Memanfaatkan Keunggulan

Indonesia bangsa yang unggul, dan harus yakin kita unggul. Jika Indonesia tidak unggul, tidak mungkin orang menempatkan Indonesia pada rating yang terus menaik. Bahkan Jepang menempatkan Indonesia pada investment break. Para institusi peringkat, semua sudah menaikkan rating Indonesia. Diperkirakan tahun 2025 Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 7 di Dunia. 

Kesejahteraan rakyat terus membaik dibandingkan awal kemerdekaan 74 tahun yang lalu. Pendapatan penduduk Indonesia saat ini meningkat berkali-kali lipat. Volume ekonomi Indonesia sudah melompat tinggi dari peringkat terbawah dunia menjadi peringkat ke-19 dunia.

Yang lebih optimis lagi Yayasan Indonesia Forum mengatakan tahun 2030 Indonesia akan memiliki GDP US$ 5,1 trilun, dan kita akan menjadi kekuatan nomor 5 di dunia. Bahkan Standard Chartered Plc, perusahaan jasa keuangan internasional yang berpusat di London, Inggris memprediksi terjadi perobahan besar peringkat Produk Domestik Bruto (PDB). China akan menjadi ekonomi terbesar berdasarkan nilai tukar paritas daya beli dan nominal PDB. Kemudian disusul India nomor dua, menggeser Amerika Serikat. Dan menariknya, Indonesia berada di peringkat 4 besar dunia, mengalahkan Rusia, Jepang, dan Jerman. Itu bisa kita capai, dengan catatan generasi muda percaya diri, dan mau terus menerus kerja keras.

Yang dibutuhkan bangsa Indonesia tinggal satu lagi, yaitu kebersamaan membangun optimisme – menyingkirkan rasa rendah diri dan pesimisme. Bangsa Indonesia membutuhkan kebersamaan membangun ekonomi. Pemerintah tidak boleh gatal jika dikritik keras. Sebaliknya, para pengkritik pun harus memberikan jalan keluar atas situasi yang dihadapi bangsa Indonesia. Kebersamaan inilah yang hingga detik ini masih sebatas mimpi.

Pemerintah harus bisa memanfaatkan momentum dari peningkatan peringkat daya saing Indonesia dari posisi ke-43 pada 2018 menjadi posisi ke-32 pada 2019. Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan pemerintah untuk diperbaiki ke depan, terutama perbaikan efisiensi, baik di birokrasi maupun di bisnis. Inefisiensi merupakan akar masalah perekonomian kita. Perbaikan inefisiensi akan secara otomatis memperbaiki faktor-faktor lainnya.

Kenaikan peringkat daya saing tersebut tidak akan berarti bila tidak diwujudkan dengan meningkatnya aliran modal asing dalam bentuk foreign direct investment (FDI) ke dalam negeri. Kenaikan daya saing juga tidak berarti apabila kemudian tidak memperbaiki ekspor yang bisa berujung kepada perbaikan current account deficit.  Dalam konteks FDI, harus ada perbaikan terhadap permasalahan-permasalahan yang selama ini menghambat masuknya modal asing ke Indonesia, seperti perizinan, pembebasan lahan, inkonsistensi kebijakan, dan sebagainya.

Pemerintah pun perlu fokus untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal itu perlu dilakukan bila Indonesia ingin terus bersaing dan berkompetisi di tingkat global. Lompatan daya saing Indonesia merupakan peningkatan terbesar di kawasan Asia. Pelompatan ini juga berkat semakin efisiennya sektor pemerintahan ataupun perbaikan kondisi infrastruktur dan bisnis.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sampai triwulan pertama 2019 sebesar Rp195,1 triliun. Angka ini bertumbuh 5,3% dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp185,3 triliun. Secara keseluruhan, pertumbuhan investasi ini melambat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mencatat pertumbuhan 11,8%. Dari sisi porsi realisasi, angka ini diketahui sebesar 24,6% dari target investasi 2019 yang sebesar Rp792 triliun.

Perlambatan pertumbuhan investasi ini dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Dari segi eksternal, negara-negara di dunia memang mengalami tren penurunan Penanaman Modal Asing (PMA) lantaran pelambatan pertumbuhan ekonomi global serta imbas dari gejolak politik. Kemudian Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve juga menaikkan 4 kali suku bunga acuan yang berimbas ke negara-negara lainnya. Ini pun secara tak langsung berimbas ke kenaikan biaya investasi. Dari sisi internal, tahun 2019 yang merupakan tahun politik membuat investor agak menunggu pemerintahan baru. Ini merupakan tren 15 tahun terakhir.

Jika dilihat secara rinci, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat Rp76,4 triliun atau tumbuh 41,1%. Investasi itu lebih banyak terkonsentrasi di sektor konstruksi sebesar Rp19,2 triliun atau 22,1%, transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp12,7 triliun atau 14,6%, dan listrik, gas serta air sebesar Rp10,3 triliun atau 11,8%.

Sedangkan PMA tercatat diangka Rp107,9 triliun atau tumbuh negatif 0,9%. Jika dilihat dari sektornya, realisasi terbesar disumbang oleh transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar 22,8%, listrik gas dan air sebesar 21,2% dan perumahan kawasan industri dan perkantoran 13,2%. Untuk PMA negara terbesar masih berasal dari Singapura dengan besaran US$ 1,72 miliar, China sebesar US$ 1,16 miliar dan Jepang sebesar US$ 1,13 miliar.

Arah strategi industri kita akan mengembangkan industri resource base. Sekarang mulai mengembangkan klaster industri, dan pusat-pusat pertumbuhan baru, mengembangkan 6 koridor ekonomi baru, semua berbasis keunggulan lokal. Sawit, misalnya, agar tidak diekspor CPO dikembangkan industri hilir.

Jika Crude-nya yang diekspor ketika harganya tinggi harus mendapatkan lisensi. Pemerintah ingin mendorong industri mengolah semua bahan baku di dalam negeri, sehingga kita mendapatkan nilai enokomi lebih baik, tercipta lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing.

Walaupun capital lisence, Indonesia ingin kerja sama dengan negara-negara sahabat yang bisa mengembangkan petro chemical di tanah air. Belum lama ini telah ditandatangani kerja sama antara PT Krakatau Steel dengan sebuah perusahaan swasta dari Korea Selatan untuk mengolah bijih besi. Nilai investasinya US$ 6 miliar. Dengan adanya kerja sama tersebut bijih besi tidak diekspor ke luar negeri tetapi diolah sendiri di dalam negeri.

Bila dulu gas dan minyak diekspor untuk mendapatkan devisa, sekarang untuk mendorong bertumbuhan perekonomian di dalam negeri. Saatnya pula kita membangun infrastruktur. Terminal dibangun di Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Utara, agar LNG yang diproduksi di daerah-daerah Timur (Kalimantan – Papua) dibawa dimasukkan refesing terminal kemudian dimanfaatkan untuk industri dalam negeri.

Revitalisasi industri akan dilakukan secara menyeluruh, baik yang berbasis pangan, berbasis petro, maupun yang berbasis oil chemical, semua dijadikan klaster-klaster untuk mengembangkan industri nasional. Dengan keunggulan resource yang luar biasa, kita kembangkan potensi dalam negeri. (mar)

 

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *