Membangun Ekonomi Kerakyatan Untuk Mengatasi Kemiskinan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Wilayah (Musrenbangwil) se-wilayah Kedu di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen bertema Rembugan Gayeng Bareng yang dihadiri bupati – walikota se-Kedu dan perwakilan masyarakat menyampaikan permasalahan utama di kabupaten dan kota se-wilayah Kedu tentang tingkat kemiskinan.

Ada 3 kabupaten yaitu; Wonosobo, Kebumen dan Purworejo yang hingga kini masih menjadi kabupaten termiskin se-Jawa Tengah. Berangkat dari hal tersebut, arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) diprioritaskan untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan, sejahtera dan berdikari. Ini dapat diwujudkan dengan membangun ekonomi daerah berbasis potensi, penanggulangan kemiskinan, kualitas SDM dan cakupan pangan, energi, infrastruktur serta tata kelola.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dari 16 Kecamatan di Wilayah Kabupaten Purworejo, 50% termasuk kategori Kecamatan termiskin. Utamanya; Kecamatan Bruno, Kaligesing, Purworejo, Butuh, Kutoarjo, Bener, Banyu-urip dan Bagelen. Sekedar contoh, Kec. Bruno, 78% desa yang ada di kecamatan ini, adalah desa miskin. Berdasarkan kondisi keluarga miskin, 49% keluarga di kecamatan ini adalah keluarga miskin. Kec. Purworejo 20% desa yang ada di kecamatan ini juga desa miskin. Berdasarkan kondisi keluarga miskin, 29% keluarga di kecamatan ini adalah keluarga miskin. Begitu juga dengan Kec. Kaligesing,  berdasarkan kondisi keluarga miskin, 45% keluarga di kecamatan ini adalah keluarga miskin.

Konsdisi tersebut tidak berubah dari tahun ke tahun. Tahun 2015 diumumkan bahwa penduduk miskin mencapai 98.608 jiwa atau 13,88% dari total penduduk. Secara keseluruhan angka kemiskinan masih cukup tinggi, yaitu sebesar 15%. Angka ini berada di atas angka nasional yang sebesar 12% dari jumlah penduduk. Tahun 2017 warga miskin masih mencapai 14,27% dari jumlah penduduk. Yang memprihatinkan, Kecamatan termiskin justru Kecamatan Purworejo dengan jumlah warga miskin sebanyak 19.733jiwa.

Angka kemiskinan penduduk di Kabupaten Purworejo setahun terakhir memang mengalami penurunan cukup signifikan dari 13,81% pada tahun 2017, menjadi 11,67% tahun 2018. Meski demikian, angka tersebut masih di bawah target tahun 2018, yakni sebesar 10,4%. Angka kemiskinan Jateng 11,19% dan nasional 9,66%. Tingginya prosentase tingkat kemiskinan di Kabupaten Purworejo merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satunya diindikasikan kurang tepatnya sasaran program kegiatan penanggulangan kemiskinan.

Ada komplain dari warga tentang penerima manfaat yang tidak tepat sasaran. Bukannya warga miskin yang menerima bantuan, tapi justru banyak warga yang cukup mampu. Kejadian seperti itu sebenarnya tidak hanya di Purworejo dan Jateng, tetapi juga dibanyak tempat, bahkan di Jakarta pun terjadi hal yang sama. Itu akibat dari kurangnya melakukan update data. Jika data orang miskin selalu dievaluasi dan dilakukan pembaharuan secara periodik tidak akan terjadi salah data. Dengan adanya data terbarukan warga miskin yang sudah berhasil menjadi warga sejahtera – mampu karena kemungkinan mereka punya kegiatan produktif, maka warga tersebut tidak akan dimasukkan lagi dalam kategori warga miskin.

Inti dari penanggulangan kemiskinan adalah membuka akses dalam segala hal pada orang miskin untuk hidup sejahtera dan memutus rantai kemikinan. Hal ini berarti perlu menetapkan kemiskinan menjadi musuh bersama sebagai fokus bersama untuk dihancurkan sampai keakar-akarnya. Jumlah penduduk miskin Kabupaten Purworejo tahun 2019 ada sekitar 93.000 orang. Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan dan menekan jumlah orang miskin diperlukan perencanaan yang matang. 

Penanganan kemiskinan dapat dilakukan secara optimal dengan adanya komitmen bersama antar pemangku kepentingan. Dalam hal ini dapat dilakukan oleh Tim Penanggulangan Kemiskinan Derah (TKPKD) sampai tingkat desa. Dan jangan lupa, berkoperasi pun dapat mengurangi jumlah orang miskin, menciptakan lapangan kerja dan menyejahterakan. Semiskin-miskinnya orang, mereka tetap punya potensi. Dan jika potensi tersebut digali, dikembangkan dan diberedayakan secara produktif diyakini akan mampu merubah mereka menjadi lebih sejahtera.

Menyikapi kondisi masyarakat yang sebagian besar belum sejahtera, Badan Pelaksana GKJ Klasis Purworejo yang kala itu Pdt. Lukas Eko Sukoco, (Ketua) Pdt.Sudibyo (Sekretaris) dan Maria Christiani (Bendahara) dibantu oleh Badan Pengawas (Bawas) dan segenap Badan Pelaksana (Bapel); memilih untuk membangun ekonomi kerakyatan. Tak cukup dengan Prihatin, maka akhirnya Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) di lingkungan Klasis Purworejo membuat aksi nyata dengan mendirikan Credit Union Angudi Laras (CUAL) pada 3 Januari 2011 dengan tujuan agar Gereja melalui aktivitas CU ikut berperan mengatasi kemiskinan secara nyata melalui Pemberdayaan Ekonomi Jemaat – Masyarakat.

Membangun Ekonomi Kerakyatan tidak cukup dengan  demo – unjuk rasa, mengkritik atau bahkan mengutuk pihak tertentu yang dianggap penyebab kemiskinan. “Kami memilih untuk melakukan sesuatu: membuat sistem yang lebih adil dan mengajak masyarakat sebagai pelaku bukan penonton, bukan pula sebagai obyek penderita yang perlu diberibantuan,” jelas Lukas Sukoco saat berbincang dengan Majalah UKM, di kantornya. Berbuat sesuatu secara nyata bersama masyarakat, diwujudkan melalui; Perubahan cara berpikir, mengorganisir diri berbasis komunitas, membuat usaha yang direncanakan berdasar pada jiwa wira-usaha, dan secara dinamis, konsisten melakukan pendidikan komunitas sesuai kebutuhan.

CU adalah sebuah lembaga keuangan yang merupakan kumpulan orang, berpusat pada orang, bukan sekedar pada uang, bergerak dibidang simpan pinjam yang dimiliki oleh anggota, dikelola secara profesional untuk kesejahteraan bersama. CU berbadan hukum koperasi, seperti koperasi pada umumnya. Bedanya, CU memiliki struktur: Pembina, Pengurus, Pengawas dan Manajemen (Manajer, Kasir, Bagian Kredit, Pendidikan, Pemberdayaan, Tata Usaha dan Staf Lapangan). Juga ada komite-komite; Komite Kredit, Komite Pemberdayaan, dan Komite Pendidikan.

Semua unsur dituntut memiliki kapabilitas yang mumpuni, ditandai dengan terus berproses mengikuti berbagai pelatihan. Seorang pengurus, misalnya, pasti telah mengikuti berbagai  pelatihan ke pengurusan, baik itu: Pendidikan Dasar, Pendidikan Nilai-nilai Credit Union, Pendidikan Financial Literacy, Pendidikan Kepegurusan seperti: Credit Unions Directors Competency Course (CUDCC), dan sebagainya. Credit union sejati memang memiliki kelengkapan organisasi yang baik.

Selama 5 tahun, 2011 – 2016, CUAL berkantor di Kantor GKJ Klasis Purworejo  di Jl. Jend. Sudirman No 11 Purworejo 54114. Namun sejak 3 Januari 2016 telah memiliki gedung sendiri di Jl. Suryokusuman 17 Purworejo 54114. Setiap hari Senin – Jumat kantor CUAL selalu  penuh dengan aktivitas simpan pinjam, rapat-rapat, ataupun pertemuan – pertemuan  informal.  Bahkan sering terjadi, Hari Sabtu atau hari libur pun ada kegiatan tertentu. Setiap bulan, ada juga yang 2 bulan sekali diadakan: Pendidikan dasar CU, Pelatihan financial literacy, Berbagai kegiatan pelatihan oleh komunitas basis maupun komuntas bina usaha: Masak-memasak, membatik, merajut dan komunitas entrepreneur “jo Kementhus”.


Kehadiran CUAL yang akhirnya tidak hanya melayani jemaat gereja, tetapi juga masyarakat umum, menjadikan GKJ Klasis Purworejo teladan bangkitnya ekonomi kerakyatan. CU adalah lembaga non profit yang didirikan oleh anggota, untuk anggota dan dimiliki oleh anggota, untuk mengupayakan kesejahteraan bersama. CU meletakan pelayanan kepada anggota di atas keuntungan. Meski lembaga non profit, namun CU harus dikelola secara profesional terutama dalam pembuatan keputusan keuangan dan kebijakan finansial. Dalam usianya yang genap sewindu, CUAL telah berbadan hukum nomor: 184/BH/XIV.21/2012.

Produk-produk CUAL dengan perhitungan jasa tabungan lebih adil katimbang bank konvensional antara lain: Siharta, Sipinmo dan Sibendi. Ada juga Sebrakan – pinjaman mendadak untuk kepentingan mendadak, yang nominalnya maksimum Rp15 juta. Ada produk Simpan Pinjam yang dibuat sesuai kebutuhan anggota, seperti: Gemi Nastiti (Simpan Pinjam untuk keperluan pendidikan anak), Makarya (Simpan Pinjam untuk modal usaha), Pesanggrahan (Simpan Pinjam untuk Perumahan).

Dengan tetap setia pada 3 pilar utama CU yaitu Pendidikan, Swadaya, dan Solidaritas perlahan tapi pasti CUAL mulai bisa berkembang. Dari tempat pelayanan yang masih menyewa di Kantor Klasis akhirnya setelah 5 tahun berdiri bisa membeli tanah dan bangunan yang sampai sekarang digunakan sebagai tempat pelayanan. Dari 30 orang yang bersepakat mendirikan CUAL berkembang menjadi 1.200-an anggota, dan terus bertumbuh.

CUAL telah mengembangkan berbagai model pendidikan dan pelatihan anggota sesuai dengan Misi CUAL sendiri yaitu; Meningkatkan Kualitas Hidup anggota melalui pemberdayaan sosial ekonomi berbasis komunitas. Pendidikan Wajib, dan Finansial Literacy digunakan sebagai alat utama di CUAL untuk merubah pola pikir anggota menjadi lebih bijaksana terutama dalam hal pengelolaan keuangan.

Pendidikan tidak hanya dilaksanakan sekadarnya sebagai formalitas semata, tetapi terus dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman terutama menghadapi era disruption dengan perubahannya yang sangat cepat dan eksponensial. Penyegaran fasilitator dilakukan setiap tahun sekali agar pola pendidikan anggota selalu up to date dan benar-benar bisa menjawab tantangan terkini.

CUAL sadar benar fungsi strategis fasilitator pendidikan-pendidikan utama ini. Tidak berhenti di situ, sebagai konsekuensi berubahnya pola pikir anggota, menjadi kebutuhan adanya pendidikan dan pelatihan lanjutan. Anggota yang semula enggan dengan pendidikan menjadi berubah haus akan ilmu, pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kapasitasnya terutama di bidang wirausaha.

Kebutuhan itulah yang membuat pengurus CUAL berupaya mengembangkan berbagai macam keterampilan teknis untuk anggota. Mulai dari seminar kewirausahaan, magang kewirausahaan di tempat usaha mentor, pelatihan kuliner, pelatihan pijat refleksi, pelatihan membuat pupuk organik, pelatihan membuat pakan ternak, pelatihan merajut, pelatihan tata rias, pelatihan membatik, yang terbaru dan sangat diminati anggota adalah pelatihan jumputan.

Hasil dari berbagai pelatihan tersebut adalah terbentuknya berbagai Komunitas Bina Usaha (KBU) yaitu kelompok anggota dengan minat atau bidang usaha yang sama. Antara lain KBU Satu Hati bergerak di bidang kuliner, KBU Karya Jemari bergerak di bidang aneka kerajinan tangan khususnya rajut, KBU Ayo Polah bergerak di bidang Batik dan yang terbaru KBU Merak Ati bergerak di bidang Jumputan Pewarna Alam.

Di samping aneka pelatihan teknis, CUAL juga memikirkan sarana dan prasarana untuk mensupport usaha anggota. Di kantor pelayanan tersedia rak khusus untuk display usaha anggota. Semua anggota berhak memajang produknya tanpa dipungut biaya. Ada juga sarana komunikasi melalui medsos WAG Komunitas Jo Kementhus, yang digunakan sebagai media informasi dari lembaga ke anggota, juga sarana promosi produk antar anggota. Ada juga media grup di FB dan yang sedang dikembangkan, toko online di market place yang akan memajang dan secara intensif mempromosikan produk anggota di pasar online.

Karena fokus ke pendidikan dan pelatihan anggota, CUAL merindukan tempat khusus untuk pendidikan yang lebih representatif. Maka awal tahun 2018 mulai dibangun gedung diklat di lahan kosong belakang kantor. Gedung dua tingkat yang dilengkapi ruang diklat, ruang rekreasi, satu ruang rapat dan dua kamar tidur. Majalah UKM pun ikut menikmati kenyamanan di basecamp CUAL. Gedung diklat ini diberi nama Omah Jo Kementhus (OJK) yang artinya Rumah atau tempat untuk belajar agar tidak kementhus (Kata Jawa yang artinya bodoh, nekat, keras kepala).
Kala peringatan Sewindu (8 th) CUAL dimeriahkan dengan berbagai acara. Dimulai dengan Expo usaha anggota yang dibuka pada tanggal 2 Januari 2019. Diikuti anggota yang memiliki aneka usaha, namun didominasi anggota yang punya usaha kuliner. Ada stand aneka masakan dan jajanan seperti; mie ayam, nasi gandul, pempek, sagon, dan lain-lain. Juga ada stand jumputan dari KBU Merak Ati. Expo berjalan meriah bukan hanya dari anggota, tetapi juga dihadiri masyarakat sekitar.

Di samping Expo pada 2 Januari 2019 juga diadakan Lomba Tembang Kenangan untuk masyarakat umum. Antusiasme masyarakat cukup tinggi. Mengikuti acara lomba sejak siang sampai malam hari di depan Gedung OJK. Pada 3 Januari 2019, saat Expo usaha anggota masih berjalan juga diadakan Lomba Menghias Celengan dari Tembikar. Lomba ini diikuti anak-anak usia PAUD sampai SD. Lomba tersebut bertujuan menanamkan budaya menabung sejak awal.

Menghitung hari, 3 Januari 2020 CUAL genap berusia 9 tahun. Namun diakui bahwa masih banyak yang harus diperbaiki dan belum sempurna. Tetapi yang pasti, semua aktivis CUAL bersemangat untuk tetap melayani anggota sebaik mungkin. Pada 27 Januari 2019 telah di-launching aplikasi online sebagai sarana transaksi online dan payment untuk semua anggota. Aplikasi online bernama Escete-CU Angudi Laras ini diharapkan bisa semakin membantu anggota untuk beraktivitas secara lebih cepat, akurat, dan aman.

Kini CUAL telah menjadi salah satu Koperasi yang bisa diandalkan di lingkungan Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Gubernur Ganjar Pranowo  meminta, koperasi yang terdaftar namun sudah tak aktif lagi agar dicoret. Ia meminta validasi data jumlah koperasi di Jawa Tengah, baik yang menjadi kewenangan Provinsi, maupun kabupaten dan kota. Dia minta didata ulang, berapa koperasi yang ada. Kalau sudah almarhum, delete saja. Kalau yang sudah sukses, bisa ditampilkan bagaimana caranya sukses. Ia juga menyebutkan bahwa di Jateng ada 3.859 koperasi yang tidak aktif dan harus dibubarkan.


CUAL memperkenalkan diri dengan keluarga besar BKCU Kalimantan Juli  2013 ketika diselenggarakan pelatihan Financial Literacy – cakap mengelola keuangan, di Jogyakarta. Tuan rumahnya CU Cindelaras Tumangkar. Kebetulan Maria dekat dengan Wiwiek, salah seorang pengurusnya, memberi informasi, ada kegiatan pelatihan yang materinya sangat menarik. Karena CUAL bukan anggota, kalau mau ikutan disarankan menghubungi langsung ke BKCU Kalimantan, boleh atau tidak. Ketika menghubungi Frans Laten, bersyukur diizinkan untuk ikut. Namun ada syaratnya; berkontribusi. Tak masalah, yang penting sedikit demi sedikit ilmu tentang CU dapat, dan bisa berkenalan dengan para akvitis CU yang sudah berpengalaman.

Saat rehat makan siang, fasilitator yang juga pengurus BKCU Kalimantan, Romo Fredy Rante Taruk, PR, berbincang dengan peserta dari CU Semangat Waraga, Jombang, Jawa Timur, “anaknya CUCT, karena dulu mereka belajarnya juga di CUCT. CU Semangat Warga ini istimewa, berbeda dengan CU CU lainnya yang didirikan oleh komunitas gereja, sedangkan CU Semangat Warga didirikan dan berbasis dari kalangan Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. CU Semangat Warga waktu itu juga belum resmi jadi anggota BKCU Kalimantan, tetapi sudah dalam proses bergabung. Yang diperbincangkan tentang Standarisasi Kebijakan yang akan diselenggarakan di Kaliurang, Jogya. Maria yang haus ilmu, nguping – serius mendengarkan.

Karena yang diperbincangkan menarik, kebijakan, berarti tentang tata kelola, akhirnya Maria mendekat bergabung. Perbincangan semakin serius, dan semakin menarik. “Romo, boleh gak kami bergabung di acara itu?” tanya Maria. “Wah kami tidak bisa memutuskan. Hubungi BKCU Kalimantan,” jawab Romo Fredy menyarankan. Tidak ingin melewatkan kesempatan emas, Maria segera menghubungi Frans Laten. Nasib baik, diizinkan sebagai tamu, mengikuti acara yang sarat ilmu tersebut. Alhasil, kecuali dapat ilmu, juga semakin banyak mengenal aktivis CU, sebab pesertanya terdiri dari pimpinan manajemen, pengurus dan pengawas dari seluruh CU Primer anggota BKCU Kalimantan.

Kesempatan baik semakin terbuka. Kebetulan ada satu moment bagus, saat pimpinan manajemen, pengurus dan pengawas BKCU Kalimantan keluar bersama-sama ingin menikmati hidangan sate kelinci. Maria memanfaatkan kesempatan emas tersebut untuk bercerita tentang CUAL dari A – Z. Sebelum resmi diterima sebagai anggota BKCU Kalimantan, salah satu persyaratan dasar yang harus terpenuhi adalah mengikuti SP2 (ulang) dengan standar BKCU Kalimantan. Lantaran jelang akhir tahun, fasilitator jadualnya sudah penuh, juga ada persiapan RAT di Surabaya, maka tidak bisa diselenggarakan SP2 dalam waktu singkat.

Paling tidak, komunikasi untuk bergabung menjadi anggota semakin lancar. Maret 2014 Romo Fredy datang ke CUAL melakukan verifikasi; mana kantornya, bagaimana visi – misinya, produknya apa saja, dan bagaimana tata kelolannya. Rekomendasi dari verifikasi tersebut; CUAL dianggap layak menjadi anggota BKCU Kalimantan. Dengan catatan, SP2 tetap harus dilakukan, jadual dan fasilitator disusun oleh BKCU Kalimantan. SP2 dijadualkan bulan Juni, dan Mei 2014 BKCU Kalimantan RAT di Surabaya. Untuk kali pertama secara resmi CUAL diundang sebagai calon anggota. Namun baru sebagai peninjau. Karena semua persyaratan telah terpenuhi, Juli 2014 CUAL resmi menjadi anggota BKCU Kalimantan dengan nomor anggota 82, anak bontot, dikukuhkan pada RAT di Makassar, Sulawesi Selatan.

Persyaratan bergabung dengan BKCU Kalimantan, anggota harus sudah mencapai minimal 500 orang dan aset minimal Rp 1 miliar. Kalau tahun pertama baru 300 anggota, pertengahan tahun kedua sudah mencapai 500 orang lebih. Aset pun telah lebih dari Rp 1 miliar. Namun, yang dialami tidak seindah bayangan semula. Mencari anggota ternyata tidak mudah. Walau pengurusnya ada pendeta, dengan harapan semua umat ikut menjadi anggota, ternyata tidak. Tantangan terbesar justru di jemaat gereja. Ada anggapan bahwa pendeta itu seharusnya urusan surga saja, tidak ngurusi soal keuangan, CU yang dinilainya sangat berbeda dengan lermbaga keuangan lainnya, perbankan, atau koperasi simpan pinjam lainnya.

Untuk meyakinkan jemaat gereja, butuh perjuangan, dan tidak mudah. Diakui, sampai saat ini yang menikmati pelayanan dan keuntungan baru umat GKJ Purworejo, tempat kelahiran CUAL. Umat dari GKJ lain yang kebetulan di pinggir belum sebanyak yang bergabung. Umat GKJ yang jaraknya jauh dari Purworejo jumlahnya sedikit. Krentek – impian awal berdirinya CUAL untuk meningkatkan ekonomi – kesejahteraan umat Klasis Purworejo, bukan hanya umat GKJ Purworejo. Artinya bagi seluruh umat 11 GKJ yang ada di Klasis Purworejo. Mungkin karena pandangan masing-masing pendeta tentang CU berbeda-benda, maka mimpi indah itu harus terus diperjuangkan.

Yang telah dilakukan selama ini road show – keliling mengadakan sosialisasi dan untuk mempermudah anggota juga ada kas keliling. Namun, karena CU merupakan sesuatu yang baru, tidak mudah diterima. Atau mungkin, karena ada kebiasaan masa lalu, dimana GKJ selalu mendapat bantuan dari Belanda, sehingga terbiasa tangan di bawah. Masih ada anggapan, kalau lembaga itu dari gereja seharusnya umat dapat bantuan, cuma-cuma. Sedangkan CU tidak seperti itu. CU menempatkan orang, harus mengandalkan kemampuan diri sendiri – mandiri. Untuk membalikan budaya tangan di bawah (menerima cuma-cuma) memang tidak mudah.

Terkait dengan pengembangan keanggotaan, karena CUAL sebagai koperasi tetap menganut system keanggotaan terbuka dan sukarela. Sekarang, umat non kristiani pun sudah semakin banyak yang bergabung menjadi anggota. Biasanya yang mengajak adalah anggota, mengajak teman-temannya atau sanak keluarganya. CUAL tidak membeda-bedakan agama, suku, ras dan golongan. Yang percaya bisa sejahtera bersama CUAL, dipersilahkan bergabung menjadi anggota.

Tentang dipilihnya nama Angudi Laras mengandung makna; Angudi didasarkan pada falsafah bahwa kehidupan itu tidak dipahami sebuah perjalanan yang datar-datar saja. Kehidupan adalah penuh tantangan, peluang harus dihadapi dan diperjuangkan. Angudi juga merupakan karakter yang tangguh, dinamis, tidak kenal menyerah bahkan penuh dengan kreativitas dan hikmat dalam menjawab persoalan kehidupan. Angudi juga merupakan gerakan hermeneutic, suatu aksi-refleksi yang membawa proses pematangan spiritualitas para anggota.

Laras – harmonis. Manusia hidup dalam sebuah relasi. Yaitu relasi dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dengan sesama dan lingkungannya. Relasi menjadi terganggu jika manusia dengan dirinya tidak harmonis yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk merencanakan sebuah kehidupan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk menuju ke kondisi laras – harmonis manusia membutuhkan sebuah strategi agar dalam dirinya tumbuh kemampuan membuat sebuah perencanaan dan menumbuhkembangkan solidaritas dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan lingkunganya. Itu sebabnya slogan CUAL adalah “Tuwuh, Ngrembaka, lan Munpangati“. (my)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *