UMKM telah menjadi backbone dan buffer zone

Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya system kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin, juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini.

Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya pada diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan tetap bertahan hidup – tetapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda. Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedaruatan. Keputusan-keputusan yang di masa normal butuh pertimbangan bertahun-tahun sekarang akan diputuskan dalam hitungan jam.

Ketika suatu wabah penyakit mematikan menyerang di suatu negara, maka salah satu dampak yang paling nyata adalah ekonomi. Apabila tidak tertangan secara baik bahkan dapat menyebabkan kondisi chaos dan melebar menjadi masalah sosial politik. Dampaknya, secara ekonomi akan mudah sekali menyerang mereka yang dalam kelompok rentan. Mereka adalah yang tidak memiliki uang yang cukup untuk dibelanjakan tidak memiliki persediaan makanan yang cukup dan tidak memiliki perlindungan sosial maupun kesehatan yang memadai.

Keselamatan mereka tidak hanya menjadi paling mudah terancam wabah penyakit, tetapi juga terancam hidupnya karena kesulitan mencari sumber pendapatan. Dalam konteks Indonesia, kelompok rentan itu seperti penganggur terbuka, pekerja outsourching – pekerja informal, buruh tani, dan lain sebagainya. Mereka menjadi rentan karena usahanya selama ini juga bersifat subsistem. Tidak memilik tabungan atau harta benda yang berarti untuk digadaikan.

Di negeri ini mereka adalah yang dominan. Pengangguran terbuka masih sekitar 5% atau setara 68 juta orang dari 136 juta angkatan kerja. Pekerja informal jumlahnya sebanyak 71% atau setara 74 jutaan dari jumlah tenaga kerja. Buruh tani 74% dari jumlah petani kita sebanyak 35 juta orang. Sementara kita tahu, kondisi sosial ekonomi Indonesia saat ini dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan.

Tumpuannya berharap kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Ada tiga faktor yang membuat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa bertahan dalam kondisi ekonomi yang krisis. Pertama, umumnya UMKM menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Pendapatan masyarakat yang merosot ketika krisis ekonomi terjadi tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan UMKM. Ini berbeda dengan kondisi usaha skala besar yang justru bertumbangan saat krisis terjadi. UMKM malah bisa tetap mampu bergerak dan menyerap tenaga kerja meski jumlahnya terbatas. Seperti itu pulalah yang terjadi di Jepang pasca luluh lantak oleh bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang mengawali kebangkitannya dengan memperkuat sektor riil yang digerakkan oleh UMKM.

Kedua yakni pelaku usaha UMKM umumnya memanfaatkan sumber daya lokal, baik itu untuk sumber daya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan UMKM tidak mengandalkan barang impor. Ketiga, umumnya bisnis UMKM tidak ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri. Dengan kondisi itu, ketika sektor perbankan terpuruk ataupun suku bunga melambung tinggi, UMKM tidak terpengaruh.

Meskipun tingkat pertumbuhannya belum signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional, namun UMKM telah menjadi backbone dan buffer zone yang menyelamatkan negara dari keterpurukan ekonomi yang lebih dalam. Pemerintah kini tengah menyiapkan stimulus bagi para pelaku UMKM guna menekan dampak wabah virus Covid-19  terhadap kegiatan ekonomi pelaku usaha tersebut.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, sebenarnya dibalik tekanan terhadap ekonomi akibat wabah virus Covid-19, ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku usaha, khususnya UMKM. Untuk UMKM ada yang terdampak dan ada peluang, terutama mensubstitusi impor buah-buahan, sayur dan lain-lain. Namun demikian, pemerintah tetap akan menyiapkan stimulus bagi para pelaku UMKM. Hal ini agar sektor tersebut bisa terus tumbuh meski muncul tekanan terhadap ekonomi akibat wabah virus Covid-19.

Kini uga sedang dipersiapkan kebijakan stimulus ekonomi untuk UMKM guna meningkatkan penjualan. Sejak Kementerian Koperasi dan UKM membuka saluran pengaduan (hotline) melalui Call Center sudah terkumpul 21 laporan dari masyarakat atau pelaku UMKM yang terdampak wabah Covid 19. Karena memang tujuan dari call center untuk mengetahui kondisi usaha para Pelaku Koperasi, dan UMKM yang terdampak wabah virus Covid-19.

Pemerintah, dalam hal ini Kemenkop dan UKM sering mengklaim bahwa 993% atau sekitar 63 juta pelaku usaha kita adalah UMKM. Sebeut saja misalnya mereka para pelapak di pasar tradisional, bakul bakso. Ci;ok, jamu keliling, bakul gorengan, ojol becak dan lain sebagainya. Bahkan petani dan nelayan pun termasuk pelaku UMKM. Mereka itu adalah pengusaha-pengusaha yang hari ini jualan dan hari ini hasilnya untuk hidup. Usaha mereka saat ini jelas terdampak langsung karena mereka tidak memiliki dana cadangan seerti halnya usaha menengah dan usaha besar. Kemenkop harus fokus dulu kepada mereka juga berkaitan dengan keamanan nyawa mereka.

Kelompok UMK akan tetap nekad berjualan sebisanya karena kalau tidak keluarganya akan makan apa? Ini artinya berkaitan dengan upaya mitigasi keselamatan jiwa di masa emergensi. Kelompok inilah mayoritas pengusaha kita. Mereka harus diselamatkan terlebih dulu. Pekerjaan juga sebagian besar atau di atas 90% ada di sektor ini. Jika pemerintah kesulitan pendanaan untuk membiayai mereka, maka seluruh program pemerintah yang lainnya itu tidak relevan. Sebab, nyawa adalah yang pertama. Untuk bisnis kelas menengah dan besar apakah tidak terdampak? Tentu semua terdampak. Tetapi skema talangan atau bailout-nya itu harus menyasar ke mereka. Ini sama sekali berbeda dengan bentuk penanggulangan krisis ekonomi yang lain. Karena yang dihantam adalah sektor riil, ke hulu dan hilir dari bisnis.

Menurut Menkop dan UKM, pemerintah menyadari wabah virus Covid-19 berdampak terhadap ekonomi secara nasional. Karena itu, pemerintah perlu melakukan pendataan untuk mengambil langkah-langkah cepat menjaga kelangsungan usaha pelaku UMKM. Data yang terangkum pada hari pembukaan hotline mengenai Data KUKM yang terdampak oleh virus Covid-19 sebanyak 21 Masyarakat yang melapor. Kategori permasalahan terdampak, yakni terkait permintaan menurun sebanyak 17 pelapor (80%), Bahan baku  2 pelapor (10%) dan Proses Distribusi 2 Pelapor (10%).

Di antara semua rekomendasi yang diinginkan oleh pihak pelapor sangat bervariatif, yakni mayoritas menginginkan adanya subsidi agar penjualan tetap berjalan, dan sebagian menginginkan kepastian tentang bahan baku agar tetap tersedia dan mudah didapat, di carikan alternatif pasar,  ingin melakukan transaksi langsung kembali, dan meminta pemerintah untuk bantu memasarkan produknya.

Penyebaran virus Covid -19 yang semakin agresif membuat kita perlu berpikir dua kali untuk mengunjungi gudang usaha secara langsung. Langkah alternatif yang perlu dilakukan adalah memeriksa status persediaan barang secara berkala melalui jarak jauh.  Dengan fitur Inventory dari Jurnal, kita dapat memonitor stok barang secara real time tanpa perlu ke gudang fisiknya. Tak hanya menghitung persediaan barang, tetapi juga mengetahui harga jual beli rata-rata, dan menginformasikan ketersediaan stok saat itu juga.

Kita juga bisa memperoleh referensi terkait kinerja produk, dan pemberitahuan stok yang kosong. Jurnal membantu kita mengimpor data persediaan dalam jumlah besar secara cepat dengan template spreadsheet yang tersedia. Jadi, sebagai pelaku bisnis UKM tidak perlu cemas. Pastikan bisnis tetap berjalan dan mampu bertahan pada saat kondisi pandemi saat ini.

Terkait dengan stock pangan, menurut data Badang Pusat Statistik (BPS), produksi padi tahun 2019 adalah sebanyak 54,60 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 31,31 juta ton beras. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 265 juta jiwa dan konsumsi pangan (beras) per kapita per tahun sebanyak 114,6 Kg, maka kebutuhan beras bagi masyarakat Indonesia setiap tahun diperkirakan sebanyak 30,37 juta ton.

Selain itu, untuk musim tanam (MT) Oktober 2019 – Maret 2020 beberapa daerah sudah memasuki musim panen, termasuk panen padi pada daerah-daerah yang memiliki program perluasan areal tanam yang dilakukan pada lahan rawa pasang surut. Dengan demikian tidak ada alasan bagi sebagian masyarakat kita untuk berbelanja bahan pangan utama untuk stock – persediaan dilakukan secara berlebihan (panic buying) karena kekawatiran semata.

Harus diakui, untuk beberapa bahan pangan seperti bawang putih bawang bombai, kedelai dan gula pasir produksi di dalam negeri dengan jumlah terbatas karena berbagai faktor teknis dan non teknis sehingga selama ini untuk menutupi kekurangan kebutuhan di dalam negeri mengandalkan impor darfi luar negeri. Kelangkaan komoditas-komoditas tersebut terutama bawang putih bawang bomai dan gula pasir bahkan belakangan memang sempat menaikkan harganya baik di warung-warung, pasar tradisional, maupun pasar modern (ritel).

Namun demikian dengan penguatan koordinasi, sinergi dan pembenahan regulasi anat Kementerian – Lembaga peningkatan produksi bahan pangan sangat mungkin dapat direalisasikan, selain secara selektif dilakukan impor dari negara-negara yang surplus bahan pangan. Dengan komitmen kuat dari pemerintah melalui penetapan regulasi dan kebijakan refocusing anggaran baik APBN maupun APBD tahun 2020 termasuk di sektor pangan dan pertanian, sangat dimungkinkan dapat terjaga dengan baik hal-hal yang terkait dengan ketersediaan, distribusi stabilisiasi harga dan akses bahan pangan hingga di tingkat rumah tangga di seluruh wilayah Indonesia. (mar)

This entry was posted in Sajian Utama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *