Mempersiapkan Generasi Siap Kerja

Kualitas dan kompetensi menjadi kunci agar lulusan sekolah berdaya saing. Salah satu jenjang pendidikan yang memberikan peran penting di Indonesia adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jenjang pendidikan ini diharapkan menciptakan lulusan yang kreatif, inovatif, dan mandiri. Mereka juga diharapkan bisa memiliki kometensi yang memadai. Dengan kompetensi yang dimiliki, lulusan SMK akan diterima dengan mudah di dunia kerja.

Tidak hanya itu. Mereka juga akan mampu menciptakan lapangan kerja. Mudahkah untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK? Jawabnya bisa mudah, bisa juga tidak. Semua tergantung seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Untuk mencapai kompetensi yang memadai, membutuhkan pendekatan yang lebih baik dan lebih tepat dalam proses belajar mengajar di SMK.

“Seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan proses pendidikan di lingkungan SMK harus bergerak cepat menciptakan suasana baru yang lebih adaptif dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja serta perkembangan zaman,” kata Muhammad Anshori, S.Pd., Kepala SMK Bina Mandiri, Cibarusah, Bekasi Selatan kepada UKM. Alumnus Universitas Islam Negeri, Bandung itu menambahkan, demi memperbaiki lulusan SMK, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.

Presiden Jokowi minta agar 12 Menteri dalam Kabinet Kerja terlibat dalam revitalisasi pendidikan SMK. Yaitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Menteri Perindustrian, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Perhubungan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Badan Usaha Milik Negara, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Menteri Kesehatan agar terlibat dalam revitalisasi pendidikan SMK. Presiden juga meminta Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi terlibat di dalamnya. Presiden juga menginstrusikan kepada 34 gubernur di seluruh Indonesia terlibat langsung di dalam proses revitalisasi tersebut.

Presiden Jokowi menegaskan, para Menteri, Kepala Badan Sertifikasi Profesi, dan para gubernur agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masimg untuk merevitalisasi SMK untuk meningkatkan kualitas dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

“Kami sangat megapresiasi instruksi Presiden untuk menyusun peta kebutuhan tenaga kerja bagi lulusan SMK sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan kami dengan berpedoman pada peta jalan pengembangan SMK. Antara lain menjalin kerja sama dengan PT Wahana Bangun Selaras,” urai Apong, pimpinan Wahana Bangun Selaras, juga dunia usaha dan industri otomotif sangat mendukung untuk meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK serta membentuk Kelompok Kerja Pengembangan SMK agar revitalisasi itu segera terwujud.

Untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas lulusan anak didiknya, Anshori dan seluruh pendidik di SMK Bina Mandiri terus meningkatkan metode pembelajaran agar lebih sesuai dengan dunia usaha dan industri serta meningkatkan kualitas pendidik seperti anjuran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui program magang dan sertifikasi keahlian ganda. Ini dilakukan, karena belum semua guru di SMK Bina Mandiri bergelar sarjana.

Data Kemendikbud menunjukkan, masih ada 6,94% kepala sekolah dan guru di SMK berpendidikan di bawah S-1. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding pendidikan kepala sekolah dan guru di SMA yang hanya 3,12% yang belum menempuh pendidikan S-1. Sebanyak 1.650 SMK di seluruh Indonesia yang menjadi target program penguatan kelembagaan. Kemendikbud juga terus berusaha meningkatkan akses layanan pendidikan dengan perbaikan sistem distribusi Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk meningkatkan lama belajar di sekolah formal. Termasuk perbaikan sarana fisik ruang belajar dan gedung sekolah yang rusak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.

Data Kemendikbud pada 2016-2017, jumlah ruang kelas SMK yang masih dalam kondisi baik hanya 45,7% atau 65.375 unit dari total 143.175 ruang kelas. Sisanya, 48,6% dalam kondisi rusak ringan (69.571 ruang), rusak sedang 2,2% (3.115 ruang), rusak berat 1,7% ( 2.502 ruang), dan rusak total 1,8% (2.612 ruang). Mendikbud, Muhadjir Effendi menegaskan, secara bertahap berbagai sarana dan prasarana pendidikan SMK di seluruh Indonesia tersebut akan terus diperbaiki sesuai degan kebutuhan industri.
Menteri BUMN, Rini Soemarno beberapa waktu lalu mengemukakan, BUMN di seluruh Indonesia sudah berperan aktif membantu meningkatkan kualitas lulusan SMK. Mereka juga didorong secara rutin membantu dan mendorong kemajuan pendidikan di sekolah-sekolah. Salah satu cara yang efektif adalah dengan memberikan bantuan vokasi sesuai dengan bidang garapan masing-masing BUMN. Ini cara paling efektif agar lulusan sekolah, khususnya SMK, bisa kompeten. Setiap BUMN bisa membantu pendidikan vokasi.

Rini berjanji akan terus mengontrol peran setiap BUMN di sekolah-sekolah. Karena itu, dia sering pergi keliling ke daerah-daerah melihat langsung kondisi yang ada di sekolah-sekolah. Termasuk sekolah berbasis pesantren dan SMK. Jika semua pihak berkomitmen serius, meningkatkan kualitas pendidikan tak sekadar mimpi dan pasti bisa terwujud.

Meningkatkan kualitas dan kompetensi lulusan SMK memerlukan kerja keras dari semua pihak. Swasta dan industri harus bersama-sama membantu program pendidikan yang sudah dirancang pemerintah. Dengan berbagai keterbatasan, khususnya terkait dengan anggaran pendidikan, pemerintah jelas tidak mampu menyediakan SMK berstatus negeri secara merata di seluruh Indonesai. Hingga kini, pengelola SMK swasta lebih dominan ketimbang SMK negeri.

Data Kemendikbud menunjukkan, tahun ajaran 2014-2015 SMK swasta 73,8% dan SMK Negeri 26,2%. Tahun ajaran 2015-2016 rasionya sama, kemudian berubah menjadi 74,1% SMK swasta dan 25,9% SMK Negeri pada 2016-2018. Data ini memberi arti peran SMK swasta makin dominan. Jumlah SMK swasta dari tahun ke tahun meningkat signifikan. Data Kemendikbud tahun ajaran 2014-2015 jumlah SMK swasta 9.171 unit, setahun kemudian naik menjadi 9.339 unit, tumbuh 18%. Tahun 1916-1917, bertambah menjadi 9.802 unit, meningkat 5,0%.

Pertumbuhan SMK Negeri juga baik, tetapi jumlahnya masih jauh dibanding SMK swasta. Pada tahun ajaran 2014-2015, jumlahnya hanya 3.250 unit, 2015-2016 naik menjadi 3.320 unit, meningkat 22%. Pada tahun ajaran 2016-2017 meningkat menjadi 3.434 unit. naik 34%. Itu yang membuat Mendikbud Muhadjir Effendi mengapresiasi peran swasta dalam pendidikan di level SMK.

Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan pengelola swasta agar tidak sembarangan membuka program studi baru. Saat ini pemerintah sudah menetapkan empat program studi lulusan SMK, yaitu pertanian, perikanan, pariwisata, dan program studi terkait dengan industri kreatif. Peran swasta juga tidak hanya dalam pengelolaan sekolah. Swasta dan kalangan industri bahkan bisa menjadi kunci sukses pendidikan SMK. Pendidikan vokasi yang diselenggarakan oleh industri mampu meningkatkan kompetensi dan kualitas lulusan SMK serta para pendidiknya. Sinergi dunia pendidikan di tingkat SMK dengan industri menjadi salah satu strategi yang efektif untuk menghadapi persaingan global.

Kementerian Perindustrian juga berencana melibatkan 355 perusahaan dalam mengembangkan program pendidikan vokasional di SMK. Pada tahap awal kementerian ini akan menghubungkan 355 perusahaan dengan 1.775 SMK di Jawa lewat program pendidikan link and match. Sinergi ini diharapkan bisa menghasilkan 845 ribu tenaga kerja terampil siap pakai yang tersertifikasi sepanjang 2018-2019.

Di Jawa Timur, program link and match telah menghubungkan 50 perusahaan industri dengan 234 SMK. Kemudian di Jawa Tengah menghubungkan 100 perusahaan industri dengan 450 SMK. Program ini akan semakin sukses bila industri juga menyediakan fasilitas yang dibutuhkan. Fakta tersebut jelas menunjukkan, swasta memegang peran sangat besar dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Khususnya di level SMK. Tanpa mereka, mustahil lulusan SMK bisa memiliki daya saing yang tinggi. (sutarwadi k.)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *