang digelar di Assembly Hall JCC, Jakarta pada 20 – 22 Desember 2019 merupakan salah satu wujud dukungan terhadap UMKM, sekaligus memberikan arti besar bagi pelaku UMKM. Melalui pameran tersebut mereka dapat menunjukan kebolehannya atas karya-karya yang siap diadu dengan produk-produk luar negeri.

Deny Prasetio, pelaku UMKM yang ikut serta pada pameran ini merasa senang karena Bank BRI memberikan sarana untuk terus berkembang. Sebanyak 80% produk yang diciptakan Deny di bawah bendera PT Wirasindo Santa Karya dan bermarkas di Sala, telah diekspor ke sejumlah negara, seperti Clie dan Jepang. Dari sisi material produk yang diciptakan merupakan kolaborasi beragam jenis material, mulai dari kayu, rotan, eceng gondok, hingga pelepah pisang. Itulah kekuatan material yang dimiki Indonesia.

Terkait proses produksi, sekitar 90% handmade dan melibatkan mitra-mitra perajin. Pekerjaan dilakukan secara detail. Dan inilah yang menjadi kekuatan bersaing dengan produk-produk luar negeri. Mahlianor, perajin asal Kalimantan Selatan juga peserta pameran mengaku sudah sekitar 15 tahun membuat keranjinan tangan berupa alat-alat furniture, di antaranya meja lipat, pigura rotan, dan karpet rotan atau yang dikenal dengan sebutan lampit rotan. Meski merupakan usaha rumahan, produk-produk berbahan alami tersebut sudah banyak yang diekspor ke Jepang.


Mengenai modernisasi koperasi, harus menyeluruh mulai penggunaan teknologi, pengorganisasian koperasi yang jumlah anggotanya banyak sehingga lebih efisiean. Di Indonesia cukup banyak koperasi yang anggotanya mencapai puluhan ribu, bankan ada yang 150.000 anggota lebih. Kalau kita melihat perusahaan-perusahaan besar di luar negeri, seperti di Eropa, mereka itu adalah koperasi. Jadi, koperasi harus punya tingkat daya saing yang tinggi. Koperasi mesti lincah bergerak.

Modernisasi koperasi juga mencakup upaya mempercepat gerak koperasi, memperkuat kelembagaan, membangun koperasi dengan usaha produktif, termasuk penggunaan teknologi. Tantangan kita sekarang ada di sisi produksi. Apalagi ekspor kita dalam beberapa waktu terakhir ini turun. Kemampuan produksi harus ditingkatkan kalau mau mendorong ekspor. Kita harus memproduksi barang yang mau dijual, terutama jenis yang banyak dimita dunia.

Banyak potensi produk olahan berbasis kelautan, pertanian, pakaian muslim hingga produk dekorasi rumah seperti mebel. Belum lagi potensi di sektor pariwisata. Pemerintah telah mengindentifikasi permintaan dan menyambungkannya dengan kemampuan UMKM. Jika koperasi juga memiliki kemampuan produksi yang tak kalah dengan perusahaan besar, baik soal kualitas, standar produk, penggunaan teknologi, dan manajemen yang efisien, optimistis perkembangan koperasi ke depan. Pemerintah ingin fokus membenahi dan mengembangkan Koperasi di sektor riil atau produktif.

Di hadapan Kepala Dinas Koperasi dan UKM tingkat provinsi seluruh Indonesia, Menkop UKM menargetkan pada akhir tahun 2020 kontribusi UMKM terhadap eksport meningkat menjadi 18% dari sebelumnya 14%. Begitu juga dengan kontribusi UMKM terhadap PDB Nasional meningkat menjadi 61% dan rasio kewirausahaan menjadi 3,55%. Demkian pula jumlah koperasi modern akan terus ditingkatkan, dan tidak kalah penting UMKM harus naik kelas.

Pada tahun 2024 mendatang, ditargetkan ekspor UMKM sudah harus berada di lavel 30,20%, kontribus terhadap PDB 65% dan rasio kewirausahaan 4%. Beberapa hal kebijakan pengembangan UMKM ke depan.

Pertama, pengembangan UMKM dilakukan dengan pendekatan kelompok, komunitas dan klaster. Aarahnya akan ke one village one produc (OVOP) – satu wilayah satu jenis produk. Daerah harus konsentrasi ke produk unggulan yang berbahan dasar lokal dan memiliki supply – cadangan banyak.

Kedua, prioritas pada sektor riil (produksi) yang berorientasi ekspor dan subtisusi impor. Komoditinya harus dipilih, dan Pemda harus memandu serta mengarah sektor apa yang bakal dikembangkan. Di sini, kta butuh peran market inteligen – informasi pasar yang aktual.

Ketiga, pemberedayaan Koperasi dan UMKM dilakukan secara lintas sektoral dengan One Gate Policy – satu pintu kebijakan, dan melibatkan kemitraan dengan pihak ketiga – swasta. Para pelaku UMKM sejenis diharapkan bersatu dalam wadah koperasi sehingga menyatu dalam kebersamaan. Dengan menyatu – berhimpun dalam wadah koperasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi, soal pengadaan bahan baku produksi dalam jumlah besar, misalnya, koperasi yang akan melakukan pengadaan. Dengan demikian, jika pun harus impor biayanya bisa ditekan menjadi relatif rendah. Demikian pula saat melakukan ekspor, koperasi yang akan mengekspornya.

Keempat, pemberdayaan UMKM dilakukan secara variatif sesuai dengan karakteristik dan level UMKM. Yang tidak boleh ketinggalan adalah modernisasi dan inovasi UMKM, harus sama dengan yang diterapkan usaha besar. Orang-orang muda yang penuh semangat, energik dalam berkreasi dan berinovasi diharapkan mampu menciptakan produk-produk baru dengan berbagai varian yang menarik.

Melihat semangat Menkop UKM baru yang dikenal sebagai aktivis dan pendiri Indonesia Coruption Watch (ICW), sepertinya pasang gear untuk kecepatan tinggi. Kini saatnya dunia usaha, terutama para pelaku UMKM perlu menyongsong dengan umpan-umpan pendek, dan bola-bola lambung agar segera di-smashed dengan sabetan tajam – full power dan efisien. Dengan kehadiran teknologi UMKM juga akan semakin cepat melek ilmu untuk usahanya.

Financial Literacy – melek keuangan dalam kegiatan usaha suatu hal yang sangat penting. Mulai dari persiapan, awal perjalanan bisnis hingga pengelolaan usaha tidak akan pernah luput dari kejadian-kejadian penting yang akan menjadi bagian history dari perjalanan usaha yang dilakukan.
Peran seorang pengusaha UMKM dalam mengelola bisnis dianggap penting dalam perjalanan usaha di masa yang akan datang, dan salah satunya yang penting diketahui oleh seorang pengusaha adalah laporan keuangan. Laporan keuangan ini sangat penting bagi pebisnis. Karena tanpa laporang keuangan, seorang pengusaha tidak akan tahu bagaimana kondisi bisnisnya saat itu.

Ada beberapa alasan seorang pengusaha harus mengalami laporang keuangan. Pertama, seorang pebisnis wajib mengetahui setiap perkembangan yang terjadi pada bisnisnya. Karena hal ini bisa dijadikan sebagai tolak ukur untuk memastikan apakah kondisi perusahaan sehat dalam segi keuangan atau tidak. Termasuk juga keuntungan dan kerugian yang dialami oleh perusahaan. Jika belum memahami laporan keuangan sama sekali ada baiknya kita mempelajari laporan keuangan.

Laporan keuangan juga diandalkan karena menjadi standar pengukuran yang bisa dijadikan dasar dalam setiap pengambilan keputusan oleh para manajemen atau pengusaha. Suatu keputusan yang tepat bisa diambil jika laporan keuangan pada kegiatan bisnis dibuat dengan tepat dan rapih setiap periodenya. Keputusan yang diambil beragam, mulai dari pengendalian biaya operasional, pembukaan cabang baru, penanaman modal dan perencanaan manajemen lainnya. Kita bisa perhatikan begitu besar peran laporan keuangan dalam menopang perkembangan bisnis.
Laporan keuangan dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelola bisnis kepada pihak manajemen atau pengusaha. Meliputi kenaikan atau penurunan kinerja perusahaan juga tertuang dalam laporan keuangan sehingga pihak manajemen juga menentukan keputusan apa yang akan diambil pada langkah-langkah selanjutnya.

Setiap bisnis yang berjalan tentu sudah memahami bahwa laporan keuangan bisnis bisa diberikan kepada pihak lain, dalam hal ini pemerintah atau investor. Bisnis dalam sekala besar – nasional wajib menginformasikan laporan keuangan kepada pihak eksternal yang berkepentingan dalam bisnisnya, misalnya, para pemegang saham, pemerintah, investor dan lainnya.

Laporan keuangan dibutuhkan untuk menjadikan bisnis semakin lancar. Karena laporan keuangan bisa menjadi alat bahwa bisnis yang dijalankan terus berkembang. Dan untuk meminimalisir kesalahan atau kecurangan yang bisa saja terjadi pada bisnis kita. Kemungkinan tertipu bisa saja terjadi kepada para pelaku usaha yang tidak memahami laporan keuangan, yang sebenarnya menjadi tombak dalam bisnisnya.


Sesungguhnya peluang usaha bagi UMKM di sektor pertanian dan pangan juga terbuka sangat lebar, baik untuk pemenuhan pasar domestik maupun pasar global. Jika mencermati, banyak sekali permintaan komoditas pertanian yang akan dipasarkan secara langsung maupun sebagai bahan baku untuk industri setengah jadi dan siap dikonsumsi.

Beberapa komoditas pertanian yang diminta UMKM terkadang relatif diproduksi secara terbatas oleh petani karena bukan termasuk komoditas unggulan. Sehingga seringkali menjadi persoalan tersendiri terutama terkait dengan penyediaan bahan baku bagi UMKM. Selain keterbatasan penyediaan bahan baku, UMKM juga menghindari persoalan-persoalan yang terkait dengan keterbatasan akses modal usaha, teknologi, SDM, pemasaran, administrasi dan kelembagaan.

Keterbatasan penyediaan bahan baku dari komoditas pertanian tertentu yang sering dihadapi oleh UMKM, misalnya, buah mengkudu – pace, umbi-umbian di luar singkong, ubi jalar dan tanaman obat. Demikian banyaknya komoditas pertanian dari masing-masing sub sektor pertanian (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan) menjadikan pemerintah hanya menetapkan beberapa komoditas pertanian saja sebagai komoditas unggulan yang masing-masing jumlahnya juga tidak lebih dari 10 komoditas, yang pemenuhan dan pengembangannya difaslitasi oleh Kementerian Pertanian, baik dalam bentuk dukungan anggaran maupun pendampingan teknis oleh petugas lapangan.

Komoditas lainnya yang hanya tumbuh dan berkembang di daerah tertentu saja di Indonesia dan dikatagorikan sebagai komoditas andalan – potensial adalah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah untuk pemenuhan dan pengembangannya. Pemerintah pusat hanya akan terlibat dan memberikan fasilitas untuk hal-hal tertentu saja, misalnya, terkait dengan penerbitan regulasi jaminan mutu, keamanan pangan dan dukungan terhadap akses pemasaran.

Karena itu bisa dimaklumi ketika penyediaan bahan baku yang berasal dari komoditas pertanian tertentu, terutama yang bersifat andalan – potensial pasokannya dalam jumlah terbatas sehingga menjadi persoalan sendiri bagi UMKM. Usaha di sektor pangan dan pertanian yang dilakukan oleh UMKM memang seharusnya memperhatikan aspek 3K, yakni; kuantitas, kualitas dan kontinitas. Perlu diketahui bahwa tidak semua komoditas pertanian bisa dihasilkan sepanjang tahun, karena pertumbuhan dan produksinya memang sangat tergantung dengan musim. Kecuali komoditas pertanian yang dengan teknologi tertentu dapat ditumbuhkembangkan di luar musim (off season).

Presiden berpesan; “Jangan sampai masyarakat Indonesia meninggalkan pasar domestik karena terlalu berorientasi ke ekspor yang membuat pasar dalam negeri diserbu produk-produk dari luar. Meskipun ekspor masih didominasi perusahaan besar, pelaku UMKM harus optimis menjalankan usahanya karena peluang bagi UMKM juga masih sangat besar.

Pasar Indonesia makin menarik bagi investor dengan kenaikan kelas ekonomi masyarakat. Apalagi situasi perekonomian global tengah melambat. Jumlah penduduk kelas menengah diperkirakan meningkat dari 74 juta jiwa pada 2012 menjadi 141 juta jiwa pada 2020. Peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat akan disertai peningkatan kebutuhan konsumsi yang bisa memicu pertumbuhan industri. “Indonesia makin atraktif bagi investasi binis global untuk memanfaatkan peluang yang ada. Jangan sampai situasi itu dipakai negara lain sehingga mereka berbondong-bondong memanfaatkan kesempatan ini,” tegas Presiden.

Presiden meminta sertiap pelaku usaha, terutama para pengusaha muda dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Jika momentum revolusi industri tidak dimanfaatkan, Indonesia hanya akan berakhir sebagai negara konsumen yang tak mampu memproduksi kebutuhan masyarakatnya secara mandiri. Masyarakat kelas menengah cenderung memiliki daya beli sehingga menjadi penggerak ekonomi disektor konsumsi. Hal ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha dan industri untuk meningkatkan daya saing di kancah global. Apalagi saat ini Indonesia masih tertinggal dari negara lain seperti Malaysia dan Korea Selatan, dalam hal daya saing dan produktivitas. Tantangannya bagi Indonesia adalah memanfaatkan momentum agar menjadi negara produsen, bukan sekedar menjadi bangsa konsumen.

Dengan tidak adanya lagi batas perdagangan global, sangat memungkinkan bagi pasar dalam negeri dibanjiri produk atau komoditas dari luar negeri. Dalam rangka mengantisipasi hal itu Presiden menyatakan, pemerintah bakal mempersempit impor dengan tetap membuka ruang investasi, terutama untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

UKM di Indonesia berpotensi besar menjangkau pasar global. Karena itu UKM didorong untuk tumbuh menjadi kian modern dan masuk ke pemapasaran dalam jaringan. Kalau sudah ketemu semuanya, tidak hanya pasar daring di Indonesia, tetapi juga pasar daring global. Pembangunan infrastruktur digital memang belum secepat yang diharapkan. Namun wilayah Tanah Air sudah tersambung akses internet sehingga dapat menopang pemasaran digital.

Pembinaan Bank Indonesia (BI) terhadap UMKM tidak hanya untuk menghubungkan pelaku usaha dengan akses pembiayaan tetapi juga merambah pasar ekspor dan digital. Salah satu cara BI mendorong UMKM ke pasar ekspor, diantaranya menghubungkan perajin kain atau tenun dengan perancang. Dengan cara itu, kualitas produk meningkat dengan desain yang bagus sehingga diminati pembeli domestik dan asing. BI juga menerapkan proses seleksi dan kurasi produk sebelum masuk ke pasar ekspor.

Indonesia kaya budaya. UMKM pun mencoba mengangkat budaya lokal menjadi kebanggaan. Ada pasar spesifik yang dituju. Dari 898 UMKM binaan BI, sebanyak 173 UMKM sudah memperoleh akses pembiayaan dari perbankan dengan plafon pembiayaan senilai US$ 22,6 miliar, dan sebanyak 91 UMKM masuk pasar ekspor dengan nilai transaksi Rp 1,37 triliun dalam setahun terakhir. Selain itu sebanyak 355 UMKM sudah masuk pasar digital meski sebagian masih melalui media sosial, termasuk youtube, Instagram dan Facebook. BI memfasilitasi UMKM agar terhubung dengan kanal e-dagang, dan berhasil mencatat nilai transaksi sebesar Rp 30 miliar.

Potensi ekosistem e-dagang relatif besar dengan dominasi konsumsen dari generasi milenial – berusia 35 tahun ke bawah merupakan pembeli e-dagang yang dominan. Kalangan milenial sangat erat dengan internet dan daring. Mereka ternyata menyukai dan bangga dengan produk lokal. Selain unik dan kreatif, produk lokal juga dinilai sangat bersaing. Ini potensi yang besar bagi UMKM untuk menggarapnya. (marjono)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Kompetensi Diri

“Perkuatlah usaha kita dengan doa karena hakikat doa adalah menyeru diri bersama energi keTuhanan, dengan energi keTuhanan memperkokoh keyakinan, kesungguhan, dalam berusaha mencapai target yang telah ditentukan dan niatkan semuanya semata-mata hanya untuk kemuliaan Tuhan.”

Kompetensi merupakan karakteristik dasar yang dimiliki oleh seorang individu yang berhubungan secara kausal dalam memenuhi kriteria yang diperlukan dalam menduduki suatu jabatan. Kompetensi terdiri dari 5 tipe karakteristik, yaitu; motif – kemauan konsisten sekaligus menjadi sebab dari tindakan, faktor bawaan – karakter dan respon yang konsisten, konsep diri – gambaran diri, pengetahuan – informasi dalam bidang tertentu dan keterampilan – kemampuan untuk melaksanakan tugas.

Hal ini sejalan dengan pendapat Becker and Ulrich dalam Suparno (2005:24) bahwa competency refers to an individual’s knowledge, skill, ability or personality characteristics that directly influence job performance. Artinya, kompetensi mengandung aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan – keahlian dan kemampuan ataupun karakteristik kepribadian yang mempengaruhi kinerja.

Berbeda dengan Fogg (2004:90) yang membagi kompetensi menjadi 2 (dua) kategori yaitu kompetensi dasar dan yang membedakan kompetensi dasar Threshold dan kompetensi pembeda differentiating menurut kriteria yang digunakan untuk memprediksi kinerja suatu pekerjaan. Kompetensi dasar – Thresholdcompetencies adalah karakteristik utama, yang biasanya berupa pengetahuan atau keahlian dasar seperti kemampuan untuk membaca, sedangkan kompetensi differentiating adalah kompetensi yang membuat seseorang berbeda dari yang lain.

Kompetensi berasal dari kata “competency” merupakan kata benda yang menurut Powell (1997:142) diartikan sebagai (1) kecakapan, kemampuan, kompetensi (2) wewenang.Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu, dan tangkas. Pengertian kompetensi ini pada prinsipnya sama dengan pengertian kompetensi menurut Stephen Robbin (2007:38) bahwa kompetensi adalah “kemampuan – ability atau kapasitas seseorang untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan, dimana kemampuan ini ditentukan oleh 2 (dua) faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.

Pengertian kompetensi sebagai kecakapan atau kemampuan juga dikemukakan oleh Robert A. Roe (2001:73) sebagai berikut; “Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing“. Kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.

Secara lebih rinci, Spencer dan Spencer dalam Palan (2007:84) mengemukakan bahwa kompetensi menunjukkan karakteristik yang mendasari perilaku yang menggambarkan motif, karakteristik pribadi – ciri khas, konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan atau keahlian yang dibawa seseorang yang berkinerja unggul – superior performer di tempat kerja. Ada 5 (lima) karakteristik yang membentuk kompetensi yakni; (1) Faktor pengetahuan meliputi masalah teknis, administratif, proses kemanusiaan, dan sistem. (2). Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. (3). Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra diri seseorang, seperti kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil dalam suatu situasi. (4). Karakteristik pribadi; merujuk pada karakteristik fisik dan konsistensi tanggapan terhadap situasi atau informasi, seperti pengendalian diri dan kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan. (5). Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis atau dorongan-dorongan lain yang memicu tindakan.

Pernyataan di atas mengandung makna bahwa kompetensi adalah karakteristik seseorang yang berkaitan dengan kinerja efektif dan atau unggul dalam situasi pekerjaan tertentu.Kompetensi dikatakan sebagai karakteristik dasar – underlying characteristic karena karakteristik individu merupakan bagian yang mendalam dan melekat pada kepribadian seseorang yang dapat dipergunakan untuk memprediksi berbagai situasi pekerjaan tertentu.Kemudian dikatakan berkaitan antara perilaku dan kinerja karena kompetensi menyebabkan atau dapat memprediksi perilaku dan kinerja.

Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2004, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjelaskan tentang sertifikasi kompetensi kerja sebagai suatu proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistimatis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional Indonesia dan atau Internasional
Menurut Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negeri Nomor: 46A tahun 2003, tentang pengertian kompetensi adalah :kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, efektif dan efisien.

Dari uraian pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi yaitu sifat dasar yang dimiliki atau bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan sebagai dorongan untuk mempunyai prestasi dan keinginan berusaha agar melaksanakan tugas dengan efektif.Ketidaksesuaian dalam kompetensi-kompetensi inilah yang membedakan seorang pelaku unggul dari pelaku yang berprestasi terbatas. Kompetensi terbatas dan kompetensi istimewa untuk suatu pekerjaan tertentu merupakan pola atau pedoman dalam pemilihan karyawan – personal selection, perencanaan pengalihan tugas – succession planning, penilaian kerja performance appraisal dan pengembangan – development.

Dengan kata lain, kompetensi adalah penguasaan terhadap seperangkat pengetahuan, ketrampilan, nilai nilai dan sikap yang mengarah kepada kinerja dan direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan profesinya. Selanjutnya, Wibowo (2007:86), kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Dengan demikian kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu bidang tertentu sebagai suatu yang terpenting.Kompetensi sebagai karakteristik seseorang berhubungan dengan kinerja yang efektif dalam suatu pekerjaan atau situasi.

Dari pengertian kompetensi tersebut di atas, terlihat bahwa fokus kompetensi adalah untuk memanfaatkan pengetahuan dan ketrampilan kerja guna mencapai kinerja optimal.Dengan demikian kompetensi adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh seseorang berupa pengetahuan ketrampilan dan faktor-faktor internal individu lainnya untuk dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan. Dengan kata lain, kompetensi adalah kemampuan melaksanakan tugas berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki setiap individu.

Menurut Spencer and Spencer dalam Prihadi (2004:38-39) terdapat 5 (lima) karakteristik kompetensi, yaitu : (1) Motif – motive adalah hal-hal yang seseorang pikir atau inginkan secara konsisten yang menimbulkan tindakan. (2). Sifat – traits adalah karakteristik fisik dan respons-respons konsisten terhadap situasi atau informasi. (3) Konsep diri – Self-concept adalah sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang. (4) Pengetahuan – Knowledge, adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu. Pengetahuan – knowledge merupakan kompetensi yang kompleks. (5) Ketrampilan – Skill, adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik secara fisik maupun mental.

Sedangkan menurut Spencer and Spencer yang dikutip oleh Surya Dharma (2003:17), konsep diri – Self-concept, watak-sifat – traits dan motif kompetensi lebih tersembunyi – hidden, dalam – deeper dan berbeda pada titik sentral keperibadian seseorang. Kompetensi pengetahuan – Knowledge Competencies dan keahlian – Skill Competencies cenderung lebih nyata – visible dan relatif berbeda di permukaan sebagai salah satu karakteristik yang dimiliki manusia.

Kompetensi dapat dihubungkan dengan kinerja dalam sebuah model alir sebab akibat yang menunjukkan bahwa tujuan, perangai, konsep diri, dan kompetensi pengetahuan yang kemudian memprakirakan kinerja kompetensi mencakup niat, tindakan dan hasil akhir. Misalnya, motivasi untuk berprestasi, keinginan kuat untuk berbuat lebih baik dari pada ukuran baku yang berlaku dan untuk mencapai hasil yang maksimal, menunjukkan kemungkinan adanya perilaku kewiraswastaan, penentuan tujuan, bertanggung jawab atas hasil akhir dan pengambilan resiko yang diperhitungkan.

Lebih lanjut menurut Spencer and Spencer dalam Surya Dharma (2003:41), karakteristik pribadi yang mencakup perangai, konsep dan pengetahuan memprediksi tindakan-tindakan perilaku keterampilan, yang pada gilirannya akan memprediksi prestasi kerja. Selanjutnya jika kita lihat arah pada gambar tersebut bahwa bagi organisasi yang tidak memilih, mengembangkan dan menciptakan motivasi kompetensi untuk karyawannya, jangan harap terjadi perbaikan dan produktivitas, profitabilitas dan kualitas terhadap suatu produk dan jasa.

Dari gambaran hubungan kompetensi di atas terlihat bahwa pengetahuan merupakan input utama karakteristik personal (kompetensi) yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan kinerja. Hal ini sesuai dengan pengertian pengetahuan itu sendiri sebagaimana dikemukakan oleh Carrillo, P., Robinson, (2004:46) bahwa:

  1. Tacit Knowledge. Pada dasarnya tacit knowledge bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan. Berdasarkan pengertiannya, maka tacit knowledge dikategorikan sebagai personal knowledge atau dengan kata lain pengetahuan yang diperoleh dari individu (perorangan).
  2. Explicit knowledge. Explicit knowledge bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi.Penerapan explicit knowledge ini lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau pernyataan yang didokumentasikan, sehingga setiap karyawan dapat mempelajarinya secara independent.

Explicit knowledge adalah prosedur kerja – job procedure dan teknologi.Job procedure adalah tanggung jawab atau tugas yang bersifat formal atau perintah resmi atau cara melakukan hal-hal tertentu, dimana salah satu bentuk konkret dari explicit knowledge adalah Standard Operation Procedure (SOP). Standard Operation Procedure atau prosedur pelaksanaan dasar dibuat untuk mempertahankan kualitas dan hasil kerja, dimana tugas-tugas akan semakin mudah dikerjakan dan tamu akan terbiasa dengan sistem pelayanan yang ada yang terdapat pada knowledge management, dikenal sebagai media yang mempermudah penyebaran explicit knowledge.

Salah satu teknologi paling mutakhir yang saat ini digunakan oleh banyak perusahaan untuk proses penyebaran knowledge adalah intranet, dimana hal ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengakses knowledge dan melakukan kolaborasi, komunikasi serta sharing knowledgesecara “on line”.

Pada dasarnya kinerja dari seseorang merupakan hal yang bersifat individu karena masing-masing dari karyawan memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.Kinerja seseorang tergantung pada kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang diperoleh Carrillo, P., Robinson, (2004:47).

Menurut Spencer and Spencer dalam Surya Dharma (2003:47), kompetensi dapat dibagi dua kategori yaitu; 1).Kompetensi dasar – Threshold Competency, dan 2) Kompetensi pembeda differentiating Competency.Threshold competencies adalah karakteristik utama, biasanya pengetahuan atau keahlian dasar seperti kemampuan untuk membaca, yang harus dimiliki oleh seseorang agar dapat melaksanakan pekerjaannya.Sedangkan Differentiating competencies adalah faktor-faktor yang membedakan individu yang berkinerja tinggi dan rendah.

Charles E. Jhonson dalam Wina Sanjaya (2005:34) membagi kompetensi kedalam 3 bagian yakni: (1). Kompetensi pribadi, yakni kompetensi yang berhubungan denganpengembangan kepribadian – personal competency, (2). Kompetensi professional, yakni kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas tertentu, dan (3). Kompetensi sosial, yakni kompetensi yang berhubungan dengan kepentingan sosial.

Sedangkan pada Kunandar (2007:41), kompetensi dapat dibagi 5 (lima) bagian yakni: (1) Kompetensi intelektual, yaitu berbagai perangkat pengetahuan yang ada pada diri individu yang diperlukan untuk menunjang kinerja. (2) Kompetensi fisik, yakni perangkat kemampuan fisik yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas. (3) Kompetensi pribadi, yakni perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam mewujudkan diri, transformasi diri, identitas diri dan pemahaman diri. (4) Kompetensi sosial, yakni perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan sosial. (5) Kompetensi spiritual, yakni pemahaman, penghayatan serta pengamalan kaidah-kaidah keagamaan.

Masih mengenai kategori atau klasifikasi kompetensi, Talim (2003:7) mengatakan kompetensi dapat meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku karyawan. Dalam arti luas, kompetensi ini akan terkait dengan strategi organisasi dan pengertian kompetensi ini dapatlah kita padukan dengan ketrampilan dasar – soft skill, ketrampilan baku – hard skill, ketrampilan sosial – social skill, dan ketrampilan mental – mental skill. Ketrampilan baku – hard skill mencerminkan pengetahuan dan keterampilan fisik SDM, ketrampilan dasar – soft skill menunjukkan intuisi, kepekaan SDM; ketrampilan sosial – social skill menunjukkan keterampilan dalam hubungan sosial SDM, ketrampilan mental – mental skill menunjukkan ketahanan mental SDM. Di dalam perkembangan manajemen SDM, saat ini sedang ramai dibicarakan mengenai bagaimana mengelola SDM berbasis kompetensi.

Berdasarkan uraian tentang jenis kompetensi di atas, kompetensi diklasifikasikan kedalam 2 jenis, pertama kompetensi profesional, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan peran yang kita pilih.Kedua adalah kompetensi umum, yaitu kompetensi yang harus kita miliki sebagai seorang manusia.Misalnya kompetensi untuk menjadi suami atau istri yang baik.

Proses perolehan kompetensi – competency acquisition process menurut Surya Dharma (2002:38) telah dikembangkan untuk meningkatkan tingkat kompetensi yang meliputi : Pengakuan – Recognition suatu simulasi atau studi kasus yang memberikan kesempatan peserta untuk mengenali satu atau lebih kompetensi yang dapat memprediksi individu berkinerja tinggi di dalam pekerjaannya sehingga seseorang dapat berjalan dari pengalaman simulasi tersebut.

Pemahaman – Understanding, instruksi kasus termasuk modeling perilaku tentang apa itu kompetensi dan bagaimana penerapan kompetensi tersebut. Pengkajian – Assessment umpan balik kepada peserta tentang berapa banyak kompetensi yang dimiliki peserta (membandingkan skor peserta). Cara ini dapat memotivasi peserta mempelajari kompetensi sehingga mereka sadar adanya hubungan antara kinerja yang aktual dan kinerja yang ideal.

Umpan balik – Feedback suatu latihan dimana peserta dapat mempraktekkan kompetensi dan memperoleh umpan balik bagaimana peserta dapat melaksanakan pekerjaan tertentu dibanding dengan seseorang yang berkinerja tinggi. (5) Permohonan kerja – Job Application agar dapat menggunakan kompetensi didalam kehidupan nyata.

Apa yang dapat kita katakan atau perkirakan mengenai kompetensi yang mungkin dibutuhkan untuk memenuhi tantangan baru dimasa depan dan bentuk-bentuk organisasi baru yang akan kita hadapi. Dari pemikiran Mitrani, Palziel dan Fitt dalam Dharma (2002:18) dapat diindentifikasi beberapa pokok pikiran tentang kualitas yang perlu dimiliki orang pada tingkat eksekutif, manajer, dan karyawan.

Pada tingkat eksekutif diperlukan kompetensi tentang: Pemikiran Strategis – Strategic thinking, adalah kompetensi untuk melihat peluang pasar, ancaman, kekuatan dan kelemahan organisasi agar dapat mendefinisikan respons strategis – strategic response secara optimal. Kepemimpinan perubahan – change leadership. Aspek ini merupakan kompetensi untuk mengkomunikasikan visi dan strategi perusahaan dapat ditransformasikan kepada pegawai.

Manajemen hubungan – Relationship management adalah kemampuan untuk meningkatkan hubungan dan jaringan dengan negara lain. Kerjasama dengan negara lain sangat dibutuhkan bagi keberhasilan organisasi. Pada tingkat manajer paling tidak diperlukan aspek-aspek kompetensi seperti: Keluwesan – flexibility adalah kemampuan merubah struktur dan proses manajerial.

Saling pengertian antar pribadi – Interpersonal understanding adalah kemampuan untuk memahami nilai dari berbagai tipe manusia.  Empowering – pemberdayaan adalah kemampuan berbagi informasi, penyampaian ide-ide oleh bawahan, mengembangkan karyawan serta mendelegasikan tanggungjawab, memberikan saran umpan balik, mengatakan harapan-harapan yang positif untuk bawahan dan memberikan reward bagi peningkatan kinerja.

Pada tingkat karyawan diperlukan kualitas kompetensi seperti: Fleksibilitas – keluwesan adalah kemampuan untuk melihat perubahan sebagai suatu kesempatan yang menggembirakan ketimbang sebagai ancaman. Kompetensi menggunakan dan mencari berita. Motivasi dan kemampuan untuk belajar, motivasi berprestasi, motivasi kerja di bawah tekanan waktu; kolaborasi dan orientasi pelayanan kepada pelanggan. (***)

Prof DR  Agusustitin Setyobudi, P.Hd – Penulis Tetap di Majalah UKM

Posted in Opini | Tagged | Leave a comment

Nestapa Nelayan Kerang Hijau

Ada yang berbeda dengan perkampungan nelayan kerang hijau Muara Angke, Jakarta Utara. Sebelumnya, tempat ini sangat ramai dengan aktivitas merebus dan mengupas kerang hijau. Namun kini suasananya sangat berubah. Hanya beberapa tempat yang masih beroperasi. Banyak tempat pengupasan kerang hijau sudah hancur. Atap terpal sudah bolong-bolong dan bekas perebusan tidak terpakai.

Perkampungan juga sepi dari aktivitas warga. Itu pemandangan sehari-hari perkampungan nelayan kerang hijau Muara Angke saat ini. Sejak ada proyek reklamasi mereka tidak lagi diperbolehkan beternak kerang hijau. Kecemasan nampak tersirat dari para nelayan yang dijumpai UKM. Kerang hijau yang selama ini menjadi andalan perekonomian mereka, kini runtuh dan nyaris tamat produksinya.

Mereka masih cemerlang mengingat masa kejayaannya di era Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo. Pada saat itulah nelayan kerang hijau mengaku “diuwongke” Bang Nolly panggilan akrab Tjokropranolo. Saat Bang Nolly menjabat Gubernur DKI Jakarta itulah nelayan kerang hijau mengalami zaman keemasan. Karena Bang Noli punya kepedulian besar terhadap kesejahteraan nelayan dengan melakukan budidaya kerang hijau di pantai utara Jakarta.

“Kami ingat betul. Sebagai rasa terima kasih nama Bang Nolly kami abadikan menjadi nama kerang hijau, dan beliau tidak menolak. Kesejahteraan nelayan kerang hijau saat itu benar-benar terwujud. Namun kondisi sekarang, seperti kata pepatah “hidup enggan mati pun tak mau”. Sejak ada proyek reklamasi pantai, ternak kerang hijau habis. Karena nelayan tidak boleh lagi beternak kerang hijau. Padahal, ternak kerang telah menjadi tumpuan hidup keluarga sejak puluhan tahun lalu,” ujar Pak Kolil kepada UKM.

Kolil menyebutkan tak kurang dari 3000-an peternak kerang hijau harus menghentikan kegiatannya di Pantai Teluk Muara Angke. Karena lokasi tersebut diurug menjadi pulau baru. “Dulu mengambil kerang hijau hanya di bibir pantai. Sekarang harus sampai Tanjung Kait, Serang, Banten. Produksi kerang hijau dulu mencapai ratusan ton setiap hari, ambruk dalam sekejap. Beban biaya produksi tak sebanding dengan tangkapan menjadi penyebab turunnya penghasilan di sini. Sebelum reklamasi penghasilan kami bisa mencapai Rp 100 ribu per hari. Kini hanya cukup untuk bertahan hidup,” urai Kolil yang mengaku menjadi nelayan kerang hijau sejak masa kanak-kanak bersama orang tua, kakek dan kakek buyutnya di Teluk Jakarta.

Karena itu dia sangat prihatin jika kini banyak pejabat – ilmuwan yang memvonis kerang hijau itu beracun dan tak aman dikonsumsi karena sudah tercemar limbah. Sayangnya mereka tak pernah datang memberikan penyuluhan tentang kondisi kerang hijau yang sebenarnya secara ilmiah. Sebagai anggota pecinta lingkungan sejak masa remaja dia tak setuju dengan vonis tersebut. Dia sangat berharap, jangan sampai nasib nelayan kerang hijau yang sudah berada di ujung tanduk makin sengsara dengan “isu itu” urai Kolil, ayah dari empat orang dan kakek dua orang cucu itu.

Ketua RT 06 RW 22 Kampung Kerang Hijau, Ny Tati Suryadi asal Indramayu, Jawa Barat, mengemukakan, Suryadi suaminya juga nelayan kerang hijau sejak masih bujangan. Perempuan yang dipercaya 17 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 500 jiwa itu mengaku, pernah ada penyuluhan dari dinas terkait dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang potensi kerang hijau sebagai jenis hasil laut yang menjadi konsumsi masyarakat. Termasuk manfaat gizi daging kerang dan efek samping bagi kesehatan setelah Teluk Jakarta tercemar limbah.

“Sebagai Ketua RT Kampung Kerang Hijau, saya terus berupaya bagaimana agar warga Kampung Kerang Hijau tetap bisa hidup dari usahanya. Latar belakang pendidikan mereka memang terbatas karena sejak kecil terbiasa melaut membantu orangtuanya cari kerang. Kendati penghasilannya semakin tak menentu sejak reklamasi pantai Teluk Jakarta, tetapi mereka sulit meninggalkan kebiasaan ini,” ujar Tati.

Ia mersa prihatin ketika berbagai kalangan akademisi dan ilmuwan menyebutkan kerang dari Pantai Utara Jakarta tak lagi layak dikonumsi karena tercemar racun atau limbah mercuri. Namun Ia meyakinkan bahwa daging kerang hijau masih layak dikonsumsi. Wanita yang kini sedang hamil anak ketiganya mengaku masih mengonsumsi kerang hijau. Demikian pula sebagaian besar warganya. “Hingga saat ini masyarakat juga masih banyak yang mengonsumsi kerang hijau. Itu bisa dilihat dari animo pembeli kerang hijau di sini. Bahkan harga daging kerang hijau cenderung naik. Kini harganya dikisaran Rp 7.000 sampai Rp 10.000,- per liter,” kata Ny.Tati.

Suryadi yang akrab dengan sapaan Kacung mengaku, hingga kini belum jenuh mernjadi nelayan kerang hijau. Seperti dikemukakan Kolil, jika dulu waktu tangkap kerang hijau setahun sekali, kini tiga bulan sekali. Sehingga kerang belum sempat besar. “Jika zaman Bang Nolly kerang yang dipanen sebesar 3 jari tangan, sekarang cuma 2 jari. Itu pun berebut, karena sejak pantai utara Jakarta direklamasi praktis habitatnya berkurang. Sedangkan mencari kerang ke Tanjung Kait, biaya operasionalnya besar. Harga solar Rp 7.000,- per liter,” kata Kolil.

Kampung Nelayan Kerang Hijau, menurut Ny.Tati, sebagai pemekaran baru dari Blok Tambak Bolong, Blok Eceng dan Blok Empang. Resmi bernama Kampung Kerang Hijau pada tahun 2019 dan diresmikan oleh Gubernu DKI Jakarta, Anies Baswedan, karana warga kampung nelayan kerang hijau pernah menjalin kontrak politik dengan Anies Baswedan dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu.

Disebut Kapung Kerang Hijau, karena lahannya terdiri dari kulit kerang hijau. Dulu, empang, dalamnya sampai lima meter. Oleh warga, empang diurug kulit kerang, menjadi daratan. Di sinilah para nelayan kerang hijau bermukim dan beranak pinak. Pembangunan di wilayah ini, terus berkembang. Rumah-rumah nelayan dibangun permanen, terutama sekitar pengasinan atau tempat menjemur ikan asin. Banyak pula nelayan kerang hijau alih profesi. Salah satunya Rosidi alias Ucok. Laki-laki berdarah Betawi itu mengaku, ketika Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu membuka lowongan penerimaan pegawai, ia langsung mendaftar. Kini Ucuk resmi menjadi pegawai Dinas Lingkungan Hidup Kepuluan Seribu.

Terkait langkah PT Pembangunan Jaya Ancol yang melakukan restorasi kerang hijau di Teluk Jakarta, yang bertujuan memperbaiki kualitas air laut di kawasan Teluk Jakarta, para nelayan pesimis hal itu bisa mengembalikan masa kejayaan mereka. Karena kerang hasil restorasi tak boleh diambil untuk diperjualbelikan. Kerang hijau itu menurut Manajer Komunikasi PT Pembangunan Jaya Ancol (PT PJA) Rita Lestari, cuma diprioritaskan untuk meningkatkan kualitas air laut dan biodiversita.

Dikemukakan Rita Lestari, PT PJA bersama Forum CSR DKI Jakarta dan organisasi dari berbagai lembaga dan institusi, untuk mewujudkan sinergi tanggung jawab sosial memulai program restorasi kerang hijau di Teluk Jakarta, Oktober 2019 lalu. Bentuknya, menebar lebih dari 1 ton cangkang kerang hijau yang kelak dapat menjadi wadah pertumbuhan kerang hijau baru.

Kegiatan itu diklaim dapat dukungan dari komunitas, perusahaan, dan perguruan tinggi. “Informasi yang kami peroleh dari PT PJA, pihak PT PJA menyiapkan 50 ram besi, masing-masing berukuran 50 X 30 X10 sentimeter. Ram itu nanti menjadi tempat kerang hijau. Setiap ram diprediksi mampu menampung sekitar 20 kilogram kerang hijau. Tapi kerang itu tidak boleh dipetik atau dipanen. Artinya, nasib kami akan tetap seperti ini. Miskin” kata S Andhyka kepada UKM.

Rita Lestari menyebutkan setiap bulan pihak PT PJA menebar 1.600 kilogram kulit kerang. Program restorasi kerang hijau hanya terpusat di kawasan Ancol. PT PJA dan forum CSR belum punya rencana memperluas program tersebut ke kawasan lain. PT PJA masih perlu mengamati dan mendata seluruh pertumbuhan kerang hijau. Selain itu, pemusatan bertujuan mencegah pengambilan kerang hijau untuk konsumsi.

Dipilihnya kerang hijau untuk menjernihkan Teluk Jakarta, menurut informasi dari Manajer Konservasi PT PJA Yus Anggoro Saputra, kerang hijau memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap limbah dan logam di dalam air. Setiap 10 kg kerang hijau mampu menjernihkan 100 liter air dalam satu jam. Atas dasar itu PT PJA menjalankan program restorasi kerang hijau. Dalam 3 bulan kerang hijau tumbuh dewasa dan mulai menyerap poluta. “Tahun ini target PT PJA, 1.000 kilogram kerang hijau yang tumbuh,” kata Kepala Satuan Pelaksana UPTD Muara Angke, H.Hasan Syamsudin kepada UKM.

Ketua Forum CSR DKI Jakarta Mahir Bayasut mengemukakan pemulihan kualitas air laut di Teluk Jakarta seharusnya menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, swasta, dan pemerintah. Menurutnya, keikutsertaan Forum CSR ingin menumbuhkan gerakan yang sama oleh perusahaan, organisasi, universitas dan pemerinah. “Harapan kami, bisa menjadi inspirasi lebih banyak lagi” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, H. Darjamuni yang dimintai konfirmasinya usai rapat pembahasan KUA-PPAS dengan Komisi B DPRD DKI Jakarta mengemukakan, sebenarnya Dinas KPKP tengah mencari cara agar kerang hijau di Teluk Jakarta tidak digunakan untuk makanan olahan. Sebab berdasarkan sejumlah hasil penelitian, kerang hijau punya efek samping bagi tubuh jika dikonsumsi. Karena daging kerang dari laut tercemar terbukti mengandung logam berat yang berbahaya bagi tubuh manusia.

Dinas KPKP menggandeng Satpol PP untuk mencegah nelayan dan pedagang memanen kerang hijau. Salah satu upaya pencegahan yang lakukan adalah merelokasi nelayan kerang hijau di perairan Tanjung Kait, Serang, Banten. Namun upaya ini belum membawa hasil. Karena banyak nelayan yang menolak. Karena kerang hijau harga jualnya tinggi, dan peminatnya sangat banyak. Ini yang membuat nelayan keberatan untuk direlokasi ke perairan Banten.

“Kerena kerang hijau menjadi hidangan yang digemari masyarakat. Maka tak heran jika penjual kerang pun makin banyak,” kata Kepala UPTD Pusat Pelelagan Ikan Nusantara Muara Angke, H.Mahat. Namun, belum banyak yang tahu bahwa di balik kelezatan kerang hijau ada kandungan racun berbahaya bagi tubuh. Hasil riset yang dilakukan LIPI tahun 2018, setiap tahun sebanyak 21 ton sampah masuk dari 10 sungai di Ibu Kota menuju Teluk Jakarta. Sampah ini membawa limbah buangan dari rumah tangga, perkantoran dan industri. Kandungan arsenik kerang hijau di Teluk Jakarta mencapai 6,77 atau tiga kali lipat di batas yang bisa dikonsumsi.

Kepala Satuaan Pelaksana (Kasatlak) UPTD Muara Angke, H. Hasan Syamsuddin, mengemukakan, hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan, air laut Teluk Jakarta mengandung silikat (52.156 ton, frostat (6,71 ton) dan nitrogen (21.260 ton). Kerang hijau yang hidup di Teluk Jakarta mengandung mercuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), Crom (Cr) dan timah (Sn).

Uji coba PT Pembangunan Jaya Ancol menyebutkan, 96 kilogram kerang hijau restorasi mampu menyaring 960 liter air laut setiap jam. Menurunkan tingkat nitrogen di air laut hingga 210 miligram per jam. Peneliti Pencemaran Laut Bagian Ekotiksikologi LIPI, Dwi Gindarti mengingatkan agar masyarakat mengurangi konsumsi kerang hijau dari Perairan Teluk Jakarta. Semua yang ada di dalam air melewati tubuh kerang akan diserap dan diakumulasikan dalam tubuhnya, termasuk merkuri. Mengkonsumsi kerang hijau yang terpapar merkuri bisa terkena berbagai penyakit serius dalam jangka panjang. Dwi mengimbau agar masyarakat tidak terlalu sering mengonsumsi kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta.

Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Ketahanan Pangan – Kelautan dan Perikanan (KPKP), DKI Jakarta Dwi Retno Susilaningsih memaparkan, kerang-kerang hijau yang berkembang biak di laut tercemar mercury memiliki beberapa ciri khas. Pertama, dari aroma. Kerang hijau dari laut yang tidak tercemar memiliki bau segar, tidak busuk. Ciri berikutnya, struktur daging kerang. Kerang yang baik dagingnya utuh dan kenyal. Sedangkan kerang yang tercemar dagingnya lembek dan sudah koyak. Ciri yang paling jelas, dan kerap diabaikan konsumen, kerang yang tercemar perutnya hitam pekat. (sutarwadi.k)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Membangun Ekonomi Kerakyatan Untuk Mengatasi Kemiskinan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Wilayah (Musrenbangwil) se-wilayah Kedu di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen bertema Rembugan Gayeng Bareng yang dihadiri bupati – walikota se-Kedu dan perwakilan masyarakat menyampaikan permasalahan utama di kabupaten dan kota se-wilayah Kedu tentang tingkat kemiskinan.

Ada 3 kabupaten yaitu; Wonosobo, Kebumen dan Purworejo yang hingga kini masih menjadi kabupaten termiskin se-Jawa Tengah. Berangkat dari hal tersebut, arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) diprioritaskan untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, sejahtera dan berdikari. Ini dapat diwujudkan dengan membangun ekonomi daerah berbasis potensi, penanggulangan kemiskinan, kualitas SDM dan cakupan pangan, energi, infrastruktur serta tata kelola.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dari 16 Kecamatan di Wilayah Kabupaten Purworejo, 50% termasuk kategori Kecamatan termiskin. Utamanya; Kecamatan Bruno, Kaligesing, Purworejo, Butuh, Kutoarjo, Bener, Banyu-urip dan Bagelen. Sekedar contoh, Kec. Bruno, 78% desa yang ada di kecamatan ini, adalah desa miskin. Berdasarkan kondisi keluarga miskin, 49% keluarga di kecamatan ini adalah keluarga miskin. Kec. Purworejo 20% desa yang ada di kecamatan ini juga desa miskin. Berdasarkan kondisi keluarga miskin, 29% keluarga di kecamatan ini adalah keluarga miskin. Begitu juga dengan Kec. Kaligesing,  berdasarkan kondisi keluarga miskin, 45% keluarga di kecamatan ini adalah keluarga miskin.

Konsdisi tersebut tidak berubah dari tahun ke tahun. Tahun 2015 diumumkan bahwa penduduk miskin mencapai 98.608 jiwa atau 13,88% dari total penduduk. Secara keseluruhan angka kemiskinan masih cukup tinggi, yaitu sebesar 15%. Angka ini berada di atas angka nasional yang sebesar 12% dari jumlah penduduk. Tahun 2017 warga miskin masih mencapai 14,27% dari jumlah penduduk. Yang memprihatinkan, Kecamatan termiskin justru Kecamatan Purworejo dengan jumlah warga miskin sebanyak 19.733jiwa.

Angka kemiskinan penduduk di Kabupaten Purworejo setahun terakhir memang mengalami penurunan cukup signifikan dari 13,81% pada tahun 2017, menjadi 11,67% tahun 2018. Meski demikian, angka tersebut masih di bawah target tahun 2018, yakni sebesar 10,4%. Angka kemiskinan Jateng 11,19% dan nasional 9,66%. Tingginya prosentase tingkat kemiskinan di Kabupaten Purworejo merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satunya diindikasikan kurang tepatnya sasaran program kegiatan penanggulangan kemiskinan.

Ada komplain dari warga tentang penerima manfaat yang tidak tepat sasaran. Bukannya warga miskin yang menerima bantuan, tapi justru banyak warga yang cukup mampu. Kejadian seperti itu sebenarnya tidak hanya di Purworejo dan Jateng, tetapi juga dibanyak tempat, bahkan di Jakarta pun terjadi hal yang sama. Itu akibat dari kurangnya melakukan update data. Jika data orang miskin selalu dievaluasi dan dilakukan pembaharuan secara periodik tidak akan terjadi salah data. Dengan adanya data terbarukan warga miskin yang sudah berhasil menjadi warga sejahtera – mampu karena kemungkinan mereka punya kegiatan produktif, maka warga tersebut tidak akan dimasukkan lagi dalam kategori warga miskin.

Inti dari penanggulangan kemiskinan adalah membuka akses dalam segala hal pada orang miskin untuk hidup sejahtera dan memutus rantai kemikinan. Hal ini berarti perlu menetapkan kemiskinan menjadi musuh bersama sebagai fokus bersama untuk dihancurkan sampai keakar-akarnya. Jumlah penduduk miskin Kabupaten Purworejo tahun 2019 ada sekitar 93.000 orang. Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan dan menekan jumlah orang miskin diperlukan perencanaan yang matang. 

Penanganan kemiskinan dapat dilakukan secara optimal dengan adanya komitmen bersama antar pemangku kepentingan. Dalam hal ini dapat dilakukan oleh Tim Penanggulangan Kemiskinan Derah (TKPKD) sampai tingkat desa. Dan jangan lupa, berkoperasi pun dapat mengurangi jumlah orang miskin, menciptakan lapangan kerja dan menyejahterakan. Semiskin-miskinnya orang, mereka tetap punya potensi. Dan jika potensi tersebut digali, dikembangkan dan diberedayakan secara produktif diyakini akan mampu merubah mereka menjadi lebih sejahtera.

Menyikapi kondisi masyarakat yang sebagian besar belum sejahtera, Badan Pelaksana GKJ Klasis Purworejo yang kala itu Pdt. Lukas Eko Sukoco, (Ketua) Pdt.Sudibyo (Sekretaris) dan Maria Christiani (Bendahara) dibantu oleh Badan Pengawas (Bawas) dan segenap Badan Pelaksana (Bapel); memilih untuk membangun ekonomi kerakyatan. Tak cukup dengan Prihatin, maka akhirnya Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) di lingkungan Klasis Purworejo membuat aksi nyata dengan mendirikan Credit Union Angudi Laras (CUAL) pada 3 Januari 2011 dengan tujuan agar Gereja melalui aktivitas CU ikut berperan mengatasi kemiskinan secara nyata melalui Pemberdayaan Ekonomi Jemaat – Masyarakat.

Membangun Ekonomi Kerakyatan tidak cukup dengan  demo – unjuk rasa, mengkritik atau bahkan mengutuk pihak tertentu yang dianggap penyebab kemiskinan. “Kami memilih untuk melakukan sesuatu: membuat sistem yang lebih adil dan mengajak masyarakat sebagai pelaku bukan penonton, bukan pula sebagai obyek penderita yang perlu diberibantuan,” jelas Lukas Sukoco saat berbincang dengan Majalah UKM, di kantornya. Berbuat sesuatu secara nyata bersama masyarakat, diwujudkan melalui; Perubahan cara berpikir, mengorganisir diri berbasis komunitas, membuat usaha yang direncanakan berdasar pada jiwa wira-usaha, dan secara dinamis, konsisten melakukan pendidikan komunitas sesuai kebutuhan.

CU adalah sebuah lembaga keuangan yang merupakan kumpulan orang, berpusat pada orang, bukan sekedar pada uang, bergerak dibidang simpan pinjam yang dimiliki oleh anggota, dikelola secara profesional untuk kesejahteraan bersama. CU berbadan hukum koperasi, seperti koperasi pada umumnya. Bedanya, CU memiliki struktur: Pembina, Pengurus, Pengawas dan Manajemen (Manajer, Kasir, Bagian Kredit, Pendidikan, Pemberdayaan, Tata Usaha dan Staf Lapangan). Juga ada komite-komite; Komite Kredit, Komite Pemberdayaan, dan Komite Pendidikan.

Semua unsur dituntut memiliki kapabilitas yang mumpuni, ditandai dengan terus berproses mengikuti berbagai pelatihan. Seorang pengurus, misalnya, pasti telah mengikuti berbagai  pelatihan ke pengurusan, baik itu: Pendidikan Dasar, Pendidikan Nilai-nilai Credit Union, Pendidikan Financial Literacy, Pendidikan Kepegurusan seperti: Credit Unions Directors Competency Course (CUDCC), dan sebagainya. Credit union sejati memang memiliki kelengkapan organisasi yang baik.

Selama 5 tahun, 2011 – 2016, CUAL berkantor di Kantor GKJ Klasis Purworejo  di Jl. Jend. Sudirman No 11 Purworejo 54114. Namun sejak 3 Januari 2016 telah memiliki gedung sendiri di Jl. Suryokusuman 17 Purworejo 54114. Setiap hari Senin – Jumat kantor CUAL selalu  penuh dengan aktivitas simpan pinjam, rapat-rapat, ataupun pertemuan – pertemuan  informal.  Bahkan sering terjadi, Hari Sabtu atau hari libur pun ada kegiatan tertentu. Setiap bulan, ada juga yang 2 bulan sekali diadakan: Pendidikan dasar CU, Pelatihan financial literacy, Berbagai kegiatan pelatihan oleh komunitas basis maupun komuntas bina usaha: Masak-memasak, membatik, merajut dan komunitas entrepreneur “jo Kementhus”.


Kehadiran CUAL yang akhirnya tidak hanya melayani jemaat gereja, tetapi juga masyarakat umum, menjadikan GKJ Klasis Purworejo teladan bangkitnya ekonomi kerakyatan. CU adalah lembaga non profit yang didirikan oleh anggota, untuk anggota dan dimiliki oleh anggota, untuk mengupayakan kesejahteraan bersama. CU meletakan pelayanan kepada anggota di atas keuntungan. Meski lembaga non profit, namun CU harus dikelola secara profesional terutama dalam pembuatan keputusan keuangan dan kebijakan finansial. Dalam usianya yang genap sewindu, CUAL telah berbadan hukum nomor: 184/BH/XIV.21/2012.

Produk-produk CUAL dengan perhitungan jasa tabungan lebih adil katimbang bank konvensional antara lain: Siharta, Sipinmo dan Sibendi. Ada juga Sebrakan – pinjaman mendadak untuk kepentingan mendadak, yang nominalnya maksimum Rp15 juta. Ada produk Simpan Pinjam yang dibuat sesuai kebutuhan anggota, seperti: Gemi Nastiti (Simpan Pinjam untuk keperluan pendidikan anak), Makarya (Simpan Pinjam untuk modal usaha), Pesanggrahan (Simpan Pinjam untuk Perumahan).

Dengan tetap setia pada 3 pilar utama CU yaitu Pendidikan, Swadaya, dan Solidaritas perlahan tapi pasti CUAL mulai bisa berkembang. Dari tempat pelayanan yang masih menyewa di Kantor Klasis akhirnya setelah 5 tahun berdiri bisa membeli tanah dan bangunan yang sampai sekarang digunakan sebagai tempat pelayanan. Dari 30 orang yang bersepakat mendirikan CUAL berkembang menjadi 1.200-an anggota, dan terus bertumbuh.

CUAL telah mengembangkan berbagai model pendidikan dan pelatihan anggota sesuai dengan Misi CUAL sendiri yaitu; Meningkatkan Kualitas Hidup anggota melalui pemberdayaan sosial ekonomi berbasis komunitas. Pendidikan Wajib, dan Finansial Literacy digunakan sebagai alat utama di CUAL untuk merubah pola pikir anggota menjadi lebih bijaksana terutama dalam hal pengelolaan keuangan.

Pendidikan tidak hanya dilaksanakan sekadarnya sebagai formalitas semata, tetapi terus dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman terutama menghadapi era disruption dengan perubahannya yang sangat cepat dan eksponensial. Penyegaran fasilitator dilakukan setiap tahun sekali agar pola pendidikan anggota selalu up to date dan benar-benar bisa menjawab tantangan terkini.

CUAL sadar benar fungsi strategis fasilitator pendidikan-pendidikan utama ini. Tidak berhenti di situ, sebagai konsekuensi berubahnya pola pikir anggota, menjadi kebutuhan adanya pendidikan dan pelatihan lanjutan. Anggota yang semula enggan dengan pendidikan menjadi berubah haus akan ilmu, pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kapasitasnya terutama di bidang wirausaha.

Kebutuhan itulah yang membuat pengurus CUAL berupaya mengembangkan berbagai macam keterampilan teknis untuk anggota. Mulai dari seminar kewirausahaan, magang kewirausahaan di tempat usaha mentor, pelatihan kuliner, pelatihan pijat refleksi, pelatihan membuat pupuk organik, pelatihan membuat pakan ternak, pelatihan merajut, pelatihan tata rias, pelatihan membatik, yang terbaru dan sangat diminati anggota adalah pelatihan jumputan.

Hasil dari berbagai pelatihan tersebut adalah terbentuknya berbagai Komunitas Bina Usaha (KBU) yaitu kelompok anggota dengan minat atau bidang usaha yang sama. Antara lain KBU Satu Hati bergerak di bidang kuliner, KBU Karya Jemari bergerak di bidang aneka kerajinan tangan khususnya rajut, KBU Ayo Polah bergerak di bidang Batik dan yang terbaru KBU Merak Ati bergerak di bidang Jumputan Pewarna Alam.

Di samping aneka pelatihan teknis, CUAL juga memikirkan sarana dan prasarana untuk mensupport usaha anggota. Di kantor pelayanan tersedia rak khusus untuk display usaha anggota. Semua anggota berhak memajang produknya tanpa dipungut biaya. Ada juga sarana komunikasi melalui medsos WAG Komunitas Jo Kementhus, yang digunakan sebagai media informasi dari lembaga ke anggota, juga sarana promosi produk antar anggota. Ada juga media grup di FB dan yang sedang dikembangkan, toko online di market place yang akan memajang dan secara intensif mempromosikan produk anggota di pasar online.

Karena fokus ke pendidikan dan pelatihan anggota, CUAL merindukan tempat khusus untuk pendidikan yang lebih representatif. Maka awal tahun 2018 mulai dibangun gedung diklat di lahan kosong belakang kantor. Gedung dua tingkat yang dilengkapi ruang diklat, ruang rekreasi, satu ruang rapat dan dua kamar tidur. Majalah UKM pun ikut menikmati kenyamanan di basecamp CUAL. Gedung diklat ini diberi nama Omah Jo Kementhus (OJK) yang artinya Rumah atau tempat untuk belajar agar tidak kementhus (Kata Jawa yang artinya bodoh, nekat, keras kepala).
Kala peringatan Sewindu (8 th) CUAL dimeriahkan dengan berbagai acara. Dimulai dengan Expo usaha anggota yang dibuka pada tanggal 2 Januari 2019. Diikuti anggota yang memiliki aneka usaha, namun didominasi anggota yang punya usaha kuliner. Ada stand aneka masakan dan jajanan seperti; mie ayam, nasi gandul, pempek, sagon, dan lain-lain. Juga ada stand jumputan dari KBU Merak Ati. Expo berjalan meriah bukan hanya dari anggota, tetapi juga dihadiri masyarakat sekitar.

Di samping Expo pada 2 Januari 2019 juga diadakan Lomba Tembang Kenangan untuk masyarakat umum. Antusiasme masyarakat cukup tinggi. Mengikuti acara lomba sejak siang sampai malam hari di depan Gedung OJK. Pada 3 Januari 2019, saat Expo usaha anggota masih berjalan juga diadakan Lomba Menghias Celengan dari Tembikar. Lomba ini diikuti anak-anak usia PAUD sampai SD. Lomba tersebut bertujuan menanamkan budaya menabung sejak awal.

Menghitung hari, 3 Januari 2020 CUAL genap berusia 9 tahun. Namun diakui bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dan belum sempurna. Tetapi yang pasti, semua aktivis CUAL bersemangat untuk tetap melayani anggota sebaik mungkin. Pada 27 Januari 2019 telah di-launching aplikasi online sebagai sarana transaksi online dan payment untuk semua anggota. Aplikasi online bernama Escete-CU Angudi Laras ini diharapkan bisa semakin membantu anggota untuk beraktivitas secara lebih cepat, akurat, dan aman.

Kini CUAL telah menjadi salah satu Koperasi yang bisa diandalkan di lingkungan Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Gubernur Ganjar Pranowo  meminta, koperasi yang terdaftar namun sudah tak aktif lagi agar dicoret. Ia meminta validasi data jumlah koperasi di Jawa Tengah, baik yang menjadi kewenangan Provinsi, maupun kabupaten dan kota. Dia minta didata ulang, berapa koperasi yang ada. Kalau sudah almarhum, delete saja. Kalau yang sudah sukses, bisa ditampilkan bagaimana caranya sukses. Ia juga menyebutkan bahwa di Jateng ada 3.859 koperasi yang tidak aktif dan harus dibubarkan.


CUAL memperkenalkan diri dengan keluarga besar BKCU Kalimantan Juli  2013 ketika diselenggarakan pelatihan Financial Literacy – cakap mengelola keuangan, di Jogyakarta. Tuan rumahnya CU Cindelaras Tumangkar. Kebetulan Maria dekat dengan Wiwiek, salah seorang pengurusnya, memberi informasi, ada kegiatan pelatihan yang materinya sangat menarik. Karena CUAL bukan anggota, kalau mau ikutan disarankan menghubungi langsung ke BKCU Kalimantan, boleh atau tidak. Ketika menghubungi Frans Laten, bersyukur diizinkan untuk ikut. Namun ada syaratnya; berkontribusi. Tak masalah, yang penting sedikit demi sedikit ilmu tentang CU dapat, dan bisa berkenalan dengan para akvitis CU yang sudah berpengalaman.

Saat rehat makan siang, fasilitator yang juga pengurus BKCU Kalimantan, Romo Fredy Rante Taruk, PR, berbincang dengan peserta dari CU Semangat Waraga, Jombang, Jawa Timur, “anaknya CUCT, karena dulu mereka belajarnya juga di CUCT. CU Semangat Warga ini istimewa, berbeda dengan CU CU lainnya yang didirikan oleh komunitas gereja, sedangkan CU Semangat Warga didirikan dan berbasis dari kalangan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. CU Semangat Warga waktu itu juga belum resmi jadi anggota BKCU Kalimantan, tetapi sudah dalam proses bergabung. Yang diperbincangkan tentang Standarisasi Kebijakan yang akan diselenggarakan di Kaliurang, Jogya. Maria yang haus ilmu, nguping – serius mendengarkan.

Karena yang diperbincangkan menarik, kebijakan, berarti tentang tata kelola, akhirnya Maria mendekat bergabung. Perbincangan semakin serius, dan semakin menarik. “Romo, boleh gak kami bergabung di acara itu?” tanya Maria. “Wah kami tidak bisa memutuskan. Hubungi BKCU Kalimantan,” jawab Romo Fredy menyarankan. Tidak ingin melewatkan kesempatan emas, Maria segera menghubungi Frans Laten. Nasib baik, diizinkan sebagai tamu, mengikuti acara yang sarat ilmu tersebut. Alhasil, kecuali dapat ilmu, juga semakin banyak mengenal aktivis CU, sebab pesertanya terdiri dari pimpinan manajemen, pengurus dan pengawas dari seluruh CU Primer anggota BKCU Kalimantan.

Kesempatan baik semakin terbuka. Kebetulan ada satu moment bagus, saat pimpinan manajemen, pengurus dan pengawas BKCU Kalimantan keluar bersama-sama ingin menikmati hidangan sate kelinci. Maria memanfaatkan kesempatan emas tersebut untuk bercerita tentang CUAL dari A – Z. Sebelum resmi diterima sebagai anggota BKCU Kalimantan, salah satu persyaratan dasar yang harus terpenuhi adalah mengikuti SP2 (ulang) dengan standar BKCU Kalimantan. Lantaran jelang akhir tahun, fasilitator jadualnya sudah penuh, juga ada persiapan RAT di Surabaya, maka tidak bisa diselenggarakan SP2 dalam waktu singkat.

Paling tidak, komunikasi untuk bergabung menjadi anggota semakin lancar. Maret 2014 Romo Fredy datang ke CUAL melakukan verifikasi; mana kantornya, bagaimana visi – misinya, produknya apa saja, dan bagaimana tata kelolannya. Rekomendasi dari verifikasi tersebut; CUAL dianggap layak menjadi anggota BKCU Kalimantan. Dengan catatan, SP2 tetap harus dilakukan, jadual dan fasilitator disusun oleh BKCU Kalimantan. SP2 dijadualkan bulan Juni, dan Mei 2014 BKCU Kalimantan RAT di Surabaya. Untuk kali pertama secara resmi CUAL diundang sebagai calon anggota. Namun baru sebagai peninjau. Karena semua persyaratan telah terpenuhi, Juli 2014 CUAL resmi menjadi anggota BKCU Kalimantan dengan nomor anggota 82, anak bontot, dikukuhkan pada RAT di Makassar, Sulawesi Selatan.

Persyaratan bergabung dengan BKCU Kalimantan, anggota harus sudah mencapai minimal 500 orang dan aset minimal Rp 1 miliar. Kalau tahun pertama baru 300 anggota, pertengahan tahun kedua sudah mencapai 500 orang lebih. Aset pun telah lebih dari Rp 1 miliar. Namun, yang dialami tidak seindah bayangan semula. Mencari anggota ternyata tidak mudah. Walau pengurusnya ada pendeta, dengan harapan semua umat ikut menjadi anggota, ternyata tidak. Tantangan terbesar justru di jemaat gereja. Ada anggapan bahwa pendeta itu seharusnya urusan surga saja, tidak ngurusi soal keuangan, CU yang dinilainya sangat berbeda dengan lermbaga keuangan lainnya, perbankan, atau koperasi simpan pinjam lainnya.

Untuk meyakinkan jemaat gereja, butuh perjuangan, dan tidak mudah. Diakui, sampai saat ini yang menikmati pelayanan dan keuntungan baru umat GKJ Purworejo, tempat kelahiran CUAL. Umat dari GKJ lain yang kebetulan di pinggir belum sebanyak yang bergabung. Umat GKJ yang jaraknya jauh dari Purworejo jumlahnya sedikit. Krentek – impian awal berdirinya CUAL untuk meningkatkan ekonomi – kesejahteraan umat Klasis Purworejo, bukan hanya umat GKJ Purworejo. Artinya bagi seluruh umat 11 GKJ yang ada di Klasis Purworejo. Mungkin karena pandangan masing-masing pendeta tentang CU berbeda-benda, maka mimpi indah itu harus terus diperjuangkan.

Yang telah dilakukan selama ini road show – keliling mengadakan sosialisasi dan untuk mempermudah anggota juga ada kas keliling. Namun, karena CU merupakan sesuatu yang baru, tidak mudah diterima. Atau mungkin, karena ada kebiasaan masa lalu, dimana GKJ selalu mendapat bantuan dari Belanda, sehingga terbiasa tangan di bawah. Masih ada anggapan, kalau lembaga itu dari gereja seharusnya umat dapat bantuan, cuma-cuma. Sedangkan CU tidak seperti itu. CU menempatkan orang, harus mengandalkan kemampuan diri sendiri – mandiri. Untuk membalikan budaya tangan di bawah (menerima cuma-cuma) memang tidak mudah.

Terkait dengan pengembangan keanggotaan, karena CUAL sebagai koperasi tetap menganut system keanggotaan terbuka dan sukarela. Sekarang, umat non kristiani pun sudah semakin banyak yang bergabung menjadi anggota. Biasanya yang mengajak adalah anggota, mengajak teman-temannya atau sanak keluarganya. CUAL tidak membeda-bedakan agama, suku, ras dan golongan. Yang percaya bisa sejahtera bersama CUAL, dipersilahkan bergabung menjadi anggota.

Tentang dipilihnya nama Angudi Laras mengandung makna; Angudi didasarkan pada falsafah bahwa kehidupan itu tidak dipahami sebuah perjalanan yang datar-datar saja. Kehidupan adalah penuh tantangan, peluang harus dihadapi dan diperjuangkan. Angudi juga merupakan karakter yang tangguh, dinamis, tidak kenal menyerah bahkan penuh dengan kreativitas dan hikmat dalam menjawab persoalan kehidupan. Angudi juga merupakan gerakan hermeneutic, suatu aksi-refleksi yang membawa proses pematangan spiritualitas para anggota.

Laras – harmonis. Manusia hidup dalam sebuah relasi. Yaitu relasi dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dengan sesama dan lingkungannya. Relasi menjadi terganggu jika manusia dengan dirinya tidak harmonis yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk merencanakan sebuah kehidupan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk menuju ke kondisi laras – harmonis manusia membutuhkan sebuah strategi agar dalam dirinya tumbuh kemampuan membuat sebuah perencanaan dan menumbuhkembangkan solidaritas dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan lingkunganya. Itu sebabnya slogan CUAL adalah “Tuwuh, Ngrembaka, lan Munpangati“. (my)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

KSP Kodanua, Terus Mensiasati Dampak Pelambatan Ekonomi

Perlambatan ekonomi dunia masih menjadi perhatian. Ekonom Bank Dunia menilai perlambatan ekonomi global semakin meluas dan terus berdampak terhadap banyak negara. Sejak Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari semula 2,9% menjadi 2,6%, beberapa negara mulai menyiapkan rangkaian kebijakan untuk mencegah dampak perlambatan tersebut berpengaruh terhadap kinerja perekonomian di negaranya, tidak terkecuali Indonesia. Perlambatan ekonomi global dikhawatirkan akan berimbas pada lesunya permintaan ekspor dan investasi Indonesia sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Asian Development Bank (ADB) dalam publikasinya Asian Development Outlook 2019 merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 negara-negara di Asia. Menurut ADB, ekonomi Indonesia 2020 akan tumbuh sebesar 5,3%. Di Asia Tenggara, pada 2020 pertumbuhan ekonomi tertinggi diproyeksikan akan ditempati oleh Kamboja dan Myanmar dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8%, disusul oleh Vietnam sebesar 6,7%. Proyeksi ini sesuai dengan target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan Pemerintah dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang berkisar 5,2 sampai 5,5%.

Posisi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup menggembirakan. Meskipun menjadi kabar baik, fakta tersebut tetap menjadi tantangan bagi pemerintah. Optimisme mencapai target pertumbuhan ekonomi perlu didukung langkah-langkah strategis. Penting bagi pemerintah untuk mengukur potensi pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah perlu menjaga inflasi pada level terkendali untuk memaksimalkan daya beli masyarakat. Saat terjadi kenaikan harga, umumnya masyarakat akan menekan pengeluarannya dan berdampak pada penurunan permintaan. Pemerintah menargetkan inflasi 2020 berada pada kisaran 2% – 4%.

Perang dagang Amerika Serikat dan China seharusnya membuka peluang investasi untuk masuk ke Indonesia. Perang tarif antara Amerika Serikat dan China memaksa beberapa pelaku bisnis di China untuk memindahkan basis bisnisnya atau relokasi usaha ke negara lain. Beberapa negara di Asia Tenggara menjadi destinasi pilihan, tidak terkecuali Indonesia.

Pencapaian kebutuhan investasi yang tinggi sangat membutuhkan peran swasta dan PMA. Pengeluaran konsumsi masyarakat kelas atas dibutuhkan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi akan tetapi perilaku masyarakat kelas ini cenderung menahan konsumsi untuk investasi perlu juga menjadi perhatian. Solusi terbaik yaitu memastikan investasi dari masyarakat kelas atas tidak lari keluar Indonesia.

Daya tarik investasi di Indonesia perlu didorong untuk menarik minat investor yang akan merelokasi basis usahanya. Pemerintah telah meluncurkan Online Single Submission (OSS) di mana seluruh perizinan dapat diurus satu pintu melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menjawab kemudahan soal perizinan investasi. Sayangnya, penerapan OSS ini belum berjalan secara optimal. Waktu yang dibutuhkan dalam hal perizinan masih cukup lama meskipun sudah satu pintu ke BPKM –BKPM belum memiliki wewenang langsung untuk memutuskan. Pengajuan izin masih harus diteruskan terlebih dahulu ke kementerian atau lembaga teknis terkait, termasuk ke pemerintah daerah tempat investasi dituju sehingga membutuhkan waktu dan proses yang panjang.

Memasuki era revolusi industri 4.0, Indonesia sebenarnya telah menyiapkan roadmap “Making Indonesia 4.0” sebagai strategi untuk mendorong pergerakan industri nasional. Salah satu yang perlu disiapkan yaitu strategi bisnis agar Indonesia dapat meningkatkan perannya dalam rantai nilai global. Performa industri manufaktur di Indonesia perlu ditingkatkan agar dapat berorientasi ekspor.

Daya ungkit industri manufaktur memang besar untuk menggerakkan motor perekonomian. Selain berkaitan dengan penciptaan nilai tambah, pertumbuhan industri manufaktur juga berperan dalam penciptaan lapangan kerja, menarik investasi, dan memungkinkan transfer teknologi. Kebijakan terkait optimalisasi pertumbuhan industri manufaktur perlu terus dikaji dan dievaluasi agar dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang telah ditargetkan.

Menurut analisis para ekonom, perekonomian global tahun 2020 pun masih berselimut ketidakpastian. Maka, strategi pengelolaan ekonomi yang penuh kehati-hatian (prudent), sebagaimana telah dipraktikkan Indonesia sepanjang 2019 patut dipertahankan dan dilanjutkan sepanjang 2020. Patutlah untuk disyukuri karena pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2019 masih bisa diupayakan bertahan di kisaran 5%. Gambaran tentang indikator pertumbuhan ekonomi ini seharusnya menjadi faktor pembangkit optimisme masyarakat. Pertumbuhan itu bisa dicapai ketika perekonomian global masih dirundung masalah ketidakpastian.

Dinamika perekonomian global tahun 2020 praktis masih sama dengan 2019. Dari aspek pertumbuhan tetap kurang prospektif. Faktor penyebab ketidakpastiannya tetap sama, yakni berlanjutnya perang dagang Amerika Serikat (AS) versus Tiongkok, plus faktor rumitnya pemisahan Inggris dari perekonomian atau pasar tunggal UE (Uni Eropa) alias Brexit. Proses Brexit seperti sedang menghadapi kebuntuan. Faktor-faktor ketidakpastian global itu, menjadi sangat layak jika pemerintah tetap bermain aman sepanjang tahun 2020, yakni kebijakan pengelolaan perekonomian yang realistis dan penuh kehati-hatian, seperti yang dipraktikkan sepanjang 2019. Untuk menjaga kekuatan konsumsi masyarakat, pemerintah hendaknya menghindari dulu penerapan kebijakan-kebijakan baru yang berpotensi memperlemah daya beli masyarakat.

Tidak kalah pentingnya adalah menjaga atau bahkan meningkatkan produktivitas UMKM dan koperasi di dalam negeri. Pemerintah harus memberi perhatian lebih pada upaya mendorong peningkatan kinerja UMKM dan koperasi. Tahun- tahun terakhir ini, total pelaku UMKM di Indonesia sudah mendekati 60 juta, sementara jumlah koperasi di Indonesia juga mencapai lebih dari 150.000 koperasi. Mereka kreatif. Kemampuannya menyerap tenaga kerja pun sudah terbukti.

Beragam kebutuhan masyarakat dan rumah tangga sudah bisa diproduksi oleh UMKM. Masalahnya kemudian produk UMKM itu harus bersaing dengan sejumlah produk impor yang ditawarkan dengan harga sangat kompetitif di pasar dalam negeri. UMKM butuh dukungan berupa formula permodalan yang bisa mendorong mereka mewujudkan biaya produksi yang efisien agar juga bisa kompetitif. Pemerintah seharusnya bisa menyediakan pinjaman modal kerja dengan tingkat bunga yang murah untuk UMKM yang produktif, prospektif dan kompetitif.

Bukan hanya pebisnis berskala besar, UMKM pun masih merasakan sejumlah kesulitan untuk tumbuh dan berkembang, tak hanya dari aspek ketersediaan modal kerja melainkan juga dari sisi perizinan. Dengan begitu, ketika pemerintah akan all out memperbaiki peringkat kemudahan berusaha – Ease of Doing Business (EODB), aspirasi puluhan juta pelaku UMKM perlu didengarkan dan direspons oleh pemerintah bersama Bank Indonesia. Nilai tambah dari peran UMKM, baik bagi pertumbuhan dan ketahanan ekonomi dan penyerapan angkatan kerja, tidak selayaknya dianggap remeh.

Bagi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua, salah satu koperasi besar di Indonesia yang melayani 15.000-an pelaku UMKM, karena sekitar 70% anggotanya adalah pelaku UMKM, perlindungan oleh pemerintah terhadap pelaku UMKM sangatlah penting. Jika UMKM tidak terlindungi oleh keberpihakan pemerintah melalui kebijakan, kata Ketua Umum KSP Kodanua, H.R Soepriyono, SAB, dikawatirkan akan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) karena perusahaan sekelas UMKM itu tidak mampu membayar gaji karyawannya. Akibatnya, jumlah pengangguran akan semakin besar. Berandai-andai, jika setiap UKM mempekerjakan 3 orang karyawan (termasuk pemilik) dan jumlah UKM 50 juta (definitive), berarti potensi penyerapan tenaga kerja UKM adalah 150.000.000 orang.

KSP Kodanua yang kini telah berusia 41 tahun, didirikan pada 5 Maret 1977, dirintis oleh para guru di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat, dari kegiatan arisan, paham bagaimana melakukan antisipasi terhadap dampak dari melambatnya perekonomaian. Pengalaman yang sangat berharga adalah ketika terjadi krisis ekonomi yang berkembang menjadi multi krisis di Indonesia tahun 1997 – 1998. Kehati-hatian mengelola lembaga, kemudian berinovasi adalah kunci utamanya.

Menjaga kebersamaan dan persatuan anggota melalui program rekreasi bersama yang dikemas dalam produk Tour Safari yang dilaksanakan rutin 2 tahun sekali adalah inovasinya. Program tersebut diputuskan dalam rapat Anggota Tahunan (RAT), sehingga menjadi amanat bagi pengurus untuk melaksanakannya. Tour Safari KSP Kodanua tahun 2019 yang dilaksanakan pada 26 November 2019 di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, diikuti oleh 2600 orang dari Kantor Pusat, dan dari 22 Kantor Cabang – Kantor Cabang Pembantu yang tersebar di 4 provinsi yaitu; DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kedatangan para anggota tersebut menggunakan 46 unit bus besar.

“Kegiatan Tour Safari di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) merupakan keputusan RAT 23 Februari 2018 di Gedung Pewayangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. RAT memutuskan bahwa Tour Safari KSP Kodanua dilaksanakan di Candi Boro Budur, Jawa Tengah. Tetapi, karena anggota sebagian terbesar pengusaha, tak bisa meninggalkan usahanya terlalu lama, sehingga jumlah peserta sangat sedikit, maka pengurus mengambil kebijakan, Tour Safari di TIJA,” urai H.R Soepriyono.

Menurut Soepriyono, kegiatan Tour Safari mempunyai arti setrategis, karena mempunyai nilai-nilai kesatuan, persatuan, kebersamaan, dan akan menumbuhkan loyalitas anggota. Nilai-nilai kesatuan dan persatuan itu sangat membantu pertumbuhan koperasi. Dalam kebersamaan itu, anggota bisa saling tukar informasi bisnis, dan bahkan bisa menjaqlin kerjasama bisnis. Misalnya, produk dari anggota di Jawa Tengah bisa dikerjasamakan penjualannya dengan anggota di Banten, dan sebagainya.

Sesuai dengan azas dan sendi-sendi dasar koridor berkoperasi disadari bahwa meningkatkan kesejahteraan harus dibarengi dengan upaya memupuk kebersamaan dan kekeluargaan sehingga muncul kegotongroyongan. “Membahagiakan orang banyak itu sangat sulit. Namun, pengurus yang telah dipercaya para anggota, terus berupaya dengan berbagai cara dan strategi. Agar upaya meningkatkan kesejahteraan anggota dan keluargnya itu berhasil, perlu dukungan yang menyatu dari para stake holders – pemangku kepentingan dengan sinergi yang kuat antara pengurus, manajemen dan anggota,” kata Soepriyono penuh semangat.

Kekompakan ketiga pilar koperasi itu, lanjut dia, memberikan dorongan positif terhadap upaya meningkatkan kesejahteraan bersama. Karena itu pengurus beserta jajaran manajemen berupaya menyelami kebutuhan riil para anggota. Sehingga KSP Kodanua tidak hanya melayani permodalan semata, tetapi juga memberikan pelayanan atas kebutuhan informasi lainnya sebagai stimulus usaha para anggota. Atas dasar saling melayani itu maka diharapkan agar para anggota maupun calon anggota, juga dapat memanfaatkan pelayanan koperasi sebaik-baiknya. Karena maju mundurnya koperasi sangat tergantung pada tingkat saling melayani, demikian pula maju mundurnya usaha anggota.

Yang harus menjadi perhatian ke depan adalah perubahan pola konsumsi dan perkembangan teknologi informasi (TI) di semua sektor. Koperasi bisa menjadi besar jika mampu menggunakan teknologi yang aplikatif sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan zaman harus dijadikan sebagai unsur positif untuk kemajuan KSP Kodanua. “Kinerja KSP Kodanua perlu diapresiasi karena dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang masih melambat, KSP Kodanua bukan saja mampu eksis, tetapi juga berkembang,” jelas Deputi Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM, Suparno, yang hadir dan memberi sambutan pada acara Tour Safari di TIJA tersebut.
Diakui bahwa eforia tahun politik 2019 dan pelambatan ekonomi dunia yang masih terus beralngsung membuat usaha koperasi cukup berat. Mampu bertahan saja sudah cukup baik, karena masih ada kesempatan untuk bergerak. Daya tahan KSP Kodanua begitu kokoh karena kebersamaan antara pengurus, pengawas, manajemen terus dibangun bersama anggota. Suparno juga menjelaskan bawah hasil audit, KSP Kodanua juga menunjukan baik, Kementerian Koperasi dan UKM dalam memberikan penilaian kesehatan, masih dalam proses, semoga hasil akhir KSP Kodanua juga sehat.

Di era teknologi 4.0, kata Suparno, KSP Kodanua seharusnya sudah mengikuti era digital. Intinya untuk memberikan pelayanan kepada anggota agar mudah, murah, cepat dan efisien. Namun juga perlu hati-hati agar tidak terjebak oleh penipu-penipu yang mengatas-namakan koperasi, yang nota benenya adalah mencari keuntungan pribadi. Saat ini banyak pihak yang menawarkan pinjaman secara online dengan promosi mudah dan murah. Namun hal itu belum tentu benar. “Kementerian Koperas dan UKM telah mengumpulkan bergaai data dan telah bekerjasama dengan penegak hukum. Koperasi harus tetap pada koridor bahwa semua aktivitas memerlukan legalitas. Ini yang harus dipatuh bersama,” tegas Suparno. (mar)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Drs. Dakso Sartono, M.Pd: KKGJ Membangun Spirit Anggota

Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai pertanggungjawaban kinerja pengurus dan pengawas yang dilaksanakan setiap akhir tahun buku, maupun Rapat Anggota Khusus (RAK) membahas program kerja, anggaran pendapatan dan belanja tahun berikutnya adalah agenda kegiatan konstitusional bagi lembaga koperasi.

Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) yang melaksanakan konstitusi pada November 2019 di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, untuk pengesahan program kerja tahun buku 2020, diawali melalui kegiatan Pra RAT mulai 28 Oktober – 2 November 2019 di setiap Komisariat, 43 Kecamatan di Provinsi DKI Jakarta. Pra RAT yang dihadiri 1.560 peserta, juga dihadiri seluruh pengurus dan pengawas KKGJ. Sedangkan dalam RAK yang dihadiri 156 utusan dari 43 Komisariat, merupakan representasi tak terpisahkan dari 13.000-an anggota.

Dalam pelaksanaan Pra RAT di 43 kecamatan tersebut, menurut penjelasan Ketua Umum KKGJ, Drs. Dakso Sartono, M.Pd, dapat dukungan penuh dari Kepala Satuan Pelaksana Lapangan (Kasatlak) tingkat kecamatan, sehingga pelaksanaan Pra RAT sangat kondusif, aspiratif dan demokratif. RAK adalah untuk memberi kepastian bagi pengurus dan pengawas dalam melaksanakan kerja tahun buku 2020.

Pengurus akan melakukan peningkatan kesehatan lembaga koperasi. Program kerja tahun buku 2020 me-refrash sedikit pelaksanaan program kerja tahun buku 2019, terutama terkait kegiatan transaksi anggota sebagai pemilik sekaligus pelanggan KKGJ. Diakui bahwa program peningkatan kegiatan transaksi anggota dengan koperasi masih cukup memprihatinkan. “Angka statistik dari laporan keuangan, meski tahun buku 2019 KKGJ diperkirakan akan memperoleh surplus hasil usaha (SHU) mapir Rp 8 miliar. Namun, dari sekitar 15.000-an anggota, ternyata yang bertransaksi dengan KKGJ baru 30% atau sekitar 5.000-an anggota,” tegas Dakso.

Pengurus dan pengawas, lanjut Dakso, membuat kebijakan. Tetapi eksekusinya di Komisariat yang ada di kecamatan-kecamatan. Artinya, pengurus Komisariat harus berkinerja baik, aktif mendorong anggota bertransaksi dengan KKGJ, khususnya untuk simpan dan pinjam uang. Tujuannya, agar omzet usaha meningkat, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan SHU. “Apakah saudara-saudara sanggup?” tanya Dakso yang dijawab serentak oleh peserta, “Sanggup!” Jika kesanggupan tersebut terealisasi diharapkan tahun buku 2020 KKGJ akan membukukan SHU sekitar Rp 7,621 miliar.

Jika tahun buku 2020 jumlah anggota yang bertransaksi bisa ditingkatkan setidaknya 20%, atau menjadi 50% dari jumlah anggota, maka SHU-nya juga bisa meningkat menjadi sekitar Rp 14 miliar. Apalagi kalau bisa 100% (15.000) luar biasa. “Untuk meningkatkan jumlah anggota bertransaksi internal bukan pekerjaan mudah. Pengurus harus kerja keras,” jelas Dakso, tetap optimis. Untuk peningkatan jumlah anggota, dengan merekrut Calon Aparatur Sipil Negara (CASN), merupakan usulan anggota, sehingga menjadi salah satu program utama. Apalagi para anggota juga menyanggupi membantu pengurus untuk mengajak CASN masuk jadi anggota KKGJ. Maka diyakini akan semakin banyak anggota baru.

Beberapa tahun terakhir jumlah anggota KKGJ yang pernah mencapai 18.000 orang lebih, kini terus berkurang karena banyak anggota yang memasuki purna tugas. Setiap tahun anggota yang pensiun bersamaan jumlahnya ribuan. Itu karena dulu, tahun 1980-an guru Sekolah Dasar (SD) pengangkatannya hampir bersamaan. Waktu itu ada kebijakan pemerintah membangun SD Inpres secara besar-besaran di seluruh Indonesia. Sehingga kebutuhan Guru SD pun sangat besar.

Setiap lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) hampir dapat dipastikan diangkat menjadi Guru SD. Dan kini, guru-guru SD angkatan tahun 1980-an atau awal 1990-an pada umumnya telah memasuki masa purna tugas. “Agar KKGJ tetap eksis, terus berkembang menjadi koperasi besar dan sehat, disamping harus dikelola secara profesional, jumlah anggota juga harus bertambah,” jelas Dakso, saat berbincang dengan Majalah UKM, di kantor KKGJ beberapa waktu silam.

Ada koperasi tidak dapat tumbuh dan tidak sehat lantaran pengurus tidak cocok, dan tidak pernah ketemu anggotanya. Berbeda dengan KKGJ. Pengurus dan pengawas berupaya hadir ke akar rumput bertemu dan berdialog dengan anggota. Setahun bisa sampai 4 kali. Dalam upaya menjalin hubungan yang harmonis, pengurus KKGJ menghadirkan semua unsur stakeholders – pemangku kepentingan mulai dari setiap unsur di sekolah, tim lapangan tingkat Kecamatan, Kasudin di 5 Wilayah Kota Administratif (Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kabupaten Kepulauan Seribu, serta Kadinas Provinsi DKI Jakarta. Maka, sangat layak jika KKGJ tumbuh dan berkembang menjadi koperasi besar dan sehat.

KKGJ juga mempunyai jadual kunjungan bagi anggota untuk melihat secara langsung aset-aset KKGJ di luar Jakarta berupa lahan sawah di daerah Karawang, Jawa Barat, SMP – SMK di Karawang, kebun blimbing dan sekolahan SMK di daerah Bogor, Jawa Barat, SPBU dan SPBE di Karawang. “Kunjungan melihat aset secara langsung untuk membuktikan bahwa KKGJ benar punya aset seperti yang dilaporkan dalam neraca pembukuan. Itu salah satu upaya membangun – mengembangkan spirit, energi, kepercayaan dan loyalitas anggota,” jelas Dakso.

Setelah spirit – energi anggota muncul, akan ada rasa memiliki terhadap koperasi sebagai milik sendiri. Namun harus diakui saat ini masih banyak anggota yang belum merasa memiliki bahwa KKGJ adalah perusahaan miliknya sendiri. Mereka hanya menjadi anggota artificial. Terbukti, anggota yang bertransaksi dengan KKGJ baru 30%. Hal ini sangat disayangkan. Setelah rasa memiliki tumbuh di hati setiap anggota, pasti akan muncul kegiatan transaksional internal. Bukan hanya menyimpan uang di koperasi, tetapi juga pinjam di koperasi, belanja di toko koperasi, umroh, ada sekolah, kampus, gas, SPBU, SPBE dan produk koperasi lainnya.

Jika setiap anggota bertransaksi di toko koperasi untuk kebutuhan sehari-hari, sembako dan sebagainya Rp 3 juta saja, omzet toko koperasi minimal mencapai Rp 45 miliar per bulan. Belum lagi omzet dari SPBU, SPBE, kredit anggota, dan sebagainya. Terkait permodalan, selama ini KKGJ masih memanfaatkan kemitraan dengan beberapa bank konvensional, dan bank syariah. Kalau berinovasi, mendorong anggota berinvestasi, bukan simpanan wajib, rata-rata Rp 2 juta, KKGJ akan memperoleh modal Rp 30 miliar. Karena sifatnya investasi, harus mengendap lama di koperasi.

Bagi guru-guru di Jakarta, Rp 2 juta tidak ada apa-apanya, kecil. Potensi lain, menaikan simpanan wajib dari Rp 300.000,- menjadi Rp 500.000,- sehingga KKGJ akan dapat dana segar dari anggota kurang lebih Rp 7,5 miliar setiap bulan. Karena tunjangan kerja daerah (TKD) Pemprov DKI cukup besar, menabung Rp 500.000,- per bulan untuk persiapan hari tua, enteng. Namun potensi-potensi tersebut belum digali.

Seperti kebanyakan koperasi, walau punya toko koperasi sendiri, bila belanja anggota lebih senang ke mall. Mereka bangga bebas sesuka hati ambil barang-barang yang ditata rapih di gudang ber-AC. Tanpa direncanakan, tanpa kontrol, baru setelah troly penuh didorong menuju kasir. Karena bayarnya pakai uang plastik, digesek, meski jumlahnya ratusan ribu – sejuta, tenang-tenang saja. Berbeda kalau belanja di toko koperasi atau di warung tetangga. Harga selisih Rp 500,- saja nggremeng, mahal. Itulah gaya hidup warga kota.

Soal pinjam uang, meski koperasi punya produk pinjaman, namun anggota juga lebih senang pinjam uang di bank. Biasanya, karena tak punya sertifikat tanah sebagai jaminan SK pengangkatannya yang “disekolahkan”. Bayar angsuran dan bunga potong gaji. Anggota koperasi itu kadang berperilaku aneh. Saat gajian dan harus bayar utang di koperasi, karena tahu gajinya setelah dipotong oleh bank saldonya tinggal sedikit, pagi-pagi subuh ke ATM menguras uangnya. Akibatnya, ketika koperasi mau motong untuk angsuran tidak kebagian.

Kalau berbicara dari konsep dasar kenapa pegawai negeri sipil (PNS), sekarang aparatur sipil negara (ASN), saat itu oleh pemerintah memang diwajibkan mempunyai koperasi fungsional. Yaitu koperasi yang bernaung di bawah instansi pemerintah. “Karena pegawai negeri saat itu memfungsikan pendapatannya sama dengan cost – biaya. Jadi, begitu terima gaji programnya habis. Karena itu tidak jarang pegawai negeri, terutama di kota-kota besar hidupnya tutup lubang gali lubang,” jelas Ketua Umum Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKPRI) Prof. Agustitin Setyobudi, MM.Phd yang juga mantan Ketua Umum KKGJ. Maka, lanjutnya, munculah semangat pemerintah untuk memberikan pembinaan kepada pegawainya melalui koperasi agar pendapatan itu diubah fungsinya dari konsumtif menjadi produktif.

Jadi, begitu terima gaji yang dianggarkan terlebih dahulu adalah saving – menabung. Kalau yang dianggarkan biaya dahulu, pasti pendapatan itu tidak pernah tersisa. Karena hakikat kebutuhan itu tidak ada yang cukup. Bisa cukup dan bisa lebih jika pendapatan dikelola secara baik. Caranya, kata Agustitin, begitu terima gaji anggarkan menabung. Setelah tabungannya cukup, kemudian berinvestasi.

“Banyak guru anggota KKGJ di Pulau Seribu akhirnya jadi pengusaha. Mereka berfikir cerdas, pinjam uang di KKGJ, langsung dibelikan kapal untuk menangkap ikan. Yang mengoperasikan nelayan. Karena pendapatannya difungsikan sebagai investasi, maka banyak guru menjadi bosnya nelayan,” jelas Guru Besar Perekonomian dan Koperasi, mantan guru SD yang telah puluhan tahun menjadi aktivis koperasi.
Bila pola pikir konsumtif itu tidak segera sadari, setelah pensiun akan mengalami kesulitan. Dan memang, kata Prof. Agustitin, faktor utama anggota koperasi yang notabene pegawai, kurang kesadaran untuk menggunakan gajinya sebagai investasi. Padahal, kalau kita kembali kepada tujuan hidup di dunia ini, tidak lebih bahwa hidup itu hanyalah sebuah investasi. “Investasi dari apa yang kita lakukan itu untuk membangun pundi-pundi diakhirat kelak. Agar dapat membangun pundi-pundi yang bisa membuka jalan kita ke surga kalau pendapatan itu menjadi produktif, bukan konsumtif,” jelasnya.

Karena itu, lanjutnya berpesan, mulai sekarang anggota KKGJ harus mulai menyadari pentingnya berinvestasi. Saat ini masih banyak anggota KKGJ yang masih belum menyadari pentingnya berinvestasi. Terbukti, dari sekitar 15.000 anggota yang bertransaksi internal dengan koperasinya baru 30%. Kenapa? Karena tidak sadar berinvestasi. Atau anggota itu lupa, punya rumah untuk mencari modal investasi? Karena lupa, mereka lari ke rumah orang lain.

Misalnya, pinjam uang tidak lagi di koperasi sendiri, KKGJ, tetapi pinjam di Bank DKI yang mengiming-imingi bisa pinjam sampai Rp 300 juta. Sementara di KKGJ boleh pinjam maksimal hanya Rp 150 juta. Karena pinjamnya ke tempat lain, akhirnya tinggal mikir bagaimana mengangsurnya. Padahal kalau ada kebutuhan yang sifatnya sangat penting, dan mendadak pasti larinya ke koperasi. Namun KKGJ dijadikan yang terakhir, bukan yang utama.

Dalam hal pinjam uang di koperasi, pola pikirnya harus diubah. Bukan pinjam atau utang. Tetapi menabung diambil dimuka. Karena menabung di rumah sendiri, yang dipinjam juga uang sendiri. Berarti bukan utang. Kalaupun membayar jasa, di akhir tahun jasanya juga dikembalikan atau dicatat dalam buku anggota sebagai simpanan khusus.

Dalam berinvestasi, Agustitin menyarankan, perlu dipilih investasi yang lebih menguntungkan. Misalnya, investasi tanah. Harga tanah di manapun akan semakin mahal. Contoh, Kantor Pusat KKGJ, waktu beli dulu harganya hanya Rp 750 juta. Kalau sekarang dijual harganya sekian miliar. KKGJ berinvestasi antara lain; sawah, SPBU, SPBE, Wisma, Sekolahan, dan Wisma. Kelipatan investasi tanah sangat cepat.

“Jika kita tidak berani berinvestasi, akan ketinggalan dengan lajunya peningkatan inflasi. Setiap tahun nilai intrinsik uang kita turun antara 5% – 7%. Berarti nilai simpanan uang juga akan selalu turun. Agar tidak turun harus diinvestasikan. Dan yang menguntungkan, investasi tanah,” kata Prof Agus menyarankan.

Pola bisnis dan pengelolaan koperasi guru SD di Jakarta ini mendapat perhatian khusus dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Meski sudah cukup baik namun perlu terus dievaluasi agar menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Ada ide dari pejabat di Dinas Pendidikan DKI Jakarta, karena jumlah SD Negeri di Jakarta ribuan ada baiknya jika seluruh SD Negeri dijadikan sebagai bagian sasaran obyek bisnis KKGJ melalui pengembangan pengelolaan kantin sekolah.

Oleh Dinas Pendidikan disarankan agar KKGJ mengirimkan surat permohonan dan proposal yang jitu kepada Gubernur. Tentu harus ada progres yang telah dilakukan oleh KKGJ selama ini. Diharapkan Gubernur memberikan disposisi kepada Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD) DKI Jakarta yang memiliki lahan – tanah sekolah, dan disposisi kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Kepala Dinas Pendidikan berkeinginan, jika sudah ada disposisi dari Gubernur kepada BPAD dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, kesempatan itu bisa langsung diambil oleh KKGJ. Selama ini kantin di sekolah-sekolah, selalu dianggap sebagai masalah temuan-temuan ekspetorat. Salah satu solusinya bagaimana pengelolaan kantin itu bisa lebih propfesional. KKGJ diyakini mampu mengelola dengan baik. (mar)

Posted in Sajian Utama | Tagged | Leave a comment

Bisnis Baby Shark di Muara Angke

Setiap hari kita bisa melihat orang yang mendorong gerobak berisi sirip, daging dan tulang ikan hiu di Pelabuhan Perikanan Muara Angke maupun Muara Baru di bawa ke pengasinan. Ada kulit ikan hiu yang panjangnya 1 – 2 meter. Sirip dan kulit hiu itu biasanya langsung dijemur di pusat pengeringan ikan, seperti milik Hariyanto.

Bisnis pengolahan ikan hiu memang marak di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Setelah diturunkan dari kapal dan masuk arena pelelangan, ikan-ikan hiu berukuran sedang dan kecil itu ada yang diangkut ke sejumlah lapak rumahan untuk diproses lebih lanjut. Lokasi proses ikan hiu itu di Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (PHPT) Muara Angke. Lokasinya di wilayah Pelabuhan Perikanan Nasional Muara Angke.

Ada yang menyebutkan, perdagangan ikan hiu di pelelangan ikan Muara Baru dan Muara Angke berjalan senyap. Dikatakan senyap, pengolahan ikan hiu dan ikan pari tak seramai usaha pengolahan jenis ikan laut lainnya yang ada di PHPT Muara Angke – Muara Baru. Usaha pengolahan kedua jenis ikan itu menampung puluhan tenaga kerja, yang kebanyakan berasal dari Indramayu dan Cirebon, Jawa Barat.

Untuk mengetaui bisnis baby shark wartawan Majalah UKM melacak ke lokasi. Ada 201 usaha pengolahan ikan hiu di kawasan Muara Angke. Setiap pengusaha menempati lahan seluas 150 meter persegi. “Mereka binaan Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Provinsi DKI Jakarta” papar Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Nusantara Mara Angke, H.Mahad didampingi H. Hasan Syamsudin selaku Kepala Satuan Pelaksana (Kasatlak) pelabuhan Muara Angke.

Dari kapal-kapal nelayan, ikan hiu tangkapan yang menurut para nelayan tak sengaja dijaring tetapi terjaring ‘berenang’ jauh. Baby shark itu dimasukan ke gudang pembeku. Setelah dipotong-potong, masuk ke lapak pengasinan, dikirim ke toko obat dan restoran tertentu. Ikan predator di lautan itu punya penggemar khusus. Ada kesan kuat, longgarnya pengawasan larangan penangkapan hiu membuat ikan tersebut terus diburu.

Ketika Majalah UKM berkunjung ke lapak pengolahan ikan hiu dan ikan pari milik Sutadji (48 tahun) asal Indramayu, sejumlah pekerja sedang memotong daging kecil-kecil, memisahkan tulang dari daging dengan pisau setengah lingkaran. Ada juga yang mengaduk-aduk rebusan tulang-tulang atau daging hiu seukuran paha orang dewasa di dalam toren atau bekas bak mandi yang telah berisi air garam dan di bawahnya bara api kayu bakar. Setelah direbus, sisa daging yang masih menempel di tulang dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam lemari pendingin atau dijemur.

Sanuddin (60), seorang pekerja di pengasinan milik Hariyanto mengatakan, daging hiu yang diolahnya saat itu merupakan sisa hari sebelumnya. Karena pada hari pengasapan, bossnya mengambil kurang lebih satu truk engkol hiu dari gudang pemilik kapal. Daging-daging itu nantinya akan dikirim ke Bogor dan Bandung. Sedangkan kulit dan sirip hiu memiliki penampung dan pembeli yang berbeda.

Sutadji dan pekerjanya memasukkan tulang-tulang ikan hiu ke lemari pendingin, dan ada pula yang menjemur tulang ikan pari. Tak hanya mengolah tulang, Sutadji juga mengolah kulit kedua jenis ikan tersebut. Pengolahan kulit ikan, sangat sederhana. Dijemur di panas matahari sampai kering. Jika sinar matahri cukup terik, dijemur 2 hari saja sudah kering, dan siap dikirim ke berbagai mitra. Sutdji mengaku, bisnis pengolahan ikan, tulang ikan dan kulit ikan yang sebenarnya dilindungi negara, sudah ditekuninya sejak 30 tahun silam. Kini karyawannya sudah cukup ada15 orang.

Soal omzet, bisnis ikan hiu di Pelabuhan Muara Angke ini bisa mencapai Rp 300 jutaan per bulan. Kulit ikan hiu, kata Sutadji, banyak yang cari untuk kerupuk kulit, dan yang kualitas bagus diekspor. Kulit ikan yang untuk bahan krupuk harganya Rp 20.000,- per Kg. Sedangkan kualitas super untuk diekspor sebagai bahan baku kosmetik dan obat-obatan bisa mencapai ratusan ribu per Kg. Tulang hiu yang baik, dikirim ke restoran. Sutadji mengaku, tidak tahu untuk apa tulang-tulang hiu tersebut di restoran. Sutadji juga menjadi pengepul kulit dan tulang hiu dari lapak-lapak pengasinan. Menurut Sutadji, tidak semua jenis ikan hiu dilindungi. Ikan-ikan yang diolahnya termasuk jenis ikan hiu yang tidak dilarang. Jenis ikan hiu yang dilindungi antara lain hiu martil dan hiu gergaji.

Berbeda dengan Sutadji yang lebih fokus mengolah kulit dan tulang hiu, Deni (41 tahun) fokus mengolah dagingnya. Sehari bisa menghasilkan 3 ton daging olahan. Ikannya juga diperoleh dari Muara Angke dan Muara baru, yang sirip dan kepalanya sudah tidak ada. Biasanya, sirip dan kepala ikan hiu itu dipotong di atas kapal, disimpan oleh pemilik kapal, kemudian dijual ke luar negeri. Harganya, jauh lebih tinggi daripada harga di pasar dalam negeri. Harga daging ikan hiu di pasaranya sekitar Rp 20.000,- – Rp 30.000,- per Kg. Khusus tulang punggung ikan hiu dan ikan pari harganya Rp 40.000,- per Kg. Sedangkan tulang kepala lebih mahal, mencapai Rp 65.000,- per Kg.

Sanuddin, 1 dari 8 orang yang bekerja di pengasinan milik Hariyanto, mengaku, sehari harus bekerja 8 jam. Upah yang diterima Rp 100.000,- ditambah makan dan rokok dari pemilik pengasinan. Jika kerja lembur upahnya 2 X lipat upah harian. Namun, ia mengaku tak kuat duduk berjam-jam sambil memotong daging hiu. Karena itu sering menolak ketika ada kerja lembur.

Tak jauh dari pengasinan milik Hariyanto, ada pengasinan mengolah daging hiu di kolam garam berukuran 0,5 X 2 mrter. Hari itu ada Setiawan bersama 2 temannya sibuk memotong ikan-ikan hiu berukuran tak lebih dari telapak tangan orang dewasa yang disebutnya “baby shark”. Baby sharak adalah judul lagu kanak-kanak yang tengah popular di youtube. Lagu tersebut menceritakan tentang keluarga ikan hiu. Di tempat Setiawan (15 tahun) kerja yang khusus mengolah daging hiu, kata dia, ikan-ikan hiu kecil merupakan jatah karyawan.

Di area perkampungan itu 50% lahannya digunakan untuk pengasinan. Darsono (50 tahun), salah seorang pemilik pengasinan saat ditemui sedang duduk di depan warung kopi miliknya. Dia mengenakan celana pendek dan bersandal jepit. Ketika diajak berbincang, pria yang rambutnya telah mulai memutih itu suara lugas dan keras. Sambil menimang-nimang sebuah dompet miliknya dia mengatakan bahwa dompet terbuat terbuat dari kulit ikan pari. Kulit ikan hiu dan ikan pari dibuat kerajinan dompet punya nilai ekonomi tinggi. Namun belum banyak perajin dompet yang memanfaatkan kulit ikan hiu atau ikan pari.

Laki-laki asal Indramayu itu mengaku mulai menggeluti usaha pengasinan sejak 7 tahun silam. Produksinya didistribusikan ke berbagai daerah antara lain; ke Bogor, Bandung, Garut dan sebagainya. Khusus sirip hiu, dijual ke restoran-restoran mewah. Dalam satu bulan, Darsono mengaku, omzetnya bisa mencapai Rp 40 juta, dari 20 ton ikan hiu yang diolah. Walau ada yang mengatakan bisnis ikan hiu lagi senyap, namun menurut Darsono, sangat menjanjikan. Tinggal cara membangun jejaring berbisnisnya bagaimana. Bisnis itu harus selalu berinovasi.

Wandi (55 tahun), adalah salah seorang pengusaha yang khusus mengolah limbah ikan di Pelabuhan Muara Angke. Mulai usaha tahun 2013 silam. Dia mengaku, segala limbah ikan ia terima untuk diolah menjadi pakan ternak. Termasuk limbah ikan hiu, cucut dan ikan pari. Setelah limbah-limbah ikan tersebut diolah lalu dikirim ke Bali, Muncar dan Rembang. Limbah yang diolah berupa daging dan jeroan, direbus dalam sebuah bak besar dengan api dari kayu bakar. Setelah direbus, jeroan dan sisa daging itu dijemur sampai kering. Baru kemudian dikirim ke pelanggan untuk pakan ternak; lele, bebek, sapi dan sebagian untuk pupuk.

Dijelaskan Wandi, tak semua jeroan ikan dapat diolah menjadi pakan ternak. Jeroan ikan hiu, misalnya, jika direbus hanya akan berair. Jika terlalu banyak jeroan, ujung-ujungnya dibuang ke tempat sampah. Hanya sebagian limbah ikan hiu yang bisa diolah. Antara lain tulang sebagai bahan kosmetik dan kulit untuk kerupuk dan dompet. Wandi mengaku, sehari bisa mengolah sekitar 5 ton limbah di atas tungku tumpukan batu berukuran 3 X 3 meter, menggunakan kayu bakar. (sutarwadi.k)

Posted in Umum | Tagged | Leave a comment

Mikael, SH: Spin off Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Anggota

“Kami punya hutan warisan moyang Jung’ai di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Anak cucu terus menjaga dan merawatnya sampai sekarang. Ketika ekspansi perusahaan sawit kemana-mana, kami menolak. Kurang lebih 3.000 hektar menjadi kawasan enclave, tidak tersentuh kelapa sawit. Kawasan ini terdiri atas kawasan perumahan, berladang, dan hutan primer cukup luas,” urai DR Munaldus, MA, tokoh sentral berdirinya Credit Union (CU) Keling Kumang, Kalimantan Barat.

Di hutan itu masih ada beruang, monyet dan lain-lain. Disepakati, hutan terus dijaga dan dirawat agar tidak rusak. Karena menjadi kawasan yang unik, dijadikan kawasan wisata hutan. Walau kawasan wisata baru tahap pengerjaan, warga kampung  berduyun-duyun datang berwisata. Untuk meningkatkan kesadaran betapa pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan, dibuat beberapa baleho pengumuman. Di kampung enclave ini berdiri CU Keliling Kumang yang terus memberdayakan masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial politik, lingkungan, seni dan lain-lain.

Menceritakan kepada Majalah UKM tentang terbentuknya CU Keliling Kumang, sesaat sebelum diskusi mengenai Rancangan Undang-Undang (UU) Perkoperasian, di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, beberapa waktu silam, Mikael, SH, salah seorang pendiri, yang dipercaya menahkodai CU Keliling Kumang yang kini telah berusia 26 tahun, didirikan pada 25 Maret 1993, mengatakan; “Mendirikan CU karena prihatin melihat kondisi ekonomi keluarga-keluarga di kampung halaman.”

Awalnya, Institut Dayakologi – saat itu bernama Institut Dayakologi Research and Development, pada 26 – 28 November 1992 menyelenggarakan Seminar dan Ekspo Budaya Dayak di Pontianak. Seminar diadakan di Hotel Kapuas Palace, dan Pameran Budaya Dayak di Auditorium Universitas Tanjungpura (Untan). Para peserta wakil-wakil Dayak dari 4 propinsi di Kalimantan, juga ada wakil Dayak dari Sabah dan Serawak, Malaysia. Paparan seminar disampaikan oleh Bupati Barito Utara, Kalimantan Tengah, AJ. Nihin, tentang keprihatinan terhadap kemiskinan masyarakat Dayak. Sebagai bupati dan putera Dayak, ia telah berusaha keras memperbaiki nasib rakyatnya.

Mendengar paparan Bupati Nihin, Munaldus yang ikut seminar berpikir, nasib masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, sesungguhnya tidak jauh berbeda. Khususnya, nasib keluarga-keluarga di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau, Kec. Sekadau Hilir, Kab. Sanggau (sekarang Kab. Sekadau). Maka muncul gagasan untuk mendirikan CU. Berpikirnya, Jika CU Pancur Kasih bisa berkembang kenapa tidak mencoba mendirikan CU di kampung halaman sendiri. Munaldus yang juga salah seorang pendiri CU Pancur Kasih optimis bila didirikan CU di kampung halamannya warga akan sangat terbantu. Sebab, CU berfungsi sebagai penyandang dana guna peningkatan ekonomi, sarana belajar, sekaligus alat pengorganisasian masyarakat untuk mempertahankan tanah dari rampasan perkebunan kelapa sawit.

Seminggu setelah seminar, Munal mengundang kawan-kawannya dari kampung Tapang Sambas dan Tapang Kemayau yang tinggal di Pontianak untuk rapat di rumah kontrakan Masiun guna mewujudkan pendirian CU di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau. Yang hadir antara lain; Masiun (guru di SMP Santo Fransiskus Asisi, Pontianak), Mikael (pegawai PT. Tanah Sakti), Hadrianus Lukas (pegawai PT. Tanah Sakti), Alipius (pegawai PT. Vitamo), Martina (siswi SMA Santo Fransiskus Asisi, Pontianak), dan Mulyana (siswi SMP Santo Fransiskus Asisi, Pontianak).

Peserta rapat setuju mendirikan CU. Munal mengusulkan namanya CU Keling Kumang. Nama itu diambil dari cerita legenda Buahmain di Rumah Punyong yang sangat populer tentang pasangan suami isteri Keling dan Kumang. Mereka semua setuju tentang nama tersebut. Langkah berikutnya, kata Mikael, mengkomunikasikan kepada tokoh-tokoh masyarakat di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau, antara lain kepada orang tua Munaldus sendiri, Rurut dan Theresia Ina, Kepala Desa, Samin, Kepala Dusun, Agus dan Nintin, juga guru-guru; Paulus Perang, Simon Petrus, FX. Omeng, A.H. Suyanto, Carolus Sanga Laga dan sebagainya. Prinsipnya, mereka setuju berdirinya CU Keling Kumang di Kampung.

Masa sosialisasi dan pengorganisasian sekitar 4 bulan. Karena dapat sambutan positif dari masyarakat, maka pada 25 Maret 1993 diselenggarakan rapat di rumah keluarga Simon Petrus dan Sema. Rapat yang dihadiri 30-an orang itu menyepakati pendirian CU Keling Kumang. Namun dari peserta rapat yang hadir hanya 26 orang yang menjadi anggota. Mereka memiliki Nomor Buku Anggota (BA) dari 01 – 26. Lainnya masih ragu-ragu lantaran belum memahami tentang CU.

Sebagai pelopor Munaldus dan Masiun merogoh kocek sendiri untuk beli ATK, kalkulator kecil seharga Rp. 11.000,- dan pembuatan cap organisasi serta kelengkapan lain; buku daftar uang masuk, buku daftar uang keluar, buku kas harian, dan buku jurnal kas, agar dapat segera melayani anggota. Rapat juga memutuskan – menunjuk Sila Persius sebagai orang yang bertanggungjawab – pelaksana harian. Karena belum punya kantor, ditetapkan juga semua kegiatan pelayanan dilakukan di rumah keluarga Sila. Saat itu, kata Mikael, pelayanan anggota dilakukan hanya pada hari Minggu usai kebaktian di gereja, atau pada malam hari tetapi belum setiap hari.

Pelayanan pada hari Minggu usai kebaktian, semata-mata hanya karena masih adanya keterbatasan sumber daya manusia (SDM), bukan karena CU Keling Kumang ada keterkaitannya dengan gereja secara langsung. CU Keling Kumang agak berbeda dengan CU CU lain yang kelahirannya diinisiasi oleh PSE Paroki. CU Keling Kumang lahir benar-benar dari kebutuhan masyarakat.

Waktu didirikan modal awal sebesar Rp 260.000,- Lembaga itu memprioritaskan pinjaman untuk pendidikan. Diyakini hanya dengan pendidikan yang tinggi masa depan seseorang akan menjadi lebih baik, diperhitungkan. Dalam waktu kurang dari setahun, Keling Kumang menjadi bahan pembicaraan masyarakat pedalaman di Sekadau karena hampir semua warga dua kampung itu menjadi anggota dan mendapatkan kemudahan meminjam.

Kehadiran CU sepertinya telah lama dirindukan masyarakat. Terbukti banyak warga dari kampung tetangga pun mempertanyakan; “Kenapa tidak dikembangkan ke kampung-kampung yang berdekatan?” Pertanyaan itu, terutama datang dari sanak family – keluarga yang tinggal di Kampung Baru, Tanah Putih, Lengkenan, Tapang Semedak, dan sekitarnya. Melihat animo warga cukup besar, maka diadakan sosialisasi dan pendidikan di kampung-kampung sebelah.

Credit Union memang harus dimulai dari pendidikan, dikembangkan dengan pendidikan dan dikontrol oleh pendidikan. “Kami terus menanamkan prinsip yang harus dipegang teguh oleh anggota, yakni pendidikan, swadaya, dan solidaritas,” jelas Mikael. CU adalah lembaga keuangan yang mengutamakan watak anggotanya. Keling Kumang didirikan dengan modal kepercayaan antar anggota. Prinsipnya; ”dari-oleh-dan untuk” anggota.

Penyebaran virus kesejahteraan, sering pula disebut; “credit union adalah jalan keselamatan ekonomi umat manusia,” terus berlanjut dengan mencari keluarga-keluarga di kampung lain. Konsep pengembangannya memang lebih mengutamakan jalur keluarga. Contoh, jika suami sudah menjadi anggota, mengajak isterinya menjadi anggota. Kemudian, orang tua, kakak, adik, mertua, ipar dan seterusnya. Ada yang mengatakan, mengembangkannya dimulai dari; sekasur (suami isteri), sedapur (anak, orang tua) dan sesumur (saudara dekat maupun tetangga).

Kondisi daerah pedalaman Kalimantan Barat pada tahun 1990-an masih terisolir. Untuk sosialisasi dan melakukan pendidikan ke kampung-kampung hanya bisa menggunakan kendaraan roda 2 – motor, atau harus berjalan kaki berhari-hari. Hujan dan panas bukan halangan – rintang. Harus menginap di kampung tempat diadakan sosialisasi – pendidikan hal biasa. Tak jadi persoalan karena mereka keluarga. Bila ada pertemuan, yang mengeluarkan biaya untuk beli gula, kopi dan sebagainya tuan rumah. Pergerakannya dari satu desa menyeberang ke desa lain, dan lanjut ke kecamatan lain, karena ada keluarga di sana.

Semua bahu-membahu kerja keras karena ingin memajukan – menyejahterakan keluarga. Tugas pengurus, pengawas dan manajemen juga bukan sekedar mencari anggota, tetapi mereka harus membuktikan militansi yang sebenarnya. Pengurus dan pengawas semua kerja sukarela, tidak digaji. Itulah gambaran militansi gerakkan credit union – Koperasi Kredit (Kopdit) di Kalimantan Barat. Dampak perubahan pola pikir itu luar biasa. Banyak warga yang bergairah menyekolahkan anak-anaknya. Mereka juga mengembangkan sektor-sektor produktif untuk menopang ekonomi keluarga.

Menurut Mikael, 5 tahun pertama, di era Orde Baru (Orba) untuk melakukan pertemuan dengan jumlah peserta banyak orang, agak susah. Maka pertemuan sering diadakan di rumah-rumah keluarga, aula gereja, sekolah Katolik. CU Keliling Kumang bukan hanya untuk sekelompok etnis, suku Dayak saja, misalnya, atau umat agama tertentu. Tetapi, CU Keling Kumang terbuka untuk siapa saja yang mau membangun kebersama untuk menuju sejahtera bersama. Di kampung, mayoritas memang etnis Dayak, dan rata-rata umat Katolik.

Seiring perkembangannya, kata Mikael, ada keluarga yang beragama Islam juga masuk menjadi anggota. Mang Ujang, misalnya, salah seorang staf yang beragama Islam. Dia malah menjadi motivator. “Secara fisik, Mang Ujang cacat tidak bisa jalan tanpa alat bantu, tetapi semangat kerja dan memotifasinya luar biasa. Melalui Mang Ujang, menurut silsilah masih saudara, keluarga-keluarga Muslim lainnya diyakinkan bahwa Keliling Kumang tidak untuk satu suku atau umat tertentu, tetapi terbuka untuk siapa saja. Mang Ujang jadi contoh. Ketika melakukan sosialisasi kepada masyarakat selalu bilang; Apalagi kalian yang sehat walafiat, saya yang tidak bisa jalan saja mau mengembangkan CU,” tutur Mikael.

Sampai 10 tahun pertama, lanjut dia, karena dianggap sangat efektif, sosialisasi dan pengembangan keanggotaannya tetap menggunakan jalur keluarga anggota. Membangun loyalitasnya melalui pendidikan dan pemahaman tentang credit union. Semboyannya; “Anda sakit saya bantu, saya sakit Anda bantu.” Di situ ada solidaritas dan swadaya. Tiga pilar utama CU adalah; Pendidikan, Solidaritas dan Swadaya. Lalu ditambah lagi 2 pilar yaitu; Inovasi dan Persatuan Dalam Keragaman.

Memasuki era reformasi – era kebebasan dimana credit union tidak lagi dicurigai sebagai gerakkan yang akan merong-rong wibawa pemerintah, perkembangan Keling Kumang semakin pesat. Sampai awal tahun 2000-an Munaldus sebagai ketua masih tetap berduet dengan Sila, yang sejak awal berdiri mengendalikan manajemen. Ibarat sprinter meski start belakangan namun akhirnya mampu melesat cepat, mengejar pelari-pelari lain yang start lebih awal.

Mesin penggerak manajemen semakin dinamis, bekerja cepat dan efektif setelah dipercayakan kepada Yohanes Rj. Aktivis lingkungan hidup yang telah berakhir masa jabatannya sebagai Direktur Walhi itu dipanggil pulang kampung untuk mengurus CU. Yohanes yang pernah menjadi staf dan anggota Badan Pengawas CU Keliling Kumang, menurut Mikael memang dipersiapkan untuk menjadi General Manager (GM). Namun sebelumnya dia harus menguasai persoalan lapangan terlebih dahulu.

Banyak orang yang terkagum-kagum begitu pesatnya kemajuan CU Keliling Kumang. Dari jumlah anggota, misalnya, tahun 2018 menembus angka 175.000 orang, dengan aset sebesar Rp 1,4 triliun, dilayani di 65 kantor yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat (Kabupaten Sintang, Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Sanggau, Kabupaten Melawi, dan Kota Pontianak). “Kami tumbuh dan berkembang karena menerapkan prinsip inovasi dengan IT. Kami sudah online system sehingga operasional bisnis mampu tumbuh denan baik,” jelas Mikael.

Daya tarik lain bagi anggota, jasa pinjaman relatif kecil, yakni 2% menurun atau rata-rata 13% per tahun. Untuk pinjaman pendidikan bahkan hanya 1% menurun. Adapun jasa tabungan 3% – 10% per tahun. Bagi anggota yang mengembangkan usaha, jasa pinjaman hanya 1,5% menurun. Bahkan ada yang hanya 1,2%, tergantung usahanya. Yang mendapat pinjaman dengan jasa murah, kata Mikael, kelompok usaha. Apapun usahanya, yang penting mereka dalam kelompok. Anggota semakin banyak karena ada produk simpanan untuk bantuan kesehatan.

Di kampung kelahiran Keling Kumang anak-anak mengenyam pendidikan hingga lulus sarjana. Generasi inilah yang menggerakkan sektor-sektor produktif dan membuat perkampungan lebih hidup dari sisi ekonomi. Keberhasilan itu, tak lepas dari budaya menabung di koperasi. Membiasakan budaya menabung dampaknya dahsyat. Warga sekampung yang dulu hidup miskin, kini relatif lebih sejahtera karena biasa menabung. Mereka setiap saat bisa menarik pinjaman untuk keperluan sekolah atau keperluan produktif lainnya.

Untuk memudahkan orangtua yang hendak mengirim uang bagi anak-anaknya yang sekolah di Pontianak, CU Keling Kumang memelopori cara pengiriman cepat. Kalau harus membawa uang ke Pontianak, waktunya bisa setengah hari, ongkosnya pun mahal. Karena sudah online system mereka hanya perlu membawa uang ke kantor pelayanan di kampung, lima menit kemudian anaknya sudah bisa mencairkan di tempat pelayanan di Kota Pontianak.

Sejak tahun 2016 CU Keling Kumang sudah memulai semuanya dengan online, kemudian tahun 2018 dikembangkan dengan membuat satu aplikasi mobile yang disebut Keling Kumang Mobile. Aplikasi ini mulai digunakan sejak September 2018. CU Keling Kumang juga terus mengembangkan IT (Fintech) guna memudahkan pelayanan kepada anggota. Tahun 2019 memanfaatkan IT secara maksimal terutama melalui Keling Kumang Mobile, ATM bersama, SMS notifikasi, Mobile Program dan RAT Online.

Keling Kumang kini telah mengembangkan unit-unit usahanya – spin off, yaitu; Yayasan Keliling Kumang, Koperasi Konsumen Lima Dua (K-52), Koperasi Produsen Tujuh Tujuh (K77), dan Koperasi Jasa Ladja Tampun Juah. “Spin off itu untuk meningkatkan kesejah teraan anggota,” jelas Mikael.

Keling Kumang Group (KKG) didirikan 7 Juli 2014 sebagai lembaga pengikat dan menjadi think tank bagi semua unit bisnis untuk membangun dan memperkuat jaringan (Lokal-nasional-internasional). Mengawal dan memperkuat tata kelola unit-unit bisnis, agar bisa mandiri, berkelanjutan dan berkontribusi terhadap kesejahteraan anggota melalui program entrepreneurship – kewirausahaan.  

KKG memiliki visi Konglomerasi Sosial Untuk Membangun Bangsa dan Misi Kalimantan Tanpa Kemiskinan.  Sungguh Visi dan Misi yang luar biasa. Jika dibarengi dengan usaha, tidak ada yang tak mungkin. KKG sudah memiliki Badan Hukum (BH) Perkumpulan berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No AHU-0066819.AH.01.07.TAHUN 2016 dan No Registrasi: 6016062961106189, 29 Juni 2016.

Untuk meningkatkan produksi koperasi langkah-langkah yang dilakukan adalah mendorong peningkatkan jumlah petani aren yang dibina. Saat ini sudah ada sekitar 2.000-an petani aren yang dimodali dan dibimbing. Para petani sawit juga diharapkan mampu meningkatkan produksinya dari 1 ton – 2 ton menjadi 2,7 ton – 3,8 ton per bulan. Mikael mencontohkan, anggota CU Keling Kumang yang berprofesi sebagai petani karet dan sawit meminjam modal usahanya dari CU Keling Kumang, lalu membeli segala kebutuhan pertaniannya (pupuk, bibit, dan sebagainya) dari K77.

Untuk K52 kini sudah memiliki beberapa outlet minimarket yang berlokasi di Ketapang, Sekadau, Melawi, dan Sintang. Khusus untuk outlet di Sintang, tak hanya minimarket tapi juga departement store. Guna memperluas pasar produk-produk anggota seperti keripik ubi dan keripik pisang telah dijajaki kerjasama dengan ritel besar Indomaret dan Alfamart. Sertifikat halal untuk produk-produk anggota sedang diurus.

CU Keling Kumang juga mendirikan unit lain, yaitu Self Help Group (SHG) yang bertugas memberikan pendampingan bagi para anggota yang memiliki usaha. Saat ini, Keling Kumang sudah memiliki sekitar 150 kelompok usaha yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan, sawah (padi), karet, sawit, kopi, dan juga kakao. CU KK juga punya pabrik gula aren yang mampu memproduksi 1 ton perbulan. Hasilnya, dijual di outlet-outlet K52 dan minimarket lainnya di Kalbar.

Yang juga tengah membangun beberapa Pilot Project seperti industri lebah madu dan serai wangi. Ada juga pengembangan ekowisata, PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro), hingga pipanisasi air bersih. Bekerjasama dengan Astra memberikan pelatihan kepada anggota dalam bidang sepeda motor. Nantinya, mereka yang sudah mahir dilatih akan membangun bengkel sepeda motor berikut pengadaan spareparts-nya. Masalah permodalannya akan melalui CU Keling Kumang.

Koperasi Jasa Ladja Tampun Juah, pada 2017 telah meluncurkan Ladja Hotel yang memiliki 20 kamar dengan investasi Rp 8 miliar. Selain itu juga mengembangkan ekowisata dan ekobudaya. Saat ini sudah ada 48 bilik homestay di kawasan Hutan Adat Sungai Utik, dan ada 4 kamar di kawasan Lubuk Lantang, Kalimantan Barat. Peluang bisnis perhotelan, ekowisata dan ekobudaya cukup besar.

Yayasan Pendidikan Keling Kumang pada tahun 2007 telah mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Keling Kumang yang berlokasi di Kabupaten Sekadau. Jumlah siswanya cukup besar, lebih dari 900-an siswa. Bahkan juga sudah mengurus izin ke Kopertis XIII untuk mendirikan perguruan tinggi. Rencana mendirikan universitas itu bertujuan untuk lebih membangun kualitas SDM. “Kita akan fokus membangun SDM di sektor teknologi, seperti agrobisnis dan agro industri. Kelak anak-anak dari anggota CU Keling Kumang bisa berkuliah disini”, ucap Mikael.

Terkait kaderisasi, kata Mikael, sudah berjalan secara signifikan. Saat ini, sebanyak 35% dari total anggota CU Keling Kumang anak-anak muda di bawah usia 35 tahun. Bahkan, dari 500 lebih jumlah karyawan di Keling Kumang, 50% merupakan generasi milenial. CU Keling Kumang telah mendapat penghargaan dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sebagai koperasi terbaik dalam sektor simpan-pinjam. Ini menjadi bukti bahwa kalangan warga tidak mampu tetap bisa berdaya kalau bersatu dan saling tolong-menolong. (adit – mar)

Posted in Cerita Sampul | Tagged | Leave a comment