Penyebar Virus Covid-19 Bukan Kalangan Bawah

Meskipun masih dalam suasana sangat berduka dan baru selesai melaksanakan pemakaman Ibunda tercinta, Ibu Sudjiatmi Notomihardjo, (26 Maret 2020) malamnya mulai pukul 19.00 di Istana Bogor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri dan berpartisipasi dalam pertemuan pimpinan G20 untuk membahas pandemic virus Corona – Covid-19. Seorang pemimpin dengan dedikasi luar biasa dan komitmen tiada tara untuk Bangsa dan Negara, kita sungguh terharu dan bangga.

Covid 19 tidak lagi hanya menjadi masalah kesehatan namun telah menjadi ancaman kemanusiaan, sosial, ekonomi dan keuangan dunia. Untuk memerangi pandemic Covid 19, Pemimpin G20 meminta lembaga internasional WHO, UN, IMF dan World Bank bersama seluruh negara melakukan kolaborasi dan kerjasama kebijakan, instrument dan langkah penanganan Covid 19.

Langkah penting meliputi kerjasama pencegahan penyebaran virus, melindungi pekerja di bidang kesehatan dan upaya menemukan vaksin secepat mungkin. Menangani dampak sosial ekonomi dan ancaman stabilitas sistem keuangan, dengan fokus melindungi masyarakat terutama yang paling lemah dan usaha kecil menengah (UKM). Kerjanya global perlu diperkuat dan dipererat untuk keberhasilan melawan ancaman Covid-19. Seperti disampaikan oleh Raja Salam dari Saudi Arabia sebagai tuan rumah G20, Para Pemimpin G20 berkomitmen; “Bersama kita akan dapat mengatasi krisis Covid 19”.

Kita patut berkabung atas banyaknya korban meninggal akibat serangan virus Covid-19 di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Kita juga sangat mengapresiasi langkah-langkah yang diambil pemerintahan Presiden Jokowi. Banyak kendala yang dihadapi, tetapi pemerintah juga mengambil langkah-langkah dengan scenario yang diperhitungkan penuh kehati-hatian. Kolaborasi di antara aparat pusat berjalan lancar di bawah kepemimpinan Gugus Tugas Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo.

Pemerintah terus berupaya untuk menangani pandemik Covid-19 di Indonesia, termasuk memutus rantai penyebarannya. Presidenminta agar kebijakan pembatasan sosial maupun pembatasan fisik berskala besar dilakukan lebih tegas, lebih disiplin, dan lebih efektif lagi. Apotek, toko-toko penyuplai kebutuhan pokok tetap buka untuk melayani kebutuhan warga dengan tetap menerapkan protokol jaga jarak yang ketat.

Pemerintah juga telah menyiapkan program perlindungan sosial dan stimulus ekonomi bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pelaku usaha, dan pekerja informal. Pemerintah sudah berupaya mencari solusi dengan membuat kebijakan ekonomi. Masalahnya bagaimana mengawasi agar kebijakan itu tidak salah sasaran. Polisi, media massa, kejaksaan, pemerintah daerah perlu dikerahkan untuk mengawasi pelaksanaannya.

Laporan Bank Indonesia (BI), menunjukan bahwa kita aman-aman saja, hanya ada sedikit gangguan psychological impact, tetapi belum serius banget. Pasar valuta terkoreksi menjadi Rp 16.386,50 per US$ 1, dan IHSG jatuh ke angka Rp 4.489,70,-  (31 Maret 2020) dari sebelumnya di angka Rp 5.000,- Bagi para eksportir, terutama yang mengekspor produk berbahan baku lokal, kenaikan kurs dolar akan meningkatkan keuntungan lebih besar.

Membndingkan dengan krisis yang terjadi 1997 – 1998 krus dolar melompat dari US$ 1 – Rp 2.500 menjadi Rp 15.000,- dan international trade – perdagangan internasional tidak bergerak, kecuali impor, karena masyarakat internasional nyaris tidak berani pegang rupiah, lantaran lompatannya yang menajubkan. Saat ini pun pasar internasional tidak bergerak akibat wabah Covid-19.

Dalam diskusi di grup WA muncul pertanyaan, apakah kondisi ekonomi saat ini dibiarkan terus terjun bebas sedangkan korban meninggal akibat Covid-19 masih terus bertambah. Sampai berapa besar dana dari APBN yang harus dialokasikan untuk penanganan Covid-19? Berapa banyak devisa dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah yang terus terdepresiasi? Berapa jumlah korban meninggal akibat Covid 19 yang termasuk angka minimum? Apakah pemerintah mampu mengambil langkah-langkah baru agar bisa lebih efisien dan efektif dalam penanganan korban Covid-19 dengan tetap menjaga perekonomian tumbuh di kisaran 4%?

Diyakini masih ada alternatif terbaik walau memerlukan kajian secepatnya dan mendalam sebelum diimplementasikan. Mereka yang potensial mengalami korban meninggal, yaitu orang-orang yang memiliki daya tahan – antibody rendah, terutama lansia dan pengidap penyakit menahun, perlu diisolasi jika masuk ODP atau dirawat jika masuk PDP. Sedangkan yang memiliki daya tahan dan antibody cukup kuat biar tetap melakukan aktivitas sepanjang tetap sehat karena antibodinya mampu membunuh virus yang masuk ke dalam tubuhnya dalam tempo 2 – 3 minggu.

Virus Covid 19 telah menyebar secara global. Jumlah pasien kasus corona di seluruh dunia (200 negara) per 31 Maret 2020 mencapai 785.797 kasus. Dari jumlah tersebut 165.659 dinyatakan sembuh, dan 37.818 meninggal dunia. Meski banyak korban tertular hingga meninggal dunia, tetapi ada berita menggembirakan, bahwa jumlah korban meninggal dunia rata-rata di sekitar angka 3% – 10% dari jumlah yang tertular. Sejumlah 90% – 97% dapat kembali sembuh sehat.

Dari pengalaman berbagai negara, kebijakan yang diambil dalam menanggulangi penyebaran Covid-19 berbeda-beda. Perbedaan terutama dengan mempertimbangkan titip ekuilibrium yang optimal antara kepentingan pertumbuhan ekonomi dan resiko kemanusiaan akibat Covid-19. Pilihan masing-masing negara cukup berbeda. Sebagian besar memilih untuk mengisolasi ODP, dan merawat PDP tanpa membedakan usia atau kekuatan antibody si korban.

Keterbatasan fasilitas dan tenaga medis menjadi persoalan dunia. New York hanya memiliki sekitar 54.000-an ruang rawat inap dan emergrncy – ICU, sementara yang dibutuhkan lebih dari 100.000 kamar, sehingga terpaksa membangun baru dan memanfaatkan gedung yang ada. Biaya penanganan seperti ini akan sangat besar. Turkey menyediakan lebih dari US$ 15 miliar khusus untuk penanganan Covid-19. Sebagian negara menerapkan lockdown.

Semua kebijakan itu akan membebani perekonomian. Langkah ini tidak akan memperhatikan efisiensi, efektivitas, dan opportunity cost setiap dana yang dikeluarkan. Karena korban meninggal akan cukup banyak. Terutama dari kalangan Lansia dan pengidap penyakit kronis, yang notabene orang-orang yang memiliki antibody rendah.

Yang menarik respon pemerintah Israel yang disampaikan Menteri Pertahanan yang ditunjuk sebagai panglima perang melawan Covid 19. Menteri Pertahanan Israel menyampaikan konsep berbeda dan bertolak belakang dengan kebijakan banyak negara lain. Dalam narasinya dia mengasumsikan data penduduk dalam 2 katagori. Pertama, penduduk usia muda yang memiliki antibody kuat sekitar 80% dari total penduduk negara. Sedangkan sisanya 20% memiliki antibody yang relatif lemah. Mereka terdiri dari Lansia dan usia muda yang mengidap penyakit.

Dengan asumsi tersebut, maka sebagian dari penduduk yang 80% diperkirakan akan tertular virus Covid-19 karena tetap normal melakukan aktivitasnya, tetapi mereka tidak bermasalah karena antibodinya mampu membunuh virus tersebut jika masuk ke dalam tubuhnya. Mereka tidak perlu dibawa ke RS. Diperkirakan mulai hari ke 7 antibodinya mulai membunuh virusnya hingga pada hari ke 16 bersih total dari virus Covid-19 dan yang bersangkutan tetap sehat wal’afiat, tidak perlu dijadikan PDP atau dirawat di RS. Mereka tidak akan mengalami gejala apapun. Hanya perlu menjaga stabilitas kesehatannya hingga dalam waktu 2 – 3 minggu.

Bagaimana dengan katagori kedua penduduk yang 20%? Mereka harus mengisolasi diri di rumah dan secara fisik tidak boleh dekat dengan yang 80% (termasuk dengan anak dan cucu). Jika mereka ada yang diduga terpapar, maka mereka boleh dimasukkan sebagai ODP untuk diisolasi atau PDP bagi mereka yang membutuhkan perawatan di RS khusus. Mereka harus diberikan obat-obatan yang memperkuat antibody. Yang di rumah dan tidak terpapar juga perlu diberikan kemudahan mendapatkan obat-obatan dan makanan untuk memperkuat antibody. Sehingga RS khusus tersebut hanya diisi oleh orang-orang yang masuk katagori PDP dari kelompok penduduk yang 20%, bukan dari penduduk yang 80%. Sehingga pemerintah bisa lebih fokus, dan korban jadi minimal.

Jadi, penduduk yang masuk katagori 80% bisa saja bebas bekerja untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan respon yang tepat, diperkirakan dalam tempo 1 – 2 bulan seluruh penduduk yang 80% akan terpapar virus tetapi sudah kembali sehat karena antibody, sementara yang 20% tidak sempat tertular dan tetap sehat. Sedangkan yang diduga positif terpapar Covid-19 barangkali sudah banyak kembali sehat dari RS, karena penanganannya lebih bagus dan realistis.

Jika kebijakan seperti ini diambil maka diyakini perekonomian juga tidak akan banyak terkena dampak negatifnya. Sementara jumlah korban meninggal akibat Covid- 19 akan sangat minimal. Sebaliknya, sebagaimana respon banyak negara termasuk Indonesia, jika setiap orang yang terpapar virus dimasukkan sebagai ODP dan PDP tanpa membedakan 2 katagori tersebut di atas, maka jumlah korban terpapar tidak akan banyak yang bisa ditangani karena terbatasnya fasilitas dan tenaga medis di RS. Sehingga akan banyak korban Covid-19 yang meninggal, terutama dari kelompok yang 20%  – Lansia dan orang mengidap penyakit kronis.

***

Secara sederhana kita sepakat, bahwa masyarakat terbagi dalam dua kelas sosial yang besar, yaitu kelas menengah dan kelas miskin – berkekurangan. Katagori ini diturunkan dari analisis kelas Marxisme yang sangat popular itu. Borjuis dan proletar. Agama memperkenalkan istilah si kaya dan si miskin atau berkekurangan. Katagori ini boleh saja diperdebatkan batasannya. Tetapi kali ini bisa digunakan untuk melihat respon dua kelas sosial yang berbeda terhadap virus Covid-19.

Faktanya, Covid-19 adalah penyakit kelas menengah – atas. Kelompok yang tertular dan menularkannya kali pertama adalah warga kelas menengah. Virus ini menyebar melalui relasi internasional kelompok elite. Atau, paling tidak, adalah mereka yang telah pulang dari perjalanan internasional seperti umrah. Pasien-pasien awal bertipikal ini. Sebagai contoh, pasien 01 dan 02 di Indonesia adalah seorang seniman tari di Indonesia yang cukup terkenal. Dia terpapar oleh koleganya dari Jepang.

Menariknya, dalam kasus 01 dan 02, pembantu pembantu – sekretaris rumah tangganya justru negatif dari virus Covid-19 tersebut. Contoh ini semakin terlihat  kebenarannya Ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, juga terpapar, plus sejumlah pejabat tinggi di level pemerinrtahan kabupaten kota seperti; Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Bupati Karawang,dr. Cellica Nurrachadiana, Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana, Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri.

Juru bicara pemerintah RI untuk kasus Covid-19 Achmad Yurianti mengatakan Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan (Menhub) RI dirawat karena positif terjangkit virus corona. Yurianto juga mengatakan, untuk meningkatkan kewaspadaan, telah dilakukan pemeriksaan kepada menteri dan pejabat yang hadir dalam rapat tersebut. Pemeriksaan terhadap para pejabat tersebut telah dilakukan di RSPAD Gatot Subroto. Dalam dua pekan terakhir Menhub Budi Karya sebelumnya sempat mengikuti rapat di Istana Kepresidenan Jakarta pada tanggal 4 dan 11 Maret 2020.

Covid-19 sampai sekarang masih menjadi masalah global di berbagai negara. Wabah virus yang sudah dinyatakan oleh WHO (Wordl Health Organization) sebagai pandemi sudah menyerang 152 negara termasuk Indonesia (data per 18 maret 2020). Dan bisa menyerang siapa saja dan tak pandang bulu, banyak dari negara yang telah positif terjangkit virus Covid-19 sudah melakukan aksi lock down atau menutup negara mereka dan melakukan isolasi di rumah, demi memutuskan rantai penularan Covid-19 agar tidak semakin meluas.

Dari sekian banyak masalah dan isu terkait virus Covid-19 yang kini sedang jadi topik panas di dunia. Salah satu yang juga paling banyak dibicarakan adalah berita mengenai beberapa orang penting hingga artis hollywood yang telah dikonfirmasi positif terjangkit Covid-19. Dikumpulkan dari berbagai sumber, berikut deretan pejabat hingga artis yang telah dikonfirmasi terjangkit virus Corona di dunia:

Tom Hanks (63) mengumumkan di akun twitter pribadinya (12/3) bahwa dia dan istrinya Rita Wilson telah didiagnosis coronavirus. Sebagai artis hollywood pertama yang secara terbuka mengakui dirinya terjangkit virus ini, Tom Hanks menulis di twitternya bahwa dia dan istri terjangkit Covid-19 di Australia untuk menghadiri acara penghargaan film di Sydney Opera House. Tom Hanks pun juga membagikan berbagai gejala yang dirasakannya selama mengisolasi dirinya dan istri sejak dinyatakan positif terjangkit Covid-19.

Setelah Tom Hanks, Olga Kurylenko jadi selebriti kedua yang positif terjangkit virus Corona. Melalui akun Instagramnya, Olga memberitahu jika sedang mengisolasi dirinya sendiri usai positif COVID-19.  Bond Girl di seri Quantum of Solace dalam unggahannya menulis jika dirinya positif terjangkit virus Corona setelah melakukan tes. Dia menjelaskan jika seminggu terakhir merasakan demam dan kelelahan.

Aktor Hollywood Idris Elba membuat pengumuman mengejutkan Senin (16/3) melalui akun media sosialnya. Aktor 47 tahun itu mengatakan bahwa ia positif virus Covid-19. “Pagi ini saya dinyatakan positif Covid-19,” tulis Idris Elba dalam pernyataannya di akun Twitter resmi @idriselba. “Saya merasa baik-baik saja, tidak ada gejala sejauh ini tapi telah diisolasi sejak saya tahu kemungkinan saya terpapar virus,” imbuhnya. Tidak disebutkan bagaimana dirinya bisa terpapar virus yang pertama kali muncul di Kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok ini.

Istri Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau Sophie Trudeau (45 tahun) dinyatakan terjangkit COVID-19. Ia didiagnosis coronavirus 12 Maret 2020. Sophie Gregoire Trudeau dikonfirmasi positif terinfeksi virus Covid-19 pihak pihak kantor Trudeau sendiri. Sebagai tindak pencegahan, Sophie sudah melakukan isolasi diri selama 14 hari sesuai dengan yang disarankan. Sebelumnya dia sempat menyampaikan pidato pada konferensi WE UK Day di London pada 4 Mare4 2020. Dia pun menunjukan gejala seperti flu setelah kepulangan dari acara di London tersebut.

Mikel Arteta, dinyatakan positif terinfeksi virus corona jenis baru Coid-19. The Gunners mengumumkan kabar mengejutkan tersebut pada Kamis (12/3) atau Jumat pagi WIB. Dinyatakan positif virus Covid-19 pelatih berkebangsaan Spanyol tersebut mengaku kecewa namun Dia berjanji bakal segerea kembali setelah dinyatakan sembuh. “Ini benar-benar mengecewakan tetapi saya mengikuti tes setelah merasakan hal yang buruk . Saya akan berada di tempat kerja segera setelah saya diizinkan.”

Bek tengah Juventul, Danieli Rugani (25) bek asal Italia dikonfirmasi posisitf mengidap virus Covid-19. Hal ini disampaikan langsung oleh pihak dari Juventus sendiri pada 11 Maret 2020. Klub Juventus mengatakan bahwa Rugani telah didiagnosis positif corona namun untuk saat ini belum menunjukkan gejala-gejalanya. Karena terdapat pemainnya yang sudah positif terjangkit. Juventus akhirnya membatalkan seluruh kegiatan mulai dari latihan hingga pertandingan dan mewajibkan seluruh pemainnya dan staf untuk karantina. Rugani adalah pemain Serie A pertama yang didiagnosis positif terinfeksi virus Covid.

NBA memutuskan untuk menunda seluruh pertandingan karena salah satu pemainnya Rudy Gobert telah positif terkena virus corona. Dilansir dari NBA.com, Rudy Gobert sebenarnya tidak ada di Chesapeake Energy Arena, markan Oklahoma City Thunder. Meski begitu, NBA tetap mengambil langkah waspada. Sampai saat ini, pihak NBA belum bisa memberikan informasi yang pasti mengenai kapan NBA akan bergulir lagi. NBA mengutamakan kesehatan para pemain dan staff sebagai alasan utama dari penundaan. NBA juga mengatakan akan terus memantai status penyebaran Covid-19 yang sudah dinyatakan pandemik oleh WHO.

Shooting guard klub NBA Utah Jazz berusia 23 tahun ini positif virus corona COVID-19, warga negara Amerika Serikat didiagnosis pada 11 Maret 2020. Pada akhir Februari, Wakil Presiden Iran Masoumeh Ebtekar didiagnosis positif terjangkit virus Covid-19. Masoumeh sendiri dinyatakan sebagai anggota kabinet Presiden Iran Hassan Rouahani yang pertama dinyatakan positif terinfeksi Cpvid-19. Waki menteri kesehatan Iran, Iran Haririch menyatakan sendiri bahwa dirinya telah positif terjangkit coronavirus satu harus setelah dikabarkan mengalami demam saat konfersi pers. Dalam sebuah video yang dia unggah di media sosial, dia mengatakan bahwa dia harus diisolasi karena positif terjangkit Covid-19. Sebelumnya, dalam sebuah konfersi pers, Haririchi memang terlihat batuk-batuk.

Nadine Dorries adalah anggota parlemen pertama Inggris yang terinfeksi Covid-19. Seperti yang telah dikutip dari BBC, Dorries mengatakan sudah melakukan berbagai tindak pencegahan yang diketahuinya setelah mengetahui dirinya terinfeksi dan telah mengisolasi dirinya di rumah. Dia pun mengatakan sebelumnya dia baru saja menghadiri resepsi di kediaman resmi Perdana Menteri Bors Johnson 2 hari sebelum dinyatakan positif Corona.

Franck Riester dinyatakan positif terinfeksi oleh salah satu media berita Perancis, Reuters pada 3 Maret 2020. Franck terjangkit karena telah melakukan kontak dengan orang-orang di parlemen Perancis yang terinfeksi virus ini. Diberitakan, sebanyak 5 anggota parlemen Perancis telah terinfeksi virus Covid-19. Dan Menteri Kesehatan Olivier Veran pun memberikan update mengenai kondisi Franck Riester masih baik-baik saja dan sedang menjalani proses isolasi dirumahnya.

Hudson-Odi mengatakan dalam video yang diunggahnya di media sosial pribadinya bahwa dia telah terinfeksi virus selama beberapa hari, namun tidak perlu khawatir karena kondisinya berangsur pulih. Hudson-Odi juga mengatakan dia benar-benar mengikuti pedoman kesehatan yang diterimanya dan mengisolasi dirinya dari semua orang selama seminggu dan berharap bisa kembali bertanding dalam waktu dekat setelah benar-benar dinyatakan sembuh dari coronavirus.

Nah, yang panik dan merespon dengan semangat juga kelas menengah. Misalnya, teriakan “sosial distancing” atau “lock down” adalah teriakan-teriakan kelas menengah. Bahasa asing yang digunakan semakin menegaskan watak sebagai kelas menengah. Mereka saling mengingatkan untuk “menjauhi” virus ini dengan mengubah tindakkan sosial dari intim menjadi berjarak.

Kapanye sosial distancing bergema di kalangan sesame kelas menengah. Gerakkan sunyi dan pendekatan spiritual yang bersifat individual juga menggema dari kelas menengah. Para agamawan kelas menengah pun kompak untuk meniadakan sholat Jumat. Tjuannya jelas, hifdzun nafs, tentu yang dimaksud adalah nafs kelas menengah. Tampak dengan jelas, bahwa kelas menengah adalah kelompok sosial yang paling rawan, dan sekaligus paling ketakutan menghadapi virus Covid-19 ini.

Gerakkan ini tampak cukup sukses di kalangan kelas menengah. Kampus, sekolah kantor, bahkan masjid dan gereja ditutup. Mall hotel coffe shop – warkop tempat kelas menengah berkumpul menjadi sepi. Bahkan banyak mall atau pusat belanja tutup sementara. Tanpa perintah tutup pun, mall pasti tutup. Sebab pengunjung mereka adalah dari kalangan kelas menengah yang sedang mengurung diri di rumah. Justru mereka akan mengalami kerugian besar apabila memaksakan tetap buka. Mereka akan kesulitan menanggung beban operasional tanpa dibarengi pemasukan. Pilihan tutup sementara adalah pilihan yang sangat rasional dari sudut pandang bisnis.

Dasar kelas menengah. Gerakkan sosial distancing mulai dibarengi dengan panic buying – memborong segala keperluan untuk mencukupi hidup mereka selama 14 hari. Masker, hand sanitizer, vitamin C ludes dari pasar. Para kelas menengah memburu semua resources untuk menyelamatkan diri tanpa mempedulikan warga kelas bawah berpenghasilan pas-pasan. Bahkan mereka tidak punya penghasilan tetap seperti buruh pekerja harian.

Dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki mereka “mengurung diri” di rumah dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus. Para “penghuni” kelas menengah ini kemudian tampil di media sosial sebagai pejuang dan petarung dengan cara nikmat tidur-tiduran dan bersenda-gurau dengan keluarga. Kalau bosan, membuat Youtube dan membuat status heroic di Facebook (FB).

Kelas menangah tanpa sadar menciptakan dan memelihara “suasana horror”. Satu data tambahan positif covid segera dialirkan melalui berbagai grup WA. Suasana “horror” semakin tercipta, dan warga kelas menengah semakin ketakutan. Sikap penghuni kelas mengah yang sedang mencari selamat ini terancam dengan sikap acuh kelompok kelas bawah. Kaum “proletar” ini sama sekali tidak terpengaruh dengan virus Covid-19. Suasana perkampungan tetap berlangsung normal.

Virus ini tidak mengubah perilaku sosial untuk mengurung diri. Sebagian dari kelas bawah ini justru mentertawakan ketakutan kelas menengah terhadap virus ini. Mengawa kelas bawah terliha santai? Bagi mereka virus Covid ini adalah penyakit elite. Dan para elit itu tidak banyak bergaul dengan rakyat kecuali untuk kepentingan yang bersifat politis. Jika jawaban dari virus ini adalah social distancing, maka mereka pasti selamat. Bukankah jarak social distance sudah lama terjadi. Kaum kelas menengah tidak pernah benar-benar menjalin hubungan sosial kecuali untuk kepentingan politik ekonomi, dan ritual keagamaan.

Bukankah sebagai kelas menengah, waktunya sudah tersita oleh kesibukan yang diciptakan sendiri melalui rekayasa sistem ekonomi kapitalisme? Bukankah mereka hanya bertemu dengan tetangga atau orang miskin ketika datang menawarkan sayuran, ikan, atau undangan pernikahan, akikah, dan kematian?

Alasan lain, warga kelas bawah sudah lama hidup dalam kekawatiran karena ekonomi. Ancaman untuk kelaparan dan tidak mendapatkan penghasilan adalah ancaman klasik, yang sudah mereka rasakan bertahun-tahun. Untuk bertahan hidup, warga kelas bini sudah terbiasa “berdamai” dengan penyakit yang ada dalam tubuh. Demam, flu, batuk dapat sembuh asalkan masih bisa berkeringat, mengangkat batu, mereka pasti keluar rumah. Tinggal di rumah sama saja mempercepat kematian. Pilihan satu-satunya adalah keluar rumah, dan mengais di tengah ketidakpastian.

Jadi, ketika kampanye social distancing mulai menggema dari kelas menengah, mereka hanya tertawa dan mengumpat. Kira-kira begini suara hati mereka, “Woi, kalian minta kami tetap tinggal di rumah dengan segala bahasa asingmu untuk menyelamatkan jiwa kalian, tetapi kami semua akan mati di rumah, siapa yang peduli kami?” Jadi, apabila warga kelas menengah ini benar-benar menginginkan sosial distancing  berjalan, hal yang perlu dilakukan bukanlah stay at home saja tetapi juga mengaktifkan jaminan sosial.

Setiap warga kelas menengah harus bergerak untuk memastikan satu keluarga miskin – berkekurangan tidak meninggal dunia karena kelaparan dalam kurun waktu social distancing dengan cara menjamin hidupnya. Jika egoism kelas masih bertahan dengan memperhatikan keselamatan sendiri, maka apa yang bisa menahan kelas bawah untuk tetap di rumah sambil menahan perus kelaparan? Jangankan untuk membeli masker dan hand sanitizer yang harganya membubung tinggi. membeli beras saja mereka belum tentu bisa.

Yang paling kasihan dari dampak virus C 19 ini adalah orang berkekurangan dan berpenghasilan rendah pun tidak. Jumlahnya cukup besar, puluhan juta orang. Banyak pedagang kecil jualan keliling yang kehilangan pembeli. Warung-warung pun sepi pengunjung. Toko kelontong banyak yang kehabisan dagangan tetapi uang untuk belanja lagi tidak cukup karena harganya sudah naik. Pada saat yang sama mereka yang paling rentan terkena dampak karena tidak punya pilihan social distanding dan berkurangnya penghasilan dengan drastis. Pekerja pabrik yang dihadapkan pada pilihan yang terkadang bagaikan buah simalakama.

Yang dilakukan pemerintah ada beberapa pilihan, namun harus melihat mana yang paling memungkinkan untuk dilakukan segera dan ketersediaan dana. Misalnya, bantuan langsung tunia (BLT). Indonesia sudah punya pengalaman ini, dan bisa dilakukan dengan cepat. Kemudian mendorong orang-orang yang belum ikut BPJS untuk ikut BPJS, bisa dengan memberikan insentif potongan beberapa bulan seharga premi kelas 3, dan ini nantinya bisa menaikan jumlah kepersertaan dan iuran yang terkumpul dari BPJS setelah badai ini sirna.

Bisa juga bantuan pangan non tunai ditambah jumlah beras yang didapat, ditambah lagi untuk sabun dan jika memungkinkan sejumlah kecil masker untuk emergency. Listrik untuk 450 dan 900 VA digratiskan beberapa bulan. Pendapatan tidak kena pajak dinaikan. Pajak untuk UMKM juga ditiadakan untuk beberapa bulan. Itu hanya beberapa contoh kecil kebijakan yang bisa diambil oleh pemerintah.

Sedangkan dari masyarakat, hendaknya juga bisa aktif berpartisipasi misalnya, memberikan sedekah dan zakat atau persepuluhan sekarang, istilah lain peduli sesama tidak harus menunggu Paskah atau Natal. Bisa gunakan grup WA antar tetanggan, lingkungan, antar profesi, antar kelompok alumni, SMA, Perguruan Tinggi untuk saling memberikan semangat mengajak membantu yang lain.

Mengumpulkan nomor telpon tukang sayur, tungkang buah, tukang roti, tukang makanan di sekitar lingkungan kita, toko kelontong ajak untuk memerikan service delivery ke lingkungan kita, dan bayar sedikit lebih. Kegiatan ini bisa menjadi simbosia mutualisme.  Memberikan tips lumayan dermawan untuk Ojol yang telah membantu.

Menggunakan grup WA untuk mendata siapa yang patut diberi dukungan rezeki agar sediti teringankan beban kehidupannya. Setidaknya adalah tetangga terdekat yang pasti diketahui keberadaan kondisi ekonomi sebenarnya. Termasuk penjaja makanan yang biasanya lewat, pembuang sampah lingkungan atau petugas kebersihan atau tetangga yang berkekurangan. Juga tidak kalah penting, memastikan tidak ada warga – tetangga yang mengalami kelaparan dengan memberikan bantuan makanan; beras, sabun cuci dan sebagainya.

Bersama menggunakan circle of influence kita untuk saling berbagi nasehat akan informasi yang benar, berbagi nasehat tentang kesabaran dan kasih sayang. Memberikan perhatian dan hadiah, menyediakan kebutuhan untuk perawat dan tenaga medis lainnya yang berjuang di garda terdepan.

Sedangkan yang bisa dilakukan para pengusaha, memproduksi kebutuhan sanitasi dan alat pelindung diri dengan menjualnya secara wajar, dan harga peduli. Karena dalam situasi kronis, bukan saatnya untuk mengejar profit – keuntungan. Jual dengan harga wajaar, agar yang menjual dengan harga selangit menjadi jera. Para pengusaha perlu memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk melakukan social distancing. Memberikan gaji ke-13 atau ke-14 sekarang, tidak perlu menunggu saat lebaran atau Natal seperti biasanya.

Para pengusaha khususnya yang bergerak di bidang produksi perlu fokus dan terus berinovasi mengembangkan apa yang bisa dilakukan untuk bisa meningkatkan kapasitas produksinya guna memenuhi apa yang laing dibutuhkan. Apa prosedur yang bisa lebih efisien dan efektif. Indentifikasi gap yang dimiliki dalam hal ketrampilan. Situasi saat ini tepat mendorong para karyawan untuk belajar meningkatkan ketrampilan lewat online learning – belajar dari internet.

Bagi para pengusaha saatnya melakukan CSR masal kerja sama bagaimana bisa menolong lebih banyak orang yang berkekurangan dan rentan, serta menolong pemerintah dalam memastikan kesiapan supply side. Jika kita melakukan sendiri-sendiri, bagaikan setetes air. Sedangkan jika kita bersama-sama, bisa menjadi gerimis di pagi hari dapat memekarkan bunga. Saatnya sekarang kita kampanyekan; “Mari berbagi. Selamatkan hidup mereka  untuk menyelamatkan hidupmu!” (adit – my- ag)

This entry was posted in Sajian Khusus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *