Pertumbuhan Ekonomi Terselamatkan Laju Investasi

Banyak Negara berkembang di dunia ini yang sudah berhasil menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Negara itu sendiri, tetapi permasalahan dalam Negara itu sendiri pun masih banyak yang belum terselesaikan, seperti contohnya : pengangguran, tingkat kelahiran yang sangat tinggi, minimnya tenaga ahli, dan susahnya mendapatkan tempat untuk bekerja. Keadaan ini pun menjadi sorotan oleh ahli ahli ekonomi dengan permasalahan ‘pembangunan bukanlah arti dari pembangunan’.

A worker carries a sack of rice at the central rice market in Jakarta November 20, 2012. Indonesia has drafted a food law to speed self-sufficiency efforts by creating a new “super body” that could lead to greater curbs on imports and exports of staples, hinder much-needed overseas investment and eventually push up prices. REUTERS/Enny Nuraheni (INDONESIA – Tags: BUSINESS FOOD POLITICS)

Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi sering kali dikaitkan dengan suatu hal yang sama oleh beberapa ahli ekonomi, tetapi pada dasarnya dua hal itu berbeda pengertiannya. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi maka akan ada pembangunan ekonomi itu sendiri di mana dengan pertumbuhan ekonomi itu sendiri akan memunculkan pembangunan pembangunan ekonomi.

Perubahan-perubahan pada berbagai sektor ekonomi tersebut akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan ekonomi, yang ditandai dengan naiknya produksi nasional, pendapatan nasional, dan pendapatan per kapita. Situasi semacam itu akan berlangsung secara terus-menerus.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,06% secara tahunan pada kuartal I 2018 disumbang oleh pertumbuhan investasi. Bahkan, pertumbuhannya lebih signifikan dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang relatif stagnan dibandingkan kuartal I 2017. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sumbangan ekonomi dari investasi meningkat drastis dari 1,53% pada kuartal I 2017 menjadi 2,54% pada kuartal I 2018. Bahkan, sumbangannya juga naik dari 2,45% dibandingkan kuartal IV 2017. Hal ini lantaran pertumbuhan investasi mencapai 7,95% sepanjang Januari-Maret 2018. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Januari-Maret 2017 sebesar 4,77%, dan Oktober-Desember 2017 yang sebesar 7,27%.

Tercatat, investasi dari domestik dan asing mencapai Rp185,3 triliun pada kuartal I 2018. Realisasi itu tumbuh 11,8% dari kuartal I 2017. Pertumbuhan investasi didorong oleh hampir seluruh jenis barang modal. Misalnya, pertumbuhan barang modal jenis mesin yang dipengaruhi oleh meningkatnya produksi domestik dan impor. Selain itu, pembangunan infrastruktur di daerah masih berlangsung, baik yang baru dan lanjutan.

Berdasarkan komponen, suntikan investasi tertinggi mengalir ke komponen mesin dan perlengkapan. Hal ini terlihat dari tingginya pertumbuhan investasi ke komponen tersebut, yakni mencapai 23,72% pada kuartal I 2018 dari 22,31% di kuartal IV tahun 2017 dan 1,21% pada kuartal I tahun 2017. Lalu investasi ke komponen kendaraan tumbuh 14,37%, peralatan lainnya 17,81%, bangunan 6,16%, dan produk kekayaan intelektuial 1,22%.

Pertumbuhan investasi yang ‘tokcer’ ini berhasil mengimbangi pertumbuhan dan kontribusi yang stagnan dari komponen konsumsi rumah tangga dan pemerintah. Tercatat, kontribusi konsumsi rumah tangga bertahan di angka 2,72% dari kuartal I 2017 ke kuartal I 2018. Begitu pula dengan konsumsi pemerintah, yang hanya menyumbang 0,16% ke pertumbuhan ekonomi.

Untuk konsumsi rumah tangga, sebenarnya masih menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi, yakni mencapai 56,8%. Namun, pertumbuhannya hanya naik tipis dari kuartal I 2017 sebesar 4,94% menjadi 4,95% pada kuartal I 2018. Sedangkan bila dibandingkan dengan kuartal IV 2017, pertumbuhannya justru melambat karena sebelumnya telah menyentuh 4,97%.

Diduga pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi lebih rendah. Misalnya, konsumsi untuk makanan dan minuman hanya tumbuh 5,12% dari 5,24% pada Januari-Maret 2017. Lalu, pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan hanya 5,43% dari 6,09% dan transportasi dan komunikasi hanya 4,92% dari 5,3%.

Nah, konsumsi yang melambat untuk komponen tertentu, dialihkan oleh masyarakat untuk konsumsi pada komponen lain. Persentase pendapatan yang digunakan untuk konsumsi lebih rendah bila dibandingkan kuartal I 2017. Uangnya untuk apa? Ada yang ditabung, ada yang untuk investasi. Hal ini terlihat dari meningkatnya konsumsi restoran dan hotel yang naik dari 5,4% menjadi 5,56%, konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya dari 3,29% menjadi 5,09%, dan konsumsi perumahan dan perlengkapan rumah tangga naik dari 4,06% menjadi 4,57%.

Kendati begitu, konsumsi rumah tangga sebenarnya masih cukup baik bila dibandingkan dengan kuartal I 2017.

RENCANA DAGING KERBAU: Sejumlah pembeli daging sapi terlihat sedang memilih daging sapi yang bagus di Pasar Modren BSD, BSD, Senin (5/9). Pemerintah akan melakukan Impor daging kerbau asal India yang bertujuan untuk menekan harga daging sapi yang masih mahal dan pemerintah ingin konsumsi daging Indonesia meningkat dari sekarang 2,5 kg/kapita, jauh dibandingkan Malaysia 35 kg/kapita. DemySanjaya/Tangselpos

Pasalnya, bila dilihat lebih riil, ada peningkatan konsumsi meski hanya 0,01% lantaran derasnya aliran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Bansos tunai dari pemerintah tumbuh 87,61%, lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2017 yang hanya tumbuh 2,86%. Peningkatan bansos tersebut menjadi indikasi bahwa konsumsi pemerintah juga meningkat, meski kontribusinya relatif stagnan seperti halnya konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, pertumbuhan indikator ekspor tumbuh 6,17%, namun sumbangan bersihnya (net ekspor) justru minus 1,33% lantaran dikurangi oleh pertumbuhan impor yang mencapai 12,75%. Sedangkan konsumsi lembaga non profit dan pendukung rumah tangga tumbuh 8,09%. Sumbangan net ekspor terkontraksi lantaran surplus neraca perdagangan menipis bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada tiga bulan pertama tahun ini, surplus hanya sekitar US1,09 miliar, lebih rendah dari Januari-Maret 2017 mencapai US$4,09 miliar.

Hal ini lantaran nilai ekspor Indonesia sebesar US$44,27 miliar dan nilai impor mencapai US$43,98 miliar pada Januari-Maret 2018. Secara keseluruhan, laju pertumbuhan kuartal I 2018 lebih tinggi bila dibandingkan kuartal I 2017 yang hanya 5,01%. Namun, masih lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2017 yang mampu tumbuh hingga 5,19%. Angka itu juga jauh di bawah ekspektasi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa menyentuh angka 5,2% pada tiga bulan pertama di tahun ini.

Peningkatan konsumsi rumah tangga meskipun terbatas, masih dipengaruhi oleh faktor musiman Idul Fitri serta liburan sekolah. Namun, kenaikan memang belum signifikan lantaran pada dasarnya uncertainty masih menghantui gairah konsumen dan produsen. Itu tercermin dari pertumbuhan kredit bank yang hanya 7,6%. Dunia usaha semakin optimis konsumsi masyarakat jelang Lebaran 2018 semakin optimis, terutama setelah bantuan sosial dan pencairan Tunjangan Hari Raya.

Konsumsi rumah tangga Lebaran tahun ini berpotensi lebih baik dari tahun lalu. Hal itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang memang berniat mendongkrak konsumsi masyarakat. Salah satunya, pemerintah menggelontorkan bantuan sosial untuk mengerek konsumsi masyarakat golongan menengah ke bawah. Penerima Program Keluarga Harapan (PKH), misalnya dipatok sebanyak 10 juta Kepala Keluarga (KK) dari sebelumnya hanya 6 juta KK.

Tak tanggung-tanggung, data Kementerian Keuangan menyebut belanja sosial pemerintah hingga April 2018 mencapai Rp30,7 triliun atua 57,3% dari pagu anggaran tahun ini. Seiring dengan banyaknya duit yang mengalir untuk bantuan sosial tersebut, konsumsi masyarakat golongan menengah ke bawah diyakini membaik. Hal itu tercermin dari peningkatan penjualan toko-toko tradisional dan swalayan pada April dan Mei. Konsumsi masyarakat pada kuartal kedua ini juga diyakini masih berlanjut, terutama setelah Presiden Joko Widodo meneken aturan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pensiunan.

Pedagang melayani pembeli ayam potong di pasar pagi Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Sabtu (4/6). Pada perayaan tradisi meugang kecil menyambut Ramadan 1437 H, permintaan daging ayam potong meningkat hingga mendorong kenaikan harga mencapai Rp70.000 per ekor dari harga biasanya Rp45.000 per ekor. ANTARA FOTO/Rahmad/foc/16.

Anggaran THR pun tak main-main, sebesar Rp35,76 triliun. Artinya, terjadi peningkatan pada jumlah THR yang diterima PNS. Kementerian Keuangan menyebut peningkatan penerimaan THR para abdi negara mencapai 69%. Optimistis pertumbuhan konsumsi masyarakat tahun ini bakal membaik. Membaiknya konsumsi masyarakat ini tentu akan berdampak ke kinerja sektor ritel. Setelah tahun lalu cuma meraup pertumbuhan 5 persen, ia percaya pertumbuhan ritel tahun ini bisa mencapai double digit ke 15%- 20%.

Faktor lain yang mendongkrak peningkatan konsumsi pada kuartal kedua, yakni Lebaran 2018 jatuh pada Juni. Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan Lebaran jatuh pada Juli atau memasuki kuartal ketiga. Di akhir tahun nanti, sebetulnya, pemerintah masih memiliki harapan untuk membuat pertumbuhan konsumsi menjadi 6%. Tujuannya, yaitu agar pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,2% -5,3%. Konsumsi pada kuartal kedua ini juga akan membaik dibandingkan tahun lalu. Namun, faktor musiman seperti Idul Fitri dan kebijakan anggaran pemerintah yang mendorong geliat konsumsi.
Selain itu, berkaca pada survei konsumen Bank Indonesia April 2018 yang menunjukkan bahwa indeks keyakinan konsumen yang berada pada posisi 122,2 atau naik 0,6 poin dari posisi bulan sebelumnya, yaitu sebesar 121,6.

Jika konsumen semakin optimis, maka pertumbuhan konsumsi di kuartal II ini bisa saja lebih besar dari 5%. Hanya saja, patut diingat, proyeksi pertumbuhan konsumsi yang moncer bisa terhalang oleh depresiasi rupiah. Sebab, depresiasi bisa bikin harga kebutuhan impor melejit, utamanya bahan pangan. Jika kebutuhan primer golongan masyarakat berpendapatan rendah tidak baik, maka mereka juga tidak bisa melanjutkan konsumsi untuk kebutuhan sekunder.

Terlebih, depresiasi rupiah di tahun ini cukup dalam. Data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah keok 3,62% terhadap dolar dalam lima bulan terakhir. Padahal, pada periode sama tahun sebelumnya, rupiah menguat 1,11% terhadap dolar. Kalau melihat faktor yang mendominasi konsumsi, rasa yang dominan kurs di situ. Tekanan yang meningkat membuat pertimbangan konsumen. Namun, secara keseluruhan, pertumbuhan konsumsi pada kuartal II ini lebih optimistis.

Penyaluran pinjaman kredit mikro melalui platform fintech meningkat signifikan menjelang puasa dan lebaran.‎ Pinjaman tersebut sebagian besar digunakan untuk konsumsi. Peningkatan penyaluran kredit konsumsi tersebut salah satunya dialami oleh ‎platform Uang Teman. Penyaluran tersebut ada dua yaitu untuk pegawai dan pelaku usaha. Sebanyak 70% pembiayaan Uang Teman disalurkan untuk pegawai. Jumlah pinjaman nasabah musim puasa dan lebaran ‎melonjak karena kebutuhan meningkat baik untuk konsumsi maupun usaha.

Meminjam melalui platform lending mulai diminati masyarakat karena prosesnya mudah dan cepat. Verifikasi data dilakukan secara daring dan bisa langsung dicairkan esok harinya. Jumlah pinjaman memang mikro, maskimal Rp3 juta dengan tenor pendek sekitar 10 sampai 30 hari sudah dikembalikan. Diperkirakan, tahun ini, 2018 pertumbuhan kredit mikro Uang Teman bisa meningkat dari Rp130 miliar pada tahun 2017 menjadi Rp1 triliun. Hal itu didukung oleh peningkatan jumlah nasabah dan kampanye agresif yang dilakukan perusahaan. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui platform mikro lending seperti Uang Teman.
Pemerintah diminta mencermati gejala kenaikan harga kebutuhan pokok di berbagai daerah dan meresponsnya. Sebab, pasar sudah merespons persiapan masyarakat, menyongsong Idulfitri dengan kenaikan harga sejumlah komoditas. Sepanjang bulan suci Ramadan, ada perkiraan bahwa harga daging sapi dan daging ayam akan naik. Kecenderungan ini tentu harus diwaspadai, karena sepanjang periode Ramadan hingga Idulfitri, konsumsi masyarakat dipastikan naik.

Untuk mencegah penimbunan komoditas dan gejolak harga, Satgas Pangan Polri pun hendaknya diterjunkan di semua daerah. Didukung dinas perekonomian di setiap daerah, Satgas Pangan Polri diharapkan mampu berperan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Pemerintah punya peran penting dalam melayani masyarakat menjelang Lebaran tahun ini. Sebab, banyak pemerintah daerah yang masih sibuk menghadapi pilkada serentak tahun ini. Karena kesibukan itu, fungsi mereka sebagai regulator daerah dikhawatirkan menjadi tidak efektif, khususnya terkait fungsi dan peran mereka dalam mengelola kecukupan stok bahan pangan dan pengendalian harga. Karena itu, pemerintah pusat jangan sampai lengah.

Pemerintah kini memang sedang menyiapkan antisipasi terhadap kenaikan harga bahan pokok, salah satunya beras, menjelang hari raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Juni. “Segala cara kita lakukan,” ujar Mendag Enggartiasto Lukita. Fokus utamanya adalah menjaga kestabilan harga beras menjelang Lebaran yang akan datang. Selain itu dipantau juga harga bahan kebutuhan pokok lainnya, salah satunya gula. Cara menjaga kestabilan tersebut, adalah menyuplai pasar dengan komoditas yang dibutuhkan. Sekarang dibanjiri dulu pasar dengan beras. Terus pantau juga gula dan semuanya untuk harga stabil menjelang lebaran.

Enggar mengatakan bahwa stok beras di Bulog dalam kondisi aman. Sehingga upaya menjaga kestabilan harga beras tidak terkait dengan hal tersebut. Stoknya yang tahu Bulog. Tapi stoknya tidak ada persoalan kok, 700.000 sampai 800.000 ton. Ada in and out-nya, jadi kekosongan atau bukan kekosongan, seluruh pedagang beras di pasar tradisional menjual beras Bulog.

Daya beli yang semakin besar menjadi penggerak utama ekonomi. Ini musiman, dari Ramadan hingga Lebaran, konsumsi masyarakat meningkat. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, konsumsi Lebaran tahun ini kemungkinan lebih besar. Selain THR, tahun ini pemerintah juga menyalurkan dana bantuan sosial lebih besar. Di sisi lain harga komoditas meningkat, sehingga mendongkrak pendapatan masyarakat. Tingginya kebutuhan uang Lebaran tahun ini juga karena pengaruh sektor komoditas. (mar)

This entry was posted in Umum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *