Membangun Koperasi Produksi

Seperti di daerah lain, koperasi produksi di Kalteng juga tidak terlalu banyak. Ada koperasi kerajinan rotan, kecil-kecil. “Sekarang sedang menghimpun petani sawit dalam suatu koperasi. Petani-petani yang belum menjadi anggota koperasi diharapkan bersatu dalam koperasi. Saya akan berusaha dengan Dekopinda, Dinas Koperasi, dan Pemerintah Daerah (Pemda) melakukan koordinasi dan kerja sama untuk mencari investor yang akan mendirikan pabrik pengolahan sawit,” jelas Ketua Dewan Koperasi Wilayah (Dekopinwil) Kalteng. DR Dehen Erang M.Si.

Yang sedang dirancang, kata dia, koperasi petani sebagai penyedia sawit untuk dipasarkan ke pabrik. Pabriknya juga dalam bentuk koperasi, tetapi milik investor. Lahan untuk lokasi pabrik seluas 28 hektar sudah dibeli di Desa Taringen, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas. Kelak, luas lahan bisa dikembangkan di sekitar. Diharapkan pabrik ini betul-betul sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, tidak mencemari lingkungan. Untuk pembuangan limbah, memenuhi persyaratan, dan sudah ditinjau oleh investor.

Jadi ada koperasi pekebun, yang anggotanya semua pekebun sawit, dan ada koperasi investor. Tidak lama lagi akan berdiri pabrik berbadan hukum koperasi, Koperasi Intra Tani Sejahtera di Kabupaten Gunung Mas, Kalteng. “Dekopinwil dengan Bupati Gunung Mas sudah menjalin kerja sama dan sepakat, kalau bukan bentuk koperasi tidak akan dikasih izin prinsip untuk mendirikan pabrik. Ini keberpihakan yang jelas terhadap koperasi,” jelas Dehen.

Koperasi Produksi ini kelak akan menghasilkan CPO – minyak sawit. Koperasi pabrik ini yang akan bermitra dengan koperasi petani. Karena koperasi produksi itu membutuhkan dana cukup besar, sekitar Rp 30 miliar – Rp 50 miliar, untuk sementara anggotanya adalah mereka yang memiliki kemampuan pendanaan untuk membeli mesin-mesin. Namun, karena koperasi itu terbuka, tidak tertutup kemungkinan masyarakat yang punya dana ikut menjadi anggota. Koperasi-koperasi besar, seperti Credit Union (CU) Betang Asi, juga boleh menanamkan modalnya di koperasi produksi tersebut.

Sebagai pilot proyek koperasi produksi, kata Dehen, yang terpilih sebagai Ketua Pengawas Koperasi Intra Tani Sejahtera, sudah disepakati supaya pengelolaan pabrik itu secara profesional, ditangani oleh orang-orang yang profesional. Ke depan, seluruh kabupaten di Kalteng diharapkan memiliki pabrik berbadan hukum koperasi. Semua Dekopinda di Kalteng dihimbau untuk menginventarisir seluruh petani sawit mandiri, dan menghimpun mereka dalam bentuk koperasi. “Kami bersama-sama Pemerintah Daerah mencari investor yang akan mendirikan pabrik. Ketentuan pemerintah, untuk mendirikan pabrik harus punya kebun. Karena yang punya kebun petani, kehadiran pabrik di setiap kabupaten bekerja sama dengan koperasi petani,” urai Dehen, yang juga anggota Dewan Pengawas Dekopin Pusat.

Sekarang, kata Dehen, sedang menginventarisir pekebun sawit dan luas lahan perkebunannya. Untuk Kabupaten Gunung Mas saja luas lahan sawit milik petani lebih dari 5.000 hektar. Ada petani yang punya lahan hanya 2 hektar, 5 hektar, tetapi ada pula yang punya 10 – 20 hektar. Karena usaha kayu illegal loging dan penambangan emas tanpa izin dilarang, harga karet fluktuatif, sekarang agak jatuh hanya Rp 9.000,- per Kg. Maka masyarakat mengalihkan usahanya yang agak lebih cepat, berkebun sawit. Namun ketika panen, mereka terbentur dengan pemasaran. Sekarang yang mulai panen kesulitan menjual hasil panennya.

“Dekopinwil Kalteng, bersama-sama Pemda melakukan kebijakan menghimpun petani dalam wadah koperasi. Di daerah yang sudah ada koperasinya disarankan mereka bergabung, yang belum ada koperasi dihimbau membentuk koperasi,” jelasnya. Perkebunan karet juga potensial. Sebagai Ketua Dekopinwil, Dehen menghimbau pengurus Dekopinda di kabupaten dan Pemda agar menghimpun masyarakat petani karet yang selama ini masih tercerai berai. Petani karet itu berdiri sendiri, menjual karetnya ke pengepul, sehingga harganya ditekan serendah mungkin. Akibatnya kesejahteraan petani karet sulit berkembang. Lucunya, pemilik barang tidak berhak menentukan harga. Dalam dunia perdagangan apapun, pemilik barang yang punya hak menentukan harga. Tetapi untuk karet, yang menentukan harga sekarang pembeli.

Kelak, berhimpunya petani karet dalam koperasi, mereka menjual karetnya ke koperasi, kemudian koperasi menjual ke pabrik. Sehingga bargaining posisition mengenai harga cukup kuat, nilai jual bisa lebih tinggi. Karena masih tercerai berai, mereka tidak bisa menentukan harga. Pekebun karet yang telah turun-temurun itu sangat potensial. Karena itu Pemda perlu ambil bagian membangun koperasi. “Jika dimungkinkan, yang mendirikan pabrik Perusahaan Daerah (PD). Bila pabrik itu milik Pemda yang mendirikan pabrik karet, suplai karetnya dari masyarakat yang terhimpun dalam koperasi. Dengan demikian PD akan menghasilkan keuntungan bagi Pemda, harga di petani bisa lebih tinggi. Sehingga hasil perkebunan itu betul-betul mensejahterakan masyarat” tutur Dehen.

Di Kalteng, kata dia, tidak hanya menghasilkan karet dan sawit, di beberapa daerah juga menjadi lumbung padi, dan belum ada koperasinya yang cukup baik. Kalau Koperasi Unit Desa (KUD) hampir di setiap desa ada KUD, tetapi dengan berakhirnya Orde Baru, KUD juga banyak yang berakhir. Yang ada pun kurang berkembang. Walau ada upaya pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UKM menggiatkan kembali KUD, hasilnya belum kelihatan. Karena KUD bagian dari kebijakan pemerintah, sering jika ada bantuan dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kesejahteraan masyarakat. Koperasi yang berkembang cukup baik di Kalteng, kata Dehen, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) juga Credit Union (CU). Di Kalteng, hampir di setiap desa ada KSP, di instansi pemerintah juga ada. “Yang membanggakan, di Kalteng ada koperasi besar, CU Betang Asi, dimana menurut hasil penilaian Kementerian Koperasi dan UKM, CU Betang Asi menempati urutan ke-17 dari 100 koperasi besar di Indonesia,” jelas Dehen, bangga.

Dalam berbagai kesempatan ceramah – memberi pengarahan, Dehen mengaku, selalu menyampaikan kepada masyarakat untuk berkoperasi, dan tidak hanya di CU Betang Asi. Jika koperasi itu dikelola secara profesional – transparan – jujur, hasilnya akan mensejahterakan. “Saya selalu mengambil contoh CU Betang Asi,” kata Dehen, yang kebetulan anggota CU Betang Asi, dan menikmati manfaat dari koperasi. Dehen mengajak gerakkan koperasi di Kalteng untuk mengembangkan koperasinya dengan mengadopsi pola Credit Union, khususnya CU Betang Asi. Walau bentuk koperasinya lain, CU bisa dijadikan pola pengembangan, baik dari segi manajemen organisasi, manajemen usaha, lebih-lebih dalam mensejahterakan anggota.

Meski sistem koperasi sudah baik, bila yang mengelola kurang fokus terhadap pekerjaan dan tanggung jawabnya, tidak akan berhasil dengan baik. Sebaik apa pun pola, sebagaimana CU Betang Asi, jika orang yang menjalankan tidak memiliki motivasi kuat untuk melaksanakan kewajiban, dan memiliki jiwa kewirausahaan di bidang koperasi yang baik, susah. Disamping pola – sistem yang pas, juga membutuhkan orang-orang yang memiliki jiwa dan semangat wirausaha – berkoperasi yang baik.

Sebagai Ketua Dekopinwil, Dehen berharap, perkembangan koperasi di Kalteng tidak semata-mata pertumbuhan kuantitas koperasi yang terus bertambah, tetapi perkembangan kualitas lebih penting, sehingga menarik minat masyarakat untuk menjadi anggota koperasi. Jumlah koperasi tidak perlu banyak. Akan lebih baik jika jumlah anggota yang semakin besar dan makin sejahtera. Dehen mengajak pengurus Dekopinda di seluruh Kalteng, membuat pilot proyek 1 kabupaten 1 koperasi yang betul-betul bisa menjadi contoh, guna mempercepat perkembangan. Masyarakat lebih tertarik melihat contoh keberhasilan daripada mendengarkan ceramah.

Jika mengambil contoh CU Betang Asi, misalnya, masyarakat bisa merancang kesejahteraannya untuk masa depan. Masyarakat petani, bukan pegawai negeri bisa merancang di hari tuanya menikmati pensiun. Koperasi membuat program – produk, anggota sendiri yang merancang masa depannya. Yang juga penting, soal pendidikan perkoperasian bagi anggota. Masyarakat yang belum memahami bagaimana koperasi yang sebenarnya, mereka berpikir, masuk menjadi anggota koperasi langsung sejahtera. Seandainya koperasi itu pohon, dianggap bisa langsung memetik buahnya.

“Tidak terpikirkan bahwa berkoperasi itu harus berproses, menjadi anggota yang baik, memenuhi kewajiban sebagai anggota, dan berpartisipasi dengan baik. Barulah setelah itu kita memperoleh manfaat,” urai Dehen yang sejak mahasiswa sudah menjadi pengurus Koperasi Mahasiswa di tempatnya kuliah, di Universitas Palangka Raya. Dia juga pernah bergabung di Badan Kontak Pemuda Koperasi. Setelah itu terpilih menjadi Ketua Badan Kontak Pemuda Koperasi Kalimantan Tengah. Juga pernah menjadi manajer Koperasi Upaya, di tempatnya bekerja, Universitas Palangka Raya, yang dibangunnya dari Nol, dan pernah menjadi koperasi terbaik di Kalteng. “Bukan hanya sebagai orang gerakkan, tapi juga praktisi,” katanya mengakhiri perbincangan. (mar)

This entry was posted in Cerita Sampul and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Membangun Koperasi Produksi

  1. safrizal says:

    kami sudah menjalankan koperasi produksi kopi arabika di kota sungai penuh prov. jambii
    mohon bantuannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *